ANMELDEN"Ah, iya!" ucap Siska, saat kedua matanya telah terbuka sempurna. Ia bangun saat cahaya pagi baru mulai masuk dari sela tirai. Beberapa detik ia hanya diam, menatap langit-langit kamar hotel dan memastikan tubuhnya sudah cukup stabil untuk bergerak.Ia menoleh. Johan masih tertidur pulas di sampingnya, napasnya teratur, wajahnya terlihat lebih tenang dibanding semalam.Tanpa suara, Siska bangkit dari tempat tidur. Ia merapikan rambut sekadarnya dan mengenakan kembali pakaiannya satu per satu. Karena ia dan Johan sempat melanjutkan pertempuran saat Siska memutuskan untuk tinggal di sana lebih lama. Gerakannya pelan, terlatih, seolah ini bukan pertama kalinya ia pergi lebih dulu. Ia melirik jam sebentar."Masih aman," gumamnya pelan.Siska mengambil tasnya, lalu berhenti sejenak di dekat nakas. Tangannya merogoh dompet, mengeluarkan beberapa lembar uang, dan meletakkannya rapi di atas meja. Ia tidak menulis atau meninggalkan pesan apa pun. Hanya uang saja, dan bagi Siska itu lebih da
"Uhm.." renguh Siska. Di kamar hotel, lampu redup masih menyala. Seprai sudah berantakan. Siska terbaring, napasnya perlahan mulai kembali teratur. Sedangkan Johan duduk di tepi ranjang, menyandarkan siku di lututnya.Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara."Kamu bsik-baik aja, Sis?" tanya Johan akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.Siska menganggukkan kepalanya perlahan. Ia menatap langit-langit sebentar sebelum akhirnya menjawab."Iya. Aku cuma sedikit… capek."Johan mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh. Dari raut wajah Siska, ia tahu ini bukan sekadar soal malam ini.Siska bangkit perlahan, meraih gaun malamnya yang tergeletak di samping tempat tidur."Aku balik ya, " ucapnya datar.Johan menoleh, matanya sedikit membulat. "Kamu, nggak perlu buru-buru juga, Sis."Siska menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku datang ke sini bukan buat tinggal, Jo."Nada suaranya tegas, tanpa emosi berlebih. Johan hanya tersenyum tipis, seolah sudah menduga."Oke."Beberap
"Akhirnya..," ucap Siska, saat ponselnya kembali bergetar.Ia melirik sekilas, lalu bergegas mengambilnya.Putri :Hotel Griya Dots, VIP Room 101. Tadi dia info, dia udah standby.Siska membaca pesan tanpa membalasnya. Ia bangkit dari duduknya tanpa banyak berpikir. Setelah itu, ia mengambil tas kecil. Memasukkan dompet dan ponsel. Tidak lupa ia mengambil kunci mobil.Ia keluar dari kamar dan menutup pintu seperti biasa. Pelan, tanpa suara.Perjalanan menuju hotel sangat lancar. Kini, Siska berdiri di depan kamar VIP nomor 110. Ia terdiam beberapa detik, namun ia yakin tadi pesan yang di kirim Putri 110. Iapun tidak ingin repot dan memastikannya kembali.Akhirnya, ia mengetuk pintu perlahan. Lalu, pintu sedikit terbuka.Siska langsung mengernyit. "Johan?"Pria di depannya sama terkejutnya. Hanya saja, Johan adalah orang yang dingin dan pendiam. Ia sangat pintar dan terbiasa mengatur ekspresinya tanpa sadar. Sehingga, hal itu tidak terlihat dari raut wajahnya yang terkesan tenang. "Iy
"Hah.."Siska menghela napas, lalu bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Tanpa berpikir panjang, keran air dibuka. Suara air mengalir memenuhi ruangan, memecah keheningan yang sejak tadi seolah menekan."Mungkin perasaanku akan lebih baik setelah mandi nanti," ucap Siska pelan. Ia berdiri beberapa detik. Lalu, tangannya bergerak membuka laci kecil di samping wastafel. Ia mengambil botol aromaterapi yang biasa ia pakai dengan aroma lavender. Tutupnya dibuka, lalu beberapa tetes ia tuangkan ke dalam air yang mulai memenuhi bathtub.Aroma lembut itu perlahan menyebar.Ia menghirupnya dalam-dalam. Bahunya yang sejak tadi tegang, kini sedikit turun.Air terus mengalir. Siska akhirnya mulai membuka pakaiannya satu per satu secara perlahan. Seolah, setiap gerakan butuh waktu lebih lama dari biasanya. Setelah air di dalam bathtub cukup penuh, ia mematikan keran."Aku rasa cukup," ucapnya Beberapa detik ia hanya berdiri di pinggir, menatap air yang sed
