Share

Bab 7.

Author: UmiPutri
last update Last Updated: 2025-12-24 10:04:01

Amara baru saja menutup pintu kamarnya ketika tangannya menyentuh paperbag besar berlogo butik mewah itu. Tas-tas lain sudah disusun rapi oleh para ART sebelumnya, namun satu paperbag masih tergeletak di sudut ranjang—belum sempat ia buka.

Dengan ragu, Amara menariknya mendekat.

“Kira-kira apa lagi ini…” gumamnya pelan.

Ia membuka lipatan kertas tebal itu perlahan. Jantungnya berdegup lebih cepat saat ujung kain terlihat. Bukan gaun biasa. Bukan pakaian rumah.

Kebaya.

Kebaya pengantin.

Amara terdiam.

Tangannya gemetar saat mengangkat kain itu. Warna gading lembut dengan bordiran halus keemasan. Sangat anggun. Sangat indah. Dan… sangat tidak seharusnya ada di tangannya.

“Nggak mungkin…” bisiknya, napasnya tercekat.

Ia mundur selangkah, seperti kebaya itu benda berbahaya. Dadanya terasa sesak. Tenggorokannya kering.

Secepat ini?

Bahkan tanpa aku siap?

Tiba-tiba—

KREKK.

Pintu kamarnya terbuka.

Amara terlonjak, hampir menjatuhkan kebaya itu.

Di ambang pintu berdiri Anisa.

Wajah perempuan itu kaku. Tatapannya tajam, dingin, dan sama sekali tidak bersahabat. Ia memandang Amara dari ujung kepala hingga kaki, lalu pandangannya jatuh pada kebaya di tangan Amara.

Bibir Anisa melengkung… bukan senyum, melainkan senyum sinis.

“Oh,” katanya datar, penuh ejekan.

“Sudah dapat juga, ya?”

Amara refleks menunduk. “Bu… Anisa…”

“Cantik,” potong Anisa, melangkah masuk tanpa diundang. Sepatu haknya berbunyi pelan di lantai kamar. “Pantas. Memang cocok untuk perempuan yang tahu caranya mengambil tempat orang lain.”

Kata-kata itu menghantam Amara seperti tamparan.

“Saya… saya tidak bermaksud—”

“Tidak bermaksud?” Anisa terkekeh pendek. “Lalu kau pikir kau ada di sini karena apa? Karena cinta?”

Anisa berdiri tepat di depan Amara. Jarak mereka hanya sejengkal. Aroma parfumnya menusuk hidung Amara, membuatnya semakin tertekan.

“Kau tahu,” lanjut Anisa dengan suara rendah namun tajam,

“aku yang memilih kebaya itu.”

Amara mengangkat wajahnya perlahan, terkejut.

“Supaya kau tahu,” Anisa mencondongkan tubuhnya sedikit,

“bahwa bahkan di hari yang katanya ‘bahagia’ itu… kau tetap berada di bawah bayanganku.”

Mata Amara berkaca-kaca.

“Saya tidak pernah ingin menggantikan siapa pun,” suaranya bergetar. “Saya hanya—”

“Diam,” hardik Anisa pelan namun dingin.

Lalu, tanpa peringatan—

BRAKK!

Anisa membanting pintu kamar Amara dengan keras.

Amara tersentak hebat. Tubuhnya terlonjak, kebaya itu hampir terlepas dari tangannya. Jantungnya berdegup kencang, napasnya memburu.

Pintu yang tertutup rapat itu terasa seperti penjara.

Air mata akhirnya jatuh.

Amara berdiri mematung, menangis tanpa suara. Tangannya mencengkeram kain kebaya itu erat-erat, seolah kain itu satu-satunya pegangan agar ia tidak runtuh sepenuhnya.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa.

Lalu terdengar ketukan pelan.

“Non Amara?”

Suara Sari.

Amara cepat-cepat menyeka air matanya. “I-iya.”

