Share

Bab 6.

Auteur: UmiPutri
last update Date de publication: 2025-12-23 17:47:25

PERTEMUAN SETELAH SARAPAN.

Ruang makan itu belum sepenuhnya sepi ketika Amara masih duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya bertumpu di atas pangkuan. Sarapan yang tersaji di depannya tampak utuh, hampir tak tersentuh. Bukan karena ia tidak lapar—perutnya justru melilit sejak pagi—butir nasi dan lauk yang tersaji terasa seperti pasir di lidahnya.

Setiap suapan terasa berat.

Setiap tarikan napas terasa salah tempat.

Amara masih belum beranjak dari kursinya ketika suara langkah kaki bersepatu hak terdengar mendekat dari arah lorong. Bunyi itu tegas, ritmis, dan penuh percaya diri—sangat kontras dengan langkah Amara yang selalu ragu.

Ia tahu siapa pemilik langkah itu.

Refleks, Amara menunduk lebih dalam.

Anisa.

Perempuan itu masuk ke ruang makan dengan balutan gaun rumah berwarna krem lembut, rambutnya terurai rapi, riasan wajahnya sederhana namun jelas menunjukkan keanggunan seorang nyonya rumah. Tidak ada sisa tangis semalam di wajahnya—atau setidaknya ia pandai menyembunyikannya.

Namun dingin di sorot matanya tidak bisa disamarkan.

“Selamat pagi,” ucap Anisa singkat.

Para pelayan yang masih berada di sekitar meja langsung membungkuk sopan.

“Selamat pagi, Bu.”

Amara berdiri tergesa-gesa, hampir menjatuhkan kursinya sendiri.

“P-pagi, Bu Anisa.”

Anisa tidak langsung menjawab. Matanya menyapu Amara dari ujung kepala hingga kaki—perlahan, teliti, dan tanpa ekspresi ramah sedikit pun. Bukan tatapan menghina, bukan pula marah. Lebih seperti tatapan seseorang yang sedang mengukur luka di dadanya sendiri.

Anisa kemudian duduk di kursi utama, tepat di sisi kosong yang biasanya ditempati Alex.

“Duduklah,” katanya datar.

Amara kembali duduk dengan canggung. Jari-jarinya meremas ujung gamis tipis yang dikenakannya. Ia bisa merasakan tatapan para pelayan—tidak berani terang-terangan menatap, tapi jelas memperhatikan dari sudut mata.

Anisa mengambil cangkir teh di depannya, menyeruput sedikit dengan gerakan anggun. Ia sama sekali tidak menyentuh Amara dengan pandangan lagi, seolah gadis itu tidak ada.

Hening.

Hening yang menyesakkan.

Tak lama kemudian, langkah kaki berat terdengar dari arah pintu samping. Alex muncul.

Pria itu mengenakan kemeja abu-abu gelap, lengan digulung rapi, wajahnya tegas seperti biasa. Begitu melihat Anisa, rautnya sedikit melunak.

“Nis,” panggil Alex.

Anisa menoleh dan—untuk pertama kalinya pagi itu—tersenyum.

Senyum yang hangat.

Senyum yang tidak pernah Amara terima.

“Kamu sudah selesai urusan kantor?” tanya Anisa lembut.

Alex mengangguk. “Aku hanya sebentar. Mau sarapan.”

Anisa berdiri, menghampiri Alex tanpa ragu. Di depan Amara, di depan para pelayan, Anisa merapikan kerah kemeja suaminya dengan gestur penuh kepemilikan.

“Kamu selalu lupa merapikan ini,” ucap Anisa sambil tersenyum kecil.

Alex tidak menolak. Bahkan tangannya terangkat, menyentuh pinggang Anisa dengan natural.

Amara menunduk semakin dalam.

Ada sesuatu yang menekan dadanya dengan keras.

Bukan cemburu—ia tahu dirinya tidak punya hak.

Tapi rasa sadar akan posisi… itu jauh lebih menyakitkan.

Anisa kemudian duduk kembali, Alex di sampingnya. Anisa menyendokkan makanan ke piring Alex dengan tangannya sendiri.

“Kamu harus makan,” katanya manis. “Kamu terlalu sering melewatkan sarapan.”

“Terima kasih,” jawab Alex singkat.

Amara memejamkan mata sejenak.

Pahit.

Sarapan pagi terasa pahit di lidahnya.

Ia memaksa dirinya menelan suapan kecil. Tapi tenggorokannya terasa sempit, seolah menolak menerima apa pun.

Anisa melirik sekilas ke arah Amara.

“Bagaimana sarapannya?” tanya Anisa, nada suaranya terdengar biasa… terlalu biasa.

“Ba-baik, Bu,” jawab Amara lirih.

