تسجيل الدخول"Uhm.. Begini, Om," ucap Johan. Nada suaranya tetap tenang seperti biasa."Sebenarnya, saya juga ingin jeda waktunya lebih lama, agar persiapannya lebih tenang dan tidak terburu-buru. Tapi, mulai bulan depan jadwal kerja saya akan jauh lebih padat dari sekarang."Ia berhenti sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan pembicaraan."Selain itu, saya juga akan lebih sering pergi dinas ke luar negeri untuk menjalankan beberapa proyek baru. Dan kemungkinan waktunya dapat dipastikan lebih panjang dari perjalanan dinas pada umumnya."Siska langsung menoleh ke arah Johan.Johan membalas tatapannya dengan lembut."Saya ingin Siska ikut bersama saya nanti. Dan saya maunya status Siska udah jadi istri saya, Om."Kalimat itu langsung membuat beberapa orang di sana saling pandang.Andini bahkan refleks menutup mulut sambil menahan senyum gemas."Ya ampun... Johan manis banget sih," bisiknya pelan ke Zaskia.Sedangkan pipi Siska langsung merah padam."Astaga, Johan," gumamnya pelan sambil menunduk malu
"Tapi bener kan?" tanya Andini. Pipi Siska langsung bersemu merah. Begitu sampai di bawah, Satria berjalan mendekat ke arah putrinya. Tangannya terulur pelan.Siska langsung menggenggam tangan Ayahnya. Dan entah kenapa, di detik itu dada Satria kembali terasa penuh. Tatapannya tidak lepas dari wajah putrinya."Kamu cantik banget sayang," ucapnya lirih.Siska tersenyum kecil. "Makasih, Yah."Satria mengangguk pelan, tapi setelahnya ia malah membuang wajah sebentar. Seolah, sedang menahan sesuatu.Andini yang berdiri di dekatnya langsung memahami sikap Satria."Sayang, kamu jangan nangis duluan," ucapnya pelan, seraya mengingatkan suaminya. "Siapa yang nangis sih. Mata saya aja yang merah kena debu," ucap Satria, sambil terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya.Tak lama kemudian, prosesi inti dimulai. Kedua keluarga duduk saling berhadapan di area utama acara. Suasana berubah lebih formal dan khidmat.Perwakilan keluarga Johan mulai menyampaikan maksud kedatangan mereka dengan tenan
"Lo cantik banget sih, Sis. Sumpah!" ucap Andini, tanpa berkedip. Ia menatap lurus ke arah Siska yang wajahnya seratus persen mirip suaminya. Namun dalam versi perempuan. Wajah yang terlampau cantik dengan kulit putih bersih yang sehat, bibir kecil, dan tinggi bak model papan atas. Sedangkan tubuhnya yang seksi dan menarik seperti gitar spanyol selalu membuat orang terpukau. "Apaan sih, lebay banget lo, An!" tutur Siska, sambil tersenyum kecil. "Kayak orang baru pertama ketemu gue aja!"Andini terkekeh pelan. "Namanya juga kagum, gimana dong.."Akhirnya hari yang ditunggu tiba.Sejak sore, rumah keluarga Hasan sudah berubah menjadi jauh lebih hidup dan indah dibanding biasanya. Area halaman depan dipenuhi dekorasi bunga bernuansa champagne, peach lembut, dan ivory yang disusun elegan di setiap sudut. Lampu-lampu gantung kristal memantulkan cahaya hangat, membuat suasana terlihat mewah namun tetap anggun. Dan karpet panjang terbentang dari gerbang utama menuju area acara utama. Be
"Nggak nyangka kalo akhirnya kamu mau nikah, sayang," tutur Zaskia. Siska langsung salah tingkah sendiri."Aduh, apa sih, Bu... Bikin mellow aja..""Serius, sayang. Ibu inget, dulu kamu tuh paling takut ngomongin hal beginian. Takut ini, takut itu, banyak banget yang kamu takutin dan lebih milih ganti-ganti lelaki untuk nemenin kamu kalo bosan," ucap Zaskia Rania ikut menyahut pelan, "Betul. Udah gitu, setiap ditanya soal nikah, jawabannya selalu nanti atau belum siap."Siska menutupi wajahnya sebentar. "Udah, jangan dibahas terus dong... Kan yang penting sekarang udah mau.."Tawa kecil langsung memenuhi seisi ruangan.Beberapa saat kemudian, Satria datang. Ia baru saja pulang dari rumah salah satu kerabat dekat untuk meminta bantuan melakukan penyambutan saat keluarga Johan datang.Begitu masuk dan melihat ruang tengah penuh katalog serta daftar acara, ia sempat berhenti beberapa detik. Tatapannya berpindah ke Siska. Lalu berpindah ke Rania, Andini, dan terakhir ke Zaskia yang seda