Pintu terbuka perlahan. Sari masuk dengan wajah penuh kehati-hatian. Begitu melihat mata Amara yang memerah, Sari langsung paham—tapi ia tidak bertanya.

Pandangan Sari tertuju pada kebaya di tangan Amara.

“Oh…” gumamnya pelan.

Sari mendekat. “Non, saya diperintahkan… untuk membantu Non mencoba baju pengantin itu.”

Amara menelan ludah. “Sekarang?”

“Iya, Non.”

Amara ingin berkata tidak. Ingin menolak. Ingin berteriak bahwa semuanya terlalu cepat, terlalu berat, terlalu menyakitkan.

Namun yang keluar hanya anggukan kecil.

“Baik.”

Sari membantu Amara mengganti pakaian dengan hati-hati. Gerakannya lembut, seolah takut menyakiti hati yang sudah rapuh.

Saat kebaya itu akhirnya melekat di tubuh Amara, Sari merapikan bagian bahu dan pinggang. Ia mundur selangkah.

“Non… kalau saya boleh jujur,” katanya pelan,

“Non terlihat sangat cantik.”

Amara menatap cermin.

Gadis dalam pantulan itu memang cantik. Anggun. Sempurna secara visual.

Tapi matanya kosong.

Senyumnya tidak ada.

Dan di balik kebaya itu, ada hati yang dipenuhi ketakutan.

“Cantik untuk siapa?” Amara berbisik lirih.

Sari terdiam.

Amara mengangkat tangannya perlahan, menyentuh bordiran emas di dadanya.

Ini bukan mimpi indah, pikirnya.

Ini adalah kenyataan yang harus aku jalani… apakah aku siap atau tidak.

Air mata kembali mengalir, jatuh membasahi kebaya itu.

Dan Amara berdiri di sana—

seorang gadis muda,

berbalut pakaian pernikahan,

namun hatinya dipenuhi kegelisahan dan ketidakpastian.

Hari itui setelah kebaya, dicoba menjadi rangkaian waktu yang berjalan lambat bagi Amara. Rumah besar itu berdiri megah, dindingnya menjulang, lantainya mengilap, dan setiap sudutnya terawat dengan sangat rapi. Namun bagi Amara, rumah itu tidak ubahnya seperti kurungan yang berlapis kemewahan.

Sejak pagi hingga malam, ada aturan yang harus ditaati. Tidak tertulis di papan mana pun, namun terasa jelas dan mengikat seperti rantai tak kasatmata.

Tidak boleh keluar kamar tanpa izin.

Tidak boleh bertanya terlalu banyak.

Tidak boleh membantah perintah siapa pun, terutama Anisa.

Dan yang paling berat—

tidak boleh menghubungi keluarga tanpa sepengetahuan Tuan Alex.

Aturan terakhir itu seperti pisau yang menancap di dada Amara.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap ponsel yang sejak hari pertama berada di dalam laci dan hanya boleh dipakai jika diizinkan. Setiap malam, keinginannya sama: mendengar suara ibu. Mendengar tawa kecil adik-adiknya. Sekadar memastikan mereka baik-baik saja.

Namun keinginan itu selalu kandas sebelum sempat menjadi tindakan.

“Non Amara, sebaiknya istirahat,” kata Sari suatu malam saat mendapati Amara duduk termenung di dekat jendela. “Besok Non harus bangun pagi.”

Amara mengangguk pelan. Selalu begitu. Ia selalu mengangguk.

Di balik jendela kamar, langit tampak gelap dan sunyi. Angin malam menggerakkan tirai tipis, seolah ikut mengelus kegelisahan yang tidak pernah reda di dada Amara.

Dalam kesunyian itu, kenangan datang tanpa diundang.

Wajah ibunya muncul pertama kali.

Ibu yang selalu bangun paling pagi, menyiapkan sarapan sederhana dengan senyum hangat. Ibu yang tangannya kasar karena bekerja, tapi selalu lembut saat mengusap kepala Amara. Ibu yang menangis saat melepasnya pergi, seolah tahu bahwa kepergian itu bukan sekadar bekerja.