Anisa mengangguk kecil. “Syukurlah.”

Kemudian, seolah baru teringat sesuatu, Anisa menoleh ke arah Alex.

“Oh ya, kamu belum menjelaskan pada staf, kan?”

Alex berhenti mengunyah. “Tentang apa?”

“Tentang Amara.”

Kalimat itu membuat Amara menegang.

Alex meletakkan sendoknya. Ia menatap sekeliling ruangan—para pelayan yang masih ada, kepala pelayan yang berdiri sedikit menjauh, dan Amara yang duduk dengan kepala tertunduk.

Alex berdiri.

“Semuanya, mohon perhatian sebentar.”

Para pelayan langsung menghentikan aktivitas mereka. Beberapa berdiri tegak, beberapa menunduk hormat.

Alex menatap Amara sejenak—tatapan yang sulit dibaca—lalu kembali menghadap para pelayan.

“Mulai hari ini,” ucap Alex tegas, “Amara adalah bagian dari keluarga ini.”

Kata-kata itu menggema di ruang makan.

Tidak ada reaksi spontan.

Tidak ada gumaman.

Tidak ada pertanyaan.

Para pelayan hanya diam.

Kepala pelayan, seorang wanita bernama mbok Mun, menunduk lebih dalam dari yang lain. Ia tahu. Ia sudah lama bekerja di rumah ini. Ia tahu perjanjian itu bukan sekadar formalitas biasa.

Namun sebagai kepala pelayan, ia juga tahu satu hal:

diam adalah bentuk kesetiaan paling aman.

Alex melanjutkan, “Perlakukan dia dengan hormat. Tidak ada bisik-bisik. Tidak ada sikap merendahkan. Semua kebutuhannya akan dipenuhi sesuai aturan rumah.”

“Baik, Tuan,” jawab para pelayan serempak.

Anisa duduk tenang, wajahnya tidak menunjukkan reaksi apa pun. Tetapi tangannya—yang berada di atas meja—perlahan mengepal.

Amara merasa kepalanya semakin berat.

Ia ingin berkata sesuatu.

Ingin menolak.

Ingin menghilang.

Namun yang keluar hanya suara napas yang bergetar.

Alex menoleh ke arah Amara. “Amara.”

Gadis itu tersentak. “Y-ya, Tuan?”

“Kamu tidak perlu canggung. Anggap rumah ini sebagai tempat tinggalmu.”

Amara menelan ludah. “Baik, Tuan.”

Anisa tiba-tiba berdiri.

“Maaf,” katanya sambil tersenyum tipis. “Aku ada janji pagi ini.”

Ia berjalan mendekati Alex, membenarkan posisi dasinya dengan lembut.

“Jangan terlalu memforsir diri.”

Alex mengangguk. “Hati-hati.”

Anisa kemudian melirik Amara—tatapan itu dingin, terkontrol, dan penuh jarak.

“Semoga kamu cepat beradaptasi,” ucapnya singkat.

Amara berdiri dan menunduk sopan. “Terima kasih, Bu.”

Anisa pergi tanpa menoleh lagi.

Begitu langkahnya menghilang, udara di ruang makan terasa berubah. Tidak lebih hangat—justru lebih berat.

Alex duduk kembali, melanjutkan sarapannya seolah tidak ada yang terjadi.

Amara masih berdiri, ragu apakah ia boleh duduk lagi atau tidak.

“Kamu boleh duduk,” kata Alex tanpa menoleh.

Amara kembali duduk perlahan. Namun selera makannya telah hilang sepenuhnya.

Alex melirik piring Amara yang hampir tidak tersentuh. “Kamu tidak makan?”

“Sa-saya sudah kenyang,” jawab Amara, meski jelas bohong.

Alex tidak memaksa.

Beberapa pelayan mulai berpencar kembali ke tugas masing-masing. Namun bisikan tetap tertahan di tenggorokan mereka. Semua tahu ada sesuatu yang tidak biasa—dan semua sepakat untuk tidak mengatakannya.

Pak Surya melangkah mendekat, membungkuk hormat.

“Tuan, apakah ada instruksi tambahan?”

Alex menggeleng. “Tidak. Pastikan Amara dibantu beradaptasi.”

“Baik, Tuan.”

Amara menunduk lebih dalam.

Saat akhirnya ia berdiri dan hendak pergi, Pak Surya sempat meliriknya sekilas—bukan dengan tatapan merendahkan, melainkan penuh iba.

Amara menangkap tatapan itu.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu…

ia hampir menangis.

☆☆☆☆☆☆☆☆

PERINTAH PAGI ITU

Pagi belum sepenuhnya hangat ketika Alex berdiri dari kursinya. Sisa sarapan di piringnya masih utuh setengah, namun wajahnya sudah kembali pada ekspresi dingin khas seorang pemimpin yang selalu dikejar waktu.

