LOGIN"A-apa, Bos? Menginginkan di ... ranjang?"
Elvan benar-benar tidak menyangka bosnya akan menginginkan istrinya seperti ini. Tadinya ia hanya berpikir menjadikan istrinya LC, bukan benar-benar menjualnya.
Namun, tanpa berpanjang lebar, Lucas langsung mengeluarkan gepokan uang di meja yang nilainya jauh daripada kemarin.
"Apa uang ini cukup untuk membelinya semalam? Aku menginginkannya di ranjangku malam ini."
Elvan menelan salivanya. Jantungnya memacu kencang. Ini seperti rejeki yang tidak terduga. Kemarin malam ia sudah ditelepon penagih hutang. Dan baru saja ibunya juga menelepon meminta biaya renovasi rumah.
Ini rejeki nomplok, apa yang dibutuhkan disodorkan di hadapannya.
Untuk sesaat, Elvan mengalami dilema yang begitu sulit, tapi desakan kebutuhan membuatnya tahu apa yang harus ia lakukan.
"Aku ... akan membawanya malam ini, Bos," sahut Elvan akhirnya.
Malam harinya, Rania masih begitu sibuk di dapur saat pintu rumah dibuka dan Elvan masuk ke sana.
Rumah sewaan mereka tidak besar karena menyesuaikan dana yang Elvan punya. Awalnya, Rania yang berasal dari kampung sama sekali tidak keberatan tinggal bersama mertuanya, tapi Elvan lebih memilih menyewa rumah karena lebih dekat dengan kantornya.
Selain itu, Elvan yang punya gaya selangit pun gengsi kalau teman kerjanya tahu ia masih menumpang hidup di rumah ibunya. Karena itu, Elvan pun nekat menyewa rumah yang membuatnya harus pusing memikirkan biaya sewanya.
"Kau pulang lebih cepat, Elvan? Aku sudah memasak sayur untukmu," seru Rania sumringah sambil menunjukkan dua piring berisi sayuran yang berbeda.
"Ck, kau pikir suamimu ini kambing yang harus makan sayuran setiap hari, hah?" Elvan melirik malas, tapi ia segera teringat tujuannya dan ia pun berusaha sabar. "Tapi sudahlah, letakkan saja! Sekarang cepat mandi dulu dan ganti bajumu!"
"Ada apa? Kita mau ke mana?"
"Sudah letakkan dulu piringnya!"
Elvan pun menarik lengan Rania dengan buru-buru sampai Rania tersentak dan satu piringnya pun jatuh.
Pyar!
Piring itu pecah dan sayur yang sudah dimasak pun langsung berceceran di lantai sampai Elvan pun melotot kaget.
"Kau ini apa-apaan, Rania? Aku menyuruhmu meletakkan piringnya, mengapa kau malah memecahkannya? Kau pikir membeli piring tidak pakai uang, hah?"
"Itu ... aku tidak sengaja, Elvan. Aku akan membersihkannya."
Dengan cepat, Rania meletakkan satu piringnya yang lain dan berjongkok untuk membersihkan pecahan piring, tapi Elvan langsung membentak dengan tidak sabar sampai Rania yang kaget pun tertusuk pecahan piring.
"Auw!"
"Astaga, kau benar-benar membuatku emosi. Kau dengar aku bilang MANDI! MANDI! MANDI! Ya Tuhan! Mengapa istriku harus sebodoh ini? Nanti saja membersihkannya setelah kau pulang nanti malam! Ayo cepat mandi!"
Dengan kasar, Elvan menarik Rania berdiri tanpa mempedulikan jari istrinya yang berdarah dan air mata Rania yang sudah mengalir deras.
"Jangan pikirkan makanan, sekarang cepat mandi sana! Kau bau sekali! Lalu cepat pakai gaun ini dan berdandanlah sedikit!"
Rania menggeleng. "Mengapa aku harus memakai gaun lagi?"
"Sudah jangan banyak bertanya! Kalau suamimu menyuruhmu itu langsung kerjakan saja! Aku buru-buru!"
Elvan menarik Rania ke kamar mandi lalu menutup pintunya, memaksa istrinya mandi dan setelah Rania mandi, lagi-lagi Elvan memaksanya memakai gaun terbuka sampai Rania terus memeluk lengannya yang terbuka.
Elvan menyemprot banyak-banyak parfumnya sampai Rania terbatuk.
"Uhuk ... uhuk ... cukup, Elvan!"
"Ah, sekarang baumu sudah menggoda sekali! Tapi sial! Kita tidak punya waktu lagi. Langsung saja berangkat! Tidak usah berdandan!"
