"Bagus lah kalau tahu diri, hanya mengingatkan saja. Ini tetap kamarku, dan kamu bisa kembali lagi ke kamarmu setelah mami pulang," ucap Rasnya selalu seenaknya. Seakan tidak pernah menganggap Ruma sedikit pun.
Gadis itu tidak menjawab lagi. Sebenarnya dia sangat lelah dan butuh istirahat segera. Namun, rasanya tidak pantas kalau tidak menemui mertuanya yang sudah menyempatkan ke rumahnya. Apalagi beliau orangnya juga sangat baik."Temui mami, berbaik hatilah kamu dan jangan sampai beliau tahu tentang hubungan kita," kata Rasya mewanti-wanti.Dia selalu mengajarkan Ruma untuk berbohong pada ibunya. Bersikap seolah hubungan mereka normal seperti pasangan lainnya. Padahal tidak sama sekali, semua hanya pencitraan di depan keluarganya saja.Ruma keluar kamar setelah beres mandi. Dia menemui mertuanya yang sudah datang sejak setengah jam lalu."Assalamu'alaikum Mi," sapa Ruma santun. Seperti biasa, menyalim takzim beliau."Kamu apa kabar Rum, baru saja pulang ya?""Baik Mi, iya, Mami mau minum apa?""Nanti saja gampang mami ambil sendiri. Kamu kelihatannya lelah.""Enggak kok Mi, sebentar," jawabnya berlalu. Beranjak ke dapur untuk membuatkan minum. Disusul Rasya tiba-tiba."Ingat ya Ruma, jangan cerita yang aneh-aneh. Awas kamu kalau sampai berani mengatakannya," ancam Rasya menghentikan aktivitas Ruma sejenak."Kenapa takut sekali Mas, bukankah memang hubungan kita seperti ini. Kalau kamu merasa lelah bisa kok kita berhenti berpura-pura lagi," kata Ruma lama-lama malas juga.Setahun Ruma bersabar, meraih cinta suami yang nyatanya masih terpaut dengan orang lain. Dia harus menjaga perasaan ibunya. Sementara perasaan dirinya, peduli juga nggak."Jangan banyak tingkah, kamu mau kedua orang tua geger. Mami itu punya riwayat jantung. Bisa anfal dia kalau denger yang tidak-tidak. Jadi, kerja sama lah yang baik," pesan pria itu menyebalkan sekali.Selama ini Ruma diam, membiarkan Mas Rasya terus bersikap demikian. Setahun rasanya sudah cukup Ruma terus mengalah. Sudah saatnya dia melepaskan orang yang tidak pernah bisa menghargai dirinya sama sekali. Hanya karena dia calon seorang dokter, mau menikah demi menjaga amanah papinya. Karena sejatinya Rasya sama sekali tidak mencintai Ruma. Dia mencintai perempuan lain yang tidak pernah direstui kedua orang tuanya.Gadis itu berjalan tertata menuju ruang keluarga menjamu ibu. Mempersilahkan mertuanya untuk menikmati kudapan yang sudah tersaji."Minum Mi, maaf, tidak tahu kalau Mami mau datang, jadi nggak persiapan," kata Ruma sembari menaruh teh hangat di meja."Santai saja Rum, mami di sini mau lama. Semingguan, biar kangen mami terobati.""Seminggu Mi?" tanya Rasya jelas merasa keberatan. Bukankah itu terlalu lama, bagaimana ceritanya kalau Mami menginap seminggu."Iya, memangnya kenapa? Kok ekspresi wajah kamu kaya nggak suka gitu mami mau nginep di sini. Takut mengganggu keromantisan kalian ya. Tenang saja Rasya, mami tidak akan mengurangi keromantisan kalian kok. Mami malah pingin kalian segera punya anak.""Mami, Ruma ini masih sangat muda dan tengah sibuk-sibuknya memikirkan karirnya. Jadi, jangan berharap dulu. Kita juga santai kok Mi.""Mami tahu, tapi mami ini sudah tua. Kodrat wanita kan ya emang begitu. Tidak apa kalau dikasih cepat, jangan menundanya ya," ucap Mami membuat Ruma diam.Sejenak perempuan itu kepikiran, bagaimana kalau dia hamil atas insiden itu. Sedang Rasya justru belum pernah menyentuhnya. Apakah dia harus merayu suaminya agar menyentuhnya. Terus, kalau Rasya mempertanyakan hal itu. Bagaimana Ruma menjawabnya. Mendadak