MasukAditya mematung di ambang pintu, napasnya tertahan di kerongkongan. Matanya bergerak liar, berpindah dari sosok Siska yang bersimbah air mata di balik selimut sutra, lalu beralih pada sosok pria yang duduk dengan tenang di sofa mewah itu. Dunianya seolah melambat, berputar pada satu titik fokus yang mengerikan, pria di depannya ini memiliki sorot mata yang pernah ia lihat sebelumnya.
"A-apa maksudnya ini?" suara Aditya bergetar, separuh amarah, separuh ketakutan yang tak beralasan. "Siska! Kenapa kamu begini? Dan Anda... Tuan Arka Adiwangsa, apa yang Anda lakukan pada tunangan saya?!" Arka tidak langsung menjawab. Ia justru menyesap wiskinya perlahan, membiarkan keheningan yang mencekam menyiksa mental Aditya. Setiap detik yang berlalu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk harga diri Aditya. Arka kemudian meletakkan gelas kristalnya di meja marmer dengan bunyi klunting yang nyaring, lalu berdiri dengan perlahan. "Tanya pada tunanganmu, Aditya," ucap Arka. Suaranya rendah, namun membawa guncangan hebat di dada Aditya. "Tanya padanya, apakah dia dipaksa, atau dia yang dengan sukarela merangkak ke tempat tidurku demi selembar kontrak yang sekarang ada di bawah kakimu itu." Aditya menunduk, menatap map cokelat yang tergeletak di lantai. Dengan tangan gemetar, ia memungutnya dan membukanya. Matanya membelalak saat melihat kertas di dalamnya kosong, kecuali satu kata yang ditulis dengan tinta merah tebal: SAMPAH. "Sampah?" bisik Aditya. Ia mendongak, menatap Arka dengan tataran penuh kebencian. "Anda mempermainkan saya? Anda menggunakan kekuasaan Anda untuk meniduri tunangan saya lalu memberikan sampah ini?!" Arka melangkah maju, keluar dari bayang-bayang lampu redup. Sekarang, wajahnya terpapar cahaya lampu kristal dengan jelas. Ia berhenti tepat satu langkah di depan Aditya. Jarak mereka begitu dekat hingga Aditya bisa mencium aroma maskulin yang sama yang kini melekat di tubuh Siska. "Kau masih belum mengenalku, Aditya?" Arka sedikit memiringkan kepalanya, seringai dingin tersungging di bibirnya. "Tiga bulan lalu, di depan butik Elegance. Hujan baru saja reda, dan kau baru saja memamerkan sepatu Oxford mahalnya dengan menekan kepala seorang kurir ke dalam lumpur." Aditya terkesiap. Seluruh aliran darahnya seolah berhenti. Ingatannya berputar cepat ke hari itu—seorang pria tak berdaya yang ia injak, yang ia tertawakan bersama Siska. "Kurir... butut itu?" Aditya melangkah mundur, kakinya lemas. "Tidak mungkin. Dia cuma sampah jalanan! Dia tidak mungkin jadi..." "Jadi pemilik dari seluruh gedung yang kau injak sekarang?" potong Arka dengan suara yang menggelegar namun tetap tenang. "Dunia ini bulat, Aditya. Tapi bagimu, dunia ini baru saja berakhir. Kau tidak hanya kehilangan kontrak dua ratus miliar itu. Kau kehilangan perusahaan ayahmu, kau kehilangan masa depanmu, dan yang paling memuaskan... kau baru saja kehilangan wanita yang kau banggakan." Arka menoleh ke arah Siska yang kini menangis tersedu sedu, menyembunyikan wajahnya di balik bantal. "Dia menyerahkan dirinya padaku semalam dengan sangat antusias, Aditya. Dia bahkan menyebut namaku dengan desahan yang... ah, kurasa kau lebih baik tidak mendengarnya." "BAJINGAN!" Aditya berteriak, melayangkan pukulan buta ke arah wajah Arka. Namun Arka yang sekarang bukan lagi kurir yang kurang gizi. Dengan gerakan yang sangat efisien, Arka menangkap pergelangan tangan Aditya, memuntirnya ke belakang hingga terdengar bunyi krek yang menyakitkan. Aditya mengerang, jatuh berlutut di bawah kaki Arka. "Dulu kau bilang tempatku di bawah tumitmu, kan?" Arka menekan pundak Aditya, memaksa pria itu untuk mencium lantai marmer. "Sekarang, hirup aroma parfum yang kupakai. Aroma yang sama yang sekarang menempel di kulit Siska. Bagaimana rasanya, Aditya? Bagaimana rasanya berada di posisi 'sampah'?" Siska berteriak histeris dari tempat tidur. "Arka, cukup! Tolong hentikan! Aku mohon!" Arka melepaskan Aditya dengan kasar, seolah-olah