“Bu…” lirih Amara, suaranya nyaris tak terdengar.

Air matanya jatuh satu per satu.

Ia merindukan pelukan itu. Bau kain ibu. Doa-doa lirih yang selalu dibacakan sebelum tidur.

Lalu wajah dua adiknya menyusul.

Adik laki-lakinya yang selalu merengek minta dibelikan jajanan. Adik perempuannya yang sering tidur memeluk lengan Amara karena takut gelap. Mereka masih terlalu kecil untuk mengerti mengapa kakaknya tiba-tiba pergi dan tidak pulang.

Apa mereka mencariku?

Apa ibu baik-baik saja tanpa aku?

Rindu itu semakin menyesakkan.

Namun setiap kali kenangan tentang keluarga muncul, satu wajah lain ikut hadir—

wajah bapaknya.

Wajah yang dulu ia hormati.

Wajah yang dulu ia percayai.

Wajah yang kini hanya menyisakan rasa pahit.

Amara mengepalkan tangan.

Ia teringat jelas bagaimana bapaknya menghindari tatapannya sebelum menyerahkannya pada Alex. Tidak ada penjelasan. Tidak ada permintaan maaf. Hanya kalimat singkat yang dibungkus alasan ekonomi.

“Kamu bantu keluarga.”

Kalimat itu kini terasa kejam.

“Bantu?” Amara berbisik getir. “Atau dijual?”

Rasa kecewa itu perlahan berubah menjadi kemarahan. Setiap malam, pertanyaan yang sama berputar di kepalanya.

Bagaimana seorang ayah bisa menjual anaknya sendiri?

Bagaimana seorang bapak bisa tidur nyenyak setelah menghancurkan hidup anaknya?

Ia tidak lagi mampu memaafkan.

Jika pada ibunya rindu terasa seperti luka yang perih, maka pada bapaknya, yang tersisa hanya kebencian yang membara pelan, dingin, dan menetap.

Hari-hari berlalu dalam ritme yang sama.

Bangun pagi.

Sarapan dengan suasana dingin.

Tatapan Anisa yang penuh penilaian.

Langkah-langkah pelayan yang selalu menunduk.

Dan Amara yang semakin mengecilkan diri.

Ia belajar diam.

Belajar menelan kata-kata.

Belajar menundukkan pandangan.

Belajar menyembunyikan air mata.

Karena di rumah itu, suara Amara tidak pernah dianggap penting.

Suatu sore, Anisa memanggilnya ke ruang tengah.

“Duduk,” perintahnya singkat.

Amara menuruti.

“Kau harus ingat satu hal,” ujar Anisa tanpa menatapnya. “Selama kau tinggal di rumah ini, kau mengikuti aturanku. Tidak ada drama. Tidak ada tangisan. Dan jangan pernah berpikir kau setara denganku.”

Setiap kata terasa seperti cambukan.

“Saya mengerti,” jawab Amara pelan.

“Bagus.” Anisa akhirnya menoleh. “Karena satu kesalahan kecil saja… hidupmu akan jauh lebih sulit.”

Ancaman itu tidak perlu dijelaskan. Amara sudah cukup paham.

Malamnya, Amara kembali ke kamar dengan langkah gontai. Ia menutup pintu, bersandar di sana, lalu perlahan meluncur duduk ke lantai.

Tangisnya pecah.

Bukan tangis keras. Bukan jeritan. Hanya isak teredam yang mengguncang bahunya.

“Aku capek…” bisiknya.

Capek menahan diri.

Capek berpura-pura kuat.

Capek hidup tanpa pilihan.

Ia memeluk lututnya sendiri, seolah mencoba menggantikan pelukan yang seharusnya ia dapatkan dari keluarga.

Di luar kamar, rumah itu tetap sunyi dan tertib. Tidak ada yang peduli pada gadis muda yang perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Namun di dalam hati Amara, sesuatu mulai berubah.

