MasukPagi berikutnya, Meysa tiba di kantor PenaKata lebih awal, didorong oleh kombinasi gugup dan keinginan membuktikan diri. Ia naik ke lantai lima, menuju ruang kerja Wildan.
Koridor terasa sunyi. Seorang staf wanita muda menyambut Meysa di lorong dengan senyum ramah. "Pagi, Kak Meysa. Pak Wildan belum datang. Silakan masuk saja," kata staf tersebut, menyerahkan kunci duplikat. "Kami sudah siapkan aksesnya, supaya Kak Meysa tidak perlu menunggu di luar. Kalian kan sudah kolaborasi intens." Meysa mengangguk kaku, menerima kunci perak itu. Ia merasakan tatapan menyelidik dari beberapa meja yang ia lewati, seolah ia adalah bintang yang baru naik daun. Ia memutar kunci, membuka pintu, dan menyalakan lampu. Ruangan itu rapi, seefisien dan sebersih Wildan sendiri, steril dan dingin. Dindingnya hanya dihiasi papan tulis putih besar penuh dengan flowchart dan target angka penjualan yang mengerikan. Meysa duduk di salah satu kursi, mencoba fokus, tetapi matanya tanpa sadar menyapu sudut meja besar Wildan. Di antara tumpukan manuskrip, ia melihat bingkai foto kecil. Rasa penasaran mengalahkan kehati-hatian. Ia berdiri dan mendekati meja itu. Di dalam bingkai perak minimalis, ada foto Wildan sedang tersenyum tulus, memeluk seorang balita gembul. Balita itu tertawa, menunjukkan dua gigi seri pertamanya. Senyum itu adalah senyum hangat seorang ayah yang penuh kasih, jauh dari citra editor arogan dan berlidah tajam. “Oh, jadi dia punya anak,” bisik Meysa, tiba-tiba merasa bersalah karena fantasi romantis konyol yang sempat terlintas di benaknya kini luruh. Statusnya jelas: suami dan ayah. Pria terlarang yang paling harus ia hindari. Tepat saat ia hendak meletakkan kembali bingkai foto itu persis di tempatnya semula, pintu terbuka dengan suara derit yang tajam. “Meja itu bukan untuk dijamah.” Meysa tersentak. Wildan berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja abu muda yang tampak sempurna. Wajahnya menunjukkan ekspresi datar dan dingin yang tak terbantahkan. "Aku ... Aku disuruh stafmu menunggu di sini," jelas Meysa, suaranya sedikit tercekat karena tertangkap basah. "Aku hanya melihat foto ini. Anakmu?" Wildan menutup pintu, berjalan santai menuju meja. Gerakannya minim, namun setiap langkahnya terasa dominan. Ia mengambil bingkai foto itu tanpa ekspresi, menatapnya sekilas, lalu memutar bingkai itu membelakangi Meysa, seolah melindungi privasinya. "Itu privasiku. Urus pekerjaanmu," balas Wildan pendek, dingin, mengakhiri semua pembahasan pribadi. Meysa mengangkat dagunya. "Baik. Aku sudah siapkan revisi Bab 1 Season 2. Aku ubah deskripsi hujan menjadi gairah membara, seperti yang kamu minta." Wildan duduk, menarik lembar print-out revisi Meysa tanpa basa-basi. Ia mulai membaca cepat. Meysa menunggunya dengan napas tertahan. Setiap detik keheningan terasa seperti hukuman. Setelah selesai, Wildan meletakkan kertas itu dengan suara keras. "Bagus. Kamu mulai belajar. Gairah itu terasa. Tapi terlalu clean. Kita akan polish ini lagi nanti. Sekarang, ada hal yang lebih penting." "Apa?" tanya Meysa. Wildan berdiri, berjalan ke arah pintu. "CEO PenaKata, Pak Adam, ingin bicara denganmu secara langsung. Soal proyek ini." "Hah? CEO? Kenapa?" Jantung Meysa berdebar-debar liar di dadanya. Wildan membuka pintu. “Seluruh kantor sudah tahu betapa besarnya potensi Kehangatan Rudal Paman Mantanku dan adaptasi drama series yang diminta ViewMax. Kamu adalah aset terbesar PenaKata saat ini. Sepertinya ada rencana tambahan. Ini ide langsung dari CEO untuk kita.” “Untuk kita?” Kening Meysa berkerut dalam. Wildan menoleh, tatapannya tajam. "Ya. Untuk kita. Jangan buang waktu, Pak Adam sangat sibuk. Ayo." *** Mereka berjalan menuju ruangan CEO. Ruangan Pak Adam adalah kebalikan total dari ruang kerja Wildan. Luas, dipenuhi tanaman, dan ada lukisan-lukisan abstrak mahal. Adam Sanjaya, pria berusia lima puluhan dengan rambut beruban rapi dan mata ramah, menyambut Meysa dengan senyum hangat. "Ah, Meysa! Akhirnya