menyentuh pria itu adalah hal yang menjijikkan. Ia mengambil selembar cek dari sakunya, lalu menjatuhkannya tepat di depan wajah Aditya yang sedang meringis kesakitan. "Itu sepuluh juta rupiah. Ambillah," ucap Arka dingin. "Gunakan untuk ongkos taksi dan beli sabun yang wangi. Karena setelah ini, kau bahkan tidak akan mampu membeli nasi bungkus. Semua bank sudah membekukan aset keluargamu atas perintah Adiwangsa Group." Aditya menatap cek itu dengan tatapan kosong. Kehancurannya terjadi begitu cepat, begitu mutlak. Ia kehilangan segalanya dalam hitungan menit—harta, kekasih, dan harga diri. "Keluar," perintah Arka. "Bawa 'barang' milikmu ini pergi dari suite-ku. Aku sudah bosan melihat wajah kalian berdua." Dengan sisa-sisa kekuatannya, Aditya bangkit. Ia menarik tangan Siska dengan kasar, memaksanya untuk turun dari tempat tidur dan mengenakan gaunnya yang berantakan. Siska hanya bisa pasrah, menatap Arka dengan tatapan yang penuh penyesalan, namun Arka sudah kembali membelakangi mereka, menatap ke jendela besar seolah mereka berdua sudah tidak ada lagi di dunia ini. Saat pintu suite tertutup dengan debuman keras, menyisakan kesunyian yang mencekam, Arka menghela napas panjang. Ia meraih gelas wiskinya kembali, namun kali ini tangannya sedikit bergetar. Kemenangan ini seharusnya terasa manis, tapi ada rasa pahit yang tertinggal di lidahnya. Balas dendam telah dimulai, tapi kekosongan di hatinya justru semakin meluas. Bima masuk ke dalam ruangan beberapa saat kemudian, membungkuk hormat. "Semua sudah sesuai rencana, Tuan Arka. Aditya dan Siska telah meninggalkan gedung. Foto-foto mereka keluar dari suite ini sudah dikirim ke media sosial dan dewan direksi Pratama Properti. Besok pagi, mereka akan menjadi orang terendah di kota ini." Arka hanya mengangguk pelan. "Lalu, bagaimana dengan target selanjutnya?" "Valerie Mahendra, Tuan," jawab Bima sambil menyodorkan tablet. "Dia baru saja mendarat di Jakarta setelah pertemuannya di Singapura. Dia adalah otak sebenarnya di balik jaringan bisnis keluarga Aditya. Dan dia... jauh lebih berbahaya dari sepupunya yang bodoh itu." Arka menatap foto Valerie di layar tablet. Seorang wanita dengan wajah dingin, elegan, dan mata yang menyimpan ribuan strategi. Arka menyeringai tipis. Jika Siska adalah hidangan pembuka yang murah, maka Valerie adalah hidangan utama yang harus ia taklukkan dengan cara yang berbeda. "Bima, siapkan pertemuan dengannya di acara Gala Mahendra besok malam," ucap Arka, matanya berkilat penuh gairah predator. "Aku ingin melihat apakah 'Ratu Es' itu bisa tetap tenang saat aku membakar seluruh dunianya." Bima tersenyum tipis. "Tentu, Tuan. Tapi ada satu hal lagi. Valerie Mahendra memiliki satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun... dan rahasia itu ada di tangan kita sekarang." Arka mengangkat alisnya, tertarik. "Rahasia apa?"Kehampaan di titik nol bergetar hebat saat pilar cahaya emas dari arah Bumi menghantam pusat nebula hitam yang menjadi tubuh Sang Penunggu Awal. Cahaya itu membawa esensi Valerie, sang Katalisator, yang telah mengorbankan stabilitas raganya di Bumi untuk memproyeksikan kehadirannya melintasi jutaan mil ruang angkasa. Pilar itu bukan hanya energi mentah; itu adalah jembatan jiwa yang menghubungkan Arka, Valerie, dan Malakor menjadi satu kesatuan frekuensi yang belum pernah ada dalam sejarah penciptaan. Malakor merasakan aliran kekuatan yang tak terbayangkan masuk ke dalam nadinya. Rasa sakit dari kulitnya yang terkelupas akibat melipat ruang seketika hilang, digantikan oleh sensasi mahakuasa. Di sampingnya, tubuh Arka yang sempat membeku menjadi kristal hitam mulai mencair. Kegelapan Void di dalam diri Arka mendadak menjadi tenang, tunduk pada resonansi Trinity yang dibawa oleh Valerie. Arka bangkit berdiri, napasnya yang berat kini berasap ungu. Ia menatap
