Share

Bab 7

Author: Nabila Ara
last update Petsa ng paglalathala: 2025-09-25 09:51:13

“Aku pastikan Jessica akan menerima hukuman atas semua yang dia lakukan. Ternyata dia tidak pernah jera. Apa yang dia lakukan membuat Rose.....” suara Arthur lirih tapi sarat amarah.

Rose memejamkan matanya, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Tuhan... Selama ini ia sudah menuduh Arthur padahal Arthur justru berusaha melindunginya.

Rose sangat merasa bersalah pada Papa mertuanya.

Selama dua hari itu juga, Rose terus merasa bersalah sangat besar pada Arthur.

Ia sudah tidak sanggup menahan rasa bersalah ini.

Rose tidak bisa tidur nyenyak.

Setiap ia memejamkan mata, wajah Arthur selalu muncul di benaknya.

Samar-samar kenangan malam itu terus berputar di kepalanya, tentang ciuman dan sentuhan yang membuat tubuhnya meledak-ledak serta ingatan samar tentang suara Arthur yang menyebut namanya di antara kabut gairah.

Rose ingat dengan jelas bagaimana selama seminggu ini ia menuduh Arthur sebagai pria tak tahu malu, pria yang memanfaatkan kelemahannya.

Rose menghindari Arthur.

Padahal dari percakapan yang tanpa sengaja ia dengar, Rose tahu kenyataannya sangat berbeda.

Arthur justru berusaha melindungi dirinya.

Air mata jatuh di pipi Rose. “Papa, tidak bersalah justru aku yang salah.”

Selama ini Arthur sangat baik dengannya yang hanya seorang menantu di rumah ini.

“Aku harus memperbaiki hubunganku dengan Papa, tapi bagaimana?” tanya Rose pada dirinya sendiri.

“Bi Arum… Ya Bi Arum. Aku harus minta bantuan Bi Arum,” ucap Rose yang langsung berjalan keluar kamar untuk mencari Bi Arum.

Rose yakin Bi Arum bisa membantunya.

Rose masuk ke dapur dan mendapati Bi Arum sedang menyiapkan teh.

“Bi....” Suara Rose terdengar lirih.

Perempuan paruh baya itu menoleh dan tersenyum hangat. “Non, kenapa wajahmu murung lagi? Belakangan ini, Bibi perhatikan Nona Rose seperti sedang banyak pikiran. Coba cerita sama Bi Arum. Siapa tahu Bi Arum bisa membantu, Nona Rose.”

Rose duduk di kursi sambil menggigit bibirnya dan menunduk.

Sebenarnya Rose malu ingin cerita dengan Bi Arum, tapi dia perlu solusi supaya  Rose bisa memperbaiki hubungannya dengan Arthur. “Aku merasa bersalah dengan Papa, Bi. Aku marah dengan Papa tapi sebenarnya Papa tidak bersalah, atau lebih tepatnya situasi yang membuat Papa melakukan sesuatu padaku.”

Bi Arum menghampiri Rose, lalu ia duduk di kursi samping Rose. “Kamu tahu, Non? Sudah lebih seminggu ini, Tuan Arthur sering pulang cepat. Setiap Bibi tanya Tuan, pasti jawabannya biar bisa melihat keadaan Nona Rose. Pernah, Bibi melihat Tuan Arthur berdiri lama di depan kamar, Nona Rose. Tapi Tuan Arthur tidak jadi masuk dan langsung pergi ke kamarnya sendiri.”

Rose terkejut mendengar ucapan Bi Arum. “Serius, Bi?”

Bi Arum mengangguk pelan. “Tuan Arthur terlihat sangat khawatir. Nona tahu, sekarang ini Tuan Arthur terlihat lebih perhatian pada orang lain bahkan sama mendiang istrinya dulu Tuan tidak begitu. Tuan Arthur juga bertanya pada Bibi keadaan Nona. Bibi tahu, Tuan Arthur ingin menunjukkan perhatian pada Nona tapi Tuan tidak tahu cara nunjukinnya secara langsung.”