kita bertemu. Selamat. Saya sangat bangga padamu," ucap Pak Adam, menjabat tangan Meysa dengan antusias. "Novelmu membuat sejarah kecil di platform kami." "Terima kasih, Pak Adam," jawab Meysa sembari tersenyum kaku, merasa sedikit canggung. Mereka duduk. Wildan diam di samping Meysa, membiarkan CEO berbicara. "Baiklah. Langsung saja ke intinya," kata Pak Adam, mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Saya panggil kamu, Meysa, untuk memastikan kamu sudah paham betul tentang kontrak eksklusif yang kamu tandatangani. Jika novel diadaptasi oleh pihak ketiga seperti ViewMax, royalti dibagi dua: untuk kamu dan untuk platform PenaKata yang menangani adaptasinya." Meysa mengangguk. "Aku paham, Pak. Aku sudah baca kontraknya." "Bagus. Yang kedua, dan ini bagian yang paling krusial, adalah kerja sama tim," lanjut Pak Adam, menatap bergantian antara Meysa dan Wildan. "Wildan adalah aset terbaik kami, dan dia punya rekam jejak yang fantastis. Dia yang mengubah 'kopi yang menguap' menjadi 'rudal yang meledak', bukan?" Meysa menahan diri untuk tidak mendecak kesal. "Untuk memastikan kalian berdua bisa bekerja secara maksimal dan benar-benar fokus menciptakan mahakarya yang fantastis untuk Season 2, kita harus melangkah lebih jauh. Kita harus menciptakan momentum kreatif tanpa gangguan," ucap Pak Adam, tersenyum misterius. "Maksud Bapak?" tanya Meysa, mulai merasa firasat buruk. Wildan di sebelahnya hanya diam, ekspresinya tidak terbaca. "Sederhana," jawab Pak Adam. "Kalian berdua akan tinggal di vila saya yang lain. Itu jauh dari keramaian, di Puncak. Lingkungannya hening dan nyaman. Saya yakin, dengan full immersion di lingkungan yang inspiratif, kalian akan menghasilkan naskah Season 2 yang akan lebih meledak di awal tahun 2026! Ini adalah retreat kreatif mendesak yang wajib kalian jalani." “Apa? Aku harus tinggal berdua di viilla bersama Wildan?” Bersambung"Makasih ya, sudah mau nungguin kabar bareng-bareng. Aku nggak tahu gimana jadinya kalau aku sendirian di sini tadi."Wildan terdiam. Ia tidak langsung menyahut. Matanya hanya tertuju pada jemari Meysa yang gemetar memainkan ujung selimut. Ada dorongan kuat untuk menggenggam tangan itu, namun Wildan hanya mengepalkan tangannya sendiri di atas lutut."Sama-sama," jawab Wildan singkat, suaranya datar namun berat. "Sudah jadi tanggung jawabku memastikan penulisku baik-baik saja."Ia membuang muka, seolah menghindari tatapan Meysa yang terlalu tulus. "Lagi pula, aku juga nggak akan bisa tidur kalau tahu ada orang ketakutan di ruangan yang sama."Meskipun kata-katanya terdengar kaku, Wildan bergerak. Ia berdiri, membetulkan letak selimut Meysa dengan gerakan yang sangat rapi dan protektif, memastikan tidak ada celah udara dingin yang masuk. Tangannya yang sehat sempat menyentuh dahi Meysa sebentar, hanya sepersekian detik untuk mengecek suhu tubuhnya, lalu segera ditarik kembali."Malam in
Wildan akhirnya menyerah pada egonya. Ia menyibakkan kain putih yang selama beberapa jam terakhir menjadi simbol batas suci antara profesionalisme dan perasaan pribadinya.Cahaya lilin yang berada di nakas sisi Meysa seketika menerangi wajah Wildan, memberikan siluet keemasan pada rahang tegasnya."Meys? Tadi kamu panggil, ada apa?" tanya Wildan, suaranya sedikit serak. Ia menggunakan panggilan Meysa tadi sebagai alasan yang aman untuk melanggar batas yang ia buat sendiri.Meysa masih berbaring miring, selimutnya ditarik hingga menutupi separuh wajah. Matanya yang bulat menatap Wildan dengan sisa-sisa kecemasan. Melihat Wildan kini berdiri tanpa penghalang di depan ranjangnya, Meysa merasa dadanya sedikit lebih lapang dan tenang."Aku ... aku cuma nggak bisa tidur, Wil," bisik Meysa pelan. Ia menurunkan sedikit selimutnya, menampakkan bibirnya yang sedikit pucat. "Aku kepikiran Pak Adam sama Kak Fio. Rasanya nggak tenang kalau belum tahu keadaan mereka yang sebenarnya. Gimana kalau lu
