Se connecterSiska terbangun dengan napas yang masih tersengal, merasakan dinginnya lantai marmer yang kontras dengan panas yang baru saja membakar tubuhnya. Ia menemukan dirinya tidak lagi di atas sofa, melainkan di atas tempat tidur king-size yang luasnya terasa seperti samudra. Di bawah sinar lampu tidur yang redup, ia menyadari bahwa pria yang baru saja menjungkirbalikkan dunianya itu sudah tidak ada di sisinya.
"Tuan?" bisik Siska parau. Suaranya pecah, tenggorokannya kering. Tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah suara gemericik air dari arah kamar mandi yang berdinding kaca buram. Siska menarik selimut sutra untuk menutupi tubuhnya yang polos, jantungnya berdebar kencang. Ada rasa bangga sekaligus kehampaan yang aneh. Ia merasa telah memenangkan "lotre" besar malam ini. Dengan servis yang ia berikan, ia yakin kontrak dua ratus miliar untuk Aditya sudah ada di genggaman. Pintu kamar mandi terbuka. Uap panas menyeruak keluar, membawa aroma sabun maskulin yang tajam. Arka keluar hanya dengan balutan handuk putih di pinggangnya. Tetesan air jatuh dari rambutnya yang basah, mengalir melewati dada bidangnya yang berotot, memberikan pemandangan yang membuat Siska kembali menelan ludah. Pria ini terlalu sempurna. "Kau sudah bangun," ucap Arka datar. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Siska. Ia melangkah menuju meja rias mewah, mengambil jam tangan Vacheron Constantin miliknya dan memakainya dengan tenang. "Tuan... soal kontrak itu," Siska memberanikan diri bicara sambil duduk bersandar di kepala tempat tidur. "Aditya sudah menunggu kabar dari saya." Arka akhirnya berbalik. Ia menatap Siska dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin, namun ada kilat kepuasan yang gelap di sana. "Aditya akan mendapatkan apa yang pantas ia dapatkan, Siska. Tapi sebelum itu, aku ingin kau melihat sesuatu." Arka melangkah menuju meja kerja di sudut ruangan, mengambil sebuah ponsel lipat model lama yang layarnya sudah retak seribu. Ia melempar ponsel itu ke atas tempat tidur, tepat di depan Siska. Siska mengerutkan kening. Ponsel itu terlihat kumuh, sangat tidak serasi dengan kemewahan suite ini. "Apa ini, Tuan?" "Coba kau buka galeri fotonya. Folder terakhir," perintah Arka sambil mulai mengenakan kemeja hitamnya kembali. Dengan ragu, Siska membuka ponsel tua itu. Tangannya seketika membeku saat melihat foto-foto di dalamnya. Itu adalah foto-foto dirinya. Foto saat ia sedang tertawa di warung tenda pinggir jalan, foto saat ia merayakan ulang tahun sederhana dengan kue martabak, dan foto terakhir... foto dirinya yang sedang mencium pipi seorang pria yang mengenakan jaket kurir oranye lusuh. Wajah Siska memucat. "D-dari mana Anda mendapatkan ponsel ini? Ini... ini ponsel Arka. Mantan pacar saya yang miskin itu." Arka menyeringai. Ia berjalan perlahan mendekati tempat tidur, membungkuk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Siska yang mulai gemetar. "Ponsel itu tertinggal di genangan lumpur malam itu, Siska. Saat tunanganmu yang terhormat itu menginjak kepala pemiliknya ke aspal," bisik Arka dengan suara yang kini berubah total—suara yang sangat dikenal Siska dari masa lalunya, namun dengan intonasi yang jauh lebih berat dan berwibawa. Siska menggelengkan kepala, air mata mulai menggenang karena rasa takut yang luar biasa. "Tidak... tidak mungkin. Arka itu sampah. Dia kurir. Anda... Anda adalah penguasa Adiwangsa." "Sampah?" Arka tertawa pendek, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Benar. Sampah yang kau buang karena baunya menyengat. Tapi kau tahu apa yang terjadi pada sampah yang dibusukkan oleh dendam? Ia berubah menjadi racun yang akan mematikanmu secara perlahan." Arka meraih dagu Siska, mencengkeramnya dengan kuat hingga Siska meringis. "Lihat aku, Siska. Lihat mata pria yang kau sebut 'murah' ini. Apakah sentuhanku semalam masih terasa murah bagimu?" Dunia Siska seolah runtuh berantakan. Realitas menghantamnya seperti godam raksasa. Pria yang baru saja ia layani dengan segala daya upayanya, pria yang ia puja karena kekuasaannya, ternyata adalah orang yang sama yang ia hina habis-habisan tiga bulan lalu. "Arka...?" suaranya nyaris hilang. "Namaku Arka Adiwangsa sekarang," ucap Arka sambil melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Dan tebak siapa yang sedang menunggu di lobi sekarang dengan wajah penuh harapan?" Arka mengambil ponsel pintarnya yang mewah, menekan satu tombol interkom ke bagian resepsionis. "Bawa Tuan Aditya