ログインDivya terengah-engah.
Xavier hanya berdiri di sana, dadanya naik turun dengan napas berat, belati masih tergenggam erat di tangan kirinya. Matanya masih tajam, memastikan tak ada yang bangkit lagi.Lalu, dia berbalik, menatap Divya yang masih tampak terkejut. Xavier tidak berkata apa pun. Dia hanya mengulurkan tangan, menggenggam jari-jari Divya yang masih dingin.“Jangan lepas,” suaranya pelan.Divya menggigit bibir, lalu mengangguk, jari-jarinya meremas tangan Xavier sebagaiDivya terengah-engah.Xavier hanya berdiri di sana, dadanya naik turun dengan napas berat, belati masih tergenggam erat di tangan kirinya. Matanya masih tajam, memastikan tak ada yang bangkit lagi.Lalu, dia berbalik, menatap Divya yang masih tampak terkejut. Xavier tidak berkata apa pun. Dia hanya mengulurkan tangan, menggenggam jari-jari Divya yang masih dingin.“Jangan lepas,” suaranya pelan.Divya menggigit bibir, lalu mengangguk, jari-jarinya meremas tangan Xavier sebagai jawaban. Tanpa membuang waktu lagi, mereka kembali berlari, menerobos sisa bayangan malam menuju kebebasan.Suara Damian tiba-tiba terdengar panik melalui earpiece, membuat Xavier langsung waspada.“X! Kamu masih di dalam?!”“Ya. Kenapa?”Dari seberang, suara Damian terdengar lebih cemas. “Keluar sekarang! Gedung ini dipasangi bom! Akan segera meledak! Sialan! Aku tidak punya waktu untuk menjinakkannya. Hanya tersisa beberapa detik lagi. Lari! Keluar sekarang! Kalian semua kelua
Xavier tetap diam. Tatapannya tajam, dingin, penuh kebencian yang hampir bisa dirasakan di udara. Jarinya menggenggam belatinya erat, sementara matanya mengamati situasi. Lima belas pria bersenjata mengelilingi mereka, semua dengan senapan otomatis teracung siap menembak. Tapi Xavier tidak gentar. Tidak juga Jagar, Abhimanyu, atau Damian yang berdiri di belakangnya.Abhimanyu memutar pedangnya di tangan, logamnya berkilat di bawah cahaya redup. “Kita bisa selesai dalam tiga menit.”Xavier menatap Jagar, memberi isyarat halus. Jagar mengangguk.Lalu neraka pun meledak.Jagar adalah yang pertama melesat, tubuh besarnya bergerak lebih cepat dari yang bisa diduga. Tangannya merobek satu pria dengan gerakan brutal, sementara Abhimanyu mengikuti, pedangnya menyambar leher pria di sebelahnya dengan satu tebasan mulus.Xavier tidak menunggu lebih lama. Dia maju dengan kecepatan yang mengerikan, belatinya melesat ke tenggorokan pria yang mencoba menghalanginya. Darah memu
“Setidaknya dua puluh orang.” Xavier memeriksa sekeliling. “Mereka dikurung di sebuah ruangan besi. Aku akan mencoba membuka pintunya.”Dia menyarungkan belatinya dan meraih pistol di pinggangnya, bersiap menembak gembok besar yang mengunci pintu itu.Tapi sebelum dia sempat menarik pelatuk—Suara langkah kaki. Berat dan mendekat.Xavier langsung bergerak, bersembunyi di balik tumpukan peti kayu di sudut ruangan. Dua pria bersenjata masuk, berbicara pelan dalam bahasa yang kasar. Salah satunya membawa senapan serbu, sementara yang lain menenteng belati panjang.“Bos bilang kita harus memindahkan beberapa dari mereka malam ini,” ujar pria pertama.“Ya, tapi si brengsek yang menyusup tadi pasti masih ada di sekitar sini. Kita harus lebih waspada,” balas pria kedua sambil menatap sekeliling.Oh, bagus. Jadi mereka sudah sadar jika ada penyusup. Rasanya Xavier tidak perlu lagi basa-basi. Xavier mengamati mereka dari bayang-bayang, tubuhnya tetap diam seperti pemangsa yang bersiap menerkam
