LOGIN"Ubah aku. Jangan biarkan ada satu pun dari mereka yang tersisa saat aku selesai nanti." suara Arka terdengar seperti geraman predator.
Di sebuah penthouse rahasia yang menghadap langsung ke jantung beton Jakarta, Arka berdiri menatap pantulan dirinya di cermin setinggi plafon. Ia nyaris tidak mengenali pria di depannya. Dulu, cermin adalah musuh besarnya. Cermin hanya menunjukkan mata yang kuyu, kulit kusam terpapar timbal jalanan, dan tubuh ringkih yang tampak menyedihkan. Kini? Sosok itu telah berubah total. "Bagaimana perasaan Anda, Tuan Arka?" suara Bima terdengar dari ambang pintu. Arka tidak langsung menjawab. Ia mengusap rahangnya yang kini tegas dan bersih, seolah dipahat dari granit. Latihan fisik militer yang brutal telah mengubah lemak dan keletihannya menjadi otot padat yang fungsional. "Terasa... asing," jawab Arka pendek. Suaranya kini lebih berat, dalam, dan membawa getaran otoritas yang tidak bisa dibantah. Bima tersenyum tipis, sebuah ekspresi bangga yang jarang ia tunjukkan. "Itu karena jiwa kurir itu sudah mati, Tuan. Yang tersisa hanyalah Sang Predator." Bima melangkah mendekat, membawa sebuah kotak beludru hitam. Di dalamnya, melingkar sebuah jam tangan Vacheron Constantin yang harganya bisa membeli sepuluh butik tempat Siska bekerja. "Penjahit dari Milan sudah menyelesaikan setelan three-piece Anda," ucap Bima sambil membantu Arka mengenakan kemeja sutra hitamnya. Kain itu terasa dingin dan licin di kulit Arka. Sangat kontras dengan jaket parasut oranye yang dulu membuat kulitnya gatal dan bau apek. Arka mengancingkan manset peraknya dengan tenang. "Jadwal malam ini?" tanya Arka sambil mengenakan jas charcoal gelapnya. "Malam amal tahunan di Hotel Peninsula," jawab Bima. "Aditya dan keluarga Siska ada di sana. Mereka sedang megap-megap mencari investor untuk menyelamatkan bisnis properti mereka yang mulai goyah." Arka menyeringai. Sebuah seringai predator yang mematikan. "Bagus. Mari kita lihat seberapa rendah mereka bisa membungkuk untuk selembar cek." Lobi Hotel Peninsula malam itu beraroma uang dan parfum mahal. Di sudut ballroom, Siska tampak memukau dengan gaun merah yang memeluk lekuk tubuhnya. Namun, kegelisahan terpancar jelas di wajahnya. "Adit, kamu yakin perwakilan Adiwangsa Group bakal dateng?" tanya Siska sambil meremas gelas sampanyenya. Aditya mengangguk gusar. "Harus, Sis. Kalau kontrak ini nggak tembus, ayahku bakal bangkrut total. Kita harus narik perhatian mereka, siapa pun yang dikirim." Tiba-tiba, suasana riuh di ruangan itu mendadak senyap. Pintu ganda ballroom terbuka lebar. Seorang pria melangkah masuk. Langkah kakinya tenang namun setiap hentakannya seolah mendominasi lantai marmer tersebut. Ia dikawal oleh barisan pria berbadan tegap, namun kehadirannya sendiri sudah cukup untuk membuat siapa pun menyingkir secara sukarela. "Siapa dia?" bisik seorang sosialita di dekat Siska. "Lihat bahunya... dan cara dia menatap. Benar-benar jantan." Siska terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Ada sesuatu yang familiar dari cara pria itu berjalan, tapi otaknya menolak percaya. Pria ini terlalu sempurna, terlalu berkuasa untuk menjadi seseorang yang ia kenal. Arka berhenti tepat di depan meja Siska dan Aditya. Ia menyesap wiskinya, matanya menatap Siska dengan intensitas yang membuat wanita itu merasa "telanjang". "Selamat malam," suara Arka rendah, serak, dan berbahaya. "Selamat malam, Tuan! Kehormatan besar bagi kami. Saya Aditya dari Pratama Properti. Dan ini tunangan saya, Siska." Aditya langsung memasang senyum menjilat yang menjijikkan. Arka tidak mengulurkan tangan. Ia justru menatap Siska dari atas ke bawah, seolah menilai barang dagangan. "Siska... nama yang cantik untuk wanita yang... menarik." Siska merona merah. Ia merasakan panas