Share

Bab 227

Penulis: Saggyryes
last update Tanggal publikasi: 2026-04-07 12:50:45

"Masa sih?" tanya Bastian.

Ia merentangkan kedua tangan, bersiap menyambut kekasih hatinya masuk ke dalam pelukkan.

Siska melangkah masuk tanpa ragu, lalu langsung memeluk Bastian. Beberapa saat kemudian ia menciumi bahu Bastian.

"Aku mau kamu," gumamnya.

Bastian refleks membalas pelukannya, tangannya menepuk pelan punggung Siska.

"Mau aku layanin dengan gaya apa? Gaya kayang, gaya tenggelem, atau gaya apa? Kamu tinggal sebut aja," tanya Bastian, seraya meledek Siska.

Siska mendongakkan k
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 231

    "Baik, saya mengerti, Pak," ucap Roland. Ia langsung menangkap semua maksud Satria"Saya akan langsung berangkat sekarang, Pak."Sambungan terputus.Satria menatap layar ponselnya sebentar, lalu menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan.Dua hari lalu, ia memang sempat mendengar kabar bahwa Dion dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Dan sehari setelahnya, muncul kabar lain yang jauh lebih mengganggu. Ia kabur.Satria mengepalkan tangannya pelan."Jangan sampai dia deket-deket Andini lagi," gumamnya.Sekitar tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah.Roland turun lebih dulu, diikuti tiga orang lainnya.Satria sudah menunggu di teras dekat halaman depan."Pak," sapa Roland.Satria menganggukkan kepalanya perlahan. "Mulai malam ini, kalian jaga di sekitar rumah.""Baik, Pak.""Jangan terlalu mencolok. Tapi pastikan semua aman."Roland mengangguk mantap. "Dimengerti, Pak."Salah satu anak buahnya bertanya, "Fokus di luar aja atau sampai dalam, Pak?""Di luar

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 230

    "Aduh.. Badan kok jadi nggak enak banget..," gumam Andini. Menjelang sore, suasana toko dan rumah makan mulai sedikit longgar. Antrean masih ada, tapi tidak sepadat pagi sampai siang tadi. Beberapa meja sudah mulai kosong, dan ritme kerja di dapur mulai berjalan perlahan.Andini bangkit dari duduknya setelah cukup lama hanya memperhatikan sekitar karena tubuhnya yang semakin tidak mendukung untuk melakukan pekerjaan fisik. Ia berjalan menghampiri Cinta yang sedang mencatat pesanan tambahan."Tan," panggilnya.Cinta menoleh. "Iya, An?""Aku izin pulang dulu ya. Badan aku kayaknya udah nggak bisa diajak kerjasama."Cinta langsung mengangguk tanpa ragu. "Iya, pulang aja. Dari tadi juga Tante udah mau nyuruh kamu pulang, cuma ketahan terus karena banyak panggilan dari pelanggan.""Iya, nggak apa-apa Tan. Akubcapek banget soalnya. Pusing juga," kata Andini. "Itu wajar, An. Kamu tuh lagi hamil tua, jadi nggak bisa terlalu capek. Besok juga sebaiknya kamu nggak usah dateng dulu. Istiraha

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 229

    "Mbak," panggil seorang pelanggan. "Iya, Kak," jawab salah satu karyawan, sambil tersenyum ramah. "Aku mau yang blueberry cheese 2 ya..""Siap.""Sama milkshake coklatnya 1.""Baik. Ada lagikah Kak?" tanya karyawan tersebut lagi. "Udah, itu aja."Sedangkan di dapur, Cinta sedang mengecek roti yang sedang di panggang dan persediaan bahan baku toko roti dan kue. Setelah memastikansemua berjalan dengan baik dan mencatat stok yang sudah menipis, ia beralih ke dapur belakang untuk mengecek makanan dan minuman pesanan pelanggan rumah makan. Aktivitas di dapur dan area depan berjalan hampir tanpa jeda. Suara pesanan dipanggil, bunyi peralatan, dan langkah kaki yang hilir mudik bercampur menjadi satu.Siska berpindah dari satu meja ke meja lain dan membantu menyiapkan pesanan yang semakin menumpuk. Tangannya bergerak cepat, tapi tetap rapi dan bersih.Di sisi lain, Andini terlihat masih ikut membantu, meskipun gerakannya tidak secepat biasanya.Cinta yang sejak tadi memperhatikan, akhirny

