Share

Bab 208

Author: Saggyryes
last update publish date: 2026-03-30 04:33:07

"Kamu masih kesel?" tanya Satria.

Ia menoleh ke arah Andini dan menggenggam lembut tangan kanannya.

"Sedikit," jawab Andini, tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.

Satria tidak lagi bicara. Ia tidak mau membuat mood Andini semakin kurang baik.

***

Keesokan paginya, suasana rumah masih tenang. Andini sengaja bangun lebih pagi dan mandi lebih dulu. Ia mengenakan pakaian rumah dan berjalan ke dapur dengan langkah pelan, untuk menyiapkan sarapan sederhana.

Ia mengambil beberapa bahan maka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 322

    "Mba," panggil Andini. "Kebesaran nggak sih bagian sini?" tanyanya sambil menunjuk bagian pinggang gaun Siska."Nggak, Kak. Tadi udah kita pasin lagi," jawab salah satu staf.Rania membuka map checklist di tangannya lalu mulai mengecek ulang beberapa detail."Sepatu aman.""Veil aman.""Aksesori aman."Andini tertawa kecil. "Bunda serius amat sih.""Ya harus serius dong, An. Ini kan nikahan Siska," jawab Rania, sambil tersenyum tipis. Mendengar jawaban Rania membuat Siska tertawa pelan."Oh iya, Bu Zaskia jadinya gimana, Bun?" tanya Andini."Dia masih istirahat," jawab Rania. "Kan habis melahirkan, jadi belum boleh terlalu capek.""Terus bajunya? Gimana?" tanya Siska, sambil mengerutkan kening. "Disesuaikan aja dengan baju yang ada katanya. Tadi sih Bunda udah kasih contohnya."Siska mengangguk pelan. "Oh, gitu."Meski Zaskia tidak bisa ikut fitting terakhir itu, ia tetap beberapa kali mengirim pesan dan meminta foto perkembangan gaunnya."Eh bentar," ucap Andini tiba-tiba sambil m

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 321

    "Akhirnya, bisa istirahat juga," gumam Siska, pelan. Kamarnya hanya diterangi lampu tidur kecil berwarna kuning. Setelah seharian mengurus pekerjaan toko sekaligus memastikan beberapa detail pernikahan terakhir, tubuhnya benar-benar terasa lelah.Ia baru saja selesai memakai skincare ketika ponselnya bergetar di atas kasur.Nama Johan muncul di layar. Siska langsung tersenyum kecil lalu segera menerima panggilan video itu."Wah..." gumamnya pelan saat wajah Johan muncul di layar. "Akhirnya calon suami muncul juga ke permukaan."Johan tertawa kecil dari seberang sana. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya langsung berubah hangat begitu melihat Siska."Jahat banget ngomongnya," ucap Johan, sambil tersenyum tipis. "Abisnya, sibuk terus sih. Kayak nggak ada jeda sama sekali.""Iya, maaf..," jawab Johan pelan.Ia menyandarkan tubuhnya di kursi hotel sambil memperhatikan wajah tunangannya cukup lama. Sedangkan Siska ikut duduk di atas kasur sambil memeluk bantal."Kamu kayaknya capek bang

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 320

    "Semalam iya, Pak," jawab Bastian, sambil tersenyum tipis.Sedangkan Oni langsung fokus pada cucunya."Aduuuhh cucu Nenek... Nenek kangen banget sama kamu, sayang," ucapnya gemas sambil mengambil Soni perlahan dari gendongan Bastian.Soni langsung mengeluarkan suara kecil sambil menggerakkan kaki mungilnya."Tuh kan, Soni hafal sama suara Nenek. Makanya langsung senyum dan ketawa-ketawa ya," gumam Oni senang.Rudi duduk perlahan di sofa sambil memperhatikan Bastian beberapa saat."Kamu libur hari ini?" tanya Rudi. "Iya, Pak.""Liburnya setiap weekend apa gimana?" tanya Rudi, lagi. "Iya setiap weekend dan tanggal merah, Pak."Percakapan itu terdengar kaku, tapi tidak terlalu buruk.Alya yang melihat dari dapur sesekali melirik ke arah mereka sambil menahan gugup. Ia tahu ayahnya memang bukan tipe orang yang mudah akrab dengan orang baru."Mas, boleh tolong ambilin baskom di atas sini?" tanya Alya, seraya meminta bantuan Bastian dari arah dapur."Oke," jawab Bastian."Maaf, Pak saya i