menjalar ke perut bawahnya hanya karena mendengar namanya disebut oleh pria ini. "Terima kasih, Tuan... Maaf, boleh saya tahu nama Anda?" Arka maju satu langkah. Jarak mereka kini hanya beberapa senti. Siska bisa mencium aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang memabukkan dari tubuh Arka. "Nama tidak penting, Siska," bisik Arka tepat di telinga wanita itu. Arka mengulurkan jarinya, menyentuh helai rambut Siska yang jatuh di bahu, lalu turun perlahan ke tulang selangkanya. Siska gemetar. Napasnya memburu. "Yang penting adalah... seberapa jauh kau bersedia pergi untuk mendapatkan apa yang kau inginkan?" lanjut Arka dengan nada penuh godaan dan ancaman. Aditya, yang merasa diabaikan namun terlalu takut untuk marah, mencoba menyela. "Tuan, soal proposal kerja sama kami..." Arka menoleh ke Aditya. Matanya seketika berubah sedingin es. "Aku tidak bicara bisnis dengan orang yang tidak level denganku di tempat umum." Ia kembali menatap Siska, memberikan tatapan posesif yang membuat Siska merasa lututnya lemas. "Jika kau ingin kontrak itu, suruh tunanganmu ini datang ke kantorku besok malam," ucap Arka sambil menatap bibir Siska. "Sendiri. Kita akan bicara tentang... syarat-syarat tambahan." Arka berbalik pergi tanpa menunggu jawaban. Ia tahu, umpan sudah ditelan. Siska menatap punggung Arka dengan damba, sementara Aditya hanya bisa diam dengan harga diri yang mulai terkikis. Di dalam lift, Arka melonggarkan dasinya. "Bima," panggil Arka dengan nada dingin. "Iya, Tuan ada yg bisa saya kerjakan?”Kehampaan di titik nol bergetar hebat saat pilar cahaya emas dari arah Bumi menghantam pusat nebula hitam yang menjadi tubuh Sang Penunggu Awal. Cahaya itu membawa esensi Valerie, sang Katalisator, yang telah mengorbankan stabilitas raganya di Bumi untuk memproyeksikan kehadirannya melintasi jutaan mil ruang angkasa. Pilar itu bukan hanya energi mentah; itu adalah jembatan jiwa yang menghubungkan Arka, Valerie, dan Malakor menjadi satu kesatuan frekuensi yang belum pernah ada dalam sejarah penciptaan. Malakor merasakan aliran kekuatan yang tak terbayangkan masuk ke dalam nadinya. Rasa sakit dari kulitnya yang terkelupas akibat melipat ruang seketika hilang, digantikan oleh sensasi mahakuasa. Di sampingnya, tubuh Arka yang sempat membeku menjadi kristal hitam mulai mencair. Kegelapan Void di dalam diri Arka mendadak menjadi tenang, tunduk pada resonansi Trinity yang dibawa oleh Valerie. Arka bangkit berdiri, napasnya yang berat kini berasap ungu. Ia menatap
Ruang laboratorium bawah tanah itu dipenuhi oleh uap dingin dari cairan stasis yang tumpah di lantai. Arka Adiwangsa berdiri dengan raga barunya, merasakan beratnya gravitasi Bumi yang sudah dua dekade tidak ia rasakan. Meskipun ia baru saja kembali ke wujud manusia, aura dominasinya tidak berkurang sedikit pun. Di sampingnya, Valerie sedang menyesuaikan diri dengan detak jantungnya sendiri, tangannya masih menggenggam erat lengan Malakor. Reuni keluarga ini seharusnya menjadi momen penuh haru, namun getaran di bawah telapak kaki mereka menceritakan kisah yang berbeda.Arka menatap Malakor dengan tatapan yang sulit diartikan antara bangga dan waspada. Kau berani mengambil risiko besar dengan menarik kami kembali, Malakor. Kau tahu apa yang terjadi j
Tiga hari adalah waktu yang sangat singkat bagi sebuah peradaban untuk bersiap menghadapi kiamat, namun bagi Malakor Adiwangsa, tiga hari adalah keabadian yang harus ia manfaatkan untuk mengukuhkan kedaulatannya. Di dalam ruang kerja ayahnya yang kini telah ia bersihkan dari sisa sisa energi Lilith, Malakor menatap layar monitor yang menampilkan file Proyek Reinkarnasi Kedua. Data di dalamnya bukan sekadar instruksi biologis, melainkan sebuah algoritma pemindahan kesadaran dimensi tinggi kembali ke dalam materi organik.Arka Adiwangsa ternyata tidak pernah berniat membiarkan Valerie dan dirinya sendiri terjebak di singgasana ketiadaan selamanya. Ia telah membangun jalan pulang, namun harga yang harus dibayar adalah pengorbanan seluruh cadangan energi Void yang
