LOGIN"Pastikan kamera di kantor sudah siap besok malam. Aku ingin melihat wajahnya saat ia menyadari siapa yang sedang ia layani." Ucap Arka dingin. Malam itu, Sang Predator tersenyum. Permainan baru saja dimulai.
Pemandangan yang dulu pernah menjadi penjara bagi Arka. Lima tahun ia menghabiskan hidup di aspal panas itu—berjuang, berkeringat, dan dikuliti oleh hinaan orang-orang kaya. Kini, ia berdiri di atas mereka semua. Ia berdiri membelakangi pintu utama suite yang luasnya bahkan hampir menyamai luas rumah petak yang dulu ia sewa selama bertahun-tahun. Kemeja sutra hitam buatan tangan menyelimuti tubuhnya, kancing atasnya sengaja dibiarkan terbuka hingga ke tengah dada. Garis otot yang tegas dan kulit yang kini terawat sempurna terpantul samar di dinding marmer. Ding. Suara bel pintu suite terdengar lirih, namun cukup tajam untuk memutus keheningan. Arka tidak bergerak. Ia membiarkan bunyi itu menggantung di udara selama beberapa saat, menikmati kuasa untuk membuat seseorang menunggu di balik pintu itu. "Masuk," perintah Arka. Suaranya rendah, bergema di ruangan yang luas tersebut. Pintu terbuka pelan. Suara gesekan sepatu hak tinggi di atas lantai marmer terdengar ragu-ragu. Arka bisa merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Aroma parfum yang sangat ia kenali—campuran bunga lili dan vanila—mulai memenuhi ruangan. "Tuan... saya sudah datang," bisik sebuah suara yang bergetar. Arka akhirnya berbalik. Di sana, berdiri Siska. Ia mengenakan gaun sutra berwarna sampanye yang sangat tipis, dengan potongan punggung terbuka hingga ke pinggang. Wajahnya cantik, namun di matanya tersirat rasa takut yang bercampur dengan ambisi yang menjijikkan. Arka menyesap wiskinya, matanya menatap Siska tanpa berkedip. "Kau datang lebih awal, Siska. Apakah kau begitu tidak sabar untuk menyelamatkan bisnis tunanganmu?" Siska menelan ludah, tangannya meremas tas kecilnya. "Aditya bilang... Anda ingin membicarakan kontrak itu secara pribadi malam ini. Tanpa ada orang lain." Arka berjalan mendekat. Setiap langkahnya terasa seperti predator yang sedang memojokkan mangsa. Ia berhenti tepat di depan Siska, membiarkan tubuhnya yang tinggi besar membayangi wanita itu. "Duduklah," Arka menunjuk ke sofa velvet panjang berwarna merah darah. "Kita punya banyak waktu untuk membahas... harga yang pantas untuk kontrak dua ratus miliar itu." Siska melangkah menuju sofa dengan kaki yang terasa lemas. Saat ia duduk, belahan gaunnya tersingkap tinggi, memperlihatkan paha mulusnya. Ia mencoba memasang wajah menggoda, namun Arka bisa melihat tangannya yang lembap karena keringat dingin. Arka tidak duduk di sofa seberang. Ia tetap berdiri, menjulang di hadapan Siska. "Kau tahu, Siska," Arka mulai bicara, jemarinya perlahan menyentuh tali tipis gaun Siska di bahu. "Dulu, aku pernah kenal seorang pria yang rela mati demi wanita sepertimu. Tapi wanita itu justru menginjak kepalanya ke lumpur hanya karena pria itu tidak punya uang." Siska tersentak. Sentuhan Arka terasa panas sekaligus dingin di kulitnya. "Kenapa... kenapa Anda menceritakan itu pada saya?" Arka menyeringai. Sebuah seringai yang tidak sampai ke matanya. "Hanya sebuah pengingat. Bahwa di dunia ini, segala sesuatu ada harganya. Termasuk kesetiaanmu malam ini." Arka membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Siska. Aroma wiski dan kekuasaan dari tubuh Arka membuat Siska pening. "Malam ini, lupakan Aditya. Lupakan kontrak itu," bisik Arka tepat di bibir Siska. "Tunjukkan padaku seberapa jauh kau bisa merangkak untuk mendapatkan apa yang kau mau." Siska menutup matanya, menyerah pada dominasi pria yang bahkan belum ia sadari adalah pria yang dulu ia hancurkan. Ia meraih kerah kemeja Arka, menarik pria itu mendekat. "Apa pun, Tuan... saya akan lakukan apa pun." Arka tersenyum gelap. Permainan ini baru saja mencapai bagian yang paling manis.Lantai enam puluh sembilan malam itu terasa seperti dimensi lain yang terputus dari dunia. Valerie melangkah masuk ke ruang kerja Arka, namun langkahnya tertahan saat menyadari betapa gelapnya ruangan itu. Hanya ada cahaya dari gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang menembus dinding kaca, memberikan siluet tajam pada sosok Arka yang duduk tenang di balik meja mahoni besarnya."Tutup pintunya, Valerie. Dan kunci," suara Arka terdengar rendah, membelah kesunyian dengan otoritas yang tak terbantahkan.Valerie ragu sejenak. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan irama yang tidak beraturan. Namun, bayangan dokumen rahasia ibunya yang berada di tangan pria ini membuatnya tidak punya pilihan. Dengan tangan gemetar, ia memutar kunci pintu. Klik. Bunyi itu terasa seperti vonis penjara bagi harga dirinya."Duduk," perintah Arka lagi. Ia tidak berdiri menyambutnya. Ia justru menyandarkan tubuhnya, memutar-mutar sebuah pulpen emas di jemarinya yang panjang.Valerie berjalan
