Home / Urban / Sentuhan Pembalasan / Bab 4: Harga Sebuah Pengkhianatan

Share

Bab 4: Harga Sebuah Pengkhianatan

Author: Beya
last update publish date: 2026-02-26 20:19:35

Siska terbangun dengan napas yang masih tersengal, merasakan dinginnya lantai marmer yang kontras dengan panas yang baru saja membakar tubuhnya. Ia menemukan dirinya tidak lagi di atas sofa, melainkan di atas tempat tidur king-size yang luasnya terasa seperti samudra. Di bawah sinar lampu tidur yang redup, ia menyadari bahwa pria yang baru saja menjungkirbalikkan dunianya itu sudah tidak ada di sisinya.

"Tuan?" bisik Siska parau. Suaranya pecah, tenggorokannya kering.

Tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah suara gemericik air dari arah kamar mandi yang berdinding kaca buram. Siska menarik selimut sutra untuk menutupi tubuhnya yang polos, jantungnya berdebar kencang. Ada rasa bangga sekaligus kehampaan yang aneh. Ia merasa telah memenangkan "lotre" besar malam ini. Dengan servis yang ia berikan, ia yakin kontrak dua ratus miliar untuk Aditya sudah ada di genggaman.

Pintu kamar mandi terbuka.

Uap panas menyeruak keluar, membawa aroma sabun maskulin yang tajam. Arka keluar hanya dengan balutan handuk putih di pinggangnya. Tetesan air jatuh dari rambutnya yang basah, mengalir melewati dada bidangnya yang berotot, memberikan pemandangan yang membuat Siska kembali menelan ludah. Pria ini terlalu sempurna.

"Kau sudah bangun," ucap Arka datar. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Siska. Ia melangkah menuju meja rias mewah, mengambil jam tangan Vacheron Constantin miliknya dan memakainya dengan tenang.

"Tuan... soal kontrak itu," Siska memberanikan diri bicara sambil duduk bersandar di kepala tempat tidur. "Aditya sudah menunggu kabar dari saya."

Arka akhirnya berbalik. Ia menatap Siska dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin, namun ada kilat kepuasan yang gelap di sana.

"Aditya akan mendapatkan apa yang pantas ia dapatkan, Siska. Tapi sebelum itu, aku ingin kau melihat sesuatu."

Arka melangkah menuju meja kerja di sudut ruangan, mengambil sebuah ponsel lipat model lama yang layarnya sudah retak seribu. Ia melempar ponsel itu ke atas tempat tidur, tepat di depan Siska.

Siska mengerutkan kening. Ponsel itu terlihat kumuh, sangat tidak serasi dengan kemewahan suite ini. "Apa ini, Tuan?"

"Coba kau buka galeri fotonya. Folder terakhir," perintah Arka sambil mulai mengenakan kemeja hitamnya kembali.

Dengan ragu, Siska membuka ponsel tua itu. Tangannya seketika membeku saat melihat foto-foto di dalamnya. Itu adalah foto-foto dirinya. Foto saat ia sedang tertawa di warung tenda pinggir jalan, foto saat ia merayakan ulang tahun sederhana dengan kue martabak, dan foto terakhir... foto dirinya yang sedang mencium pipi seorang pria yang mengenakan jaket kurir oranye lusuh.

Wajah Siska memucat. "D-dari mana Anda mendapatkan ponsel ini? Ini... ini ponsel Arka. Mantan pacar saya yang miskin itu."

Arka menyeringai. Ia berjalan perlahan mendekati tempat tidur, membungkuk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Siska yang mulai gemetar.

"Ponsel itu tertinggal di genangan lumpur malam itu, Siska. Saat tunanganmu yang terhormat itu menginjak kepala pemiliknya ke aspal," bisik Arka dengan suara yang kini berubah total—suara yang sangat dikenal Siska dari masa lalunya, namun dengan intonasi yang jauh lebih berat dan berwibawa.

Siska menggelengkan kepala, air mata mulai menggenang karena rasa takut yang luar biasa. "Tidak... tidak mungkin. Arka itu sampah. Dia kurir. Anda... Anda adalah penguasa Adiwangsa."

"Sampah?" Arka tertawa pendek, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Benar. Sampah yang kau buang karena baunya menyengat. Tapi kau tahu apa yang terjadi pada sampah yang dibusukkan oleh dendam? Ia berubah menjadi racun yang akan mematikanmu secara perlahan."

Arka meraih dagu Siska, mencengkeramnya dengan kuat hingga Siska meringis. "Lihat aku, Siska. Lihat mata pria yang kau sebut 'murah' ini. Apakah sentuhanku semalam masih terasa murah bagimu?"

Dunia Siska seolah runtuh berantakan. Realitas menghantamnya seperti godam raksasa. Pria yang baru saja ia layani dengan segala daya upayanya, pria yang ia puja karena kekuasaannya, ternyata adalah orang yang sama yang ia hina habis-habisan tiga bulan lalu.