Pratama naik sekarang. Bilang padanya, tunangannya sudah menyelesaikan tugasnya dengan sangat... memuaskan." Siska terpekik. Ia panik, mencoba mencari pakaiannya yang berserakan di lantai. "Jangan! Arka, tolong! Jangan biarkan Aditya melihatku seperti ini!" Arka tidak peduli. Ia berjalan menuju sofa, duduk dengan tenang sambil menyilangkan kaki, menyesap sisa wiski di gelasnya. Matanya terpaku pada pintu suite. "Kenapa, Siska? Bukankah kau bangga menjadi wanita yang bisa 'melakukan apa saja' demi uang? Sebentar lagi, tunanganmu akan datang untuk mengambil hadiahnya." Terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru di koridor luar. Suara pintu yang dibuka dengan kartu akses otomatis bergema di ruangan yang sunyi itu. Klik. Pintu terbuka lebar. Aditya masuk dengan senyum lebar yang seketika membeku saat melihat pemandangan di depannya: Siska yang hanya berbalut selimut sambil menangis di atas tempat tidur, dan Arka yang duduk tenang dengan kemeja setengah terbuka di sofa. "Apa-apaan ini?!" teriak Aditya murka. Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melempar map kontrak yang sejak tadi mereka incar ke lantai, tepat di bawah kaki Aditya. Map itu kosong, hanya berisi selembar kertas dengan satu tulisan besar berwarna merah darah: SAMPAH. "Selamat datang, Aditya," ucap Arka sambil berdiri, menatap Aditya dengan kilat predator yang haus darah. "Ingat aku?"Pesawat siluman yang membawa Malakor dan Arion meninggalkan puncak Himalaya yang membeku, meluncur menembus awan tebal menuju markas besar Adiwangsa Tech di Jakarta. Namun, pemandangan dari jendela kokpit tidak lagi menampilkan langit biru yang jernih. Di atas atmosfer, bintik bintik perak raksasa mulai terlihat melalui sensor optik pesawat. Itu bukan satelit, dan bukan pula sampah luar angkasa. Itu adalah armada kapal induk milik Galactic Collectors, entitas pengumpul sumber daya yang telah mengincar Bumi sejak jatuhnya para Arsitek.Malakor menatap layar hologram yang menampilkan analisis data dari Gerry. Kapal kapal itu memiliki panjang ribuan kilometer, ditenagai oleh mesin penghisap inti planet. Mereka tidak datang untuk menjajah atau berkomunikasi; merek
Pesawat siluman yang membawa Malakor dan Arion membelah badai salju di atas pegunungan Himalaya dengan kecepatan supersonik. Di bawah mereka, puncak-puncak gunung yang tajam tampak seperti taring raksasa yang mencoba menggapai langit yang terluka. Lokasi ini bukan sekadar tempat penyimpanan; ini adalah sebuah fasilitas yang dibangun dengan teknologi isolasi termal dan gravitasi tingkat tinggi, tempat di mana raga fisik Arka Adiwangsa dibekukan dalam kondisi stasis abadi.Malakor duduk di kursi pilot, matanya menatap lurus ke arah radar. Tato ular di lengan kanannya terasa panas, seolah-olah energi Void yang baru saja ia jinakkan di dasar samudra sedang bereaksi terhadap kedekatan dengan sumber aslinya. Malakor bisa merasakan detak jantung yang samar, bukan mil
Malam di Jakarta tidak pernah terasa sesunyi ini. Meskipun lampu-lampu kota masih berpijar, ada frekuensi rendah yang membuat bulu kuduk berdiri, sebuah getaran yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki koneksi dengan dimensi di luar nalar manusia. Malakor Adiwangsa berdiri di pusat kendali bawah tanah rumahnya, menatap barisan layar yang menampilkan data satelit real-time. Di sampingnya, Arion berdiri diam seperti patung perak, sementara Gerry sibuk mengoperasikan sistem Protokol Warisan Terakhir yang baru saja diaktifkan.Tuan Muda, koordinat yang diberikan oleh Nyonya Valerie mengarah pada sebuah lokasi di kedalaman Samudra Pasifik, tepat di atas Palung Mariana, ucap Gerry. Suaranya mengandung kecemasan yang mendalam. Ada aktivitas seismik yang ti
Jakarta terbangun dalam keadaan bingung. Berita tentang ledakan di pinggiran kota yang meratakan sebuah gudang tua menjadi topik utama, namun seperti biasa, mesin sensor Adiwangsa Tech bekerja lebih cepat dari media mana pun. Dalam hitungan jam, narasi resmi diubah menjadi ledakan pipa gas bawah tanah. Namun bagi mereka yang berada di dalam lingkaran terdalam, kabut kebohongan ini mulai terasa sangat menyesakkan.Di kediaman utama keluarga Adiwangsa, Malakor terbaring di ranjang medis pribadinya. Arion berdiri tegak di sudut ruangan, matanya yang tajam tidak pernah lepas dari pintu dan jendela. Ia mengenakan pakaian pelayan setelan hitam untuk menyamarkan jati dirinya sebagai panglima perang dimensi, namun aura kematian yang ia bawa sulit disembunyikan.
