ログインRaynard mencari tentang Melinda Tanaya di internet malam itu. Semua foto Melinda dan sepak terjangnya di dunia bisnis muncul begitu saja. Raynard menggeram kesal. "Sial! Seandainya aku mencari tentangnya sejak awal, aku tidak mungkin salah mengenali orang." Ditatapnya foto-foto Melinda. Sama sekali bukan foto seksi, melainkan foto anggun dan berwibawa layaknya pengusaha pada umumnya. Cantik, sangat cantik. Bahkan saat akhirnya bertemu di acara makan malam tadi, Melinda juga sangat ramah, sangat pintar, dan sangat menyenangkan. Namun, anehnya, Raynard terus memikirkan sang asisten yang bernama Lira itu. "Ah, Raynard! Apa yang sebenarnya ada di otakmu sampai kau bisa mengira dia itu Melinda. Biasanya kau tidak begitu." Sampai Raynard akhirnya sudah berbaring di ranjangnya sendiri, ia masih tidak berhenti memikirkan kebodohannya. Pagi itu, seperti biasa Raynard ke restoran untuk melihat progres restorannya. Lucas mampir ke sana pagi itu dan mengajak adiknya minum kopi bersama di se
Raynard masih mematung di tempatnya, belum benar-benar mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sampai tidak lama kemudian, suara Lira terdengar duluan. Untung saja Lira sudah melepaskan tangannya dari Raynard atau akan terjadi salah paham di sana. "Selamat malam semua," sapa Lira sambil menunduk sopan pada semuanya. Lira tersenyum, sebelum ia menyapa bosnya. "Pak Tanaya, Bu Tanaya. Bu Melinda, maaf aku masuk seperti ini." "Tidak apa. Ibu, tolong barangnya," seru Melinda. Bu Tanaya langsung mengeluarkan sebuah kotak dan Melinda pun menyerahkannya pada Lira. "Tolong antarkan ke rumahnya." "Baik, Bu." Lira menerima kotak itu. "Siapa ini, Melinda?" tanya Lisbeth yang langsung menyukai Lira pada pandangan pertama. Tipe wajah Lira itu hangat, sama seperti Rania. Dan Lisbeth menyukainya. "Oh, ini asistennya Melinda, Bu Lisbeth," sahut Bu Tanaya. "Masih muda sekali." "Dia masih ... berapa umurmu, Lira?" tanya Bu Tanaya lagi. "24 tahun, Bu," jawab Lira. "Ah, masih 24 tahun, hanya leb
"Selamat malam semua, maaf aku terlambat." Melinda masuk ke ruang VIP dengan gaun santainya yang anggun. Ia buru-buru berganti baju dan memoleskan make up tipisnya agar ia terlihat cantik di depan semua orang. Melinda tahu bahwa orang tuanya berencana mengenalkannya pada Raynard, anak dari pemilik Skyline. Melinda sudah mencari tahu banyak tentang Raynard dan Melinda mengagumi sosok Raynard. Bahkan, tidak jarang Melinda menonton YouTube dan Tiktok milik Raynard dan ia makin tertarik. Walaupun perjodohan ini belum resmi diumumkan, tapi Melinda berharap ia bisa berhubungan lebih jauh dengan pria itu. Hanya saja, pria itu belum terlihat di dalam ruang VIP malam itu. "Oh, akhirnya Melinda datang." Pak Tanaya dan Bu Tanaya langsung bangkit berdiri. "Melinda, ayo sapa semua!" Melinda berdiri di tengah orang tuanya dan menunduk sopan. "Apa kabar semua?" Rosano dan Camilla ikut berdiri. "Apa kabar, Melinda? Kau cantik sekali!" puji Camilla. "Terima kasih, Tante. Apa kabar, Om? Da
"Bagaimana pesta kemarin?" Keluarga Mahendra sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan pagi itu dan Camilla langsung menatap anaknya penasaran. Raynard melirik ibunya sejenak dan mengangguk. "Lancar, aku bertemu banyak teman di sana." "Lalu apa kau sudah bertemu Melinda?" Raynard terdiam sejenak mendengarnya. "Haruskah aku bertemu dengannya?" "Dia ada di pesta itu mewakili Tanaya Group, seharusnya kau berkenalan dengannya." Raynard tidak menyahut dan hanya mengunyah makanannya, tapi akhirnya ia tahu kalau wanita itu memang benar Melinda. Raynard memang tetap tidak mencari tahu apa pun tentang Melinda di internet karena harga dirinya tidak mengijinkan. Dan sampai detik ini, ia masih yakin wanita yang ia temui itu adalah Melinda. "Tidak apa! Kalau tidak bertemu juga tidak apa, bukankah kalian akan makan malam bersama?" sahut Lisbeth tiba-tiba. "Ya, akhir pekan besok, kita akan makan malam bersama dengan keluarga Tanaya sekaligus memperkenalkan Raynard dan Melinda secara resm
"Kau bertemu dengan Chef Raynard? Kau serius, Lira?" Mefi memekik tidak percaya saat Lira memberinya foto Raynard di pesta. "Ya, tanpa sengaja aku bertemu dengannya, lalu aku bercerita kalau aku punya teman yang mengidolakannya dan aku minta foto." "Oh, kau serius, Lira? Bagaimana kau bisa tiba-tiba minta fotonya? Apa dia langsung setuju? Kau bilang bagaimana? Dan dia menjawab apa? Dia pasti sangat ramah kan?" Mefi mendadak heboh dan terus bertanya, tapi sebelum Lira sempat menjawab, ponselnya sudah berbunyi.Lira langsung sigap meraih ponselnya, takut Melinda menelepon. Namun, alih-alih Melinda, yang muncul adalah tulisan Ibu di sana. Lira langsung mengembuskan napas panjangnya, tapi tidak mengangkatnya. Mefi menaikkan alis. "Siapa yang menelepon? Mengapa tidak diangkat?" Lira menunjukkan ponselnya. "Seperti biasa." Mefi langsung menutup mulutnya mengetahui ibu Lira menelepon karena ia tahu hanya ada satu alasan mengapa ibunya menelepon, yaitu minta uang. "Itu ... kau tidak m
Lira melangkah dengan percaya diri masuk ke ballroom hotel. Beberapa orang yang mengenalinya langsung menyapanya. "Selamat malam, Bu Lira." "Selamat malam, Pak." "Bu Melinda tidak datang?" "Iya, aku mewakilinya."Lira pun tersenyum dengan ramah dan langsung mengobrol dengan orang yang dikenalnya. Sebagai pebisnis yang cukup aktif, Melinda bertemu dengan banyak orang setiap harinya. Dan sebagai asisten yang sangat cakap, profesional, serta bisa diandalkan, Lira juga setia mengikuti Melinda ke mana pun, mengenal semua rekan bisnisnya, dan selalu siap menggantikan Melinda kapan pun bosnya itu membutuhkan. Lira pun sempat bertemu dengan Pak Rusdi dan menyerahkan hadiahnya, sebelum ia kembali mengobrol dengan yang lain. Lira tidak terlalu menyukai suasana pesta yang terlalu bising, tapi ia selalu suka momen berbincang dengan banyak orang, membuatnya merasa hebat, pintar, dan hidup. Ya, bekerja membuatnya melupakan semua masalah hidupnya yang menumpuk. Itulah mengapa ia suka bekerja