Air mata Rose kembali jatuh.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. “ Aku jahat sama Papa, Bi. Aku ingin minta maaf sama Papa. Hiksss...”

Bi Arum mengusap punggung Rose dengan lembut. “Non, kadang orang itu menunjukkan perasaan bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan-tindakan kecil. Bibi sayang sama Nona. Kalau Nona Rose sedih begini, Bibi juga ikutan sedih.”

Rose mengangguk, meski air matanya masih mengalir di pipinya.

Tapi Rose tahu apa yang diucapkan Bi Arum benar.

Rose juga menyayangi Bi Arum.

Rose harus melakukan sesuatu.

Rose harus memperbaiki hubungannya dengan Arthur.

Rose meminta bantuan Bi Arum untuk menyiapkan makan malam istimewa.

Kali ini, ia sendiri turun tangan memasak makanan kesukaan Arthur yaitu sup iga dengan sambal kecap.

Bi Arum membantu Rose menyiapkan bahan-bahannya.

Sementara itu di kantor, Arthur sedang sibuk mencari tips untuk meminta maaf dengan wanita.

Ia harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki hubungannya dengan Rose.

Ia tidak bisa membiarkan hal ini terlalu lama. Arthur tidak kuat untuk menghindari Rose lebih lama.

Hatinya sakit.

Setelah menjelajahi internet cukup lama, akhirnya Arthur tahu apa yang harus ia siapkan untuk Rose.

Cheesecake stoberi.

Iya, Arthur kue kesukaan Rose.

Tidak hanya itu, semua hal tentang Rose dia tahu.

Menjelang malam, Rose sedang bersiap-siap di kamarnya.

Rose memakai gaun renda putih tulang.

Ia sengaja memilih warna putih karena sangat pas dengan warna kulitnya.

Tidak lupa dia mengaplikasikan make up tipis agar wajahnya lebih tampak fresh.

Rose langsung turun ke bawah untuk memeriksa sajian makan malam yang sudah ia siapkan bersama Bi Arum.

Terdengar bunyi pintu terbuka. “Rose” suara berat itu menggema di ruangan.

Rose menoleh dan matanya melebar.

Arthur berdiri di sana masih dengan jas kerjanya dan di tangannya ada sebuah kotak kue.

Rose tahu betul kotak kue itu dari toke kue langganannya.

Dari kotak kue tampak cheesecake stoberi kesukaannya.

“Aku bawa sesuatu,” ucap Arthur canggung. “Aku ingat kamu suka kue ini.”

Rose tertegun.

Tuhan, apa ini hanya kebetulan?

Rose masak makanan kesukaan Papa mertuanya dan Arthur datang membawa kue kesukaannya.

Rose menatap Arthur dengan mata berkaca-kaca. “Aku juga masak untuk Papa. Aku masak makanan kesukaan Papa. Sup iga dengan sambal kecap.”

Arthur tersenyum sambil menoleh ke meja makan lalu kembali menatap Rose.

Untuk pertama kalinya setelah seminggu, Rose melihat senyum tipis diwajahnya.

Senyum yang membuat dada Rose sesak entah karena apa.

Arthur dan Rose duduk berhadapan.

Makan malam berlangsung canggung di awal tapi perlahan suasana mulai mecair.

Sesekali tatapan mereka bertemu dan cepat-cepat saling mengalihkan pandangan.

Sesekali tampak senyum samar diantara keduanya.

“Sup iganya enak,” ucap Arthur saat dia baru saja menghabiskan makan malamnya.

Rose tersenyum mendengar ucapan Arthur. “Papa suka?”

“Suka. Aku selalu suka sup iga tapi kali ini sup iganya terasa berbeda. Mungkin karena siapa yang memasaknya” ucap Arthur membuat Rose langsung tersedak.

“Uhuk! Uhuk!”

