แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Mommy_Ar
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-07-09 12:06:17

“Lebih baik, kamu istirahat aja di sini!” kata Aga sambil menatap Ara yang masih duduk di ujung sofa.

“Enggak ah,’’ Ara menggeleng cepat. ‘’kalau aku di sini lama-lama, nanti jadi gosip.”

Ara menegakkan punggung, seolah ingin menunjukkan bahwa ia baik-baik saja, meski matanya masih berat dan tubuhnya jelas limbung.

“Gosip selingkuh juga?” Aga mengangkat alis, mencoba membaca maksudnya.

“Bukan!’’ Ara menjawab cepat, matanya melebar sebentar.

“Lalu?” tanya Aga, kini dengan nada yang sedikit penasaran, sedikit curiga.

“Gosip aku dapat nilai bagus gara-gara deketin CEO. Nanti ada yang lapor ke kampusku,” ujarnya sambil terkekeh.

Aga hanya menggeleng, lalu menghela napas berat. Ia memandang Ara lama, cukup kagum dengan ketegaran gadis itu. Andai saja, Raffi bukan sahabatnya, mungkin sudah sejak lama Aga akan mendekati Ara.

‘’Astaga!’’ Aga segera menyadarkan dirinya saat pikiran buruk itu kembali menyerang pikiran nya.

Aga kembali duduk di kursi kerjanya, menatap layar laptop yang penuh dengan angka, tabel, dan proposal yang harus ia revisi.

Seharusnya, pagi ini ia sudah bisa tenggelam dalam pekerjaan seperti biasa menganalisis laporan, mengatur strategi, dan mempersiapkan presentasi penting untuk klien. Tapi entah kenapa, fokusnya buyar setiap kali jarum jam bergeser.

Bayangan Ara kembali menyeruak, seolah menempel di dinding pikirannya. Senyumnya yang manis tapi penuh luka, tatapan matanya yang memohon sekaligus menantang, dan kalimat itu…

"Mau jadi selingkuhan aku nggak?"

Aga mengusap wajahnya kasar, mencoba mengusir ingatan itu.

Ia mengetik beberapa baris laporan, lalu berhenti lagi. Tangannya menggantung di atas keyboard, tapi pikirannya kembali pada obrolannya tadi.

"Astaga! Lama lama aku ikutan gila!’’ gumamnya pada diri sendiri.

Ia tahu, kalau ia terus memikirkan ini, ada kemungkinan besar ia akan membuat kesalahan bukan hanya di pekerjaan, tapi juga dalam hubungannya dengan Rafi. Dan itu akan jadi masalah besar.

Pintu ruangan Aga di ketuk, Ara memasuki ruangan itu dengan membawa sebuah berkas.

‘’Pak, ini ada laporan anda minta revisi kemarin,”

‘’Letakkan disitu, nanti aku lihat!’’ jawab Aga, sengaja tidak melihat Ara karena ingin fokus bekerja.

‘’Baik Pak!’’

Aga menghela napas berat, mengira bahwa Ara sudah pergi. Tapi ternyata, gadis itu masih berada di depan meja nya.

‘’Ada apa lagi?’’ tanya Aga.

‘’Ada email dari klien yang minta revisi konsep dalam waktu dua hari,’’ kata Ara.

Aga mengangguk, ‘’Kirimkan ke emailku!’’

‘’Baik Pak,”

‘’Ada lagi?’’

‘’Ada,”

‘’Katakan!’’ ucap Aga kembali fokus pada pekerjaannya di meja.

‘’Makan siang nanti, bapak ada jadwal gak?’’

Mendengar pertanyaan itu, Aga langsung mendongak dan menatap kearah Ara, ‘’Bukankah kamu yang tahu jadwal ku?’’

‘’Iya sih,” Ara mengangguk ragu, ‘’Jadwal bapak kosong siang ini.”

Aga tidak bicara, tapi dahinya dibuat mengernyit heran, sampai tiba-tiba Ara kembali melanjutkan pembicaraan. ‘’Jika bapak Aga tidak keberatan, bisakah temani saya makan siang?’’

‘’Makan siang? Dengan siapa?’’ Aga seolah paham dengan tawaran yang diberikan oleh Ara.

Gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Otomatis, jika Ara mengajaknya menemaninya, pasti Ara akan menemui seseorang.

‘’Tante Hera,’’ jawab Ara pelan dan ragu.