“Mobil sudah siap, Tuan,” lapor Pak Rudi, sopir pribadi Alex, sambil berdiri tegap di dekat pintu.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 62

    “Alice… tunggu dulu.”Langkah wanita itu terhenti di bawah rintik hujan sore. Ia memejamkan mata sebentar sebelum perlahan membalikkan badan. Di hadapannya, Rendra berdiri dengan napas sedikit memburu, jas mahalnya basah terkena hujan yang turun sejak tadi.“Kamu sengaja menghindariku?” tanya Rendra pelan, namun jelas terdengar kecewa.Alice menunduk. Jemarinya mencengkeram tali tas kain lusuh yang ia bawa. “Aku cuma… sibuk.”“Kamu bohong.”Suasana mendadak hening. Hanya suara hujan dan kendaraan yang sesekali melintas di jalan kota.Rendra melangkah mendekat. “Sudah dua minggu kamu berubah. Telepon jarang diangkat. Pesan dibalas seperlunya. Kalau aku salah, bilang.”Alice menggigit bibir bawahnya. Dadanya terasa sesak. Ia tahu, cepat atau lambat percakapan ini akan terjadi.“Aku tidak marah sama kamu,” katanya lirih.“Lalu kenapa?”Alice mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sudah berkaca-kaca. “Karena aku sadar… dunia kita berbeda.”Rendra langsung menggeleng. “Kita sudah bahas ini

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 61

    Waktu berjalan pelan di rumah sederhana itu, namun membawa perubahan yang begitu besar. Wanita yang dulu ditemukan tergeletak di pinggir sungai, kini hidup sebagai bagian dari keluarga kecil Pak Joko dan Bu Hayati. Mereka memberinya nama—Anisa. Nama yang terdengar lembut, penuh harapan, seolah menjadi doa agar hidupnya kembali utuh meski masa lalunya hilang.“Mulai sekarang kamu Anisa ya, Nak,” ucap Bu Hayati suatu pagi, sambil menyisir rambut panjang wanita itu dengan penuh kasih.Wanita itu hanya mengangguk pelan. “Iya, Bu,” jawabnya lirih.Tak ada penolakan. Tak ada pertanyaan. Seolah ia menerima nama itu seperti menerima takdir barunya.Hari-hari berlalu, luka-luka di tubuh Anisa perlahan sembuh. Bekas goresan di lengannya mulai memudar, lebam di pelipisnya menghilang. Wajahnya yang dulu pucat kini mulai berwarna. Bahkan, kecantikannya semakin terlihat jelas—kulitnya halus, matanya jernih, dan ada aura tenang yang terpancar dari dirinya.Namun ada satu hal yang tak berubah—Anisa m

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 60

    Si wanita itu terbaring lemah di atas dipan bambu sejak hari pertama mereka menemukannya. Pak Joko dan Bu Hayati merawatnya dengan penuh kehati-hatian, seolah merawat keluarga sendiri. Setiap beberapa jam, Bu Hayati mengganti kompres di dahi wanita itu, membersihkan lukanya dengan air hangat dan ramuan sederhana dari daun-daunan yang ia kenal sejak kecil. Bau minyak kayu putih bercampur dengan aroma tanah basah dari luar rumah, menenangkan sekaligus menambah harap.Sudah hampir dua hari berlalu. Namun wanita itu belum juga siuman sepenuhnya. Sesekali tubuhnya bergerak, alisnya berkerut, bibirnya bergetar seperti ingin berkata sesuatu, lalu kembali diam. Napasnya naik turun, masih berat, tapi teratur. Itu satu-satunya tanda yang membuat Pak Joko dan Bu Hayati bertahan—tanda bahwa ia masih berjuang.“Masih belum sadar juga, Pak,” kata Bu Hayati lirih sambil mengusap tangan wanita itu. “Tapi panasnya sudah turun.”Pak Joko mengangguk pelan. “Syukurlah. Berarti Tuhan masih beri jalan.”Pa

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 59

    “Pak… lihat itu!” suara si istri bergetar, tangannya menarik lengan suaminya dengan kuat. “Ada orang… ada orang di pinggir sungai!”Suaminya menghentikan langkah. Senja hampir tenggelam, cahaya jingga memantul di permukaan sungai yang keruh. Dari kejauhan, tampak sesosok tubuh tergeletak tak bergerak di antara rumput liar dan batu-batu licin.“Ya Allah…” gumam sang suami. “Siapa itu?”“Aku takut, Pak,” bisik si istri. “Jangan-jangan sudah… sudah meninggal.”Suaminya menelan ludah. Dengan langkah ragu, ia mendekat. Sepatu bututnya terpeleset sedikit di tanah basah, tapi ia tetap maju. Ia berjongkok, mencondongkan badan, lalu menyentuh lengan wanita itu dengan hati-hati.“Masih hidup, Bu,” katanya lega bercampur cemas. “Nadinya masih ada.”“Alhamdulillah…” si istri menghela napas panjang. “Kasihan sekali. Tubuhnya luka-luka begitu. Kita tidak bisa meninggalkannya di sini.”Suaminya menatap wajah wanita itu. Pucat. Bibirnya pecah. Ada luka di pelipis, goresan panjang di lengan, dan bekas