"Elvan, tunggu! Kita mau ke mana?" Rania terus memberontak saat suaminya menariknya masuk ke mobil perusahaan lalu Elvan segera melajukan mobilnya ke hotel.
Rania pun hanya bisa menatap horor pada hotel yang sama seperti kemarin.
"Mengapa kita ke hotel ini lagi, Elvan? Aku tidak mau seperti kemarin lagi! Kau bilang hanya satu kali kan aku membantumu. Aku tidak mau!"
Rania menolak turun dari mobil, tapi Elvan yang membutuhkannya pun kembali melunak.
"Sstt, Sayang. Tolonglah aku satu kali ini lagi. Bosmu menginginkanmu seperti kemarin. Ini tidak lama, oke? Hanya kau yang bisa membantuku."
"Elvan ...."
"Minumlah dulu agar kau lebih rileks." Elvan memberikan botol kecil berisi air pada istrinya itu, tapi Rania menolaknya.
"Aku tidak mau minum."
"Minum dulu, Rania!"
Elvan memaksa Rania minum dan istrinya itu pun minum dengan air mata yang menetes lagi.
"Janji padaku ini yang terakhir, Elvan."
Elvan mengangguk sambil tersenyum singkat. Tentu saja yang terakhir karena Lucas pasti akan berhenti setelah mendapatkan tubuh Rania.
"Ini yang terakhir, Sayang. Aku janji."
Rania mengembuskan napas panjang dan mengangguk dengan begitu berat. Ia tidak pernah tahu apa yang menunggunya di atas dan apa yang sudah Elvan masukkan ke dalam minumannya tadi.
**"Kau bertemu dengan Chef Raynard? Kau serius, Lira?" Mefi memekik tidak percaya saat Lira memberinya foto Raynard di pesta. "Ya, tanpa sengaja aku bertemu dengannya, lalu aku bercerita kalau aku punya teman yang mengidolakannya dan aku minta foto." "Oh, kau serius, Lira? Bagaimana kau bisa tiba-tiba minta fotonya? Apa dia langsung setuju? Kau bilang bagaimana? Dan dia menjawab apa? Dia pasti sangat ramah kan?" Mefi mendadak heboh dan terus bertanya, tapi sebelum Lira sempat menjawab, ponselnya sudah berbunyi.Lira langsung sigap meraih ponselnya, takut Melinda menelepon. Namun, alih-alih Melinda, yang muncul adalah tulisan Ibu di sana. Lira langsung mengembuskan napas panjangnya, tapi tidak mengangkatnya. Mefi menaikkan alis. "Siapa yang menelepon? Mengapa tidak diangkat?" Lira menunjukkan ponselnya. "Seperti biasa." Mefi langsung menutup mulutnya mengetahui ibu Lira menelepon karena ia tahu hanya ada satu alasan mengapa ibunya menelepon, yaitu minta uang. "Itu ... kau tidak m
Lira melangkah dengan percaya diri masuk ke ballroom hotel. Beberapa orang yang mengenalinya langsung menyapanya. "Selamat malam, Bu Lira." "Selamat malam, Pak." "Bu Melinda tidak datang?" "Iya, aku mewakilinya."Lira pun tersenyum dengan ramah dan langsung mengobrol dengan orang yang dikenalnya. Sebagai pebisnis yang cukup aktif, Melinda bertemu dengan banyak orang setiap harinya. Dan sebagai asisten yang sangat cakap, profesional, serta bisa diandalkan, Lira juga setia mengikuti Melinda ke mana pun, mengenal semua rekan bisnisnya, dan selalu siap menggantikan Melinda kapan pun bosnya itu membutuhkan. Lira pun sempat bertemu dengan Pak Rusdi dan menyerahkan hadiahnya, sebelum ia kembali mengobrol dengan yang lain. Lira tidak terlalu menyukai suasana pesta yang terlalu bising, tapi ia selalu suka momen berbincang dengan banyak orang, membuatnya merasa hebat, pintar, dan hidup. Ya, bekerja membuatnya melupakan semua masalah hidupnya yang menumpuk. Itulah mengapa ia suka bekerja
