MasukKeesokan harinya, suasana di rumah duka sudah mulai ramai sejak pukul tujuh pagi. Para tetangga dan kerabat dekat datang silih berganti untuk memberikan penghormatan terakhir. Alan berdiri di dekat pintu masuk, menyalami mereka satu per satu dengan wajah yang tampak begitu lelah dan tatapan mata yang kosong.Di lantai atas, Raisa memilih untuk tetap di dalam kamar, mengamati keramaian itu dari balik tirai jendela yang tersingkap sedikit.Sekitar pukul delapan lewat lima belas menit, sebuah mobil minibus hitam berhenti tepat di depan pagar rumah. Pintu tengah terbuka, dan tiga orang petugas kepolisian berpakaian preman turun terlebih dahulu. Tak lama, sosok pria paruh baya dengan kemeja putih kusut melangkah turun. Kedua tangannya tertutup jaket yang disampirkan di lengan, menyembunyikan kilauan besi borgol yang mengikat pergelangan tangannya."Papa..." gumam Alan pelan.Para pelayat di ruang tengah mendadak senyap saat ayah Alan melangkah masuk ke dalam rumah dengan pengawalan ketat.
Raisa masih terduduk di lantai, menatap Alan dengan pandangan yang perlahan mulai menjernih. Kabut kepanikan yang tadi menguasai kepalanya perlahan terkikis oleh rasa bingung.Ia menyentuh bibirnya yang terasa hangat, lalu beralih menatap Alan yang masih menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya.Keheningan di kamar itu mendadak terasa begitu pekat dan canggung. Hanya ada suara helaan napas mereka yang berangsur-angsur normal."Mas Alan..." panggil Raisa lirih. Suaranya kecil, nyaris tenggelam di antara rasa bersalah yang tiba-tiba menjalar di dadanya. Ia sadar, dalam kondisi tidak stabil tadi, ia pun ikut larut dan membalas sentuhan Alan.Alan perlahan menurunkan tangannya. Wajahnya tampak luar biasa pucat, gurat penyesalan tercetak jelas di matanya. Ia tidak berani menatap langsung ke arah mata Raisa. Pandangannya tertuju pada lantai kamar, tepat di sebelah pecahan lampu tidur yang berserakan."Aku yang salah, Raisa. Nggak seharusnya aku kehilangan kendali," ucap Alan, s
Jam dinding di ruang tengah sudah berdentang sepuluh kali. Keheningan malam mulai merayap masuk, menggantikan lantunan doa yang sejak sore bergema. Satu per satu kerabat dan tetangga berpamitan, menyisakan janji untuk kembali esok pagi guna mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.Kini, hanya ada Alan dan Rain yang duduk bersandar di dinding, menatap lilin yang menyala temaram di dekat brankar ibunya.Rain melirik arlojinya, lalu menghela napas berat. "Lan, gue kayaknya harus balik sekarang," ucapnya dengan suara rendah, memecah kesunyian. "Bukannya gue nggak mau nemenin lo semalaman, tapi subuh nanti gue harus stand by di bandara buat jemput nyokap."Alan menoleh, lalu mengangguk paham. Ia memaksakan sebuah senyum tipis untuk sahabatnya itu. "Nggak apa-apa, Rain. Lo udah bantu banyak banget dari siang tadi. Pulanglah, istirahat. Titip salam buat nyokap lo.""Lo beneran nggak apa-apa sendiri?" Rain memastikan sekali lagi sambil bangkit berdiri dan merapikan jaketnya. "Kala
Perjalanan kembali ke rumah duka terasa jauh lebih lambat dari sebelumnya. Alan fokus membelah jalanan malam, sementara Raisa duduk di sampingnya, memeluk erat jaket tebal yang diberikan Alan. Pandangan wanita itu lurus ke luar jendela, menatap lampu-lampu jalan yang bergerak cepat, namun jemarinya masih sesekali bergerak gelisah.Alan sesekali melirik ke samping, memastikan Raisa baik-baik saja. "Kamu dingin? Mau aku kecilkan AC-nya?" tanya Alan lembut.Raisa menoleh sedikit, lalu menggeleng pelan. "Enggak, Mas. Segini cukup." Suaranya masih terdengar serak, sisa dari tangisnya yang hebat tadi. Ia ragu-ragu sejenak sebelum kembali bersuara. "Mas... maaf ya. Aku benar-benar egois. Harusnya aku tahu kamu lagi berduka, tapi aku malah...""Sudah, jangan dibahas lagi," potong Alan halus. Ia tidak ingin Raisa kembali tenggelam dalam rasa bersalah. "Aku yang mutusin buat jemput kamu. Bagi aku, kondisi kamu itu darurat. Dan sekarang, yang penting kamu aman dulu."Mobil akhirnya memasuki gang
Mendengar tangis Raisa yang pecah dan terdengar semakin histeris di seberang telepon, pertahanan Alan runtuh. Rasa bersalahnya membuncah, mengalahkan logika bahwa ia seharusnya berada di rumah duka saat ini.Ia bisa membayangkan Raisa yang sedang meringkuk ketakutan di pojok kamar, persis seperti saat traumanya kambuh dulu."Raisa, hei! Tenang dulu, jangan nangis kayak gitu," ucap Alan panik, suaranya naik satu nada. Ia mondar-mandir di samping mobilnya, mengacak rambutnya dengan frustrasi."Aku takut, Mas... jangan tinggalin aku sendiri..." rintih Raisa di sela isakannya. Suaranya terdengar sangat sesak, seolah oksigen di sekitarnya benar-benar habis.Alan memejamkan mata sejenak, menoleh ke arah pintu rumahnya di mana bendera kuning sudah terpasang. Hatinya tercabik. Di dalam sana ada jenazah ibunya, tapi di telepon ini ada wanita yang nyawanya seolah sedang di ujung tanduk karena ketakutan."Ya sudah, kamu tunggu di sana! Jangan matikan teleponnya, tetap bicara sama aku," ucap Alan
Alan mencengkeram gagang telepon itu hingga tangannya bergetar. Ia bisa melihat binar harapan di mata ayahnya, sesuatu yang selama ini menjadi satu-satunya cahaya di tengah kegelapan sel penjara. Senyum itu seolah mengiris-iris hati Alan."Pa..." suara Alan pecah. Ia menunduk, tak sanggup membalas tatapan tulus pria di balik kaca itu.Ayahnya mulai menyadari ada yang tidak beres. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh kerutan cemas di dahi. "Kenapa, Lan? Ibu sakit lagi? Kamu butuh biaya untuk obatnya? Bilang sama Papa, Nak."Alan menggeleng perlahan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga, jatuh membasahi meja kayu di depannya. "Ibu udah nggak sakit lagi, Pa," bisik Alan serak. "Ibu... Ibu udah pergi."Hening seketika menyergap ruangan sempit itu. Ayah Alan terpaku. Gagang telepon yang ia pegang perlahan merosot dari tangannya, tergantung tak berdaya di kabelnya. Pria paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepala, seolah berusaha menolak kenyataan yang baru saja ia de