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 58

    “Bayi ini milik aku. Kamu tahu tidak, dulu Amara masuk ke kehidupan rumah tanggaku…” suara Anisa bergetar namun penuh kepemilikan, lengannya memeluk bayi itu erat-erat, seolah dunia hanya berisi mereka berdua. “Sampai Alex berpaling dariku.”“Kamu gila, Anisa!” sentak perempuan di hadapannya—teman lama yang kini wajahnya pucat pasi, matanya tak lepas dari bayi yang terlelap itu. “Apa yang kamu lakukan ini kejam!”“Aku memang sudah gila,” sambar Anisa sambil terkekeh pendek. Tawa itu pecah, kering dan rapuh, seperti kaca yang retak dipaksa berderit. “Gila karena ditinggalkan. Gila karena direbut. Gila karena semua yang kuanggap milikku diambil satu per satu.”Ia menunduk, menatap wajah mungil Bayu. Bayi itu menguap kecil, jemarinya bergerak refleks, sama sekali tak mengerti badai apa yang sedang menggulung hidupnya. Anisa mengusap pipi Bayu dengan jari gemetar. “Tenang, Nak… Aku tidak akan menyakitimu. Kamu hanya… hanya perlu berada di tempat yang benar.”“Tempat yang benar?” Perempuan

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 57

    Tangisan Amara pecah tanpa bisa dibendung lagi. Tubuhnya gemetar hebat, lututnya terasa lemas hingga ia hampir ambruk kalau saja sepasang tangan tidak segera memeluknya erat.“Ibu… Bayu… Bayu diambil orang, Bu…” suara Amara putus-putus, nyaris tak terdengar karena terselip isak yang menyayat.Bu Laras memeluk putrinya kuat-kuat. Dada perempuan paruh baya itu ikut naik turun menahan sesak. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi bahu Amara. Ia tidak pernah membayangkan ujian sekejam ini akan menimpa anaknya, apalagi cucu kecil yang baru saja mulai mengisi rumah dengan tangisan dan tawa.“Sabar, Ra… sabar, Nak…” Bu Laras berusaha menenangkan, meski suaranya sendiri bergetar. “Kita cari sama-sama. Bayu pasti kembali.”“Tadi… tadi Bayu di stroller, Bu…” Amara terisak makin keras. “Aku cuma nengok sebentar ke gudang. Cuma sebentar…” Ia memukul dadanya sendiri, menahan rasa bersalah yang menghantam bertubi-tubi. “Salah aku, Bu… semua salah aku…”“Tidak, Ra. Jangan begitu,” Bu Laras mengu

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 23

    Pak Joko datang tanpa memberi kabar.Mobil sewaan yang ditumpanginya berhenti tepat di depan gerbang rumah Nyonya Ambarwati saat matahari hampir tenggelam. Pak Joko turun dengan langkah tergesa, mengenakan kemeja kusut yang belum disetrika, celana kain yang warnanya mulai pudar, dan sandal jepit ya

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 22

    Kamar itu sunyi.Hanya ada dua perempuan di dalamnya—seorang ibu dan anak yang terlalu lama dipisahkan oleh keadaan, hutang, dan keputusan-keputusan pahit yang tidak pernah benar-benar mereka pahami sepenuhnya.Pintu kamar sengaja ditutup perlahan oleh Nyonya Ambarwati. Wanita itu bahkan memberi is

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 18.

    Ruang tamu rumah besar Nyonya Ratna sore itu dipenuhi aroma teh melati dan kue tradisional. Kursi-kursi empuk tersusun rapi membentuk setengah lingkaran. Di tengahnya, sebuah meja rendah penuh piring kecil dan cangkir porselen bermotif bunga. Tawa para wanita paruh baya sesekali pecah, diselingi ob

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 17

    Sejak pagi itu, Anisa tidak lagi bisa menipu dirinya sendiri.Perasaan tidak nyaman yang sejak lama mengganggu kini berubah menjadi keyakinan yang menyesakkan: Amara adalah ancaman.Bukan sekadar istri siri.Bukan sekadar gadis desa yang “dibawa masuk” demi urusan hutang.Melainkan sesuatu yang jau

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status