로그인Rania membeku mendengar pertanyaan Lucas. Ia merinding karena merasa sedang dilecehkan sekarang.
"A-apa maksudnya, Pak? Harga apa? Maaf, Pak, aku tidak menjual diri! Permisi!" tegas Rania yang langsung bangkit berdiri lalu berlari kabur dari sana.
"Astaga! Rania, tunggu! Eh, maafkan aku, Bos! Maafkan aku!" seru Elvan sungkan, sebelum ia menyusul istrinya keluar.
Sementara Lucas hanya diam di tempatnya tanpa berniat mengejar sama sekali. Ia hanya memicingkan mata menatap pintu yang sudah tertutup itu. Namun, rasa tertarik di hatinya makin menjadi-jadi.
Setibanya di rumah, Elvan yang kesal pada istrinya pun langsung melampiaskan amarahnya.
"Kau itu kenapa sih, Rania? Mengapa kau tidak bisa melakukan apa pun dengan benar? Menuangkan wine tidak bisa, berdiri juga oleng, lalu mengapa kau harus duduk tegak tidak bergerak seperti patung sepanjang acara? Kau itu sedang bekerja, Rania!"
Tatapan Rania goyah mendengar bentakan suaminya.
"Aku tidak terbiasa dengan hak tinggi, Elvan. Dan aku juga tidak tahu harus melakukan apa tadi," sahut Rania terbata.
"Tidak tahu harus melakukan apa? Aku sudah bilang padamu, layani bosku! Tawari dia wine! Pijat dia atau apa pun! Hanya sebatas itu saja kau keberatan! Dan berani sekali kau menjawab tidak menjual diri tadi! Jangan kurang ajar pada bosku!"
"Lalu aku harus bagaimana, Elvan? Dia terang-terangan melecehkan aku dengan bertanya berapa hargaku semalam!"
"Melecehkan? Apanya yang melecehkan? Jangan sok suci! Bahkan dia menyentuhmu saja tidak!"
"Tapi dia bertanya ...."
"Itu bukan apa-apa! Kau lihat wanita yang diberi tips di dadanya tadi? Kalau uangnya sebanyak itu, kau juga harus memberikan dadamu! Itu tidak masalah!"
"Elvan!" Rania ikut membentak suaminya saking kesalnya.
"Kau berani membentakku! Kau ...."
Elvan sudah mengangkat tangannya ingin menampar Rania, tapi mendadak ponselnya berbunyi dan sebuah pesan masuk.
Ekspresi Elvan yang tadinya penuh amarah pun menjadi berbinar-binar melihat notifikasi transferan dari asisten Lucas untuk bayaran LC sekaligus tipsnya. Para wanita lain langsung menerima tipsnya, sedangkan Rania tidak berani menerimanya tadi dan meminta asisten Lucas mengirimkannya langsung pada Elvan.
"Uangnya sudah masuk! Uangnya sudah masuk! Haha, bayaran LC dan tipsnya! Syukurlah bosku tidak mempermasalahkan apa pun! Haha, ini sudah sebanyak gaji bulananku!"
Mendadak Elvan terus tertawa dan melupakan amarahnya.
"Kau lihat kan, Rania? Sudah kubilang kita bisa dapat banyak uang! Aku senang sekali! Ah, tapi ini bajuku, sana cuci dulu!" seru Elvan yang langsung membuka kemejanya dan melemparnya pada Rania.
Sontak Rania menangkap kemeja Elvan sambil menatap punggung suaminya yang langsung masuk ke kamar tanpa mempedulikan dirinya lagi.
Kedua bahu Rania pun langsung lemas. Ia sudah berusaha patuh dan berperan menjadi LC, tapi bukannya sikap lembut yang ia dapatkan, malah amarah.
Padahal sejak tadi Rania kedinginan dengan gaun tanpa lengannya, ia juga begitu tegang. Ia ingin dipeluk suaminya atau hanya sekedar belaian sayang.