Arthur langsung mengambilkan Rose air minum.

Rose langsung meminum air yang diberikan Arthur. “Maksud Papa apa?”

Arthur menatap Rose dengan tatapan yang sulit diartikan. “Rose, Papa….”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (6)
goodnovel comment avatar
Vie
mencair lagi yg dari tegang
goodnovel comment avatar
Yudha Pratama
keren alur ceritanya saya suka
goodnovel comment avatar
Ajid Ajid
keren banget ceritanya ,lanjut
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 463

    "Perpustakaan ini dibangun karena impian istri saya," ucap Arthur sambil menatap Rose yang berdiri di sampingnya.Arthur dan Rose sedang berada di atas panggung untuk memberikan sambutan sekaligus membuka perpustakaan ini."Wanita cantik di samping saya ini punya impian besar tentang perpustakaan ini. Sudah lama dia memiliki impian untuk membangun perpustakaan agar semua kalangan bisa menikmati membaca buku dengan mudah." Arthur pun melanjutkan sambutannya sampai pada tahap memotong pita dan membuka kain yang menutup nama perpustakaan.Tadi sebelum acara pembukaan di mulai, baby Belle sedikit rewel hingga Arthur meminta Salimah dan Bi Arum untuk membawa baby triplets ke ruang pribadi milik Rose.Rio yang melihat baby triplets di bawa ke ruang pribadi Rose, pun meminta untuk ikut."Sudah siap Sayang?" bisik Arthur.Rose mengangguk."Dalam hitungan ketiga, bersiap untuk memotong pita dan menurunkan kain penutup nama perpustakaan," ucap sang MC."Satu... dua... tiga..."Rose dan Arthur me

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 462

    "Sayang, sudah siap atau belum?" tanya Arthur begitu pria itu masuk ke dalam kamarnya.Langkah Arthur terhenti ketika melihat pemandangan di depannya.Tatapannya terkunci pada satu titik."Pa, gimana penampilanku? Gaunnya aga kesempitan tapi masih nyaman sih," ucap Rose."Cantik.. Cantik banget. Sayang, aku masih di bumi kan ini?" tanya Arthur. Pria itu pun mendekati istrinya dan tatapannya sama sekali tidak berpindah dari Rose."Papa ngomong apa sih?""Aku seperti melihat seorang bidadari yang sangat cantik sekali."Blussh!Rose tersipu malu. Wajahnya sudah memanas. Ia yakin saat ini wajahnya sudah seperti kepiting rebus."Aku cocok nggak pakai gaun ini?" tanya Rose."Cocok banget Sayang. Perfect. Mamanya baby triplets memang luar biasa cantik," puji Arthur.Lagi lagi Rose tersipu malu mendapat pujian dari sang suami. Ini bukan pertama kali suaminya memujinya tetapi tetap saja Rose masih tersipu."Aku pakai gaun yang ada di lemari aja. Sayang kalau nggak di pakai," ucap Rose."Kamu

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 461

    Begitu tiba di basement hotel, Arthur langsung mematikan mesin mobilnya.Buru-buru ia naik ke lantai lima puluh dimana kamar pribadinya berada.Ting!Pintu lift terbuka, Arthur berjalan buru-buru menuju kamar. Di depan kamar masih ada Restu yang berjaga di sana."Tuan..""Terima kasih Restu. Kamu boleh istirahat sekarang," ucap Arthur sambil menepuk bahu Restu.Arthur juga sudah menyewakan satu kamar untuk Restu menginap di hotel malam ini. Pria itu pun masuk ke dalam kamar. Ia melihat posisi tidur Rose masih sama dengan tadi sebelum ia meninggalkan istrinya.Arthur masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki. Setelah itu ia keluar lalu buru-buru melepaskan pakaiannya dan hanya menyisakan celana boxernya saja.Ia naik ke atas ranjang, bergabung dengan istrinya.Di tariknya tubuh Rose masuk dalam pelukannya. Rose sama sekali tidak terbangun meski ia sudah menggerakkan tubuh wanita itu."Ngantuk banget ya Sayang," bisik Arthur.Sebenarnya sejak tadi Arthur sudah menahan rasa kan