Divya menatap Hasan dengan mata membelalak, napasnya tercekat di tenggorokan. Cahaya lampu redup di ruangan kumuh ini semakin menambah rasa sesak dalam dadanya, seolah kegelapan di sekelilingnya merangkak naik untuk menelannya hidup-hidup. Tapi tidak ada yang lebih gelap dari perasaan yang kini melingkupi hatinya.Pria itu berdiri di hadapannya, tatapan matanya tenang, seakan tidak merasa bersalah sedikit pun atas pengkhianatan yang baru saja ia lakukan. Tidak ada raut penyesalan di wajah Hasan. Tidak ada beban. Hanya kehampaan yang menakutkan.“Kenapa …?” suara Divya lirih, hampir seperti bisikan. Dadanya sesak oleh rasa tak percaya, matanya berkaca-kaca bukan karena ketakutan semata, tetapi karena luka yang terasa lebih dalam daripada sekadar rantai di pergelangan tangannya.Hasan mendengus pelan, seperti mengejek kepolosan Divya. “Kamu sungguh naif, Nona,” katanya, suara beratnya menggema di ruangan itu. “Dunia ini tidak sebaik yang kamu pikirkan.”Dunia memang ke
Xavier meraih ponselnya lagi dan menekan nomor lain. Sekretaris Divya menjawab dengan cepat.“Pak Xavier?”“Di mana Divya?” “Bu Divya belum kembali ke kantor sejak satu jam lalu, Pak,” suara wanita di ujung telepon terdengar ragu. “Tadi Bu Divya bilang mau membeli kopi di luar, tapi setelah itu tidak ada kabar—”Xavier tidak mendengar lanjutannya. Jantungnya mulai berdetak cepat, tangannya menggenggam ponsel lebih erat. Ia segera mengakses sistem pelacak yang terhubung ke ponsel Divya, matanya terpaku pada titik merah di layar.Kafe langganannya. Xavier menyipitkan mata. Tidak mungkin Divya menghabiskan waktu selama itu di sana. Tanpa berpikir panjang, pria itu bangkit dari kursinya, mengambil kunci mobilnya, dan melangkah keluar dengan langkah cepat dan terburu-buru. Langkahnya panjang dan cepat saat keluar dari gedung kantornya.Divya belum kembali ke kantor, ponselnya tidak diangkat, dan pelacakan terakhirnya menunjukkan bahwa dia masih di kafe.Pasti
”Aku akan menjemputmu seperti biasa.”Divya mengangguk, mencium bibir Xavier dalam-dalam sebelum keluar dari mobil untuk masuk ke lobi kantor Mahesa. Ia bekerja seperti biasa, dan siangnya ketika membutuhkan kopi, Divya menuju lobi utama. Antrian terlalu panjang, dan rasa kopi di sana tidak terlalu sesuai dengan seleranya. Maka Divya memutuskan untuk menuju kafe pelanggannya yang tidak terlalu jauh dari kantornya.Semuanya baik-baik saja, Divya sudah memesan dan tiba-tiba ingin ke toilet, maka wanita itu menuju toilet. Namun ketika keluar dari toilet, bencana itu terjadi. Divya tersentak saat keluar dari bilik toilet, ada seseorang memakai masker dan topi mendekat dan mengarahkan belati ke perutnya. Seketika Divya dilanda rasa takut dan napasnya tercekat.“Ke pintu samping,” ucap pria itu dengan nada kasar.”Siapa kamu?””Ikuti saja perintahku jika tidak mau mati.”Divya menahan napas, jantung Divya berdegup kencang, detaknya menggema di telinganya seperti genderang kematian. Tubuhny
”Tolong hargai aku dan Zelie yang tidak punya pasangan.” Ivander melotot galak. ”Aku tidak perlu dikasihani, kasihani saja dia,” tunjuk Zelena pada adiknya. “Baiklah, lanjutkan saja permainan dan biarkan pasangan suami itu berciuman.” Ivander memutar botol. Sialnya botol mengarah kepada Xavie
Makan malam kali ini begitu santai di restoran yang ada di tepi pantai. Suasananya tidak seformal makan malam sebelumnya. Divya mengenakan dress berwarna putih yang panjangnya semata kaki, sandal tanpa hak yang juga berwarna putih dan rambut yang dibiarkan terurai cantik. Saat keluar dari kamar, Xa
Xavier menarik diri lalu menghunjam lagi. Dengan pelan hingga gesekan itu lebih terasa. Rintihan Divya terdengar panjang, wanita itu memohon untuk Xavier bergerak cepat tapi pria itu melakukan sebaliknya. Menyiksa Divya dengan gerakan pelan. Semakin pelan Xavier memasukinya, semakin terasa gesekann
Mengulang kembali kalimat itu dalam benaknya, membuat Divya nyaris terengah, ia setengah mati menginginkan Xavier bercinta dengannya, tidak peduli bahwa kini Divya tampak murahan, liar dan kehilangan sopan santun, tapi dia benar-benar ingin bercinta dengan Xavier. Divya tidak pernah menginginkan se