Di antara rasa takut dan kepasrahan, ada satu hal yang mulai tumbuh—

keinginan untuk bertahan.

Bukan karena ia setuju.

Bukan karena ia menerima.

Melainkan karena ia ingin suatu hari nanti… bisa pulang dengan kepala tegak.

Dan ketika hari itu tiba, ia tahu satu hal dengan pasti:

Ia mungkin akan memaafkan ibunya.

Ia akan selalu mencintai adik-adiknya.

Tapi pada bapaknya—

Amara tidak yakin masih ada tempat untuk pengampunan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 47

    Rumah itu berdiri di ujung gang sempit, cat dindingnya warna krem pucat dengan beberapa bagian mulai mengelupas. Tidak besar, tidak pula mewah. Namun bersih, rapi, dan terasa tenang. Di teras kecilnya tergantung pot bunga sederhana, daun-daunnya hijau segar, seolah dirawat dengan penuh kesabaran. Dari dalam rumah, aroma teh hangat dan kayu manis samar tercium, menambah kesan damai yang menyelimuti tempat itu.Di ruang tamu yang hanya beralaskan karpet tipis, seorang wanita duduk bersimpuh. Pakaiannya longgar, gamis warna abu muda, hijab syar’i menutup tubuhnya dengan sempurna. Matanya sembab, bulir air mata jatuh satu per satu, membasahi pipinya yang pucat.“Maafkan aku, Mas…” suaranya bergetar, nyaris tenggelam oleh isak yang ia tahan sejak tadi.Danu berdiri di hadapannya, tubuhnya kaku. Pria itu memandang wanita itu lama, seolah sedang menimbang seluruh dosa dan keputusan yang pernah ia buat. Lalu perlahan, ia berlutut dan meraih tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.“Aku paham,” u

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 46

    Pagi itu rumah masih diselimuti sisa-sisa hiruk pikuk sejak subuh. Di meja makan, piring-piring belum sepenuhnya dirapikan. Aroma kopi hitam bercampur dengan bau gorengan yang mulai dingin. Danu duduk di kursi kepala meja, menyesap kopinya perlahan, wajahnya datar seperti biasa. Di sekelilingnya, ayah dan ibunya serta para adik sudah sibuk dengan urusan masing-masing—ada yang mengeluh soal menu, ada yang sibuk memeriksa ponsel, ada pula yang memanggil ART untuk hal-hal sepele.Ibunya Danu memperhatikan tangga yang baru saja dilalui Anisa. Perempuan itu turun, melintas cepat, lalu keluar tanpa sepatah kata. Tak ada salam, tak ada senyum, bahkan tak ada lirikan kecil yang biasanya masih tersisa sebagai formalitas. Pintu depan tertutup pelan, tapi cukup keras untuk meninggalkan tanda tanya.“Istri kamu kok begitu, Nu?” ujar ibunya, nada suaranya antara heran dan menyindir. “Pergi tanpa pamit. Sejak kapan kebiasaan itu ada di rumah ini?”Danu mengangguk-angguk kecil, manggut-manggut kepal

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 45

    Anisa pulang ketika malam sudah larut. Jam dinding di ruang tamu menunjukkan hampir pukul dua belas. Rumah besar itu terasa sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran tempat yang kini dihuni banyak orang. Lampu-lampu sebagian sudah dipadamkan, menyisakan cahaya temaram yang justru membuat langkah Anisa terasa semakin berat.Ia menutup pintu dengan pelan, seolah takut suara sekecil apa pun akan memancing keributan baru. Sepatunya dilepas asal, tas diletakkan di kursi tanpa ia pedulikan lagi. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya jauh lebih penat. Sepanjang perjalanan pulang, sejuta kekecewaan berputar-putar di kepalanya—tentang rumah yang bukan lagi miliknya sepenuhnya, tentang Danu yang semakin tak bisa ia kendalikan, tentang hidup yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang tak pernah ia rencanakan.Anisa langsung menuju kamarnya.Pintu kamar dibuka perlahan. Di dalam, lampu tidur menyala redup. Danu terlihat terbaring di sisi ranjang, napasnya teratur, wajahnya tampak tenang—terlalu tenang untuk se

