Home / Mafia / Sentuhan Panas Tuan Mafia / 18. Ingin Membuktikan Keperawananmu (21+)

Share

18. Ingin Membuktikan Keperawananmu (21+)

last update Huling Na-update: 2025-09-29 16:24:55

“Aaaaa! Apa yang Tuan Leon lakukan di sini?” Anne terkesiap karena tiba-tiba tangan kanan Leon sudah memeluk pinggang rampingnya yang tak tertutup sehelai benang pun.

“Apa yang aku lakukan? Memangnya aku perlu memberitahumu tentang apapun yang ingin aku lakukan di rumahku sendiri hah?” bisik Leon pelan, ujung hidung mancungnya itu menyusuri leher jenjang Anne.

Tangan kekar Leon mulai meraba area pusarnya, lalu merayap naik ke atas hingga tiba di bawah dada montoknya.

Anne semakin gugup dan gelisah. Ia berusaha meronta dan melepaskan pelukan Leon, tetapi tangan pria itu sangat kuat memeluknya.

“Tu … Tuan, tolong keluar dulu. Aku sedang mandi, jadi ….”

“Tidak usah munafik seperti itu, Anne. Aku lihat sendiri kalau kamu sangat hyper. Gadis jalang sepertimu ini pasti memang sudah terbiasa dipuaskan oleh kejantanan seorang pria kan?” Tuduhan Leon terasa sangat menyakitkan di telinga Anne.

Anne menghela nafas panjang. Ia ingin berbalik dan membantah semua tuduhan itu, tapi untuk bergerak sa
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   153. Manipulasi

    Tawa Leon pecah pelan setelah pertanyaannya meluncur begitu saja.“Jadi, kapan kalian akan melamar mereka?” ulangnya santai, seolah sedang menanyakan cuaca.Adrian dan Jonathan langsung kikuk hampir bersamaan.“Aku … eh, Bos, ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda.” Adrian berdeham, wajahnya tampak memerah samar.Jonathan pun ikut mengangguk cepat. “Itu benar, Bos. Kita … kita kan masih harus fokus kerja.”Leon menyeringai kecil. Ia menatap dua tangan kanannya itu dengan sorot mata yang penuh selidik, lalu menggeleng pelan.“Kalian ini lucu,” ucapnya. “Kalian lebih berani menghadapi peluru daripada menghadapi perasaan sendiri.”Adrian dan Jonathan sama-sama terdiam. Megan yang berdiri tak jauh dari mereka hanya melirik sekilas, lalu kembali bersikap seolah tidak mendengar apa pun. Namun jika diperhatikan lebih saksama, ujung telinganya tampak memerah. Sebab ia samar-samar mendengar pembicaraan ketiga laki-laki itu.Leon tidak melanjutkan godaannya. Ia mengangkat bahu santai, lalu

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   152. Restu dari Roberto

    Langkah Anne pun sontak terhenti seketika. Jantungnya seolah berhenti berdetak ketika sosok pria paruh baya itu berdiri tegak di hadapannya, dengan aura dingin dan tatapan yang sama seperti yang selalu ia ingat.Roberto Dominic, ayah angkatnya Leon.Pria yang selama ini menjadi bayang-bayang ketakutannya. Pria yang selama ini bahkan tak pernah menyukai keberadaannya. Pria yang pernah terang-terangan mengatakan bahwa Anne tidak pantas hidup di dunia mereka, hanya karena ia adalah anak dari Antonio, rival abadinya.“Kau …?”Tubuh Anne mendadak gemetar. Ia refleks mundur satu langkah. Napasnya tercekat, dan wajahnya seketika memucat. Semua kenangan buruk itu kembali menyeruak. Ancaman terselubung, tatapan membunuh, dan kebencian yang tak pernah disembunyikan Roberto padanya.Namun sebelum Anne benar-benar menjauh, sebuah tangan dengan kuat menahan lengannya. Lengan kekar Leon.Anne menoleh pelan. Ia seolah tak ingat jika Leon masih berdiri di sampingnya. Pria itu menggenggam lengan Anne

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   151. Sosok di Mansion Dominic