"Arka...?" suaranya nyaris hilang.

"Namaku Arka Adiwangsa sekarang," ucap Arka sambil melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Dan tebak siapa yang sedang menunggu di lobi sekarang dengan wajah penuh harapan?"

Arka mengambil ponsel pintarnya yang mewah, menekan satu tombol interkom ke bagian resepsionis. "Bawa Tuan Aditya Pratama naik sekarang. Bilang padanya, tunangannya sudah menyelesaikan tugasnya dengan sangat... memuaskan."

Siska terpekik. Ia panik, mencoba mencari pakaiannya yang berserakan di lantai. "Jangan! Arka, tolong! Jangan biarkan Aditya melihatku seperti ini!"

Arka tidak peduli. Ia berjalan menuju sofa, duduk dengan tenang sambil menyilangkan kaki, menyesap sisa wiski di gelasnya. Matanya terpaku pada pintu suite.

"Kenapa, Siska? Bukankah kau bangga menjadi wanita yang bisa 'melakukan apa saja' demi uang? Sebentar lagi, tunanganmu akan datang untuk mengambil hadiahnya."

Terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru di koridor luar. Suara pintu yang dibuka dengan kartu akses otomatis bergema di ruangan yang sunyi itu.

Klik.

Pintu terbuka lebar. Aditya masuk dengan senyum lebar yang seketika membeku saat melihat pemandangan di depannya: Siska yang hanya berbalut selimut sambil menangis di atas tempat tidur, dan Arka yang duduk tenang dengan kemeja setengah terbuka di sofa.

"Apa-apaan ini?!" teriak Aditya murka.

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melempar map kontrak yang sejak tadi mereka incar ke lantai, tepat di bawah kaki Aditya. Map itu kosong, hanya berisi selembar kertas dengan satu tulisan besar berwarna merah darah: SAMPAH.

"Selamat datang, Aditya," ucap Arka sambil berdiri, menatap Aditya dengan kilat predator yang haus darah. "Ingat aku?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 137: Tritunggal Adiwangsa Last Chapter

    Kehampaan di titik nol bergetar hebat saat pilar cahaya emas dari arah Bumi menghantam pusat nebula hitam yang menjadi tubuh Sang Penunggu Awal. Cahaya itu membawa esensi Valerie, sang Katalisator, yang telah mengorbankan stabilitas raganya di Bumi untuk memproyeksikan kehadirannya melintasi jutaan mil ruang angkasa. Pilar itu bukan hanya energi mentah; itu adalah jembatan jiwa yang menghubungkan Arka, Valerie, dan Malakor menjadi satu kesatuan frekuensi yang belum pernah ada dalam sejarah penciptaan. Malakor merasakan aliran kekuatan yang tak terbayangkan masuk ke dalam nadinya. Rasa sakit dari kulitnya yang terkelupas akibat melipat ruang seketika hilang, digantikan oleh sensasi mahakuasa. Di sampingnya, tubuh Arka yang sempat membeku menjadi kristal hitam mulai mencair. Kegelapan Void di dalam diri Arka mendadak menjadi tenang, tunduk pada resonansi Trinity yang dibawa oleh Valerie. Arka bangkit berdiri, napasnya yang berat kini berasap ungu. Ia menatap

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 136: Singgasana yang Ditinggalkan

    Ruang laboratorium bawah tanah itu dipenuhi oleh uap dingin dari cairan stasis yang tumpah di lantai. Arka Adiwangsa berdiri dengan raga barunya, merasakan beratnya gravitasi Bumi yang sudah dua dekade tidak ia rasakan. Meskipun ia baru saja kembali ke wujud manusia, aura dominasinya tidak berkurang sedikit pun. Di sampingnya, Valerie sedang menyesuaikan diri dengan detak jantungnya sendiri, tangannya masih menggenggam erat lengan Malakor. Reuni keluarga ini seharusnya menjadi momen penuh haru, namun getaran di bawah telapak kaki mereka menceritakan kisah yang berbeda.Arka menatap Malakor dengan tatapan yang sulit diartikan antara bangga dan waspada. Kau berani mengambil risiko besar dengan menarik kami kembali, Malakor. Kau tahu apa yang terjadi j

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 135: Gema di Balik Kesunyian

    Tiga hari adalah waktu yang sangat singkat bagi sebuah peradaban untuk bersiap menghadapi kiamat, namun bagi Malakor Adiwangsa, tiga hari adalah keabadian yang harus ia manfaatkan untuk mengukuhkan kedaulatannya. Di dalam ruang kerja ayahnya yang kini telah ia bersihkan dari sisa sisa energi Lilith, Malakor menatap layar monitor yang menampilkan file Proyek Reinkarnasi Kedua. Data di dalamnya bukan sekadar instruksi biologis, melainkan sebuah algoritma pemindahan kesadaran dimensi tinggi kembali ke dalam materi organik.Arka Adiwangsa ternyata tidak pernah berniat membiarkan Valerie dan dirinya sendiri terjebak di singgasana ketiadaan selamanya. Ia telah membangun jalan pulang, namun harga yang harus dibayar adalah pengorbanan seluruh cadangan energi Void yang