wanita itu kepikiran."Rum, Ruma? Capek banget ya sampai melamun gini?" tegur Mami."Eh, maaf Mi," ujar gadis itu tergeragap. Selain lelah, dia juga mengantuk sebenarnya. Hanya saja, segan untuk meninggalkan ruangan itu."Kalau capek istirahat saja, jangan dipaksain. Lagian baru pulang pasti lelah. Sudah sana masuk kamar!" titah Mami melihat menantunya sepertinya lelah."Terima kasih Mi, Ruma ke kamar dulu," ucap wanita itu pamit."Kamu nggak makan?" tanya Rasya mengingatkan."Sudah tadi Mas, masih kenyang. Mas temani mami saja," sahut Ruma lalu beranjak.Dia langsung ke kamar untuk istirahat. Selang satu jam kemudian, Rasya baru menyusul ke kamar. Dia melihat Ruma yang sudah menempati sofa. Seketika Rasya merasa lega.Pria itu baru saja hendak merebah. Tetiba handphonenya berdering pertanda ada panggilan masuk. Ia langsung menilik ponselnya. Wajahnya tersenyum melihat siapa yang menghubunginya."Mas, aku sedari tadi nungguin, apa kamu lupa," rengek perempuan di sebrang sana. Kekasih Rasya menelponnya dengan manja."Maaf sayang, malam ini aku tidak bisa keluar. Ada mami aku di rumah," adu pria itu setengah berbisik."Lah, kalian tidur bareng dong. Pokoknya awas kamu ya Mas, sampai berani sentuh Ruma. Aku udah capek-capek nungguin kamu," ujar perempuan itu mengomel."Nggak kok, dia udah tidur di sofa. Mana aku doyan perempuan kaya dia. Jangn khawatir, kalau tahu Ruma tidak hamil, dan tidak akan pernah hamil pastinya. Nanti lama-lama juga pasti mami nyerah. Itu saat yang tepat aku menceraikannya. Kamu yang sabar ya, sekarang lagi berjuang dulu.""Jadi, ini beneran nggak bisa datang? Duh ... mana aku lagi kangen berat juga.""Sabar dong sayang, besok kita bisa ketemu sepuasnya," ujarnya manis. Mereka menutup panggilan itu setelah puas mengobrol.Rasya sebenarnya ingin sekali keluar. Dia juga tahu istrinya yang kelelahan itu sudah tertidur. Pasti tidak akan notice juga kalau dia keluar. Namun, perkara ibu bisa berbahaya juga kalau sampai tahu. Pria itu pun tahan-tahan sampai esok harinya.Barulah setelah hari berganti, dia bisa saja alasan pulang terlambat seperti biasanya. Aman, maminya yang cerewet itu pasti tidak akan banyak komentar.Pagi harinya, Ruma sudah bangun di awal waktu seperti biasa. Dia berangkat pagi ini di jam normal orang bekerja. Mereka menyempatkan sarapan bersama, lalu berangkat dengan kendaraan masing-masing.Ruma sibuk di rumah sakit sampai sore. Kebetulan dia memang tengah tugas jaga di poli IGD."Koas, pasien laka lantas di bilik satu, baru masuk!" seru seorang perawat menginterupsi."Siap Kak," jawab wanita itu langsung memeriksanya.Dia tertegun saat melihat ada Rasya juga di sana. Menemani seorang perempuan yang sepertinya sangat dikhawatirkanya."Dokter, sakit ini," keluh perempuan itu tak sabaran.Ruma langsung memeriksa pasien yang mengalami luka pada kakinya. Rupanya wanita itu jatuh dari motor."Mas, mau ke mana, sini saja jangan tinggalin," rengeknya manja. Pasien bernama Rina ini sepertinya tahu kalau Ruma adalah istrinya Rasya. Jadi, dia sengaja bersikap demikian untuk mendapatkan simpati lebih darinya."Sebentar, aku harus mengurus administrasi kedatangan kamu dulu," ujar Rasya beranjak.Pria itu keluar, hal yang sangat kebetulan karena bisa bertemu dengan sahabatnya."Raja!" seru Rasya dengan akrabnya."Rasya! Hai Bro? Siapa yang sakit? Tumben di sini?""Mas! Mas!" panggil Rina dari dalam. Membuat atensi Raja teralihkan."Istrinya yang sakit?" tanya Raja spontan."Hmm ... dia baru jatuh dari motor. Gue mau urus pendaftaran dulu.""Sudah ada dokter