Dimensi Ketiadaan bergetar hebat saat Valerie mulai memanipulasi jalinan cahaya Trinity miliknya. Arka hanya bisa menyaksikan dengan mata ungu yang menyala, merasakan betapa posesifnya ia terhadap keputusan istrinya. Ia benci harus melibatkan pihak ketiga dalam perlindungan Malakor, namun ia tahu Valerie benar. Kekuatan mereka terlalu besar untuk bermanifestasi di Bumi tanpa menghancurkan planet itu sendiri. Mereka butuh instrumen, sebuah alat yang memiliki jiwa namun tetap terikat pada kehendak mereka.Kau yakin ingin membangkitkan dia, Victoria? tanya Arka, suaranya seperti guntur yang tertahan. Dia adalah pengkhianat di garis waktu pertama. Dia adalah pria yang hampir membuat kita terpisah sebelum kau menjadi milikku sepenuhnya.
Keabadian ternyata bukan sekadar waktu yang tidak berakhir, melainkan sebuah ruang tanpa batas di mana setiap detik terasa seperti selamanya. Di dimensi yang dikenal sebagai Inti Ketiadaan, Arka Adiwangsa duduk di atas singgasana yang tidak terbuat dari materi, melainkan dari kepadatan energi Void yang murni. Di sampingnya, atau lebih tepatnya menyatu dalam jalinan energinya, adalah Valerie. Mereka bukan lagi manusia yang membutuhkan napas atau tidur. Mereka adalah hukum alam yang memastikan Bumi tetap berputar dan gerbang The Beyond tetap terkunci rapat.Namun, sifat dasar Arka tidak pernah berubah. Meskipun ia telah menjadi penjaga kosmik, sisi posesifnya justru semakin tajam karena kini ia bisa merasakan setiap getara
Udara di dalam galeri seni "Aethelgard Modern" di pusat Jakarta mendadak terasa tipis, seolah-olah oksigen di ruangan itu baru saja tersedot habis oleh kehadiran satu pria. Arka Adiwangsa berdiri mematung, jemarinya masih melingkar di pergelangan tangan Valerie. Kontak fisik itu singkat, han
Keheningan di dalam "Singularitas Ego" adalah jenis kesunyian yang sanggup meremukkan jiwa yang paling perkasa sekalipun. Di sana, di tengah ketiadaan putih yang tak berujung, Arka Adiwangsa dan Valerie membeku dalam sebuah monumen kristal yang agung sekaligus mengerikan. Tubuh mer
Retakan pada cermin di aula Istana Adiwangsa melebar seperti luka yang menganga, memancarkan cahaya emas pucat yang menyakitkan mata. Simbol Malakor yang bergetar di tengahnya mengirimkan gelombang kebenaran yang pahit: dunia statis ini bukanlah hadiah, melainkan sebuah laboratorium pengawet
Sisa-sisa partikel cahaya dari The White King belum sepenuhnya menguap saat anjungan Aethelgard mendadak bergetar oleh frekuensi yang tidak berasal dari ruang fisik. Suara itu bukan dentuman, melainkan bunyi detak jam raksasa yang bergema langsung di dalam tengkorak setiap makhlu