Lift berkecepatan tinggi meluncur turun menuju kedalaman seribu meter di bawah permukaan tanah Jakarta, menuju sebuah sektor yang bahkan tidak tercatat dalam cetak biru resmi Adiwangsa Tech. Sektor itu disebut sebagai Lab Sembilan, sebuah tempat yang dibangun Arka Adiwangsa untuk menyimpan kegagalan kegagalan penciptaan yang terlalu berbahaya untuk dimusnahkan. Di dalam lift yang sempit itu, Malakor berdiri diam, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Arion berada di sampingnya, mengenakan zirah cadangan yang masih dialiri energi perak, meski napasnya masih terasa berat akibat luka sebelumnya. Tuan Muda, jika apa yang dikatakan Gerry benar, Lilith tidak hanya ingin membangkitkan monster biasa, ucap Arion. Dia mencari raga. Sebuah wadah
Kemenangan atas Galactic Collectors seharusnya membawa ketenangan bagi penduduk Bumi, namun bagi Malakor Adiwangsa, aroma kemenangan itu terasa amis oleh firasat buruk. Setelah serangan di atmosfer berakhir, Malakor kembali ke kantor pribadi ayahnya di puncak gedung Adiwangsa Tech. Ruangan itu telah disegel selama dua puluh tahun, hanya bisa dibuka oleh seseorang yang memiliki frekuensi biologis yang identik dengan sang pemilik asli.Begitu pintu geser logam itu terbuka, Malakor merasakan tekanan udara yang aneh. Suhu di dalam ruangan sangat dingin, namun bukan dinginnya es Himalaya, melainkan dingin yang hampa, seolah-olah oksigen di tempat itu telah dihisap oleh sesuatu yang tidak terlihat. Arion, yang selalu waspada di belakang Malakor, segera menghunus ped
Pesawat siluman yang membawa Malakor dan Arion meninggalkan puncak Himalaya yang membeku, meluncur menembus awan tebal menuju markas besar Adiwangsa Tech di Jakarta. Namun, pemandangan dari jendela kokpit tidak lagi menampilkan langit biru yang jernih. Di atas atmosfer, bintik bintik perak raksasa mulai terlihat melalui sensor optik pesawat. Itu bukan satelit, dan bukan pula sampah luar angkasa. Itu adalah armada kapal induk milik Galactic Collectors, entitas pengumpul sumber daya yang telah mengincar Bumi sejak jatuhnya para Arsitek.Malakor menatap layar hologram yang menampilkan analisis data dari Gerry. Kapal kapal itu memiliki panjang ribuan kilometer, ditenagai oleh mesin penghisap inti planet. Mereka tidak datang untuk menjajah atau berkomunikasi; merek
Suara tembakan kedua memecah keheningan fajar, menghantam kontainer besi tepat di atas kepala Arka dan Valerie dengan dentingan nyaring yang memekakkan telinga. Arka mengerang, napasnya memburu saat ia menarik Valerie lebih dalam ke balik peti kayu yang sempit. Darah segar merembes cepat dari sela
Udara pelabuhan di jam empat pagi terasa seperti logam dingin yang menusuk paru-paru. Bau garam yang pekat bercampur dengan aroma solar dan karat dari kontainer-kontainer raksasa yang bertumpuk seperti labirin baja. Valerie melangkah turun dari mobilnya dengan tubuh yang masih terasa remuk. Matany
"Aku berdiri tepat di depanmu, Arka."Hening yang menyergap aula besar itu terasa lebih menyesakkan daripada rentetan tembakan sebelumnya. Arka berdiri mematung, pistol di tangannya terasa mendingin, sementara matanya tak lepas dari sosok pria berjubah hitam yang baru saja melumpuhkan seluruh penja
"Karena aku belum selesai membalas dendam padamu... dan karena aku tidak bisa membiarkan siapa pun membunuhmu selain aku."Suara sirine mobil yang terbalik masih meraung parau, membelah kesunyian hutan pinus yang lembap. Asap putih mengepul dari kap mesin yang hancur, bercampur dengan bau bensin ya







