LOGIN"Kamu udah siap?" tanya Satria. "Hampir. Bentar lagi kelar," jawab Andini, sambil merapikan rambutnya. Hari Sabtu datang lebih cepat dari yang mereka bayangkan.Pagi itu tidak ada kesibukan berlebihan di rumah Satria. Semua berjalan seperti biasa. Hanya saja, ada satu agenda yang sudah mereka sepakati untuk hadiri bersama.Andini berdiri di depan cermin, merapikan bagian kerah bajunya. Pilihannya sederhana, tidak terlalu formal, tapi tetap rapi."Yang lain gimana? Udah pada siap?" tanya Andini. "Udah, kayaknya. Tinggal nunggu kamu aja," sahut Satria."Yakin?" tanya Andini, memastikan. Satria nyengir dan menggedikkan bahunya. "Nanti aku cek."Andini menoleh ke arah Satria. "Astaga! Jadi kamu ngomong gitu, cuma buat ngeledek aku doang?""Nggak ngeledek. Cuma biar cepet aja."Andini menggelengkan kepalanya dan Satria berjalan menjauh menuju pintu. "Aku cek sekarang, ya," ucap Satria. "Iya," jawab Andini. Di kamar lain, Siska juga sedang bersiap. Ia memilih pakaian yang tidak menco
"Gimana? Udah sesuai semua, kan?" tanya Andini memastikan. Namun ia masih mencoba mengingat agar tidak ada satupun yang terlewat. "Iya, udah. Semoga semua berjalan lancar nanti," jawab Siska. "Aamiin," jawab Andini dan Cinta berbarengan. Rencana usaha yang sudah mereka susun sejak lama, akhirnya benar-benar mencapai tahap akhir. Semua yang sebelumnya masih dalam pertimbangan, kini sudah berubah jadi keputusan yang semakin jelas. Supplier sudah dipilih, desain kemasan telah disepakati, dan untuk desain tempat pun tinggal menunggu beberapa sentuhan akhir.Pagi itu, suasana di meja makan terasa lebih hidup dan menyenangkan bagi mereka bertiga. Hal itu karena kobaran semangat yang kini semakin membakar ketiganya.Andini kembali menunjuk layar laptopnya dan memutar sedikit ke arah Cinta dan Siska. "Kalau nggak ada perubahan, kita bisa mulai soft opening hari Minggu nanti," ucapnya.Cinta yang duduk di sampingnya mengangguk pelan. "Bagus, kalo begitu. Oh ya, stok awal juga harusnya udah
"Kita jalan sekarang, ya?" tanya Satria, memastikan. "Iya," jawab Andini dan Siska, hampir bersamaan. Mobil kembali melaju meninggalkan rumah. Sepanjang perjalanan, suasana tetap tenang. Cinta lebih banyak memejamkan mata, sementara Andini sesekali melirik untuk memastikan kondisinya baik-baik saja.Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil memasuki halaman rumah Satria."Udah sampai, Tan," ucap Andini pelan.Cinta membuka matanya perlahan. Ia mengangguk kecil."Iya."Siska turun lebih dulu, lalu membantu membuka pintu.Andini menggenggam tangan Cinta. "Pelan-pelan ya, Tan."Cinta turun dengan hati-hati. Langkahnya masih pelan, tapi lebih stabil.Begitu masuk ke dalam rumah, suasana terasa jauh lebih tenang dibanding saat mereka berada di dua tempat sebelumnya. Tidak ramai dan juga tidak banyak suara.Satria berjalan lebih dulu. "Untuk Kamar Tante, kita pakai kamar tamu yang deket dengan kamar kita aja ya. Tadi saya udah minta Bi Sarmi untuk rapihkan," ucapnya kepada Andini. "Iya saya
"Tan..," panggil Andini. Cinta tidak menjawab. Ia masih duduk dengan kepala sedikit tertunduk. Napasnya mulai lebih teratur, meski wajahnya tetap pucat.Satria menatap Andini sebentar, lalu kembali ke Cinta. "Tan, kita pulang sekarang ya," ucapnya lebih pelan.Cinta tidak langsung menjawab. Tangannya masih menggenggam ujung bajunya. Beberapa detik kemudian, ia menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya…"Satria menghela napas tipis. Ia lalu menoleh ke arah Bob yang berdiri tidak jauh dari area pemakaman."Bob," panggilnya.Bob segera berjalan mendekat. "Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?""Kami mau pulang dulu. Untuk sisanya, tolong dibantu sampai selesai ya," ucap Satria.Bob mengangguk sigap. "Baik, Pak. Tenang aja, semua akan saya urus dan laporkan setelah selesai.""Terima kasih.""Sama-sama, Pak."Mereka bangkit dari duduknya dan berjalan pelan menuju mobil.Langkah Cinta masih sedikit berat, tapi kali ini sudah lebih stabil dibanding sebelumnya. Andini tetap di sampingnya, sement
