Share

8. Menghibur Kamu

Penulis: Ika Armeini
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-23 14:28:56

Enzo sepertinya ingin membalas ucapan Rinoa yang barusan, tapi laki-laki itu hanya menatap tajam kepadanya. Lalu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Mending aku istirahat aja! Aku nggak mau habisin banyak energi untuk berdebat sama kamu," ucap Enzo akhirnya.

Laki-laki itu pun berjalan duluan menuju ke kamarnya, meninggalkan Rinoa sendirian.

Rinoa memperhatikan pergerakan suaminya yang menjauh, sambil mendengkus dengan kesal. "Pasti nggak bisa jawab lagi, makanya milih pergi," gerutu Rinoa.

Rasanya Rinoa malas mau menyusul Enzo ke kamar, biar saja dia tidur duluan.

Mungkin minum teh hangat bisa membuat Rinoa sedikit tenang dan tidak kesal lagi. Rinoa pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke dapur, membuat teh untuk dirinya sendiri.

"Kenapa belum tidur?" Suara Barra tiba-tiba saja muncul di dapur.

Seketika Rinoa kaget, bahkan hampir menumpahkan teh hangat yang baru jadi. "Papa?"

"Kamu bikin apa malam-malam begini?" tanya Barra sambil berjalan mendekat ke Rinoa.

"Ummm ... i-ini, aku nggak bisa tidur jadi aku bikin teh hangat. Apa Papa juga mau? Biar aku bikinin," tawar Rinoa.

"Boleh."

Rinoa pun segera membuatkan satu teh hangat lagi untuk mertuanya. Sementara Barra masih setia menunggu di dekatnya.

"Papa sendiri kenapa nggak tidur?" tanya Rinoa kemudian.

"Tadi Papa masih mengecek beberapa laporan, maunya begitu selesai langsung tidur. Tapi ... Papa dengar suara Enzo datang, jadi maunya sih Papa ngobrol sebentar sama dia."

Mendengar itu Rinoa sedikit panik. Kalau mertuanya belum tidur, apalagi tahu saat Enzo pulang, artinya apakah tadi mertuanya ini mendengar pertengkaran mereka?

"Tapi sepertinya Enzo capek dan sudah masuk ke kamar, mungkin biar besok pagi aja Papa ngobrol sama dia," lanjut Barra.

"Oh, i-iya ... sepertinya memang Enzo lagi capek, Pa," jawab Rinoa sebisanya. Dia pun menyerahkan teh hangat buatannya untuk mertuanya.

Barra meraih cangkir teh tersebut, yang tanpa sengaja jadi ikut menyentuh tangan Rinoa.

Jujur saja, Rinoa merasa nyaman saat kulitnya bersentuhan dengan mertuanya. Ini benar-benar aneh.

Rinoa pun buru-buru sadar dan menjauhkan tangannya dari Barra. Kemudian meminum teh miliknya untuk menghilangkan rasa canggung.

"Jadi memang setiap hari Enzo pulang malam?" Barra mengintrogasi.

Rinoa mengangguk. Tidak mau berbohong, memang nyatanya begitu. Tapi jadi makin curiga kalau pertengkaran mereka barusan memang didengar mertuanya.

"Apa kamu sempat telpon ke kantornya?" tanya Barra lagi.

"Pernah, tapi belakangan ini Enzo nggak suka kalau aku telpon ke kantor, apalagi cuma buat mastiin kondisi dia. Jadi, aku nahan diri buat nggak telpon ke kantor lagi, dan cuma bisa nungguin dia pulang," jelas Rinoa apa adanya. Entah mengapa Rinoa sulit berbohong di depan Barra.

Barra geleng-geleng kepala, tak percaya. "Padahal nggak ada salahnya kalau kamu hubungin kantor. Kamu kan istri Enzo."

"Aku juga berpikir begitu, tapi ... sepertinya Enzo nggak suka kalau aku seperti itu!"

"Dan kamu tahan?"

"Tahan apanya, Pa?" Rinoa bingung.

"Tahan kalau suami kamu nggak ngabarin keberadaannya." Barra menghela napasnya. "Dulu waktu Papa merintis perusahaan ini, sesibuk apa pun Papa pasti tetap mengabarkan ke mamanya Enzo. Bahkan kadang mamanya Enzo sering mampir ke kantor, Enzo kecil juga ikut. Jadi Papa benar-benar terbuka terhadap apa pun ke mamanya Enzo."