"Ibu ingin kau mewakili Ibu ke pesta nanti malam." Keluarga Raynard sudah berkumpul di ruang makan pagi itu untuk sarapan bersama. Ada Lisbeth, Rosano, Camilla, dan Raynard. "Hmm, pesta apa itu, Ibu?" "Pesta ulang tahun Pak Rusdi di hotel Golden. Tolong bawakan hadiah dari Ibu juga.""Apa asisten Ibu tidak bisa mewakili?" "Tidak bisa. Lagipula Ibu dengar orang yang mau Ibu kenalkan juga datang ke sana." "Orang siapa?" "Namanya Melinda, anak Om Tanaya dari Tanaya Group. Dia adalah wanita yang mau Ibu jodohkan denganmu." Raynard memutar bola matanya. "Ibu ...." "Ibu tidak mau memaksa, Ibu hanya memberitahu. Bukankah lebih baik kalau kau berkenalan dulu dengannya dalam situasi seperti ini dibanding langsung makan malam keluarga?" "Tapi tetap saja, Ibu. Ibu benar-benar berniat melanjutkan perjodohan ini?" "Hubungan kita dengan keluarga Tanaya sangat baik, jadi mengapa tidak? Kalian berkenalan dulu saja! Kalau kau mau mencari tentangnya, ini ada sedikit data tentangnya." Camilla
Semua orang masih terdiam mendengar ucapan Camilla, sedangkan Raynard langsung bereaksi keras. "Ibu, jangan bercanda! Ini sama sekali tidak lucu! Lagipula kita sedang ada di pesta ulang tahun si kembar, mengapa aku jadi dibawa-bawa, hah?" "Ibu tidak bercanda, Raynard! Ibu sudah mengatur semuanya." Raynard makin membelalak. "Ibu mengatur apa? Perjodohan? Ayolah, Ibu, ini sudah jaman apa? Nanti ada saatnya aku membawa wanitaku sendiri. Oke?" "Ah, sudahlah, kita sedang merayakan hari bahagia, mengapa ribut sekali?" sela Lisbeth akhirnya. "Beritahu Ibu, Grandma, aku tidak mau dijodohkan." "Ibumu ingin yang terbaik untukmu, apa salahnya bertemu dengannya? Kalau tidak cocok ya tidak usah dilanjutkan, seperti yang Lucas lakukan waktu itu," seru Rosano bijak. Rania tidak bisa ikut bicara, sedangkan Lucas langsung mengangguk. "Baiklah, walaupun aku tidak setuju dengan perjodohan, tapi Ayah benar, Raynard, kalau tidak suka, tidak usah dilanjutkan." Raynard langsung mengembuskan napas pa
Saat Rosano mengatakan akan mengadakan pesta besar untuk ulang tahun si kembar, ia tidak berbohong karena pesta itu benar-benar besar dan meriah layaknya pesta pernikahan. Ballroom utama Skyline Grand Hotel malam itu berubah menjadi negeri dongeng kecil.Langit-langit tinggi dihiasi instalasi balon transparan berisi confetti emas dan biru muda. Lampu kristal pun memantulkan kilau pada backdrop raksasa bertuliskan: DAVID & RALINE – ONEderful Year.Tema biru lembut dan putih mendominasi. Ada mini carousel di sudut ruangan, photobooth dengan awan-awan kapas, dan meja dessert sepanjang lima belas meter hasil kreasi Rania, Raynard, dan beberapa chef pastry lain, termasuk di antaranya Aldo dan Sissy. Ada cupcake pastel, macaron berbentuk beruang, hingga kue ulang tahun tiga tingkat dengan detail mahkota kecil di puncaknya.Para tamu berdatangan tanpa henti. Rekan bisnis keluarga Mahendra, kolega, teman, sampai kerabat jauh keluarga memenuhi ballroom.Musik live orchestra memainkan lagu-l
Beberapa waktu berlalu dan semua yang bersalah mendapatkan hukumannya. Elvan dihukum penjara selama 5 tahun atas kesalahannya sebagai dalang fitnah, pencemaran nama baik, manipulasi, dan memalsukan hasil tes DNA. Elvan yang membayar wartawan untuk menyerang Rania juga terbongkar dan memperberat hukumannya. Pak Beno sebagai orang yang memodali kejahatan dan otak kejahatan juga dihukum 5 tahun penjara beserta uang denda yang cukup banyak sebagai kewajiban mengganti kerugian yang sudah ditimbulkan atas fitnahnya. Perusahaan Pak Beno juga terguncang dan tidak diijinkan masuk ke proyek besar lagi selama beberapa tahun. Clara yang awalnya hidupnya sudah damai, karena ketamakannya akhirnya harus menanggung akibat perbuatannya juga. Clara dipenjara 3 tahun karena kesalahannya fitnah, pencemaran nama baik, dan eksekutor dalam kasus ini. Clara juga diawasi ketat terkait hak asuh atas Jimmy. Keluarga Yanuar mengajukan diri untuk mengasuh Jimmy, bukan untuk merebut hak asuh itu dari ibunya, ta