Bukannya ia kegenitan, tapi Rania adalah wanita dewasa normal yang juga punya kebutuhan untuk disentuh, apalagi melihat para wanita LC tadi bermesraan dengan para pria itu.
Namun, suaminya lebih menyayangi uangnya. Rania sampai tidak ingat lagi kapan terakhir ia disentuh oleh suaminya, kapan terakhir mereka berhubungan? Elvan selalu pulang larut malam karena kelelahan bekerja dan sering tertidur di sofa.
Sebagai istri, Rania hanya bisa terus berusaha berbakti pada suaminya, walaupun sudah lama nafkah itu tidak pernah cukup lagi, nafkah materi, maupun nafkah batin.
Pagi harinya, teriakan Elvan terdengar begitu keras saat Rania masih berkutat di dapur.
"Rania, mana bajuku? Cepat, aku sudah terlambat!"
Rania yang mendengarnya pun segera menghampiri suaminya itu.
"Sebentar! Ini kemejanya." Rania menatap suaminya yang langsung mengancingkan kemejanya itu. "Aku sudah memasak, ayo sarapan dulu, Elvan!"
"Ck, aku tidak punya waktu makan masakanmu yang hambar itu. Aku makan di kantor saja!" sahut Elvan menyakitkan.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Elvan segera melesat pergi. Rania berdiri mematung, menatap pintu yang sudah tertutup dengan rasa sepi dan kecewa.
"Untuk apa aku masak kalau tidak ada yang makan," lirih Rania yang berakhir dengan sarapan sendirian, seperti biasanya.
Terkadang ia merasa tidak diinginkan oleh suaminya itu. Namun, ia tidak tahu kalau dirinya diinginkan oleh pria yang lain.
Lucas baru saja tiba di gedung perusahaannya Skyline Properties dan ia langsung memanggil Elvan pagi itu.
"Selamat pagi, Bos. Anda memanggilku?"
Lucas mengangguk. "Wanita yang kemarin itu, aku menginginkannya lagi, Elvan," sahut Lucas tanpa basa-basi. Lucas tidak bisa tidur semalaman memikirkan LC-nya yang terlihat polos, kaku, tapi membuatnya tertarik itu.
"Wanita ... wanita yang mana ini, Bos?" tanya Elvan ragu.
"LC-ku kemarin."
Tatapan Elvan langsung berbinar-binar mendengarnya.
"Ah, apa Anda membutuhkan LC lagi? Dia bisa menemani Anda kapan saja, Bos" seru Elvan yang langsung membayangkan berapa gepokan uang yang akan ia dapat kalau Rania terus menjadi LC untuk Elvan.
Namun, binar di mata Elvan pun seketika menghilang mendengar ucapan Lucas selanjutnya.
"Bukan LC, tapi aku menginginkannya di ranjangku."