    “Mau bicara apa?” tanya Megan dengan cuek, bahkan tanpa menoleh sedikit pun kepada Adrian.Adrian menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya. Tangannya mengepal di atas paha, lalu mengendur lagi. Ia menatap lurus ke depan beberapa detik sebelum akhirnya kembali menoleh ke arah Megan.“Mmm, Megan,” panggilnya lagi, kali ini suaranya terdengar lebih pelan.Megan melepas satu sisi earphone-nya dengan kasar. Ia lalu menoleh ke arah Adrian dengan setengah malas.“Ada apa, Adrian? Kalau soal Anne, dia pasti akan baik-baik saja bersama Leon.”Namun, bukan itu yang ingin Adrian bicarakan. Pria itu menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, jauh lebih cepat dibandingkan saat ia harus menghabisi musuh bosnya.“Aku tahu,” katanya singkat. “Aku hanya … hanya kepikiran satu hal.”Megan mengernyit tipis. “Soal apa?”Adrian terdiam terlalu lama. Keheningan di antara mereka menjadi kaku, dan hanya diisi dengung mesin jet. Hingga akhirnya ia memberanika

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   150. Kembali Bersamamu

    Pagi itu, rumah nenek Anne masih diselimuti suasana yang menegangkan. Sinar matahari musim gugur menembus jendela, tapi tidak sepenuhnya mampu menghangatkan hati orang-orang di dalamnya.Sejak kejadian tadi malam, suasana di rumah besar sedikit lebih mencekam daripada sebelumnya. Apalagi karena kini, pagi ini, Leon sudah bertamu bersama dengan Adrian.Pagi ini Leon sudah berdiri di ruang tamu rumah itu dengan sikap tenang, meski sorot matanya menunjukkan tekad yang bulat dan membara. Anne berdiri di sebelahnya. Tangan kiri Leon menggenggam jemari Anne, seolah takut wanita itu akan menghilang lagi jika ia lengah sesaat.Di sana, Valerie duduk bersebelahan dengan kakek dan nenek Anne. Megan berdiri di sebelahnya. Sesekali matanya bertatapan dengan Adrian yang tampak beberapa kali mencuri pandang ke arahnya.“Jadi apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Valerie dengan nada dingin dan datar, matanya seolah enggan menatap Leon."Ma, hari ini aku ingin meminta izin. Aku ingin membawa Anne pu

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   149. Jika Bukan Denganku, Bukan dengan yang Lain

    Valerie jatuh tepat di depan mereka. Tubuhnya terkulai lemas di lantai teras, membuat suasana yang semula tegang kini berubah menjadi kepanikan total.“Mama!” jerit Anne histeris.Dengan cemas, Anne langsung berlutut di samping ibunya itu. Tangannya gemetar saat menggenggam bahu Valerie yang terasa dingin. Wajah wanita itu pucat pasi, dan napasnya tersengal panik.“Leon, tolong!” suara Anne bergetar hebat. Bahkan di saat genting seperti ini, justru Leon tetap menjadi orang pertama yang ia butuhkan.Leon bergerak cepat menghampiri Anne. Ia berlutut di sisi lain tubuh Valerie. Dengan sigap, ia mengecek napas dan denyut nadi mertuanya itu dengan wajah tegang.“Anne, mama pingsan karena shock,” ujar Leon cepat. “Kita harus segera menolongnya. Aku akan hubungi Adrian untuk memanggil dokter sekarang!”“Lakukan yang terbaik untuk mama, Leon." Suara Anne serak karena menahan tangis.Leon mengangguk. Dengan hati-hati, ia menggendong tubuh Valerie dan membawanya masuk ke ruang tengah. Anne berj

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   148. Kembali Padanya

    Sosok yang berdiri dalam bayang-bayang itu akhirnya melangkah mundur perlahan. Lampu-lampu Heidelberg masih berkilau indah, tapi bagi Damara, pemandangan itu terasa seperti ejekan. Ia sangat muak melihatnya.Dada pria itu naik turun menahan amarah yang membakar. Tangannya mengepal semakin kuat saat melihat Leon memeluk Anne dengan erat. Ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat ini wanita yang sejak awal ingin ia lindungi dan ingin ia lindungi, justru sedang menyandarkan tubuhnya dalam pelukan Leon, rival abadinya itu.“Jadi pada akhirnya, kau tetap memilih dia, Anne,” gumam Damara dengan suara rendah dan dingin.Matanya memerah, bukan hanya karena luka, tapi karena ego yang terinjak. Ia bukan pria yang terbiasa kalah. Terlebih kalah dari Leon, musuh yang selama ini selalu berusaha keras ia kalahkan dengan cara halus.“Aku sudah memberimu ruang,” lanjutnya lirih, senyum tipis berbahaya terukir di bibirnya.“Dan aku juga sudah membiarkanmu untuk mengambil keputusanmu sendiri

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status