"Apa?" tanya Bastian. Ia jelas kaget dengan nada dan pilihan kata Siska. Itu bukan sekadar marah. Tapi itu adalah campuran dari rasa kecewa, terluka, dan kehilangan kepercayaan dalam waktu bersamaan."Beb, tenang dulu," jawabnya cepat, suaranya sedikit tertahan. "Nggak kayak gitu. Aku sama Alya nggak ada apa-apa sebelumnya. Kita baru kenal hari ini dan itupun karena project Keluarga An. Kejadian barusan itu cuma..."Siska tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi justru sebaliknya. Tawa yang tipis dan hambar."Barusan?" ulangnya pelan. "Dan kamu pikir itu bikin apa yang udah kamu lakuin sama Alya jadi lebih baik?"Bastian terdiam sesaat. Ia tahu, penjelasan seperti itu tidak akan terdengar meringankan di telinga siapa pun."Aku emang salah dan aku akui itu. Tapi bukan berarti aku main di belakang kamu, Beb. Aku nggak pernah berfikir jauh sampe seperti itu. Kamu yang paling tau gimana besarnya rasa cinta dan sayang aku ke kamu.""Cukup, Bas," ucap Siska. Ia kembali mengangkat tangan ka
"Kamu benar-benar menarik," gumam Alya. Ia tidak benar-benar berhenti. Jarak yang sudah semakin tipis itu, perlahan mulai menghilang. Napas mereka saling bersentuhan lebih dulu. Hangat dan teratur. Tapi anehnya terasa semakin berat.Bastian masih diam sesaat. Tangannya tetap berada di bahu Alya. Seolah, ia ingin menahan atau mungkin justru memastikan jarak itu tidak berubah sama sekali. Dan saat Alya sedikit memiringkan wajahnya, bibir mereka akhirnya saling bersentuhan. Singkat, sangat singkat.Namun cukup untuk membuat Bastian membeku sepersekian detik.Melihat reaksi Bastian, Alya tidak langsung mundur. Justru sebaliknya. Ia kembali mendekat. Semakin dekat. Dan kali ini lebih pelan dan yakin. Yakin kalau Bastian tidak menolaknya. "Uhm..," renguh Alya. Bastian menarik napas dalam, tapi entah kenapa ia tidak langsung menjauh. Sebagai laki-laki normal, reaksi itu datang begitu saja. Ada dorongan halus yang sulit diabaikan. Apalagi dengan Alya yang berdiri sedekat itu, tanpa ragu,
"Bob!" panggil Satria melalui telpon. "Iya, Pak.""Segera cari tau alasan Andini berubah sikap kepada saya!" perintah Satria. Dengan suara tegas dan berat. "Baik, Pak!" jawab Bob. "Oh ya, Pak! Barusan saya sempat lihat Andini dan Dion di lobby." Ia memberi informasi. Tadi, ia sempat meminjam c
"Om.. " panggil Andini. Satria menatap Andini sekilas, lalu kembali menaruh cangkir kopi di atas meja. "Kamu udah datang, ternyata. Silahkan duduk An." pinta Satria. Andini menarik bangku dan duduk berhadapan dengan Satria. Ada sedikit rasa ragu. Tapi, dengan cepat, ia menghempasnya. Ia tau Sat
"Apa?" tanya Satria. Ia sangat terkejut dengan informasi yang baru saja ia dengar dari Bob. "Jadi.. Perubahan sikap Andini disebabkan karena Dion memanipulasi akta cerai saya dan Zaskia?""Betul, Pak." jawab Bob dari balik ponselnya. "Kamu yakin?" tanya Satria, memastikan. "Iya, Pak. Di sana te
"Yang..." panggil Andini. "Kenapa?""Itu.. ponsel kamu dari tadi bergetar." ucap Andini sambil makan sandwich dan jus jeruk kesukaannya. Terlihat nama di layar ponselnya. Zaskia. 'Sekarang, dia pasti sudah tau dan sedang panik karena kartu debit dan kreditnya diblokir.' batin Satria. "Biarin aj