**Beberapa bulan berlalu dan tanpa terasa kedua ibu hamil sudah mendekati waktu melahirkan. HPL Lira seharusnya lebih cepat beberapa hari dibanding Rania, tapi karena Rania melahirkan secara operasi, maka tanggalnya dipercepat, sedangkan Lira ingin melahirkan secara normal. Hari itu, setelah menjalani kehamilan kedua yang begitu hangat dan menyenangkan, akhirnya Rania melahirkan anak ketiganya melalui operasi cesar yang tetap mendebarkan untuknya. "Oek ... oek ...." Napas Rania dan Lucas tertahan sejenak, sebelum mereka menoleh ke arah dokter yang mengangkat anak mereka yang sangat gemoy itu. "Selamat, anaknya laki-laki, gemuk, kuat, dan sangat sehat." Para suster tertawa mendengarnya, sedangkan Lucas dan Rania langsung meneteskan air mata harunya. Mereka berfoto bersama dan seperti dulu, semua orang heboh begitu Lucas mengirimkan foto keluarga mereka. "Anak Kak Lucas sudah lahir!" pekik Raynard. "Cicitku sudah lahir! Cicitku sudah lahir!" pekik Lisbeth juga. Camilla dan Yetty s
Rania tahu ada yang tidak beres dengan dirinya beberapa hari terakhir itu. Ia jadi sering lemas, perut bawahnya terasa kram, tapi ia belum mual. Bahkan ia tidak ingat kalau haidnya sudah terlambat. Sampai saat akhirnya ia ke rumah Raynard dan mual karena bau ikan yang amis. Rania tahu sesuatunya adalah sesuatu yang besar. Setibanya di rumah, ia buru-buru memakai alat tespeknya ditemani suaminya yang sangat antusias. Lucas sudah menginginkan anak lagi sejak lama. Hanya saja, Rania yang menahannya karena ingin memberikan ASI eksklusif untuk kedua anaknya sampai dua tahun. Dan sekarang, saat akhirnya si kembar sudah berumur dua tahun, Rania benar-benar mendapatkan dua garis lagi di alat tespeknya. "Dua garis, Sayang! Dua garis? Kau hamil, Sayang! Kita akan punya anak lagi!" Sang CEO yang dingin itu benar-benar meloncat kegirangan begitu mengetahui Rania hamil. Lucas langsung menciumi wajah istrinya itu dan menggendongnya tinggi. "Astaga, turunkan aku, Lucas!" "Haha, maafkan aku, S
Lira terus menatap kotak kecil di tangannya malam itu. Di dalamnya ada alat tespek yang sudah ia bungkus rapi. Ia ingin memberi kejutan pada Raynard dan ia sudah tidak sabar. Lira juga sudah berpesan pada Dewi untuk tidak memberitahu siapa pun dulu karena Lira ingin memastikan melalui USG dulu. Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil Raynard pulang dan jantung Lira makin memacu kencang. Ia menyembunyikan kotaknya di ruang makan, lalu segera menyambut suaminya. "Kau sudah pulang, Raynard?" Ekspresi Lira begitu ceria sampai Raynard ikut ceria juga. Sejak menikah, Raynard selalu mengusahakan makan malam bersama istrinya. Kalau ia tidak bisa pulang cepat, maka ia akan menjemput Lira untuk makan malam bersama di restoran. Namun, hari ini, Raynard tidak ada kesibukan lain dan mereka pun bisa makan bersama di rumah."Aku pulang, Sayang. Mengapa wajahmu begitu ceria, hah?" Raynard memeluk istrinya itu dan menatapnya dari dekat. "Memangnya aku tidak boleh ceria?" "Bukan begitu, Sayan
Hampir dua bulan lamanya, keluarga Lucas dan Raynard berbulan madu keliling Eropa, dan setelah pulang, begitu banyak pekerjaan yang menanti mereka, terutama Lira yang akhirnya akan bergabung dengan Skyline. Setelah menikah, Lira tinggal di rumah keluarga besar Mahendra. Rumah itu besar dan megah, tapi tidak ada yang tinggal selain Raynard karena Camilla pun sudah kembali ke luar negeri. Sejak menyerahkan Skyline di Indonesia pada Lucas, sebenarnya pekerjaan Camilla tidak terlalu banyak, apalagi setelah Lira bergabung, Camilla makin tenang. Secara mengejutkan, Camilla juga sangat cocok dengan Lira dalam hal pekerjaan. Bahkan setelah kembali ke luar negeri, Camilla lebih sering menelepon Lira dibanding anaknya sendiri. "Begitu, Ibu, kurasa kita terima saja penawaran Pak Beny, ini cukup menguntungkan untuk kita," seru Lira di video callnya dengan mertuanya itu."Kau atur saja bersama Lucas, Ibu setuju, Lira." "Baiklah, Ibu. Aku akan mengaturnya." "Lalu Ibu ada mengirim vitamin, itu
