Se connecter"Iya, aku tau," jawab Bastian tenang. "Tapi nggak apa-apa juga kan kalo sekarang aku ikut bantu kamu?" tanyanya pelan. Alya terdiam sebentar sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Tentu aja nggak apa-apa. Aku malah seneng banget dibantuin sama kamu."Setelah makan malam selesai, Bastian sempat membantu Oni membawa beberapa piring ke dapur walaupun sudah beberapa kali dilarang."Udah, nggak usah dibantu juga nggak apa-apa, Bas. Kamu istirahat aja," ucap Oni."Nggak apa-apa, Bu. Biar sekalian dan sedikit ngeringanin juga."Alya yang berdiri di dekat wastafel hanya memperhatikan sambil tersenyum kecil melihat Bastian yang biasanya terlihat rapi dan formal sekarang malah sibuk membantu membereskan dapur.Rumah itu terasa jauh lebih hidup malam ini. Memang tidak berlebihan dan terkesan mewah. Tapi jelas terasa hangat.Sekitar satu jam kemudian, semuanya sudah mulai bersiap untuk beristirahat. Alya masuk ke dalam kamar lebih dulu untuk memastikan Soni tetap tidur nyenyak. Sedangkan Bastian du
"Ya, semuanya," jawab Bastian. Alya tidak langsung menjawab. Ia justru sengaja mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau berharap akan hal yang semu. Yang justru nanti akan menggerogoti dan menyakiti hatinya. "Udah yuk, makan malam dulu! Mumpung Soni tidur," ajak Alya. "Iya, yuk!" jawab Bastian. Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan. Di sana, Oni sudah lebih dulu duduk sambil menuangkan sup ke dalam mangkuk kecil."Akhirnya kalian dateng juga. Ayo makan, udah malem! ""Iya, Bu," jawab Alya. Makan malam berjalan cukup tenang. Tidak ada obrolan berat di dalamnya.Terkadang, Oni bertanya soal pekerjaan Bastian sekarang. Sedangkan Alya menimpali singkat dan membahas hal sederhana seperti Soni yang sekarang sudah mulai tengkurap sendiri. Sesuatu yang bagi Alya luar biasa. "Bentar lagi juga mulai aktif kemana-mana itu dia," ucap Oni sambil tertawa pelan.Alya menghela nafas panjang. Ia pura-pura terlihat lelah. "Nah itu dia, Bu. Kadang baru aja aku tinggal ke dapur bentar, eh udah
"Oh iya, Bas," ucap Alya lagi, sambil berbalik memandang Bastian yang sedang bermain dengan Soni. "Kenapa?" tanya Bastian. "Kalo dia masukkin mainan terlalu dalam ke mulut, tolong cegah ya Bas, takut muntah soalnya.""Oke," jawab Bastian. Bastian kembali memperhatikan Soni yang kini mulai sibuk menggigit telinga boneka bus kecilnya sendiri. Sedangkan Alya berjalan meninggalkan mereka berdua. Sesekali anak itu mengeluarkan suara kecil sambil menendang-nendangkan kaki pendeknya.Bastian tersenyum tipis. "Kamu aktif juga ya, ternyata."Alya yang masih berdiri di dekat meja TV hanya melirik sekilas sebelum akhirnya berjalan ke arah kamar.Rumah itu kembali terasa tenang. Suara televisi hanya terdengar pelan sebagai latar. Oni di dapur mulai sibuk menyiapkan makan malam, sementara Bastian benar-benar fokus memperhatikan setiap gerakan kecil anaknya sendiri.Kadang Soni menatap wajah Bastian cukup lama seolah sedang mengenali.Kadang malah sibuk sendiri. Dan anehnya, Bastian tidak bosan
"Soni..," gumam Bastian, pelan. Perjalanan pulang malam itu terasa jauh lebih ringan untuk Bastian.Jalanan sudah tidak terlalu ramai. Lampu-lampu kota memantul samar di kaca mobilnya, sementara suara lagu terdengar pelan dari radio mengisi suasana tanpa benar-benar ia dengarkan.Pikirannya justru terus kembali ke rumah Alya. Dimana ada suara tawa kecil Alya, wajah Soni yang tidur pulas di dalam box bayi, dan suasana makan malam sederhana yang entah kenapa terasa hangat. Sudah lama sekali Bastian tidak merasakan ketenangan seperti itu.Begitu sampai di apartemennya, ia langsung merebahkan tubuh di sofa sambil menghembuskan nafas panjang.Matanya menatap langit-langit beberapa saat. "Capek juga ternyata," gumamnya pelan.Tapi capek yang kali ini berbeda. Bukan capek karena pekerjaan atau masalah. Lebih ke arah lega karena semuanya sudah terurai.Ia mengambil ponselnya lalu membuka sosial media dan mengetik nama Alya. Di sana, ada beberapa foto Soni dan Alya. Ia terus memandangnya. Sal