yang menangani? Parah?""Iya, sedang dalam pemeriksaan. Semoga saja tidak. Lama tidak bertemu, apa kabar?""Baik, alhamdulillah. Iya lama, apa kabar teman-teman. Kami lepas kontak.""Sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Dengar-dengar mau nikah. Semoga dilancarkan, undangannya belum sampai loh.""Ya, baru rencana. Aamiin ... maaf banget waktu itu nggak sempat datang karena suatu hal.""Tidak apa, ya tahu, kamu pasti sangat sibuk di rumah sakit sebesar ini."Lantaran terdengar nada marah-marah di ruang UGD. Raja sampai masuk untuk mengkondisikan pasien."Ada apa ini?" tanya Raja langsung mendekat. Pasien baru masuk itu sangat berisik dan rewel. Membuat Ruma menekan sabar banyak-banyak."Dokter Raja, dia tidak mau disuntik Dok, padahal saya harus menjahit lukanya biar tidak sakit," adu Ruma sungguh pasien satu ini menyebalkan sekali.Rasya ikut masuk setelah menyelesaikan pendaftaran."Mas, kamu kan tahu aku takut jarum suntik. Emang tidak bisa bius selain suntik," keluhnya dengan nada manja."Udah, nggak pa-pa kok, jangan takut, aku kan di sini. Lukanya harus ditutup, kamu bakalan kesakitan," bujuk Rasya penuh perhatian.Rasanya Ruma ingin sekali keluar dari bilik itu. Dadanya mendadak sesak melihat kelakuan dua orang di depannya.Raja yang sekilas memperhatikan Ruma pergi begitu saja. Merasa dia sangat tidak berkompeten sekali dalam menghadapi pasien."Mau ke mana? Bukankah seharusnya tetap melayani pasien?""Jam kerja saya hanya sampai sore Dok, ganti shif," kata Ruma memang seharusnya menyelesaikan pemeriksaan terakhir. Jelas itu membuat penilaian kinerja Ruma tidak baik."Siapa dokter pembimbing kamu?""Kenapa?"Mas Raja yang menggoda, Ruma yang tidak suka. Suaminya ini kenapa malah dicie ciein, apa dia tidak bertanya-tanya kenapa Rina dan ibunya Rasya datang ke rumah. "Rum, maaf mengagetkan kamu pagi-pagi. Kebetulan sekali kalau Dokter Raja juga ada di rumah."Iya, Ruma memang kaget, ada hal penting apa sampai Rina dan mantan ibu mertuanya datang ke rumah. Sepertinya Mas Rasya juga, tetapi kenapa pria itu tidak turun dari mobil. "Iya, silahkan masuk Rin, Tante," ucap Ruma menyambutnya dengan hangat. Yang berlalu biarlah berlalu, yang penting sekarang Ruma mempunyai keluarga yang menyayanginya penuh syukur. "Terima kasih banyak, Rum," jawab Rina dan Tante Maria masuk. Lalu mengambil duduk setelah dipersilahkan. Kedatangan kedua orang di masa lalu Ruma tentu bukan tanpa alasan. Mereka merasa perlu bersilaturahmi untuk melegakan hatinya. Tentu saja karena memang ada suatu hal yang tidak melegakan hatinya. "Sebelumnya, maaf jika kedatangan kami membuat kamu dan keluarga tidak nyaman. Sudah
"Sayang, lama banget, itu MUA-nya udah datang." Raja sampai menyusul ke kamar mandi sebab istrinya tak kunjung keluar. "Suruh nunggu Mas, aku sedikit mual." Ruma keluar kamar mandi dengan wajah sedikit pucat. "Loh, kamu sakit?" Dari semalam Ruma memang kurang enak badan. Sedikit masuk angin dan kurang istirahat lebih tepatnya. Jadi, berefek paginya. Padahal hari ini ada acara aqiqahan baby Maher. Malah mendadak tidak enak badan begini. "Nggak Mas, aku cuma agak mual dikit."Semalam baby Maher banyak rewelnya, tumben sekali bayi mungil itu meminta perhatian lebih. Ruma tidak bisa tidur nyenyak gegara putranya terlihat tidak seperti biasanya. Dia takut sendiri dan sedikit trauma kalau sampai ada apa-apa dengan bayinya. "Masuk angin sih ini. Minum obat ya, aku ambilin. Udah makan kan?""Nggak Mas, nggak usah. Ini udah agak mendingan kok," tolak Ruma merasa lebih baik. Pria itu beranjak mengambilkan minum hangat. Menganjurkan istrinya rehat sejenak. Acaranya masih nanti agak siangan,