"Tenang, Tan..," ucap Andini. Lagi-lagi ia berusaha menenangkan. Tangannya menepuk lembut pundak Cinta. Cinta menarik nafas panjang. Ia masih berdiri di dekat jenazah Agung. Tangannya belum juga lepas dari lengan yang sudah dingin itu. Bahunya turun pelan, napasnya tidak lagi bergetar seperti tadi. Dan justru menjadi lebih berat, lebih dalam, seperti sedang ditahan. Beberapa orang mulai mendekati Cinta secara bergantian. Mulai dari tetangga dekat hingga keluarga besar. "Yang sabar ya, Bu Cinta. Kita semua benar-benar kaget. Pak Agung pergi mendadak banget."Ucapan-ucapan itu datang pelan, tidak ada yang berlebihan. Hanya sapaan singkat, jabat tangan, dan tatapan iba.Cinta mengangguk setiap kali seseorang berbicara. Tidak banyak yang ia jawab. Tangannya sesekali terangkat untuk membalas salam, lalu kembali jatuh di samping tubuhnya.Andini tetap di dekatnya. Sesekali, ia membantu menjawab atau sekadar menganggukkan kepalanya kepada orang-orang yang datang."Tan, duduk dulu ya," b
"Ayo, Tan," ajak Andini, ketika tiba-tiba saja Cinta menghentikan langkahnya. "Iya."Mereka menggunakan taksi online untuk pulang ke rumah. Siska yang memesannya saat ia kembali setelah selesai mengurus administrasi. Siska jugalah yang mengabarkan kepada Satria kalau Cinta sudah sadar dan mereka pulang duluan. Saat perjalanan pulang, tidak ada satupun yang bicara. Siska duduk di depan. Sementara Andini duduk di belakang bersama Cinta. Sejak mobil berjalan, Cinta hanya menatap lurus ke depan. Tangannya terlipat di pangkuan. Sesekali, ia menggenggam ujung bajunya sendiri.Andini juga tidak banyak bicara. Ia berusaha menahan sesak dan nyeri yang mendera di dalam dada. Dan hanya sesekali melirik ke arah Cinta untuk memastikan kondisinya tetap stabil."Tan, kalo capek, sandaran aja," ucap Andini pelan.Cinta menggelengkan kepalanya perlahan. "Tante nggak capek kok."Mereka kembali terdiam. Tidak ada lagi suara yang ke luar dari dalam mobil. Di sana, hanya terdengar suara mesin dan klaks
"Lebay!"Mobil melaju meninggalkan hotel.Andini masih memakai gaun panjangnya. Kainnya berkilau lembut terkena lampu jalan. Di pangkuannya, ia memegang paper bag berisi baju kerja yang tadi ia kenakan sebelum acara."Harusnya aku ganti dulu ya, sayang…" gumamnya pelan."Nanti gantinya di rumah saj
"Mau saya temenin?" tanya Satria, menawarkan.Andini langsung menggelengkan kepalanya."Nggak usah, ini urusan aku sama Siska. Kalau kamu ikut, takutnya dia akan mikir yang aneh-aneh.""Kamu yakin?" suara Satria terdengar ragu."Yakin. Lagian, aku cuma mau ngobrol sayang... bukan mau perang," jawab
"Beneran Ayah nggak mau istirahat dulu?" tanya Siska, saat masuk ke dalam ruang kerja Satria. Tadi, ia sempat mencari Satria di kamar, tapi tidak menemukannya. Sehingga ia berinisiatif untuk mencarinya di ruang kerja. Ternyata, dugaannya benar. "Ayah udah istirahat sayang...""Tapi itu.. pagi-pa
"Kamu betul, Sat!" jawab Cinta. Satria masih terdiam beberapa detik setelah kalimat terakhirnya. Cinta bisa mendengar hembusan napasnya yang panjang, seolah ada banyak hal yang ingin ia katakan tapi ditahannya."Sat…" panggil Cinta pelan. "Kalau menurut saya, sekarang juga waktunya kamu untuk lebi







