Home / Romansa / Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku / 9. Melampiaskan Sendirian

Share

9. Melampiaskan Sendirian

Author: Ika Armeini
last update Last Updated: 2025-09-23 19:06:03

"Ummm ... mungkin kita bisa bahas lain kali. Sebaiknya kamu istirahat, ini sudah malam." Barra tiba-tiba saja mengalihkan pertanyaan Rinoa. Dia lantas mengarahkan menantunya untuk beristirahat di kamar. Padahal sebenarnya ini cara Barra supaya tidak kebablasan. Menahan diri adalah salah satu skill yang saat ini harus Barra asah.

Rinoa mengangguk dan menurut, dia pun berjalan perlahan menuju ke kamarnya, meninggalkan Barra yang masih berdiam diri di dapur.

Rinoa pun masuk ke dalam kamarnya secara perlahan, takut kalau Enzo yang sudah tidur jadi terganggu dengan kedatangannya.

Tidak, ternyata Enzo tidak tidur. Dia tidak ada di atas ranjang.

Mata Rinoa pun mengedar di dalam kamar tersebut, mencari sosok suaminya. Ke mana perginya Enzo? Bukannya tadi bilang mau istirahat?

Rinoa melirik ke arah kamar mandi, mungkin Enzo sedang mandi. Dia pun segera mengecek ke kamar mandi, tapi kamar mandi pun kosong.

Samar-samar Rinoa mendengar suara Enzo yang bicara di balkon, tapi dia sedang bicara dengan siapa? Karena penasaran akhirnya Rinoa pun melangkahkan kakinya menuju ke balkon, lalu mengintip sebentar.

Terlihat Enzo sedang menelpon seseorang. Siapa yang ditelpon tengah malam begini?

Dari nada bicaranya terdengar Enzo sangat ramah dan lembut. Apa salah satu klien? Kalau iya, memangnya tidak bisa telepon besok pagi? Kenapa harus tengah malam?

Enzo tiba-tiba saja membalikkan badannya, dan terlihat kaget saat mendapati Rinoa yang kini jadi berdiri tepat di hadapannya. Seketika Enzo menyudahi panggilan telepon tersebut.

"Noa, ke-kenapa bikin kaget?" Enzo terlihat panik.

"Aku cari kamu, tapi kamu nggak ada di tempat tidur, nggak ada juga di kamar mandi. Ternyata kamu lagi teleponan di sini." Rinoa menatap Enzo dengan curiga, kedua tangannya pun dilipat di depan dada. "Memangnya kamu telponan sama siapa tengah malam begini?"

"I-itu ... ba-barusan telepon dari manajer akunting. Ada beberapa pengeluaran mendadak di perusahaan," jawab Enzo.

"Oh, urusan kerjaan lagi?" Rinoa jadi memutar kedua bola matanya dengan malas. Kerja, kerja, kerja melulu. Mungkin memang benar kalau Enzo punya obsesi untuk menguasai semua perusahaan milik papa tirinya.

"Iya, tapi manajer akunting cuma beri laporan sebentar. Besok mungkin bakalan kita bahas lagi di kantor."

Rinoa cuma manggut-manggut. Dia pun meninggalkan Enzo, lalu memilih untuk ke ranjang duluan.

Kalau malam-malam begini sebenarnya Rinoa rindu dibelai. Harapannya sih Rinoa bisa dapatkan belaian itu dari suaminya. Masalahnya barusan mereka sedikit berdebat, kan? Dia pun mencuri pandang ke arah Enzo yang kini ikut berjalan menuju ke ranjang, menyusul Rinoa.

"Sayang ...." Rinoa dengan berani meraba paha Enzo. Menggatal duluan dengan memberi rangsangan. "Apa kamu bener-bener capek? Udah mau tidur sekarang?"

Rinoa pun mengerlingkan matanya dengan genit ke arah Enzo.

Enzo sepertinya langsung paham dengan kode dari Rinoa. Lagian memang tampilan istrinya ini sangat menggoda dan seksi.

"Ummm ... gimana kalau besok pagi? Kamu rasain aja sendiri, punyaku nggak bisa tegang maksimal kalau aku capek, Noa!" Enzo mengarahkan tangan Rinoa untuk meraba benda pusaka miliknya.

Memang benar, milik Enzo rasanya ikutan capek. Seketika bibir Rinoa pun cemberut.

"Kalau besok pagi, apalagi bangun tidur pasti dia ikutan tegang!" Enzo menunjuk benda berharga kesayangannya di bawah sana. "Jadi mending besok pagi, oke? Sekarang kita tidur dulu."

Enzo lantas memberi kecupan di kening Rinoa, lalu duluan merebahkan dirinya dengan nyaman di ranjang.

Huh, suami macam apa yang membiarkan istrinya kekeringan begini?

Rinoa maunya ikutan tidur untuk melupakan rasa kesalnya, tapi ternyata perasaan nanggung ini membuat Rinoa menderita sendiri.

