/ Mafia / Sentuhan Panas Tuan Mafia / 19. Menemukan Sedikit Petunjuk

공유

19. Menemukan Sedikit Petunjuk

last update 최신 업데이트: 2025-09-29 18:41:37

“Kapan aku bisa keluar dari tempat ini? Aku benar-benar sangat merindukan dunia luar,” keluh Anne seraya menyandarkan tubuh di sandaran ranjang.

Sudah tiga hari Anne terkunci di kamar mewah di villa itu. Tiga hari rasanya seperti seabad. Dinding-dinding villa yang megah dan seharusnya memberi kenyamanan, kini hanya menjelma menjadi penjara tanpa celah. Ia tidak boleh keluar, tidak boleh bersuara, bahkan aksesnya ke dunia luar diputus total oleh Leon.

Sejak malam itu, malam saat Leon mengatakan hendak membuktikan Keperawanan Anne, gadis itu hanya bisa menangis. Ia benar-benar takut ketika Leon sudah melepaskan pakaian dan menatap tubuh telanjang Anne dengan buas.

Wajah tampan Leon mendekat, hembusan nafas pria itu bahkan menyapu kulit wajahnya yang hangat. Bibir Leon nyaris tak berjarak dengan bibir Anne. Namun, gadis itu dibuat kebingungan karena kenyataanny Leon bahkan tidak melakukan apa pun. Setelah membuatnya ketakutan, pria itu tiba-tiba pergi begitu saja.

“Cepat pakai bajumu, da
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   152. Restu dari Roberto

    Langkah Anne pun sontak terhenti seketika. Jantungnya seolah berhenti berdetak ketika sosok pria paruh baya itu berdiri tegak di hadapannya, dengan aura dingin dan tatapan yang sama seperti yang selalu ia ingat.Roberto Dominic, ayah angkatnya Leon.Pria yang selama ini menjadi bayang-bayang ketakutannya. Pria yang selama ini bahkan tak pernah menyukai keberadaannya. Pria yang pernah terang-terangan mengatakan bahwa Anne tidak pantas hidup di dunia mereka, hanya karena ia adalah anak dari Antonio, rival abadinya.“Kau …?”Tubuh Anne mendadak gemetar. Ia refleks mundur satu langkah. Napasnya tercekat, dan wajahnya seketika memucat. Semua kenangan buruk itu kembali menyeruak. Ancaman terselubung, tatapan membunuh, dan kebencian yang tak pernah disembunyikan Roberto padanya.Namun sebelum Anne benar-benar menjauh, sebuah tangan dengan kuat menahan lengannya. Lengan kekar Leon.Anne menoleh pelan. Ia seolah tak ingat jika Leon masih berdiri di sampingnya. Pria itu menggenggam lengan Anne

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   151. Sosok di Mansion Dominic

    “Mau bicara apa?” tanya Megan dengan cuek, bahkan tanpa menoleh sedikit pun kepada Adrian.Adrian menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya. Tangannya mengepal di atas paha, lalu mengendur lagi. Ia menatap lurus ke depan beberapa detik sebelum akhirnya kembali menoleh ke arah Megan.“Mmm, Megan,” panggilnya lagi, kali ini suaranya terdengar lebih pelan.Megan melepas satu sisi earphone-nya dengan kasar. Ia lalu menoleh ke arah Adrian dengan setengah malas.“Ada apa, Adrian? Kalau soal Anne, dia pasti akan baik-baik saja bersama Leon.”Namun, bukan itu yang ingin Adrian bicarakan. Pria itu menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, jauh lebih cepat dibandingkan saat ia harus menghabisi musuh bosnya.“Aku tahu,” katanya singkat. “Aku hanya … hanya kepikiran satu hal.”Megan mengernyit tipis. “Soal apa?”Adrian terdiam terlalu lama. Keheningan di antara mereka menjadi kaku, dan hanya diisi dengung mesin jet. Hingga akhirnya ia memberanika