Lampu kristal raksasa di Grand Ballroom Hotel Mulia memantulkan cahaya yang menyilaukan, seolah-olah ribuan mata sedang mengawasi setiap gerak-gerik kaum elite Jakarta yang berkumpul malam itu. Aroma parfum mahal dan cerutu premium memenuhi udara, bercampur dengan denting gelas sampanye yang saling beradu. Di tengah hiruk-pikuk kemewahan itu, Valerie Mahendra berdiri tegak, memancarkan aura dingin yang sanggup membekukan siapa pun yang berani menatap matanya terlalu lama.Gaun emerald green yang ia kenakan membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan kulit putih porselennya yang seolah tidak pernah tersentuh sinar matahari jalanan. Valerie adalah definisi dari kesempurnaan yang angkuh. Ia tidak tersenyum pada para investor yang mencoba menjilatnya ia hanya mengangguk kecil, sebuah gestur yang lebih terasa seperti pemberian anugerah daripada keramahan bisnis."Tuan Putri kita tampak sangat tegang malam ini," bisik sebuah suara berat dari belakangnya.Valerie tidak menoleh. Ia meng
Aditya mematung di ambang pintu, napasnya tertahan di kerongkongan. Matanya bergerak liar, berpindah dari sosok Siska yang bersimbah air mata di balik selimut sutra, lalu beralih pada sosok pria yang duduk dengan tenang di sofa mewah itu. Dunianya seolah melambat, berputar pada satu titik fokus yang mengerikan, pria di depannya ini memiliki sorot mata yang pernah ia lihat sebelumnya."A-apa maksudnya ini?" suara Aditya bergetar, separuh amarah, separuh ketakutan yang tak beralasan. "Siska! Kenapa kamu begini? Dan Anda... Tuan Arka Adiwangsa, apa yang Anda lakukan pada tunangan saya?!"Arka tidak langsung menjawab. Ia justru menyesap wiskinya perlahan, membiarkan keheningan yang mencekam menyiksa mental Aditya. Setiap detik yang berlalu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk harga diri Aditya. Arka kemudian meletakkan gelas kristalnya di meja marmer dengan bunyi klunting yang nyaring, lalu berdiri dengan perlahan."Tanya pada tunanganmu, Aditya," ucap Arka. Suaranya rendah, namun me
Siska terbangun dengan napas yang masih tersengal, merasakan dinginnya lantai marmer yang kontras dengan panas yang baru saja membakar tubuhnya. Ia menemukan dirinya tidak lagi di atas sofa, melainkan di atas tempat tidur king-size yang luasnya terasa seperti samudra. Di bawah sinar lampu tidur yang redup, ia menyadari bahwa pria yang baru saja menjungkirbalikkan dunianya itu sudah tidak ada di sisinya."Tuan?" bisik Siska parau. Suaranya pecah, tenggorokannya kering.Tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah suara gemericik air dari arah kamar mandi yang berdinding kaca buram. Siska menarik selimut sutra untuk menutupi tubuhnya yang polos, jantungnya berdebar kencang. Ada rasa bangga sekaligus kehampaan yang aneh. Ia merasa telah memenangkan "lotre" besar malam ini. Dengan servis yang ia berikan, ia yakin kontrak dua ratus miliar untuk Aditya sudah ada di genggaman.Pintu kamar mandi terbuka.Uap panas menyeruak keluar, membawa aroma sabun maskulin yang tajam. Arka keluar hanya dengan bal
"Pastikan kamera di kantor sudah siap besok malam. Aku ingin melihat wajahnya saat ia menyadari siapa yang sedang ia layani." Ucap Arka dingin. Malam itu, Sang Predator tersenyum. Permainan baru saja dimulai. Pemandangan yang dulu pernah menjadi penjara bagi Arka. Lima tahun ia menghabiskan hidup di aspal panas itu—berjuang, berkeringat, dan dikuliti oleh hinaan orang-orang kaya. Kini, ia berdiri di atas mereka semua.Ia berdiri membelakangi pintu utama suite yang luasnya bahkan hampir menyamai luas rumah petak yang dulu ia sewa selama bertahun-tahun. Kemeja sutra hitam buatan tangan menyelimuti tubuhnya, kancing atasnya sengaja dibiarkan terbuka hingga ke tengah dada. Garis otot yang tegas dan kulit yang kini terawat sempurna terpantul samar di dinding marmer.Ding.Suara bel pintu suite terdengar lirih, namun cukup tajam untuk memutus keheningan. Arka tidak bergerak. Ia membiarkan bunyi itu menggantung di udara selama beberapa saat, menikmati kuasa untuk membuat seseorang menunggu
"Ubah aku. Jangan biarkan ada satu pun dari mereka yang tersisa saat aku selesai nanti." suara Arka terdengar seperti geraman predator. Di sebuah penthouse rahasia yang menghadap langsung ke jantung beton Jakarta, Arka berdiri menatap pantulan dirinya di cermin setinggi plafon. Ia nyaris tidak mengenali pria di depannya. Dulu, cermin adalah musuh besarnya. Cermin hanya menunjukkan mata yang kuyu, kulit kusam terpapar timbal jalanan, dan tubuh ringkih yang tampak menyedihkan. Kini? Sosok itu telah berubah total. "Bagaimana perasaan Anda, Tuan Arka?" suara Bima terdengar dari ambang pintu. Arka tidak langsung menjawab. Ia mengusap rahangnya yang kini tegas dan bersih, seolah dipahat dari granit. Latihan fisik militer yang brutal telah mengubah lemak dan keletihannya menjadi otot padat yang fungsional. "Terasa... asing," jawab Arka pendek. Suaranya kini lebih berat, dalam, dan membawa getaran otoritas yang tidak bisa dibantah. Bima tersenyum tipis, sebuah ekspresi bangga yang jara