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 460

    Arthur menatap istrinya yang sudah terlelap di pelukannya.Mereka beru saja menyelesaikan pergulatan panas di atas ranjang beberapa menit yang lalu.Awalnya hanya ingin satu ronde saja mengingat ini kali pertama penyatuan mereka setelah Rose melahirkan tetapi justru sampai empat ronde tanpa jeda sedikit pun.Jika Rose tidak merengek pada Arthur untuk berhenti, mungkin mereka saat ini masih melanjutkan ronde selanjutnya.Arthur mengusap pipi Rose dengan lembut. Rambut wanita itu sangat berantakan. Kulit putihnya di penuhi oleh jejak-jejak cinta mahakarya Arthur."Kamu memang selalu membuatku menggila Sayang," bisik Arthur.Ia menarik selimut agar menutupi tubuh polos mereka.Drett... drett... drett...Arthur menoleh ke arah nakas dimana ponselnya berada.Di layar ponselnya ada nama Ken di sana.Arthur pun menarik lengannya yang dijadikan bantal oleh Rose. Saking lelahnya Rose sama sekali tidak terganggu dengan pergerakan Arthur.Masih dengan tubuh polosnya, Arthur mengambil ponselnya l

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 459

    "Pa, pelan-pelan ya," bisik Rose."Kamu takut ya Sayang?"Rose mengangguk. Bagaimanapun ini adalah pertama kali mereka melakukan penyatuan setelah ia melahirkan.Arthur mencium kening Rose dengan lembut."Aku akan melakukannya dengan pelan Sayang. Aku tidak ingin menyakitimu," bisik Arthur."Huufft.. Aku gugup," lirih Rose.Arthur menoel ujung hidung mancung Rose sambil terkekeh."Kamu terlihat seperti gadis yang ingin diperawanin oleh suaminya, Sayang. Rileks Sayang.""Sudah aku coba sejak tadi kita masih di rumah," jawab Rose."Pantesan di mobil sampai kita masuk kamar ini kamu banyak diam," ucap Arthur.Posisi mereka saat ini sudah sama-sama polos. Arthur mengungkung tubuh Rose. Pria itu menahan tubuhnya dengan menggunakan lengannya agar tidak begitu menindih sang istri."Sayang kita mulai ya," ucap Arthur yang gemas dengan istrinya.Rose mengangguk lirih. Ia juga sama seperti suaminya yang sudah merindukan aktivitas ini. Hanya saja ia tidak bisa menghilangkan rasa gugupnya.Arthu

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 458

    Ting!Pintu lift terbuka.Arthur mengandeng Rose berjalan keluar dari dalam lift menuju kamar pribadi Arthur di hotel ini.Kamar yang memang biasa mereka lakukan jika ingin mencari suasana baru saat memadu kasih.Sepanjang mereka melewati lorong hotel, baik Rose dan Arthur sama-sama diam.Di lorong itu sangat sepi tidak ada satu pun orang ada di sana kecuali mereka berdua.Semakin dekat dengan kamar mereka, jantung Rose semakin berdetak cepat. Ia semakin gugup padahal ini bukan pertama kali untuknya."Kok aku makin deg-degan," batin Rose.Arthur membuka pintu kamar lalu mereka pun masuk ke dalam.Begitu di dalam kamar, Rose terkejut melihat apa yang ia lihat di depannya."Papa yang menyiapkan semua ini?" tanya Rose.Di atas ranjang ada sebuket bunga mawar yang sangat besar. Bahkan lebih besar dari yang pernah ia dapat dari suaminya selama ini.Di samping bucket bunga mawar ada satu kotak beludru bewarna merah senada dengan bunga mawah.Rose menutup mulutnya tidak menyangka suaminya me

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status