Aga mengangguk, ‘’Ya udah.’’

Senyuman Ara langsung merekah, dia segera pamit keluar dan melanjutkan pekerjaan, menunggu makan siang tiba untuk bertemu dengan tante Hera, ibu kandung Raffi.

**

J&F Caffe and Resto.

Mobil yang ditumpangi Aga berhenti. Ia dan Ara segera turun dan masuk kedalam. Dan sesuai dugaan Ara, bahwa disana suda hada tante Hera, Raffi dan satu lagi, bagai tamu tak diundang, Annabella.

‘’Tante …” sapa Ara tersenyum.

‘’Sayang, Tante kangen banget sama kamu!’’

Ara dan Tante Hera berpelukan dan cipika-cipiki, lalu Tante Hera juga mengajak Ara agar duduk di sampingnya. Dan kini, meja makan itu di isi oleh lima orang.

‘’Ara, kenapa kamu bawa Aga kesini?’’ tanya Raffi membuka suara, matanya sesekali melirik kearah sahabatnya sendiri.

Bukan tidak suka, hanya saja Raffi masih sedikit kesal lantaran tadi diusir oleh Aga.

‘’Kenapa? Kamu terganggu sama Aga?’’ kata Ara menatap tajam kearah Raffi.

‘’Bukan, hanya saja ini kan acara keluarga,”

‘’Oh ya? Lalu sejak kapan Anna jadi keluargamu? Kenapa dia bisa kamu bawa, dan Aga tidak?’’

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (4)
goodnovel comment avatar
Emak Chua Aya
lngsung tersentil tu si raffi
goodnovel comment avatar
Henny Aruan
ara hrs jdi gadis yh lebih kuat y
goodnovel comment avatar
enur .
ayo Rafi, kamu mau jawab apa lagi
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 102 s2

    Sepulang sekolah, langkah Miko terasa jauh lebih berat dari biasanya. Seragamnya masih rapi, tas masih menggantung di bahu, tapi pikirannya sudah berlari lebih dulu ke satu tempat rumah sakit. Dadanya berdebar tanpa alasan yang jelas, seolah ada firasat yang sejak tadi menekan dari dalam. Begitu pintu ruang perawatan dibuka, Miko sontak terhenti. Matanya membola. Kayla sudah sadar. Gadis itu setengah duduk di atas brankar, wajahnya masih pucat namun matanya terbuka dan hidup. Di sampingnya, Marsha tengah menyuapi potongan buah dengan gerakan lembut, penuh kesabaran. Sementara di sofa dekat jendela, Rafi duduk tenang sambil menatap layar ponselnya, sesekali melirik ke arah Kayla. Pemandangan itu membuat Miko bingung sekaligus terkejut. “Mama sama Papa ngapain di sini?” tanya Miko spontan, suaranya sedikit tertahan. Rafi mendongak, menatap putranya sekilas sebelum menjawab santai, “Kamu baru p

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 101 s2

    Air mata Kayla jatuh tanpa mampu ia tahan. Pertanyaan itu meluncur dari bibirnya dengan suara bergetar, seolah ia sendiri takut mendengar jawabannya. “Jadi… benar, aku anak kalian?” ulang Kayla lirih. Dadanya naik turun tak beraturan. “Aku… aku punya orang tua?” Marsha tak sanggup lagi berdiri tegak. Lututnya melemas, ia segera mendekat dan memeluk Kayla erat-erat, seakan takut gadis itu akan menghilang jika dilepas sedetik saja. Tangisnya pecah, bukan lagi isak yang ditahan, melainkan tangisan panjang yang selama belasan tahun terpendam. “Iya, sayang…” suara Marsha serak, penuh luka dan rindu. “Kamu anak kami. Kamu putri mama. Maaf… maafkan mama yang terlalu lama kehilangan kamu.” Rafi berdiri di samping ranjang, dadanya sesak melihat dua perempuan yang paling berharga dalam hidupnya saling berpelukan dalam air mata. Tangannya gemetar saat akhirnya ikut memeluk mereka berdua, menyatukan pelukan yang terasa sangat rapuh n