Salahkah kalau Rinoa jadi begini? Kalau begini haruskah Rinoa melampiaskan sendiri perasaan yang mengganjal ini? Sambil membayangkan Enzo, atau malah ... papa Barra?

Satu-satunya cara memang Rinoa harus melampiaskan sendirian. Dia pun memastikan dulu kalau suaminya sudah tidur nyenyak. Lalu perlahan berjalan menuju kamar mandi.

Diambilnya jet shower yang ada di toilet. Mungkin semprotan kuat dari jet shower ini bisa membantu Rinoa sebentar untuk melepaskan hasratnya.

Sambil menyemprotkan jet shower itu pada titik sensitifnya, tiba-tiba saja bayangan papa Barra muncul dalam fantasi liar Rinoa.

"Uuuhh ... Papaaahh!" Rinoa melenguh pelan dan sesekali mengeluarkan desahan sambil memanggil mertuanya. Hal ini belum pernah Rinoa lakukan sebelumnya, menjadi terpaksa karena Rinoa bingung mau melampiaskannya ke mana.

Beberapa menit sibuk dengan jet shower, akhirnya Rinoa pun mencapai puncak kenikmatannya dengan bantuan benda tersebut. Ternyata membayangkan mertuanya sebagai fantasi liarnya berhasil membuat Rinoa menuju ke puncak kenikmatan. Bahkan selama tiga bulan menikah, Rinoa tidak pernah merasakan kenikmatan seperti ini saat bercinta dengan Enzo.

Tubuh Rinoa melemas setelah pelepasannya. Dia pun segera membersihkan diri dan buru-buru kembali ke ranjang sebelum Enzo curiga.

Baru saja Rinoa duduk di tepi ranjang, ponsel miliknya tiba-tiba saja bergetar. Tanda pesan masuk.

Rinoa pun meraih ponselnya, lalu melihat siapa yang mengirim pesan tengah malam begini. Ternyata dari papa Barra.

Papa Barra: [Apa kamu sudah tidur, Noa?]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   31. Siapa Itu?

    Rinoa bingung, kenapa Barra tak kunjung kembali mencarinya di balik rak buku? Dia pun menghela napas dengan kasar, lalu memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya."Pergi ke mana sih Papa? Kenapa lama?" Rinoa mondar mandir di ruang kerja Barra sambil menggigit jarinya. Mau keluar dari ruang kerja tersebut tapi takut ketahuan si asisten rumah tangga. Masalahnya harus berapa lama Rinoa menunggu dengan bersembunyi di sini? Haruskah Rinoa bersabar menunggu kedatangan Barra?Lama Rinoa kembali menunggu, sampai akhirnya dia pun memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut. Walaupun dengan mengendap-ngendap karena takut ketahuan.Mata Rinoa mengawas di sekitar, tak ada tanda-tanda si asisten rumah tangga di sana. Sepertinya sudah kembali ke kamarnya untuk nonton sinetron. Lantas ke mana perginya Barra?Kalau begini rasanya Rinoa seperti digantung saat sedang nafsu-nafsunya. Mungkin sebaiknya Rinoa kembali ke kamar, siapa tahu nanti Barra akan kembali muncul.Saat Rinoa hendak kemb

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   30. Mau Apa Datang Ke Sini?

    Kepanikan terjadi sejenak, Rinoa buru-buru merapatkan kedua kakinya dan langsung turun dari atas meja kerja Barra. Perempuan itu pun secara otomatis merapikan pakaiannya dengan cepat. "Mbak Pur, Pa," bisik Rinoa dengan ekspresinya yang sangat tegang. Kaki dan tangannya pun ikut gemetar."Mungkin lebih baik dibiarkan aja," jawab Barra dengan cuek. Ada rasa kesal yang muncul akibat suara asisten rumah tangga itu. Sungguh mengganggu momen nikmat berdua bersama Rinoa.Rinoa menggelengkan kepalanya. "Enggak, kalau dibiarin malah bikin Mbak Pur curiga, Pa.""Terus Papa harus bukain pintu dalam kondisi yang seperti ini?" Barra menunjuk miliknya di bawah sana yang baru saja dipasangkan pengaman. Bukan masalah rugi satu pengaman bercinta, tapi masalahnya birahi sudah terlanjur di puncak."Bisa dilepas dulu, kan? Atau mungkin Papa langsung tutup aja pakai celana." Rinoa nyengir tipis, takut kalau ide yang terpaksa ini membuat Barra kecewa.Maunya Barra tetap keras kepala, tapi ketukan pintu da

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   29. Kondom?