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 44

    Anisa melangkah masuk ke rumah dengan langkah cepat dan wajah lelah. Sepatu haknya dilepas sembarangan di dekat pintu, tas bermerek dilempar ke sofa tanpa peduli. Kepalanya masih dipenuhi tekanan kantor, sikap karyawan yang semakin berani membantah, serta wajah-wajah sinis yang tak lagi ia temukan dulu.Rumah besar itu terasa bising, bukan oleh suara, tapi oleh keberadaan orang-orang yang kini menguasainya tanpa izin batin Anisa.“Bu… Anisa pulang.”Salah satu ART menyapa ragu dari dapur. Anisa tidak menjawab. Ia langsung menaiki tangga menuju kamar pribadinya—kamar yang dulu selalu menjadi tempat paling aman, paling tertutup, dan paling ia jaga.Begitu sampai di depan pintu, langkah Anisa terhenti.Alisnya berkerut.Pintu kamar itu tidak terkunci.Padahal pagi tadi, sebelum berangkat ke kantor, ia ingat betul telah memutar kunci dua kali. Bahkan sempat mengecek gagangnya untuk memastikan.Perasaan tidak enak langsung merambat naik dari dada ke tengkuknya.Perlahan, Anisa mendorong pi

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 43

    Anisa duduk kaku di jok belakang mobil kecil berwarna abu-abu kusam. Mobil itu biasa dipakai ART untuk belanja kebutuhan dapur atau antar-jemput anak Salwa ke sekolah. Kursinya keras, pendingin udaranya tidak terlalu dingin, dan ada aroma sabun lantai bercampur pewangi murah yang membuat kepalanya semakin pening. Tangannya terlipat di dada. Wajahnya masam, rahangnya mengeras. Dari kaca jendela, deretan gedung dan kendaraan berlalu tanpa makna. Di kursi depan, Danu menyetir dengan ekspresi yang tak kalah dingin. Sejak keluar dari rumah, tidak ada sepatah kata pun terucap. Keheningan itu justru terasa lebih berisik daripada pertengkaran mereka semalam. Anisa menatap spion kecil di depan. Bayangan wajahnya terlihat asing. Dulu, setiap ke mall, ia duduk di mobil mewah dengan sopir pribadi. Musik lembut mengalun, kopi favorit ada di cup holder, dan ponselnya dipenuhi pesan penting dari orang-orang yang menghormatinya. Sekarang? Ia harus menelan kenyataan pahit—mobil pribadinya mas

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 42

    Pagi itu, rumah besar yang biasanya sunyi dan tertib berubah seperti pasar kecil yang riuh. Anisa duduk di ujung meja makan panjang dengan punggung tegak, rambut tersanggul rapi, namun wajahnya sama sekali tidak mencerminkan ketenangan. Telinganya terasa panas, bukan karena suhu ruangan, melainkan oleh suara-suara yang bertubi-tubi menghantam sejak subuh. “Mah, aku mau telur ceploknya yang kuningnya setengah mateng!” “Bu, sambalnya kurang pedas!” “Tante Anisa, susunya yang cokelat, bukan putih!” Suara anak Salwa—keponakan Danu—paling dominan. Bocah itu mondar-mandir di sekitar meja makan sambil menunjuk-nunjuk, seolah dapur rumah itu adalah restoran milik pribadinya. Mbak ART terlihat kelimpungan, bolak-balik membawa piring dan gelas, keringat di pelipisnya tak bisa disembunyikan. Anisa menarik napas panjang. Ia berusaha menahan diri. Sabar… ini cuma sementara, hiburnya dalam hati, meski jantungnya berdegup keras menahan emosi. “Mas Danu,” panggil Anisa pelan namun tajam, m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status