"Ummm ... apa menurut Papa kalau Enzo ini nggak cukup terbuka sama aku?" Rinoa penasaran. Masalahnya memang ini lah yang belakangan ini Rinoa rasakan.

Barra mengusap-usap punggung Rinoa, mencoba menenangkan. "Papa nggak bilang begitu, Rinoa. Tapi mungkin cara komunikasinya aja yang lebih diperbaiki."

Rinoa terdiam, kemudian sedikit menunduk. Sadar kalau cara komunikasi mereka berdua memang kadang tidak searah. Enzo yang lelah sepulang dari kantor juga jadi lebih sering bernada tinggi kalau bicara dengan Rinoa. Padahal Rinoa sudah merasa kalau dirinya bertanya baik-baik ke Enzo.

"Gimana caranya supaya bisa komunikasi yang baik, Pa? Aku sudah mencoba sebisaku, tapi memang ini bermula dari sibuknya Enzo belakangan ini."

"Mungkin kita bisa sama-sama cari solusinya nanti, yang penting Enzo nggak pernah kasarin kamu, kan?"

Rinoa menggelengkan kepalanya. "Enggak, Enzo nggak pernah kasar. Tapi ...."

"Apa?"

"Kata-katanya kadang bikin sakit hati," ucap Rinoa dengan jujur.

Entah mengapa mendengar itu malah Barra yang jadi merasa sangat bersalah. Merasa sudah salah mendidik Enzo, dan tentunya Barra pun jadi tidak enak kalau sampai orang tua Rinoa tahu bagaimana Enzo memperlakukan Rinoa.

Barra lantas meraih kedua tangan Rinoa, menepuk-nepuk punggung tangannya. "Nanti Papa bakalan ngobrol sama Enzo. Kamu jangan khawatir, nanti Papa pastikan kalau Enzo tidak begitu lagi ke kamu."

Dengan cepat Rinoa menggelengkan kepalanya. "Jangan! Aku rasa nggak perlu, Pa!"

"Kenapa?" Barra mengernyit.

"Aku nggak mau Enzo tersinggung lagi. Nanti dia mikir kalau aku tukang ngadu ke Papa."

Barra menghela napas dengan berat. "Jadi apa yang bisa Papa perbuat untuk kamu, Rinoa?"

Pertanyaan dari papa Barra ini membuat Rinoa tertegun. Haruskah Rinoa jujur kalau dirinya cuma perlu ditemani, perlu teman untuk mengobrol dan bertukar pikiran?

"Papa yang minta maaf kalau seandainya Enzo ada berbuat yang tidak baik ke kamu," lanjut Barra.

"Ke-kenapa Papa yang minta maaf? Kenapa bukan Enzo?" Rinoa menunduk. Rasanya aneh, yang bersalah siapa, tapi kenapa malah papa Barra yang minta maaf?

Barra tiba-tiba saja mengelus pipi Rinoa. Seketika membuat Rinoa tidak menunduk lagi. Ada desiran hangat yang Rinoa rasakan saat kulit Barra menyentuh kulitnya. Entah mengapa, Rinoa suka sentuhan ini.

"Karena Papa yang besarin Enzo dari kecil, biarpun Papa bukan Papa kandungnya. Tapi Papa yang bertanggung jawab, dan Papa bakalan terus minta maaf ke kamu kalau memang Enzo berbuat salah ke kamu. Kamu nggak pantas dibentak-bentak, Papa nggak pernah mengajarkan Enzo seperti itu apalagi ke perempuan."

"Ja-jadi, apa Papa tadi dengar waktu kita sedikit berdebat?" Rinoa penasaran. Pasti gara-gara mendengar itu makanya papa Barra mau memastikan kondisi Rinoa.

Barra mengangguk. "Papa juga dengar pertengkaran kalian tadi pagi sewaktu di kamar."

Rinoa baru ingat kalau tadi pagi mereka sedikit berdebat setelah selesai bercinta yang berdurasi singkat, padat, jelas itu. Huh, padahal bukan maksud Rinoa untuk mengadu macam-macam, tapi memang mertuanya sendiri yang dengar, kan?

