Início / Male Adult / Sentuhan Pembalasan / Bab 2 : Lahir kembali

Compartilhar

Bab 2 : Lahir kembali

Autor: Beya
last update Última atualização: 2026-02-26 09:44:45

"Ubah aku. Jangan biarkan ada satu pun dari mereka yang tersisa saat aku selesai nanti." suara Arka terdengar seperti geraman predator.

Di sebuah penthouse rahasia yang menghadap langsung ke jantung beton Jakarta, Arka berdiri menatap pantulan dirinya di cermin setinggi plafon.

Ia nyaris tidak mengenali pria di depannya.

Dulu, cermin adalah musuh besarnya. Cermin hanya menunjukkan mata yang kuyu, kulit kusam terpapar timbal jalanan, dan tubuh ringkih yang tampak menyedihkan. Kini? Sosok itu telah berubah total.

"Bagaimana perasaan Anda, Tuan Arka?" suara Bima terdengar dari ambang pintu.

Arka tidak langsung menjawab. Ia mengusap rahangnya yang kini tegas dan bersih, seolah dipahat dari granit. Latihan fisik militer yang brutal telah mengubah lemak dan keletihannya menjadi otot padat yang fungsional.

"Terasa... asing," jawab Arka pendek. Suaranya kini lebih berat, dalam, dan membawa getaran otoritas yang tidak bisa dibantah.

Bima tersenyum tipis, sebuah ekspresi bangga yang jarang ia tunjukkan. "Itu karena jiwa kurir itu sudah mati, Tuan. Yang tersisa hanyalah Sang Predator."

Bima melangkah mendekat, membawa sebuah kotak beludru hitam. Di dalamnya, melingkar sebuah jam tangan Vacheron Constantin yang harganya bisa membeli sepuluh butik tempat Siska bekerja.

"Penjahit dari Milan sudah menyelesaikan setelan three-piece Anda," ucap Bima sambil membantu Arka mengenakan kemeja sutra hitamnya.

Kain itu terasa dingin dan licin di kulit Arka. Sangat kontras dengan jaket parasut oranye yang dulu membuat kulitnya gatal dan bau apek. Arka mengancingkan manset peraknya dengan tenang.

"Jadwal malam ini?" tanya Arka sambil mengenakan jas charcoal gelapnya.

"Malam amal tahunan di Hotel Peninsula," jawab Bima. "Aditya dan keluarga Siska ada di sana. Mereka sedang megap-megap mencari investor untuk menyelamatkan bisnis properti mereka yang mulai goyah."

Arka menyeringai. Sebuah seringai predator yang mematikan. "Bagus. Mari kita lihat seberapa rendah mereka bisa membungkuk untuk selembar cek."

Lobi Hotel Peninsula malam itu beraroma uang dan parfum mahal. Di sudut ballroom, Siska tampak memukau dengan gaun merah yang memeluk lekuk tubuhnya. Namun, kegelisahan terpancar jelas di wajahnya.

"Adit, kamu yakin perwakilan Adiwangsa Group bakal dateng?" tanya Siska sambil meremas gelas sampanyenya.

Aditya mengangguk gusar. "Harus, Sis. Kalau kontrak ini nggak tembus, ayahku bakal bangkrut total. Kita harus narik perhatian mereka, siapa pun yang dikirim."

Tiba-tiba, suasana riuh di ruangan itu mendadak senyap. Pintu ganda ballroom terbuka lebar.

Seorang pria melangkah masuk.

Langkah kakinya tenang namun setiap hentakannya seolah mendominasi lantai marmer tersebut. Ia dikawal oleh barisan pria berbadan tegap, namun kehadirannya sendiri sudah cukup untuk membuat siapa pun menyingkir secara sukarela.

"Siapa dia?" bisik seorang sosialita di dekat Siska. "Lihat bahunya... dan cara dia menatap. Benar-benar jantan."

Siska terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Ada sesuatu yang familiar dari cara pria itu berjalan, tapi otaknya menolak percaya. Pria ini terlalu sempurna, terlalu berkuasa untuk menjadi seseorang yang ia kenal.

Arka berhenti tepat di depan meja Siska dan Aditya. Ia menyesap wiskinya, matanya menatap Siska dengan intensitas yang membuat wanita itu merasa "telanjang".

"Selamat malam," suara Arka rendah, serak, dan berbahaya.

"Selamat malam, Tuan! Kehormatan besar bagi kami. Saya Aditya dari Pratama Properti. Dan ini tunangan saya, Siska." Aditya langsung memasang senyum menjilat yang menjijikkan.