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 100 s2

    Marsha menarik napas panjang sebelum melanjutkan. Tangannya yang hangat masih menggenggam jemari Kayla, seolah takut jika dilepaskan sedikit saja, gadis itu akan kembali menghilang dari hidupnya. “Kayla…” suara Marsha bergetar, bukan karena ragu, melainkan karena emosi yang menyesak dada. “Bukan itu maksud mama. Mama sama sekali tidak sedang menjodohkan kamu dengan Miko.” ‘’Mungkin, dulu iya. Karena Mama gak tahu yang sebenarnya. Maafin Mama,’’ ‘’M—maksud Tante apa? Maaf, Kayla bener bener bingung,” Kayla menelan ludah. Wajahnya pucat, bukan hanya karena sisa-sisa efek operasi, tapi juga karena kebingungan yang semakin menumpuk. Matanya bergantian menatap Marsha lalu Rafi yang berdiri tak jauh dari brankar, dengan sorot mata yang sama-sama berkaca-kaca. “Waktu kamu kecelakaan,” lanjut Marsha perlahan, memilih setiap kata dengan hati-hati, “darah di tubuh kamu berkurang s

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 99 s2

    Rafi tersentak. Ia mendekat cepat, menatap tangan Kayla yang masih berada dalam genggaman Marsha. Detik terasa berjalan sangat lambat. Lalu… kelopak mata Kayla bergetar. Sekali. Dua kali. “Ya Allah…” Rafi refleks menutup mulutnya sendiri. Perlahan, mata Kayla terbuka. Pandangannya kosong, samar, seolah dunia di depannya masih kabur. Napasnya tersengal, dadanya naik turun lebih cepat dari sebelumnya. Marsha menjerit tertahan, antara kaget dan bahagia. Tangannya langsung meraih wajah Kayla. “Kayla… Kayla, sayang… kamu dengar Mama?” suaranya gemetar, penuh harap. Kayla tidak langsung menjawab. Bibirnya bergerak pelan, namun tak ada suara yang keluar. Matanya menatap Marsha… lama… seolah sedang mencoba mengenali wajah di hadapannya. Rafi tersadar. Ia langsung berbalik dan membuka pintu. “Dokter!” serunya panik. “Dokter! Pasiennya sadar!” Tak butuh waktu lama. Dokter d

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 98 s2

    Marsha berdiri kaku di sisi ranjang rumah sakit itu. Tangannya gemetar saat perlahan menyentuh pagar besi brankar, seolah takut sentuhan sekecil apa pun akan melukai gadis yang terbaring lemah di hadapannya. Kayla. Wajah itu pucat, napasnya dibantu alat, dadanya naik turun pelan. Namun justru dalam kondisi rapuh itulah, kemiripan itu terlihat semakin jelas terlalu jelas untuk diabaikan. Garis alisnya. Bentuk hidungnya. Lekuk bibirnya yang samar meski tanpa senyum. Marsha menelan ludah dengan susah payah. “Raf…” suaranya nyaris tak terdengar. Rafi yang berdiri di belakangnya ikut menatap Kayla dengan mata yang basah. Ia tidak menjawab, karena ia tahu istrinya sedang melihat hal yang sama dengannya. Selama ini, Marsha sudah beberapa kali bertemu Kayla. Mengobrol, tertawa kecil, bahkan sempat menepuk pundak gadis itu dengan penuh kehangatan seorang ibu. Tapi semua

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 97 s2

    Rafi memejamkan mata. Rasa bersalah, marah, takut, semuanya bercampur menjadi satu. “Aku tidak akan membiarkannya lolos, Sayang,” ucapnya mantap. “Tapi aku juga tidak bisa gegabah. Sedikit saja salah langkah, dia bisa kabur. Atau lebih buruk menyakiti Kayla.”Nama itu membuat Marsha semakin terisak. “Kayla…” Ia mengangkat wajahnya yang basah air mata. “Bagaimana kalau Miko tahu? Anak kita sudah begitu terpukul karena Kayla. Kalau dia tahu kebenarannya—”“Aku akan melindunginya,” potong Rafi cepat. “Aku janji. Miko tidak boleh tahu sebelum waktunya. Tidak sebelum Kayla sadar. Tidak sebelum semuanya aman.”Marsha mengangguk lemah. Lalu, seolah baru menyadari sesuatu, ia menegakkan tubuhnya sedikit. “Rafi…” suaranya bergetar namun penuh keyakinan baru. “Kalau Kayla memang… anak kita.”Rafi terdiam. Kata-kata itu masih terasa asing, meski hasil tes DNA sudah berbicara jelas.“Aku ingin menemuinya,” lanjut Marsha. “Besok. Tidak peduli dia sadar atau bel

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status