"Tapi, itu cuma pertengkaran biasa, Pa!" Rinoa berusaha mengelak.

"Iya, tapi seharusnya Enzo bisa perlakukan kamu dengan baik." Barra lantas mengelus puncak kepala Rinoa. Sungguh rasanya sangat disayang.

"Uummmm ... aku jadi nggak khawatir lagi sekarang. Soalnya ada Papa di sini yang bisa nenangin aku," ucap Rinoa. Kata-kata itu keluar secara otomatis dari mulutnya.

"Selain nenangin kamu, Papa juga bisa menghibur kamu, Noa," ucap Barra.

"Menghibur aku?" Rinoa mengernyit. "Seperti apa?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   31. Siapa Itu?

    Rinoa bingung, kenapa Barra tak kunjung kembali mencarinya di balik rak buku? Dia pun menghela napas dengan kasar, lalu memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya."Pergi ke mana sih Papa? Kenapa lama?" Rinoa mondar mandir di ruang kerja Barra sambil menggigit jarinya. Mau keluar dari ruang kerja tersebut tapi takut ketahuan si asisten rumah tangga. Masalahnya harus berapa lama Rinoa menunggu dengan bersembunyi di sini? Haruskah Rinoa bersabar menunggu kedatangan Barra?Lama Rinoa kembali menunggu, sampai akhirnya dia pun memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut. Walaupun dengan mengendap-ngendap karena takut ketahuan.Mata Rinoa mengawas di sekitar, tak ada tanda-tanda si asisten rumah tangga di sana. Sepertinya sudah kembali ke kamarnya untuk nonton sinetron. Lantas ke mana perginya Barra?Kalau begini rasanya Rinoa seperti digantung saat sedang nafsu-nafsunya. Mungkin sebaiknya Rinoa kembali ke kamar, siapa tahu nanti Barra akan kembali muncul.Saat Rinoa hendak kemb

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   30. Mau Apa Datang Ke Sini?

    Kepanikan terjadi sejenak, Rinoa buru-buru merapatkan kedua kakinya dan langsung turun dari atas meja kerja Barra. Perempuan itu pun secara otomatis merapikan pakaiannya dengan cepat. "Mbak Pur, Pa," bisik Rinoa dengan ekspresinya yang sangat tegang. Kaki dan tangannya pun ikut gemetar."Mungkin lebih baik dibiarkan aja," jawab Barra dengan cuek. Ada rasa kesal yang muncul akibat suara asisten rumah tangga itu. Sungguh mengganggu momen nikmat berdua bersama Rinoa.Rinoa menggelengkan kepalanya. "Enggak, kalau dibiarin malah bikin Mbak Pur curiga, Pa.""Terus Papa harus bukain pintu dalam kondisi yang seperti ini?" Barra menunjuk miliknya di bawah sana yang baru saja dipasangkan pengaman. Bukan masalah rugi satu pengaman bercinta, tapi masalahnya birahi sudah terlanjur di puncak."Bisa dilepas dulu, kan? Atau mungkin Papa langsung tutup aja pakai celana." Rinoa nyengir tipis, takut kalau ide yang terpaksa ini membuat Barra kecewa.Maunya Barra tetap keras kepala, tapi ketukan pintu da

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   29. Kondom?

    Barra lagi-lagi tak menjawab pertanyaan Rinoa, tapi caranya merespon adalah dengan tindakan langsung. Laki-laki itu membuka celah celana dalam Rinoa, lalu secara perlahan mendekatkan bibirnya pada bagian sensitif milik Rinoa tersebut. "Paaaaaahhh ...." Tubuh Rinoa gemetaran begitu rasa hangat dari bibir dan lidah Barra menyentuh bagian sensitifnya di bawah sana. Ah, sial ... rasanya geli tapi sungguh nikmat. Barra tidak hanya jago urusan ciuman bibir, tapi urusan membahagiakan titik sensitif milik Rinoa pun perlu diacungi jempol. Sungguh Rinoa sangat menyukai bagian ini, sensasi geli tapi nikmat itu membuat tubuh Rinoa merasakan hormon oksitosin yang meningkat. Sibuk Barra menikmati bagian bawah milik Rinoa dengan bibir dan lidahnya, sementara Rinoa berkali-kali melenguh dan mendesah. Sebisa mungkin desahan itu ditahan agar tidak terlalu keras, masalahnya kenikmatan ini adalah sesuatu yang sulit ditahan. Sesaat Rinoa tidak peduli, biar saja desahannya menggema di ruangan ini. Lagi