"Gimana? Bagus nggak?" tanya Rania, sambil memperlihatkan katalog yang ia bawa. Pagi itu, rumah keluarga Satria sudah jauh lebih ramai dibanding biasanya.Beberapa katalog dekorasi memenuhi meja ruang tengah. Ada contoh warna kain, pilihan bunga, sampai daftar makanan dan minuman yang ditulis rapi di buku catatan milik Rania."Ini bunganya putih semua ya Bun?" tanya Andini sambil membolak-balik katalog. "Nanti malah kayak acara nikahan nggak sih, Bun?" "Emangnya kenapa? Bukannya cantik, An?" tanya Rania, dengan kening berkerut."Cantik sih, tapi kayak kurang pas aja, Bun. Kan ini masih acara lamaran," jawab Andini, sambil tersenyum tipis. Rania terkekeh pelan. "Ya, abis bagus sih. Kayak bersih, cantik gitu."Siska yang duduk di karpet sambil memegang tablet hanya menggeleng pelan melihat mereka berdua."Nenek mah emang sukanya sama yang mewah dan cantik.""Ya kan cucu nenek mau dilamar secara resmi, masa biasa aja," jawab Rania cepat.Andini langsung tertawa. "Bunda tuh seleranya
"Iya, aku tau," jawab Bastian tenang. "Tapi nggak apa-apa juga kan kalo sekarang aku ikut bantu kamu?" tanyanya pelan. Alya terdiam sebentar sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Tentu aja nggak apa-apa. Aku malah seneng banget dibantuin sama kamu."Setelah makan malam selesai, Bastian sempat membantu Oni membawa beberapa piring ke dapur walaupun sudah beberapa kali dilarang."Udah, nggak usah dibantu juga nggak apa-apa, Bas. Kamu istirahat aja," ucap Oni."Nggak apa-apa, Bu. Biar sekalian dan sedikit ngeringanin juga."Alya yang berdiri di dekat wastafel hanya memperhatikan sambil tersenyum kecil melihat Bastian yang biasanya terlihat rapi dan formal sekarang malah sibuk membantu membereskan dapur.Rumah itu terasa jauh lebih hidup malam ini. Memang tidak berlebihan dan terkesan mewah. Tapi jelas terasa hangat.Sekitar satu jam kemudian, semuanya sudah mulai bersiap untuk beristirahat. Alya masuk ke dalam kamar lebih dulu untuk memastikan Soni tetap tidur nyenyak. Sedangkan Bastian du
"Pedih banget.. " rengek Andini.Ia bangkit dari tidurnya dan bersandar di sandaran tempat tidur sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Andini tersenyum. Seolah ia baru saja memenangkan sesuatu. "Semalam luar biasa banget.. Emang nggak salah aku milih Om Satria untuk jadi yang pertama dan... te
"Apa?" Satria mengerutkan kening. "Iya! Kamu lihat kan, aku baru aja sampai dan langsung ke sini. Kalau harus ke rumah atau hotel kan butuh waktu, sayang!" rengek Zaskia. Dia menunjuk koper yang tadi ia bawa. Satria melihat ke arah Siska untuk meminta jawaban. Sayangnya, Ia hanya diam tidak memb
"Siska?" Andini memastikan. Dia membulatkan mata dan bangkit dari tempat duduknya. 'Siska baru aja datang kan?! Dia nggak denger semua yang gue omongin tadi kan?!' batin Andini, penuh harap."Iya! Ini gue!" tegas Siska. "Di mana Ibu? Gue nggak salah denger kan lo bilang tadi Ibu gue?" tanya Sisk
"Ibu... " ucap Zaskia pelan. Zaskia berhenti sejenak. Dia harus memilih kata terbaik agar Siska mau menerimanya kembali dan membantunya untuk bisa dekat dengan Satria. Ia menatap lurus ke arah Siska. "Pada saat itu... Ibu seperti terhipnotis, sayang!" "Ibu akan mencoba menjelaskan karena sekara