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   150. Kembali Bersamamu

    Pagi itu, rumah nenek Anne masih diselimuti suasana yang menegangkan. Sinar matahari musim gugur menembus jendela, tapi tidak sepenuhnya mampu menghangatkan hati orang-orang di dalamnya.Sejak kejadian tadi malam, suasana di rumah besar sedikit lebih mencekam daripada sebelumnya. Apalagi karena kini, pagi ini, Leon sudah bertamu bersama dengan Adrian.Pagi ini Leon sudah berdiri di ruang tamu rumah itu dengan sikap tenang, meski sorot matanya menunjukkan tekad yang bulat dan membara. Anne berdiri di sebelahnya. Tangan kiri Leon menggenggam jemari Anne, seolah takut wanita itu akan menghilang lagi jika ia lengah sesaat.Di sana, Valerie duduk bersebelahan dengan kakek dan nenek Anne. Megan berdiri di sebelahnya. Sesekali matanya bertatapan dengan Adrian yang tampak beberapa kali mencuri pandang ke arahnya.“Jadi apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Valerie dengan nada dingin dan datar, matanya seolah enggan menatap Leon."Ma, hari ini aku ingin meminta izin. Aku ingin membawa Anne pu

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   149. Jika Bukan Denganku, Bukan dengan yang Lain

    Valerie jatuh tepat di depan mereka. Tubuhnya terkulai lemas di lantai teras, membuat suasana yang semula tegang kini berubah menjadi kepanikan total.“Mama!” jerit Anne histeris.Dengan cemas, Anne langsung berlutut di samping ibunya itu. Tangannya gemetar saat menggenggam bahu Valerie yang terasa dingin. Wajah wanita itu pucat pasi, dan napasnya tersengal panik.“Leon, tolong!” suara Anne bergetar hebat. Bahkan di saat genting seperti ini, justru Leon tetap menjadi orang pertama yang ia butuhkan.Leon bergerak cepat menghampiri Anne. Ia berlutut di sisi lain tubuh Valerie. Dengan sigap, ia mengecek napas dan denyut nadi mertuanya itu dengan wajah tegang.“Anne, mama pingsan karena shock,” ujar Leon cepat. “Kita harus segera menolongnya. Aku akan hubungi Adrian untuk memanggil dokter sekarang!”“Lakukan yang terbaik untuk mama, Leon." Suara Anne serak karena menahan tangis.Leon mengangguk. Dengan hati-hati, ia menggendong tubuh Valerie dan membawanya masuk ke ruang tengah. Anne berj

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   148. Kembali Padanya

    Sosok yang berdiri dalam bayang-bayang itu akhirnya melangkah mundur perlahan. Lampu-lampu Heidelberg masih berkilau indah, tapi bagi Damara, pemandangan itu terasa seperti ejekan. Ia sangat muak melihatnya.Dada pria itu naik turun menahan amarah yang membakar. Tangannya mengepal semakin kuat saat melihat Leon memeluk Anne dengan erat. Ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat ini wanita yang sejak awal ingin ia lindungi dan ingin ia lindungi, justru sedang menyandarkan tubuhnya dalam pelukan Leon, rival abadinya itu.“Jadi pada akhirnya, kau tetap memilih dia, Anne,” gumam Damara dengan suara rendah dan dingin.Matanya memerah, bukan hanya karena luka, tapi karena ego yang terinjak. Ia bukan pria yang terbiasa kalah. Terlebih kalah dari Leon, musuh yang selama ini selalu berusaha keras ia kalahkan dengan cara halus.“Aku sudah memberimu ruang,” lanjutnya lirih, senyum tipis berbahaya terukir di bibirnya.“Dan aku juga sudah membiarkanmu untuk mengambil keputusanmu sendiri

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   147. Satu Kesempatan Lagi

    “Lepaskan aku, Leon! Aku bukan milikmu.” Anne berontak dan berusaha berpaling untuk pergi dari Leon, tetapi pria itu dengan cepat menahan tangan Anne dan menariknya ke dalam pelukannya.“Tidak, Sayang. Sampai kapan pun, kau adalah milikku. Kau masih istriku, selamanya." Leon mendekap tubuh Anne semakin erat.Kedua tangannya melingkar di pinggang Anne, dagunya ia letakkan di puncak kepala Anne, dan sesekali Leon mengecup kepala wanita yang sangat dicintainya itu.Anne berontak, tapi ia tak bisa lepas. Ia tak punya pilihan lain, selain hanya diam beberapa saat dan merasakan pelukan Leon yang sebenarnya selama ini sangat dia rindukan.Malam di Heidelberg itu terasa begitu sunyi, seolah dunia sengaja menahan napas hanya untuk mereka berdua. Angin dingin menyapu pelan, membawa aroma sungai dan semerbak dedaunan. Cahaya kota tua berkilau di kejauhan, sementara Anne dan Leon terdiam dengan posisi saling berpelukan.“Leon, lepaskan aku! Jangan seperti ini!" Anne berusaha mendorong dada Leon.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status