    Barra lagi-lagi tak menjawab pertanyaan Rinoa, tapi caranya merespon adalah dengan tindakan langsung. Laki-laki itu membuka celah celana dalam Rinoa, lalu secara perlahan mendekatkan bibirnya pada bagian sensitif milik Rinoa tersebut. "Paaaaaahhh ...." Tubuh Rinoa gemetaran begitu rasa hangat dari bibir dan lidah Barra menyentuh bagian sensitifnya di bawah sana. Ah, sial ... rasanya geli tapi sungguh nikmat. Barra tidak hanya jago urusan ciuman bibir, tapi urusan membahagiakan titik sensitif milik Rinoa pun perlu diacungi jempol. Sungguh Rinoa sangat menyukai bagian ini, sensasi geli tapi nikmat itu membuat tubuh Rinoa merasakan hormon oksitosin yang meningkat. Sibuk Barra menikmati bagian bawah milik Rinoa dengan bibir dan lidahnya, sementara Rinoa berkali-kali melenguh dan mendesah. Sebisa mungkin desahan itu ditahan agar tidak terlalu keras, masalahnya kenikmatan ini adalah sesuatu yang sulit ditahan. Sesaat Rinoa tidak peduli, biar saja desahannya menggema di ruangan ini. Lagi

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   28. Makan Malam Utama

    "Ma-maaf, Pa. Ma-maaf ka-kalau Papa berkali-kali nu-nungguin aku," ucap Rinoa dengan terbata-bata. Barra kembali menyisir rambut Rinoa dengan jari-jarinya. "Nggak masalah, Papa punya tingkat kesabaran yang cukup. Tapi ... belakangan ini kesabaran Papa sedikit diuji, sepertinya ada sesuatu yang membuat Papa jadi nggak sabaran lagi." Rinoa yang duduk menyamping di pangkuan Barra itu pun seketika menatap ke arah Barra. "Apa, Pa?" "Kamu ... kamu yang bikin Papa jadi nggak sabaran, Noa." Jari-jari Barra yang tadi menyusuri rambut Rinoa kini berpindah ke pipi Rinoa. Perlahan jari itu mengelus lembut pipi Rinoa, lalu berpindah ke bibir Rinoa. "Papa sengaja makan malam dalam porsi yang sedikit, karena makan malam utama Papa ada di sini." "Maksudnya?" tanya Rinoa dengan ekspresi bingung. Barra tersenyum tipis kepada Rinoa. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Barra lagi, hanya gerakan tangannya yang kini sudah berpindah ke bagian bawah tubuh Rinoa. Berawal dari mengelus pelan paha

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   27. Berapa Lama Cantik Seperti Ini?

    Barra menaikkan satu sudut bibirnya. "Kamu benar, memang lebih baik dia berlama-lama di sana. Tapi ... semoga aja Enzo nggak lalai dengan tugasnya di kantor."Rinoa mendengkus pelan. "Bukannya Enzo udah terlalu sering kerja lembur di kantor Papa? Sesekali dia bebas tugas sepertinya nggak masalah kan, Pa? Lagian semua bisa dicek lewat online dan Papa sendiri juga bisa mengecek langsung ke kantor."Jujur saja Rinoa sedikit tidak suka kalau Barra mulai membahas urusan pekerjaan. Dia sudah merasakan sendiri kurangnya kasih sayang Enzo ke Rinoa akibat mengurus perusahaan milik Barra, sekarang di saat Enzo tidak ada malah kembali Barra memikirkan bisnisnya.Barra sepertinya pun langsung paham kalau Rinoa kurang menyukai pembahasan ini. Terlihat dari ekspresi Rinoa yang langsung berubah cemberut saat Barra membahas tentang kantornya.Seketika Barra mengelus tangan Rinoa dengan lembut. "Kita makan dulu ya, Noa. Papa minta maaf kalau bahas masalah yang tadi."Rinoa tersenyum tipis. Dia pun men

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   26. Kamu Harus Percaya Sama Papa

    Barra mengangguk dengan yakin. "Tentu, Noa. Malah Papa khawatirnya dengan kamu." "Denganku?" Rinoa mengernyit. "Iya, kamu yang harus lebih berhati-hati lagi. Seperti yang Papa bilang tadi, adik kamu instingnya kuat. Jangan menunjukkan gerak-gerik yang aneh di depan dia. Bisa kan, Noa?" Barra lantas mengelus lembut puncak kepala Rinoa. Seperti menunjukkan rasa kasih sayang seorang ayah kepada putrinya. "Oke, Pa." Rinoa mengangguk pelan. Barra mengalihkan pandangannya sejenak ke arah luar mobil. "Sepertinya kita harus keluar sekarang. Papa nggak mau orang-orang di rumah ini jadi curiga kalau kita lebih lama lagi diam di dalam mobil." Rinoa setuju dengan saran Barra. Dia dan Barra pun segera keluar dari mobil. Jujur saja, gara-gara telepon dari Reonald tadi rasanya momen nikmat berdua dengan Barra jadi terasa nanggung. Rinoa pun mengakui kalau mertuanya ini sangat lihai menahan diri, padahal tadi bisa saja Rinoa cuek dengan tidak menjawab panggilan telepon dari adiknya. Namun Bar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status