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 134: Embrio Kegelapan

    Lift berkecepatan tinggi meluncur turun menuju kedalaman seribu meter di bawah permukaan tanah Jakarta, menuju sebuah sektor yang bahkan tidak tercatat dalam cetak biru resmi Adiwangsa Tech. Sektor itu disebut sebagai Lab Sembilan, sebuah tempat yang dibangun Arka Adiwangsa untuk menyimpan kegagalan kegagalan penciptaan yang terlalu berbahaya untuk dimusnahkan. Di dalam lift yang sempit itu, Malakor berdiri diam, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Arion berada di sampingnya, mengenakan zirah cadangan yang masih dialiri energi perak, meski napasnya masih terasa berat akibat luka sebelumnya. Tuan Muda, jika apa yang dikatakan Gerry benar, Lilith tidak hanya ingin membangkitkan monster biasa, ucap Arion. Dia mencari raga. Sebuah wadah

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 133: Cermin Retak Sang Permaisuri

    Kemenangan atas Galactic Collectors seharusnya membawa ketenangan bagi penduduk Bumi, namun bagi Malakor Adiwangsa, aroma kemenangan itu terasa amis oleh firasat buruk. Setelah serangan di atmosfer berakhir, Malakor kembali ke kantor pribadi ayahnya di puncak gedung Adiwangsa Tech. Ruangan itu telah disegel selama dua puluh tahun, hanya bisa dibuka oleh seseorang yang memiliki frekuensi biologis yang identik dengan sang pemilik asli.Begitu pintu geser logam itu terbuka, Malakor merasakan tekanan udara yang aneh. Suhu di dalam ruangan sangat dingin, namun bukan dinginnya es Himalaya, melainkan dingin yang hampa, seolah-olah oksigen di tempat itu telah dihisap oleh sesuatu yang tidak terlihat. Arion, yang selalu waspada di belakang Malakor, segera menghunus ped

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 132: Kolektor Galaksi dan Fajar Baru

    Pesawat siluman yang membawa Malakor dan Arion meninggalkan puncak Himalaya yang membeku, meluncur menembus awan tebal menuju markas besar Adiwangsa Tech di Jakarta. Namun, pemandangan dari jendela kokpit tidak lagi menampilkan langit biru yang jernih. Di atas atmosfer, bintik bintik perak raksasa mulai terlihat melalui sensor optik pesawat. Itu bukan satelit, dan bukan pula sampah luar angkasa. Itu adalah armada kapal induk milik Galactic Collectors, entitas pengumpul sumber daya yang telah mengincar Bumi sejak jatuhnya para Arsitek.Malakor menatap layar hologram yang menampilkan analisis data dari Gerry. Kapal kapal itu memiliki panjang ribuan kilometer, ditenagai oleh mesin penghisap inti planet. Mereka tidak datang untuk menjajah atau berkomunikasi; merek

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 10: Darah di Dermaga Sembilan

    Suara tembakan kedua memecah keheningan fajar, menghantam kontainer besi tepat di atas kepala Arka dan Valerie dengan dentingan nyaring yang memekakkan telinga. Arka mengerang, napasnya memburu saat ia menarik Valerie lebih dalam ke balik peti kayu yang sempit. Darah segar merembes cepat dari sela

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 9: Pondasi di Atas Darah

    Udara pelabuhan di jam empat pagi terasa seperti logam dingin yang menusuk paru-paru. Bau garam yang pekat bercampur dengan aroma solar dan karat dari kontainer-kontainer raksasa yang bertumpuk seperti labirin baja. Valerie melangkah turun dari mobilnya dengan tubuh yang masih terasa remuk. Matany

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 15 Asli dan Palsu

    "Aku berdiri tepat di depanmu, Arka."Hening yang menyergap aula besar itu terasa lebih menyesakkan daripada rentetan tembakan sebelumnya. Arka berdiri mematung, pistol di tangannya terasa mendingin, sementara matanya tak lepas dari sosok pria berjubah hitam yang baru saja melumpuhkan seluruh penja

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 19: Belati dan Gairah di Ambang Maut

    "Karena aku belum selesai membalas dendam padamu... dan karena aku tidak bisa membiarkan siapa pun membunuhmu selain aku."Suara sirine mobil yang terbalik masih meraung parau, membelah kesunyian hutan pinus yang lembap. Asap putih mengepul dari kap mesin yang hancur, bercampur dengan bau bensin ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status