Ruma dan Raja sepakat mencari pengasuh untuk baby Maher. Tentu saja untuk meringankan pekerjaan istrinya. Apalagi sekarang Ruma tengah masa pemulihan pasca melahirkan. Sudah pasti repot harus membagi waktu untuk dirinya dan juga bayinya."Mas, nanti aku jadwal kontrol. Sekalian ke rumah sakit ya.""Iya, nanti aku antar. Jam berapa sayang?""Siang lah, kamu hari ini berangkat?""Cutiku udah habis, siang ya, nanti aku anterin dulu kalau pagi. Aku langsung pulang beres dari rumah sakit."Waktu Raja memang sangat sibuk. Dia hanya cuti beberapa hari menemani istrinya di rumah sakit dan di rumah. Selebihnya kembali sibuk di rumah sakit. "Iya, nggak pa-pa, ada suster Anna yang bantuin." Untungnya sesama dokter, jadi lebih tahu kesibukan masing-masing. Tidak menuntut untuk dimengerti sendirian. Saling memaklumi karena kehidupannya memang bukan sepenuhnya milik pasangannya. Harus terbagi dengan banyak orang yang membutuhkan.Setiap libur, Raja selalu meluangkan waktunya full di rumah. Karena
Ruma langsung mengiyakan, HPL memang masih akhir bulan, tetapi benar tanda-tandanya baby boy mau launching. "Bisa jalan?" tanya Raja khawatir. Ruma mengangguk, walau dengan wajah menahan sakit, cukup aman untuk berjalan sampai ke mobil. "Ayo sayang, hati-hati!" Abi Zayyan dan juga Ummi Marsha juga langsung ikut ke rumah sakit. Sementara Bik Sumi pulang dengan taksi membawa belanjaan mereka. "Tambah kerasa ya?" tanya Raja sembari mengemudi perjalanan ke rumah sakit. "Iya Mas, lumayan," jawab Ruma memejam. Mengatur nafas, dan sesekali merilekskan tubuhnya saat tengah nyeri. Ini bukan pertama kali bagi Ruma, tetapi sakitnya tentu sama saja satu rasa. Namanya orang mau melahirkan, di mana-mana pasti luar biasa. "Lancar-lancar ya sayang, bantu Buna," ucap Raja sembari mengelus perut istrinya. Begitu sampai di rumah sakit, Ruma langsung disambut hangat oleh tim medis. Perempuan itu langsung dibawa ke ruang bersalin. Setelah dicek ternyata memang sudah pembukaan tiga. Masih lumayan
Empat purnama tak terasa berlalu dengan cepat, Ruma kini tengah menanti hari-hari kelahiran anak kedua. Perempuan itu juga sudah menyelesaikan waktu magangnya. Jadi, bisa mempunyai banyak waktu di rumah menanti launching anak kedua."Aku berangkat ya, nanti kalau ada apa-apa kabari. Jangan belanja sendirian, nanti malam saja aku temani setelah pulang," pesan Raja tak membiarkan istrinya beraktivitas di luar tanpa dirinya. "Iya Mas, tapi kalau misalnya siang berubah pikiran, terus ditemani Bik Sumi gimana? Kan nggak sendirian juga." Tidak ingin terlalu banyak merepotkan, asal Raja mengizinkan, Rumah tidak mengapa berbelanja sendirian."Duh ... bumil ngeyel ya. Ya sudah, nanti pakai supir saja. Hati-hati ya, ingat selalu berkabar di mana pun berada." Raja mode posesif, bukan apa-apa, dia khawatir mengingat istrinya hamil besar. "Siap Mas, kamu juga hati-hati berangkat kerjanya," balas Ruma mengiyakan. Ruma menyalim takzim suaminya. Raja membalasnya dengan kecupan sayang di keningnya,