Lira tidak pernah sempat menyahuti suaminya karena Raynard sudah menyambar bibirnya dan memagutnya. Kalau biasanya Raynard memagut bibirnya dengan lembut, tapi malam ini berbeda. Rasanya seolah Raynard menahan dirinya selama ini dan akhirnya tidak menahan diri lagi. Bibir Raynard meraup bibir Lira dengan ganas. Tangan Raynard menahan tengkuk Lira dan ia pun memperdalam ciumannya. Lira membalasnya, berusaha mengikuti intensitas Raynard. Terkadang Raynard tertawa kecil di antara ciumannya karena Lira membalasnya dengan belepotan, tapi Raynard tetap menciumnya sampai akhirnya Lira bisa mengimbanginya. Perlahan Lira merasakan hasratnya bangkit, apalagi saat tangan Raynard menyusup ke bajunya dan menemukan dadanya yang masih terbungkus bra. "Ah, Raynard ...," desah Lira saat merasakan remasan di sana. Perlahan ciuman Raynard pindah ke leher Lira, menyesap aroma manis Lira di sana, sedangkan tangan Raynard bermain makin liar di puncak gunung yang mengeras itu. "Raynard ...," desah Lir
Setelah acara pemberkatan di pagi hari yang begitu hangat, acara pun berlanjut ke resepsi di malam hari. Tamu undangan berkali lipat membeludak dibanding acara pagi tadi. Rosano dan Camilla benar-benar sibuk menyambut para tamu mereka, begitu juga dengan Lisbeth dan Lucas. Rania sendiri juga menyambut tamu, tapi juga ikut memeriksa semua makanan dan jajan agar tidak ada yang terlewat. Suara orang mengobrol dan suara tawa memenuhi ruangan itu hingga larut malam. Raynard pun membawa Lira berkeliling dan mengenalkannya pada semua kerabatnya. "Istrimu sangat cantik. Sekali lagi selamat, Raynard dan Lira." "Terima kasih." Tidak lama kemudian, Melinda dan kedua orang tuanya juga menyapa mereka. "Selamat, Raynard dan Lira!" seru Melinda yang langsung membuka kedua tangannya. "Melinda, terima kasih!" sahut Raynard yang memeluk Melinda singkat. "Terima kasih, Melinda!" Lira juga memeluk Melinda lebih lama, sebelum Lira memeluk Bu Tanaya juga yang sekarang sudah sangat netral. "Ini mas
Rania sontak menunduk begitu ia melihat siapa pria yang menjadi juri undangan itu. Jantungnya berdebar kencang. Pria itu adalah pria modus yang mobilnya mogok dan meminjam ponselnya tadi. "Astaga, mengapa bisa dia? Dia kan pria yang tadi? Bagaimana ini? Aku sempat membohonginya juga tentang batera
Rania berlari kecil begitu ia tiba di hotel Royal Palace. Napasnya tersengal, langkahnya seperti orang yang baru saja lari maraton, dan wajahnya memerah. Begitu masuk ke lobi hotel, hawa dingin AC langsung menyejukkan wajah panasnya. Lobi itu megah, lantainya marmer putih yang mengilap, lampu gant
Sepanjang acara makan malam berlangsung, Rania tidak berpindah dari sisi Raynard. Ia duduk sedikit lebih dekat daripada biasanya, seolah membutuhkan perisai. Rania berlindung di samping tubuh Raynard yang besar untuk menutupi garis pandang Lucas.Tapi itu tidak berhasil.Rania sudah berusaha untuk
"Sekali lagi selamat ya!" Ucapan selamat masih terdengar tanpa henti di ballroom itu. Para penonton dan peserta sudah mulai pulang, tapi masih banyak yang tinggal untuk merayakan euforia kemenangan itu. Rania sendiri masih mengobrol dengan banyak orang yang memberinya selamat dan tawa terus menge