Arka tidak mengulurkan tangan. Ia justru menatap Siska dari atas ke bawah, seolah menilai barang dagangan. "Siska... nama yang cantik untuk wanita yang... menarik."

Siska merona merah. Ia merasakan panas menjalar ke perut bawahnya hanya karena mendengar namanya disebut oleh pria ini. "Terima kasih, Tuan... Maaf, boleh saya tahu nama Anda?"

Arka maju satu langkah. Jarak mereka kini hanya beberapa senti. Siska bisa mencium aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang memabukkan dari tubuh Arka.

"Nama tidak penting, Siska," bisik Arka tepat di telinga wanita itu.

Arka mengulurkan jarinya, menyentuh helai rambut Siska yang jatuh di bahu, lalu turun perlahan ke tulang selangkanya. Siska gemetar. Napasnya memburu.

"Yang penting adalah... seberapa jauh kau bersedia pergi untuk mendapatkan apa yang kau inginkan?" lanjut Arka dengan nada penuh godaan dan ancaman.

Aditya, yang merasa diabaikan namun terlalu takut untuk marah, mencoba menyela. "Tuan, soal proposal kerja sama kami..."

Arka menoleh ke Aditya. Matanya seketika berubah sedingin es. "Aku tidak bicara bisnis dengan orang yang tidak level denganku di tempat umum."

Ia kembali menatap Siska, memberikan tatapan posesif yang membuat Siska merasa lututnya lemas.

"Jika kau ingin kontrak itu, suruh tunanganmu ini datang ke kantorku besok malam," ucap Arka sambil menatap bibir Siska. "Sendiri. Kita akan bicara tentang... syarat-syarat tambahan."

Arka berbalik pergi tanpa menunggu jawaban. Ia tahu, umpan sudah ditelan. Siska menatap punggung Arka dengan damba, sementara Aditya hanya bisa diam dengan harga diri yang mulai terkikis.

Di dalam lift, Arka melonggarkan dasinya.

"Bima," panggil Arka dengan nada dingin.

"Iya, Tuan ada yg bisa saya kerjakan?”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 7: Perjanjian di Bawah Gelap

    Lantai enam puluh sembilan malam itu terasa seperti dimensi lain yang terputus dari dunia. Valerie melangkah masuk ke ruang kerja Arka, namun langkahnya tertahan saat menyadari betapa gelapnya ruangan itu. Hanya ada cahaya dari gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang menembus dinding kaca, memberikan siluet tajam pada sosok Arka yang duduk tenang di balik meja mahoni besarnya."Tutup pintunya, Valerie. Dan kunci," suara Arka terdengar rendah, membelah kesunyian dengan otoritas yang tak terbantahkan.Valerie ragu sejenak. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan irama yang tidak beraturan. Namun, bayangan dokumen rahasia ibunya yang berada di tangan pria ini membuatnya tidak punya pilihan. Dengan tangan gemetar, ia memutar kunci pintu. Klik. Bunyi itu terasa seperti vonis penjara bagi harga dirinya."Duduk," perintah Arka lagi. Ia tidak berdiri menyambutnya. Ia justru menyandarkan tubuhnya, memutar-mutar sebuah pulpen emas di jemarinya yang panjang.Valerie berjalan

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 6: Sang Ratu dan Rahasia Hitam

    Lampu kristal raksasa di Grand Ballroom Hotel Mulia memantulkan cahaya yang menyilaukan, seolah-olah ribuan mata sedang mengawasi setiap gerak-gerik kaum elite Jakarta yang berkumpul malam itu. Aroma parfum mahal dan cerutu premium memenuhi udara, bercampur dengan denting gelas sampanye yang saling beradu. Di tengah hiruk-pikuk kemewahan itu, Valerie Mahendra berdiri tegak, memancarkan aura dingin yang sanggup membekukan siapa pun yang berani menatap matanya terlalu lama.Gaun emerald green yang ia kenakan membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan kulit putih porselennya yang seolah tidak pernah tersentuh sinar matahari jalanan. Valerie adalah definisi dari kesempurnaan yang angkuh. Ia tidak tersenyum pada para investor yang mencoba menjilatnya ia hanya mengangguk kecil, sebuah gestur yang lebih terasa seperti pemberian anugerah daripada keramahan bisnis."Tuan Putri kita tampak sangat tegang malam ini," bisik sebuah suara berat dari belakangnya.Valerie tidak menoleh. Ia meng