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 228

    "Bas..," panggil Siska lagi, karena belum juga ada jawaban dari Bastian. Bastian menghela napas pelan, lalu menatap ke arah depan dengan ekspresi yang sedikit lebih serius."Awalnya, semua emang kelihatan aman dan masalah cuma ada di Ibu karena tergiur harga tinggi," ucapnya. "Secara administrasi, semuanya juga udah beres, nggak ada masalah. Tapi ternyata di lapangan beda ceritanya."Siska sedikit mengernyit. "Maksud kamu gimana?""Ada orang di desa yang nggak suka sama almarhum Bapak," ucap Bastian. "Bukan dari keluarga. Tapi salah satu orang yang cukup berpengaruh di desa kami. Dia punya banyak relasi, bahkan sampai ke kota," lanjutnya. Siska diam, mendengarkan dengan seksama. "Seperti yang kamu tau, kami sempat coba bertahan," kata Bastian lagi. "Cuma lama-lama jadi nggak nyaman. Bukan yang ribut besar sih, tapi lebih ke tekanan kecil yang terus menerus. Dipersulit, diawasi, kadang kayak sengaja bikin lingkungan sekitar juga jadi nggak nyaman.""Ngeri juga ya," gumam Siska pela

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 227

    "Masa sih?" tanya Bastian. Ia merentangkan kedua tangan, bersiap menyambut kekasih hatinya masuk ke dalam pelukkan. Siska melangkah masuk tanpa ragu, lalu langsung memeluk Bastian. Beberapa saat kemudian ia menciumi bahu Bastian. "Aku mau kamu," gumamnya. Bastian refleks membalas pelukannya, tangannya menepuk pelan punggung Siska. "Mau aku layanin dengan gaya apa? Gaya kayang, gaya tenggelem, atau gaya apa? Kamu tinggal sebut aja," tanya Bastian, seraya meledek Siska. Siska mendongakkan kepalanya sedikit dan menatap wajah Bastian dengan senyum tipis dan sedikit jahil. "Apa aja, yang penting enak."Bastian menghela napas pendek sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu tuh ya. Paling bisa kalo soal beginian."Siska tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu menarik tangan Bastian pelan ke arah kamar.Lampu kamar tidak dinyalakan sepenuhnya. Hanya cahaya redup yang membuat suasana terasa lebih tenang. Siska mulai mencium bibir Satria dengan lembut. Kelelahan Siska seolah bercampur deng

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 226

    "Lumayan banget ya responnya," ucap Cinta, sambil tersenyum kecil mendengar celetukkan para pelanggan.Satria menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya. Ini bagus banget! Kalian emang hebat!"Andini tersenyum. Sudut-sudut bibirnya terangkat cukup lebar. "Syukurlah usaha kita selama ini membuahkan hasil yang sangat baik."Menjelang siang, mereka mulai bisa sedikit bernapas lega. Pengunjung masih datang, tapi tidak sepadat sebelumnya.Rania kembali menghampiri Andini dan Cinta."Parah sih, ini mah enak banget," ucap Rania.Cinta tersenyum kecil. "Serius?""Iya. Aku sih yakin kalo rumah makan dan toko roti dan kue ini bakal laku terus," ucap Rania dengan penuh keyakinan. "Aamiin," jawab Andini.Rania melirik ke sekeliling. "Dan satu lagi. Ini rame banget loh... Kalian harus segera melakukan persiapan lebih buat grand opening nanti."Andini menganggukkan kepalanya perlahan, "iya, Bun.""Emang rencananya kapan?" tanya Rania. "Mungkin dua minggu lagi, Bun," jawab Andini. "Bagus. Waktunya pa

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 50

    "Satria?!" Mata Satria membola saat mendengar namanya dipanggil. "Lho, Andini?"Bagaimana tidak, saat ini ia hanya mengenakan handuk putih untuk menutupi bagian intinya. Jauh dari tertutup sempurna. Sedangkan handuk kecil di tangannya, ia bawa untuk mengeringkan rambutnya hitamnya yang basah. W

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 47

    "Ibu?!" tanya Zaskia saat ia hampir saja sampai ke meja makan. Senyumnya mengembang lebar. Siska dan Satria saling bertatapan sekilas, lalu memandang ke arahnya. Tak lama kemudian, Siska mengangguk pelan. Dalam hatinya, ia berharap agar Zaskia tidak salah paham dengan ucapannya tadi. Zaskia berj

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 43

    "Yang..."Satria mengerutkan kening. "Yang?" Andini mengangguk. " Iya, kan udah bukan jam kerja. Jadi, nggak apa-apa kan kalau aku panggil sayang?"Satria menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Tapi nggak harus yang juga kan, An. Kayak ABG aja!" Ia memijat pelipisnya yang sedikit

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 44

    "Pulang?"Satria mengangguk. "Iya, saya lupa ada janji dengan Siska. Dia kan hari ini ulang tahun." Satria mencoba mengingatkan. "Apa kamu lupa?" Ia mengerutkan kening. "Nggak dong sayang... Untuk ultah kamu dan Siska, aku selalu ingat." ucap Andini, bangga. "Tadi pagi, aku juga udah kirim kado

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status