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 319

    "Ah, Mas..," desah Alya. Bastian langsung menggiring Alya ke tempat tidur. Bibirnya kembali menyesap dada Alya. Mirip seperti Soni, tapi jelas Bastian lebih agresif karena sambil menyesap kedua gununv secara bergantian, tangannya mereka gunung tersebut. Perlahan, bibir Bastian turun ke perut dan tangannya menurunkan dan melepas celana Alya. Tinggallah segitiga yang menutupi bagian intinya. Tangan Bastian menyusup masuk ke dal bagian inti Alya yang kini mulai basah. Ia bermain dan memasukkan jarinya perlahan di sana. Bagian inti Alya terasa sempit, meski sudah beberapa kali dimasukkan jari-jari Bastian. Berbeda jauh dengan milik Siska. "Punya kamu sempit banget, Al. Aku jadi makin penasaran," bisik Bastian, ditelinga Alya. "Lakukan aja, apa yang kamu mau lakukan ke aku, Mas."Sudut-susut bibir Bastian sedikit terangkat saat mendengar Alya mengucapkan hal itu. Seolah, ia baru saja mendapatkan persetujuan yang sangat berarti. Dengan cepat, Bastian melebarkan paha Alya dan membuka s

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 318

    "Ah.."Tubuhnya hampir jatuh ke belakang. Untungnya, Bastian refleks langsung menarik lengannya dengan cepat. Dan akhirnya, Alya langsung menabrak dada Bastian cukup keras. Kedua tangan lelaki itu spontan menahan pinggang Alya agar tidak jatuh.Suasana mendadak menjadi hening.Alya masih memegang lengan Bastian cukup erat karena kaget. Sedangkan Bastian menunduk menatap Alya yang kini benar-benar berada sangat dekat dengannya."Kamu nggak apa-apa?" tanya Bastian pelan.Alya mengangguk pelan. Nafasnya sempat tidak teratur karena kaget."Nggak apa-apa. Lantainya licin..." gumamnya pelan.Bastian menghela napas pelan. "Untung nggak jatuh."Namun setelah itu, tidak ada lagi yang bicara. Dan entah kenapa, posisi mereka juga tidak berubah sedikitpun. Tangan Bastian masih berada di pinggang Alya. Sedangkan Alya perlahan sadar kalau jarak wajah mereka sekarang terlalu dekat.Degup jantung Bastian terdengar jelas.Dan Alya bisa merasakan itu. Tatapan mereka saling bertemu cukup lama. Bastian s

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 317

    "Aku paham, Mas," ucap Alya. Ia masih berdiri di dekat meja makan. Kain lap di tangannya perlahan berhenti bergerak. Beberapa detik, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa selain apa yang barusan ia ucapkan. Tatapan Bastian terlihat serius, tidak menyiratkan rasa bercanda sama sekali. Hanya saja, Alya sadar kalau Bastian bicara seperti itu karena kasihan pada Soni. Hal itulah yang membuat dada Alya terasa semakin tidak nyaman."Aku tau ini tiba-tiba," ucap Bastian pelan.Alya sempat menunduk sebelum akhirnya menarik napas pelan."Kamu ngomong kayak gini karena Soni?" tanyanya hati-hati.Bastian terdiam sebentar. "Salah satunya, iya.""Dan yang lainnya?" tanya Alya, penasaran. Bastian terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab jujur."Entah kenapa, aku mulai capek hidup setengah-setengah kayak sekarang, Al."Alya menatap lurus ke wajah Bastian. Sedangkan Bastian bersandar di dekat wastafel sambil menatap lantai beberapa saat."Aku dateng ke sini hampir tiap hari. Main

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 166

    "Oh ya?" tanya Satria. Andini menganggukkan kepala perlahan. Satria menatap Andini beberapa detik setelah mendengar ucapannya. Ia menghela napas kecil sambil tersenyum tipis."Kamu ini… kalau ngomong suka bikin orang kehabisan kata-kata."Andini tertawa kecil. "Memangnya salah? Kamu juga ngerasa

    last updateLast Updated : 2026-04-04
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 172

    "Banyak," ucap Rania. Ia tersenyum tipis. Tangannya tetap memegang kemudi dengan tenang.Siska mengerutkan kening."Contohnya?"Rania menarik napas dan menghembuskannya perlahan sebelum menjawab."Nenek bangga karena kamu bisa menurunkan ego kamu, sayang."Siska terdiam sejenak. "Ego?" ulangnya p

    last updateLast Updated : 2026-04-04
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 148

    "Beneran Ayah nggak mau istirahat dulu?" tanya Siska, saat masuk ke dalam ruang kerja Satria. Tadi, ia sempat mencari Satria di kamar, tapi tidak menemukannya. Sehingga ia berinisiatif untuk mencarinya di ruang kerja. Ternyata, dugaannya benar. "Ayah udah istirahat sayang...""Tapi itu.. pagi-pa

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 132

    "Siska!" panggil Satria.Ia membuka pintu kamar anak semata wayangnya dengan cukup kasar. Wajahnya terlihat tegang dan khawatir. Siska menoleh ke daun pintu yang baru saja terbuka. Di mana Ayahnya berada saat ini. Ia tersenyum tipis. Bukannya tidak enak hati, ia malah senang melihat rasa khawatir

    last updateLast Updated : 2026-03-31
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status