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   28. Makan Malam Utama

    "Ma-maaf, Pa. Ma-maaf ka-kalau Papa berkali-kali nu-nungguin aku," ucap Rinoa dengan terbata-bata. Barra kembali menyisir rambut Rinoa dengan jari-jarinya. "Nggak masalah, Papa punya tingkat kesabaran yang cukup. Tapi ... belakangan ini kesabaran Papa sedikit diuji, sepertinya ada sesuatu yang membuat Papa jadi nggak sabaran lagi." Rinoa yang duduk menyamping di pangkuan Barra itu pun seketika menatap ke arah Barra. "Apa, Pa?" "Kamu ... kamu yang bikin Papa jadi nggak sabaran, Noa." Jari-jari Barra yang tadi menyusuri rambut Rinoa kini berpindah ke pipi Rinoa. Perlahan jari itu mengelus lembut pipi Rinoa, lalu berpindah ke bibir Rinoa. "Papa sengaja makan malam dalam porsi yang sedikit, karena makan malam utama Papa ada di sini." "Maksudnya?" tanya Rinoa dengan ekspresi bingung. Barra tersenyum tipis kepada Rinoa. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Barra lagi, hanya gerakan tangannya yang kini sudah berpindah ke bagian bawah tubuh Rinoa. Berawal dari mengelus pelan paha

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   27. Berapa Lama Cantik Seperti Ini?

    Barra menaikkan satu sudut bibirnya. "Kamu benar, memang lebih baik dia berlama-lama di sana. Tapi ... semoga aja Enzo nggak lalai dengan tugasnya di kantor."Rinoa mendengkus pelan. "Bukannya Enzo udah terlalu sering kerja lembur di kantor Papa? Sesekali dia bebas tugas sepertinya nggak masalah kan, Pa? Lagian semua bisa dicek lewat online dan Papa sendiri juga bisa mengecek langsung ke kantor."Jujur saja Rinoa sedikit tidak suka kalau Barra mulai membahas urusan pekerjaan. Dia sudah merasakan sendiri kurangnya kasih sayang Enzo ke Rinoa akibat mengurus perusahaan milik Barra, sekarang di saat Enzo tidak ada malah kembali Barra memikirkan bisnisnya.Barra sepertinya pun langsung paham kalau Rinoa kurang menyukai pembahasan ini. Terlihat dari ekspresi Rinoa yang langsung berubah cemberut saat Barra membahas tentang kantornya.Seketika Barra mengelus tangan Rinoa dengan lembut. "Kita makan dulu ya, Noa. Papa minta maaf kalau bahas masalah yang tadi."Rinoa tersenyum tipis. Dia pun men

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   26. Kamu Harus Percaya Sama Papa

    Barra mengangguk dengan yakin. "Tentu, Noa. Malah Papa khawatirnya dengan kamu." "Denganku?" Rinoa mengernyit. "Iya, kamu yang harus lebih berhati-hati lagi. Seperti yang Papa bilang tadi, adik kamu instingnya kuat. Jangan menunjukkan gerak-gerik yang aneh di depan dia. Bisa kan, Noa?" Barra lantas mengelus lembut puncak kepala Rinoa. Seperti menunjukkan rasa kasih sayang seorang ayah kepada putrinya. "Oke, Pa." Rinoa mengangguk pelan. Barra mengalihkan pandangannya sejenak ke arah luar mobil. "Sepertinya kita harus keluar sekarang. Papa nggak mau orang-orang di rumah ini jadi curiga kalau kita lebih lama lagi diam di dalam mobil." Rinoa setuju dengan saran Barra. Dia dan Barra pun segera keluar dari mobil. Jujur saja, gara-gara telepon dari Reonald tadi rasanya momen nikmat berdua dengan Barra jadi terasa nanggung. Rinoa pun mengakui kalau mertuanya ini sangat lihai menahan diri, padahal tadi bisa saja Rinoa cuek dengan tidak menjawab panggilan telepon dari adiknya. Namun Bar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status