"Iya," ucap Bastian. Tadi, ia sempat terdiam beberapa detik setelah mendengar ucapan Alya.Ia menoleh sebentar ke arah box bayi, memastikan Soni benar-benar pulas dan tidak terganggu, baru kemudian menoleh ke Alya lagi."Aku juga nggak nyangka," jawabnya jujur. Nada suaranya pelan. Tidak dibuat-buat.Alya hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya berjalan lebih dulu keluar kamar. Bastian mengikuti di belakang sambil sekali lagi melirik ke arah Soni.Begitu pintu kamar ditutup perlahan, suara televisi kembali terdengar samar dari ruang tengah. Oni yang sejak tadi menyiapkan meja makan langsung menoleh ke arah mereka."Udah tidur?" tanya Oni.Alya mengangguk pelan. "Iya. Udah pules, tepatnya Bu.""Syukurlah. Ya udah, sini makan dulu. Takut makanannya keburu dingin.""Iya, Bu," jawab Alya.Meja makan sederhana itu sudah terisi beberapa lauk rumahan. Ada ayam goreng, tempe goreng, tumis buncis, dan sambal dalam mangkuk kecil di tengah meja.Bastian duduk perlahan tepat di hadapan Oni. Sedan
"Akhirnya sampe juga," gumam Bastian, pelan.Jam tujuh lewat sedikit, mobil Bastian sudah berhenti di depan rumah Alya.Ia sempat terdiam cukup lama sambil menatap rumah itu dari balik kaca depan. Tangannya masih berada di atas setir. Ada rasa asing yang aneh. Di kursi sebelah, ada dua paper bag makanan yang tadi sempat ia beli di jalan.Bastian akhirnya menghembuskan nafas pelan, mengambil paper bag tersebut, dan turun dari mobil secara perlahan. Ia berjalan masuk ke depan rumah Alya, dan mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka.Alya berdiri di sana dengan setelan piyama dan rambut yang diikat ke atas."Masuk, Bas," ucap Alya."Iya," jawab Bastian, sambil menyerahkan paper bag di tangannya. "Ini, tadi aku sengaja beliin buat kamu dan Ibu."Alis Alya saling terpaut. "Duh, kamu ngapain repot-repot sih?""Nggak repot, lagian cuma sedikit. Semoga suka, ya."Alya tersenyum kecil. "Makasih. Yuk, masuk!"Begitu masuk ke dalam, suasana rumah terasa hangat dan jauh lebih
"Apa?!"Mata Siska seketika terbelalak mendengar pertanyaan Bastian. Seketika, hasratnya hilang dan mendorong tubuh Bastian dengan cukup keras hingga ia sedikit terhuyung kebelakang. 'Apa dia pikir aku mau hamil anaknya! Merepotkan!' batin Siska. Melihat perubahan sikap Siska membuat Bastian san
"Aduh!"Satria memijat keningnya yang masih pusing. Rasa dingin menerpa lembut tubuhnya dan membuatnya terbangun. Ia membuka mata perlahan dan melihat sekeliling. "Ah! Di mana ini?!" tanyanya, seraya bergumam dalam hati. Ia bangkit dari tidurnya, dan teringat akan kejadian semalam. Di mana ia dat
"Masa?!" tanya Satria, sebelah matanya sedikit menyipit, seolah meledek Andini. Andini masuk ke dalam mobil, keningnya mulai berkerut. "Iya, tenang banget. Padahal aku khawatir gini.. "Satria tersenyum dan menutup pintu mobil. Lalu, ia berjalan menuju pintu mobil lainnya dan masuk ke dalam untuk
"Seneng?" tanya Siska. Ia mengerutkan kening sambil sedikit memiringkan kepala menatap lurus ke arah Bastian. Bastian mengangguk. "Iya. Hidup nyaman seperti kedua Tante kamu, tanpa harus lelah bekerja. Bukannya itu yang kamu inginkan?""Kamu bener, Bas! Cuma pas denger akan ada saingan dalam hidu