Meysa menarik selimutnya hingga menutupi dagu. Hawa dingin Puncak malam ini terasa berkali-kali lipat lebih menusuk karena ia merasa sendirian. Padahal, hanya berjarak satu meter darinya, ada Wildan. Namun, pembatas kain sprei putih itu seolah menjadi tembok raksasa yang memisahkan dunia mereka kembali.Lidah Meysa terasa kelu. Berkali-kali ia membuka mulut, ingin memanggil nama Wildan, ingin memintanya kembali duduk di sisi ranjangnya, atau sekadar memintanya bicara agar suasana tidak semencekam ini. Namun, gengsi yang masih tersisa dan ketakutan akan penolakan membuat suaranya tertahan di tenggorokan.‘Tadi dia bilang 'Aku suamimu', tapi sekarang dia malah balik ke ranjangnya sendiri dengan nada sedingin itu,’ batin Meysa pilu.Ia meratapi betapa cepatnya takdir mempermainkan perasaan manusia. Baru saja mereka tertawa kecil karena cerita hantu bodoh, baru saja ia merasakan debaran jantung yang menggila saat wajah Wildan hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, kini semuanya beru
"Andi ... asisten Pak Adam yang kirim pesan ini," gumam Wildan, suaranya terdengar hampa. Matanya masih terpaku pada layar ponsel yang menunjukkan detail lokasi rumah sakit di daerah Cisarua, tak jauh dari gerbang tol Gadog.Meysa menutup mulut dengan telapak tangan, tubuhnya gemetar. Rasa benci dan kesalnya pada Fiona menguap seketika, berganti dengan rasa nger dan juga kasihan. "Parah banget ya, Wil? Sampai masuk jurang? Ya Tuhan ... baru saja mereka pergi dari sini."Wildan segera bangkit dari posisi berbaringnya. Ia mengacak rambutnya dengan frustrasi. Instingnya menyuruhnya untuk segera meluncur ke rumah sakit, memastikan keadaan pimpinannya yang sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri, sekaligus melihat kondisi Fiona."Aku harus ke sana, Meys. Aku harus lihat kondisi Pak Adam," ujar Wildan cepat. Ia menyambar jaketnya yang tersampir di kursi. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu kamar. Ia terdiam, bahunya merosot lesu saat logika kembali menghantam kepalanya."Tapi ...
“Wildan ... makasih ya buat semuanya. Makasih sudah selalu membantuku, bahkan di saat aku sendiri hampir menyerah sama kelakuanku," ucap Meysa pelan. Suaranya tulus, mengalun lembut di antara suara hujan yang menghantam atap villa.Wildan yang masih menatap langit-langit kamar merasakan dadanya berdesir. Pujian sesederhana itu dari Meysa ternyata punya efek yang lebih dahsyat dari pada bonus tahunan dari Pak Adam. Sudut bibirnya nyaris berkedut membentuk senyuman, namun ia segera mengeraskan otot wajahnya. Gengsi setinggi langitnya masih bertahan kokoh.Ia berdeham kecil, mencoba menormalkan suaranya yang mendadak terasa kering. "Tumben kamu bilang makasih ke aku tanpa disuruh? Kamu ... nggak lagi mabuk anggur lagi, kan?"Pertanyaan itu meluncur begitu saja, berniat untuk mencairkan suasana. Namun, bukannya tertawa, keduanya justru terdiam seketika. Kata 'anggur' seolah menjadi mantra yang menarik ingatan mereka kembali ke beberapa minggu lalu.Kejadian konyol saat mati lampu di apart
"Masih takut?" tanya Wildan. Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi, namun frekuensinya yang rendah entah bagaimana berhasil menyusup ke dalam gendang telinga Meysa dengan cara yang menenangkan. Tidak ada lagi nada ejekan terang-terangan seperti sebelumnya, hanya ada sisa-sisa ketegasan yang menjadi ciri khasnya sebagai editor yang dingin.Meysa menggeleng pelan, meski tangannya masih memegang erat lilin putih yang kini menjadi satu-satunya sumber kehidupan di dapur itu. "Sedikit. Tapi lebih mendingan karena ada lilin."Wildan menyandarkan punggungnya ke pinggiran meja dapur, melipat tangan di depan dada. Cahaya lilin yang temaram mempertegas garis rahangnya yang kokoh dan memberikan efek bayangan yang misterius pada wajahnya. "Atau karena ada aku?"Meysa merengut, meski ia tidak bisa menyembunyikan rona merah yang menjalar hingga ke telinganya. "PD banget sih jadi orang. Aku cuma butuh cahayanya, bukan orangnya."Wildan mendengus pendek, sebuah senyum tipis yang sangat sulit d