"Ya Allah ... capek Mas, izin ke kamar ya," pamit Ruma setelah membantu membereskan sisa acara tadi. Padahal cuma bantuin dikit, tapi berasa sekali punggungnya. "Kamu sih, dibilangin nggak usah masih suka maksa. Udah istirahat saja." Kalau Ruma sudah mengeluh, Raja yang khawatir. Istrinya itu kadang bandel, tapi ya namanya juga perempuan aktif, mana bisa diem. "Hem ... tadi nggak berasa Mas, sekarang baru terasa," ucap Ruma beranjak. Raja ikut mengekor istrinya ke dalam. Suasana rumah juga sudah sepi, semua tamu dan keluarga dekat sudah pulang sejak tadi. "Sayang, aku pijitin ya," kata pria itu perhatian. Bukan satu dua kali, Raja memang sering melakukan hal semacamnya saat istrinya mengeluh lelah. Ya walaupun ujung-ujungnya tetap bonus adegan panas. "Hmm ... beneran pijat atau minta bonus." Ruma sadar, wanita itu kemarin menundanya. Dia bahkan berjanji sendiri setelah acara bakalan nyenengin suaminya. Tapi, terkadang ekspektasi tak sesuai realita. Ruma terlihat ke
"Tidur sayang, aku tahu kamu capek. Aku nggak akan ganggu," kata Raja pengertian. "Baiknya suami aku. Terima kasih Mas," ucap Ruma merasa merdeka. Dia benar-benar tengah lelah. Beruntung punya Mas suami yang super pengertian, jadi tidak ada drama yang berkepanjangan."Ini beneran kan? Nggak ada mode dendam?" tanya Ruma menatap serius. "Astaghfirullah ... kamu capek kan? Tidur sayang, sebelum aku berubah pikiran," jawab Ruma gemas sendiri. "Oke sayang, besok dobel deh karena malam ini udah baik. I love you," kata wanita itu tersenyum lega. Mengecup pipi suaminya lalu menarik selimut rapat-rapat."Love you more," balas Raja tersenyum sembari mengelus kepalanya lembut. Dia benar-benar meloloskan Ruma malam ini. Tak perlu menunggu lama, wanita itu lelap menemukan kenyamanannya. "Bobok yang nyenyak," ucap pria itu menarik selimut, lalu menciumnya dengan sayang. Raja mana tega eksekusi istrinya mode maksa. Apalagi fisik Ruma tengah mode lelah plus hamil muda. Jadi, menyala sabarnya.Sem
Berita kehamilan Ruma begitu menggembirakan untuk keduanya. Namun, Ruma dan Raja sepakat tidak membagi kabar bahagia ini dulu dengan keluarga besar. Namanya juga baru trimester pertama dan masih rentan, jadi sabar menahan diri untuk berbagi kabar menyenangkan ini. Raja juga khawatir kalau di luar sana ada saja orang yang mungkin tidak berkenan dengan hubungan mereka.Setelah berjalan empat bulan, Ruma baru berani speak up, tepatnya saat hendak menjalani acara empat bulanan. Kedua orang tua Raja dan juga kedua orang tua Ruma sampai terheran-heran ketika diberi tahu kabar bahagia ini."Kapan acaranya, Ja? Kok baru ngabarin?" Ummi Marsha jelas kaget sekaligus senang mengetahui menantunya tengah hamil. Raja sengaja menemui ibunya setelah dinas hari ini. Sebenarnya dia sudah tidak sabar membagi moment ini. Alhamdulillah sampai juga di acara empat bulanan. "Besok Ummi, Ruma juga sekarang masih dinas. Memang rencananya meminta libur sehari saja untuk acara besok.""Masya Allah alhamdulillah
"Sayang, kalau mau ada yang dibeli pesan dari rumah aja. Misal butuhnya sekarang, atau udah mau butuh banget buat besok." "Iya Mas, santai aja. Sekarang kan serba mudah. Orang belanja sayuran segar aja bisa dari rumah. Cuma ya itu, yang mahal kan waktunya. Aku pingin jalan berduanya." "Duh ... kapan ya, besok sore gimana? Nggak mau janji juga, semoga nggak ada pasien mendadak." "Aamiin ... ngabarin aja Mas, tapi semoga bisa ya. Eh gimana kalau malam sabtu." "Kalau malam sabtu malah sudah berencana bad minton sama temen-temen. Boleh kan yank." "Duh ... aku ditinggal gitu sendirian di rumah." Ruma merengut, nggak enak banget malam-malam sendirian di rumah. "Boleh ikut kok, ada banyak teman-teman juga. Mungkin pada bawa pasangannya juga." "Beneran boleh ikut?" "Iya boleh." Waktu berdua itu sangat berharga bagi mereka. Semenjak kepergian putrinya, Rumah memang anti kesepian. Dia juga terlihat lebih manja dengan suaminya. Beruntung mempunyai suami yang pengertian, sama-sam