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 5: Puing Puing Harga Diri

    Aditya mematung di ambang pintu, napasnya tertahan di kerongkongan. Matanya bergerak liar, berpindah dari sosok Siska yang bersimbah air mata di balik selimut sutra, lalu beralih pada sosok pria yang duduk dengan tenang di sofa mewah itu. Dunianya seolah melambat, berputar pada satu titik fokus yang mengerikan, pria di depannya ini memiliki sorot mata yang pernah ia lihat sebelumnya."A-apa maksudnya ini?" suara Aditya bergetar, separuh amarah, separuh ketakutan yang tak beralasan. "Siska! Kenapa kamu begini? Dan Anda... Tuan Arka Adiwangsa, apa yang Anda lakukan pada tunangan saya?!"Arka tidak langsung menjawab. Ia justru menyesap wiskinya perlahan, membiarkan keheningan yang mencekam menyiksa mental Aditya. Setiap detik yang berlalu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk harga diri Aditya. Arka kemudian meletakkan gelas kristalnya di meja marmer dengan bunyi klunting yang nyaring, lalu berdiri dengan perlahan."Tanya pada tunanganmu, Aditya," ucap Arka. Suaranya rendah, namun me

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 4: Harga Sebuah Pengkhianatan

    Siska terbangun dengan napas yang masih tersengal, merasakan dinginnya lantai marmer yang kontras dengan panas yang baru saja membakar tubuhnya. Ia menemukan dirinya tidak lagi di atas sofa, melainkan di atas tempat tidur king-size yang luasnya terasa seperti samudra. Di bawah sinar lampu tidur yang redup, ia menyadari bahwa pria yang baru saja menjungkirbalikkan dunianya itu sudah tidak ada di sisinya."Tuan?" bisik Siska parau. Suaranya pecah, tenggorokannya kering.Tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah suara gemericik air dari arah kamar mandi yang berdinding kaca buram. Siska menarik selimut sutra untuk menutupi tubuhnya yang polos, jantungnya berdebar kencang. Ada rasa bangga sekaligus kehampaan yang aneh. Ia merasa telah memenangkan "lotre" besar malam ini. Dengan servis yang ia berikan, ia yakin kontrak dua ratus miliar untuk Aditya sudah ada di genggaman.Pintu kamar mandi terbuka.Uap panas menyeruak keluar, membawa aroma sabun maskulin yang tajam. Arka keluar hanya dengan bal

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 3: Penyerahan di Lantai Enam Puluh Sembilan

    "Pastikan kamera di kantor sudah siap besok malam. Aku ingin melihat wajahnya saat ia menyadari siapa yang sedang ia layani." Ucap Arka dingin. Malam itu, Sang Predator tersenyum. Permainan baru saja dimulai. Pemandangan yang dulu pernah menjadi penjara bagi Arka. Lima tahun ia menghabiskan hidup di aspal panas itu—berjuang, berkeringat, dan dikuliti oleh hinaan orang-orang kaya. Kini, ia berdiri di atas mereka semua.Ia berdiri membelakangi pintu utama suite yang luasnya bahkan hampir menyamai luas rumah petak yang dulu ia sewa selama bertahun-tahun. Kemeja sutra hitam buatan tangan menyelimuti tubuhnya, kancing atasnya sengaja dibiarkan terbuka hingga ke tengah dada. Garis otot yang tegas dan kulit yang kini terawat sempurna terpantul samar di dinding marmer.Ding.Suara bel pintu suite terdengar lirih, namun cukup tajam untuk memutus keheningan. Arka tidak bergerak. Ia membiarkan bunyi itu menggantung di udara selama beberapa saat, menikmati kuasa untuk membuat seseorang menunggu

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 2 : Lahir kembali

    "Ubah aku. Jangan biarkan ada satu pun dari mereka yang tersisa saat aku selesai nanti." suara Arka terdengar seperti geraman predator. Di sebuah penthouse rahasia yang menghadap langsung ke jantung beton Jakarta, Arka berdiri menatap pantulan dirinya di cermin setinggi plafon. Ia nyaris tidak mengenali pria di depannya. Dulu, cermin adalah musuh besarnya. Cermin hanya menunjukkan mata yang kuyu, kulit kusam terpapar timbal jalanan, dan tubuh ringkih yang tampak menyedihkan. Kini? Sosok itu telah berubah total. "Bagaimana perasaan Anda, Tuan Arka?" suara Bima terdengar dari ambang pintu. Arka tidak langsung menjawab. Ia mengusap rahangnya yang kini tegas dan bersih, seolah dipahat dari granit. Latihan fisik militer yang brutal telah mengubah lemak dan keletihannya menjadi otot padat yang fungsional. "Terasa... asing," jawab Arka pendek. Suaranya kini lebih berat, dalam, dan membawa getaran otoritas yang tidak bisa dibantah. Bima tersenyum tipis, sebuah ekspresi bangga yang jara

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status