Ruang laboratorium bawah tanah itu dipenuhi oleh uap dingin dari cairan stasis yang tumpah di lantai. Arka Adiwangsa berdiri dengan raga barunya, merasakan beratnya gravitasi Bumi yang sudah dua dekade tidak ia rasakan. Meskipun ia baru saja kembali ke wujud manusia, aura dominasinya tidak berkurang sedikit pun. Di sampingnya, Valerie sedang menyesuaikan diri dengan detak jantungnya sendiri, tangannya masih menggenggam erat lengan Malakor. Reuni keluarga ini seharusnya menjadi momen penuh haru, namun getaran di bawah telapak kaki mereka menceritakan kisah yang berbeda.Arka menatap Malakor dengan tatapan yang sulit diartikan antara bangga dan waspada. Kau berani mengambil risiko besar dengan menarik kami kembali, Malakor. Kau tahu apa yang terjadi j
Tiga hari adalah waktu yang sangat singkat bagi sebuah peradaban untuk bersiap menghadapi kiamat, namun bagi Malakor Adiwangsa, tiga hari adalah keabadian yang harus ia manfaatkan untuk mengukuhkan kedaulatannya. Di dalam ruang kerja ayahnya yang kini telah ia bersihkan dari sisa sisa energi Lilith, Malakor menatap layar monitor yang menampilkan file Proyek Reinkarnasi Kedua. Data di dalamnya bukan sekadar instruksi biologis, melainkan sebuah algoritma pemindahan kesadaran dimensi tinggi kembali ke dalam materi organik.Arka Adiwangsa ternyata tidak pernah berniat membiarkan Valerie dan dirinya sendiri terjebak di singgasana ketiadaan selamanya. Ia telah membangun jalan pulang, namun harga yang harus dibayar adalah pengorbanan seluruh cadangan energi Void yang
Lift berkecepatan tinggi meluncur turun menuju kedalaman seribu meter di bawah permukaan tanah Jakarta, menuju sebuah sektor yang bahkan tidak tercatat dalam cetak biru resmi Adiwangsa Tech. Sektor itu disebut sebagai Lab Sembilan, sebuah tempat yang dibangun Arka Adiwangsa untuk menyimpan kegagalan kegagalan penciptaan yang terlalu berbahaya untuk dimusnahkan. Di dalam lift yang sempit itu, Malakor berdiri diam, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Arion berada di sampingnya, mengenakan zirah cadangan yang masih dialiri energi perak, meski napasnya masih terasa berat akibat luka sebelumnya. Tuan Muda, jika apa yang dikatakan Gerry benar, Lilith tidak hanya ingin membangkitkan monster biasa, ucap Arion. Dia mencari raga. Sebuah wadah
Kemenangan atas Galactic Collectors seharusnya membawa ketenangan bagi penduduk Bumi, namun bagi Malakor Adiwangsa, aroma kemenangan itu terasa amis oleh firasat buruk. Setelah serangan di atmosfer berakhir, Malakor kembali ke kantor pribadi ayahnya di puncak gedung Adiwangsa Tech. Ruangan itu telah disegel selama dua puluh tahun, hanya bisa dibuka oleh seseorang yang memiliki frekuensi biologis yang identik dengan sang pemilik asli.Begitu pintu geser logam itu terbuka, Malakor merasakan tekanan udara yang aneh. Suhu di dalam ruangan sangat dingin, namun bukan dinginnya es Himalaya, melainkan dingin yang hampa, seolah-olah oksigen di tempat itu telah dihisap oleh sesuatu yang tidak terlihat. Arion, yang selalu waspada di belakang Malakor, segera menghunus ped
Pesawat siluman yang membawa Malakor dan Arion meninggalkan puncak Himalaya yang membeku, meluncur menembus awan tebal menuju markas besar Adiwangsa Tech di Jakarta. Namun, pemandangan dari jendela kokpit tidak lagi menampilkan langit biru yang jernih. Di atas atmosfer, bintik bintik perak raksasa mulai terlihat melalui sensor optik pesawat. Itu bukan satelit, dan bukan pula sampah luar angkasa. Itu adalah armada kapal induk milik Galactic Collectors, entitas pengumpul sumber daya yang telah mengincar Bumi sejak jatuhnya para Arsitek.Malakor menatap layar hologram yang menampilkan analisis data dari Gerry. Kapal kapal itu memiliki panjang ribuan kilometer, ditenagai oleh mesin penghisap inti planet. Mereka tidak datang untuk menjajah atau berkomunikasi; merek
Suara tembakan kedua memecah keheningan fajar, menghantam kontainer besi tepat di atas kepala Arka dan Valerie dengan dentingan nyaring yang memekakkan telinga. Arka mengerang, napasnya memburu saat ia menarik Valerie lebih dalam ke balik peti kayu yang sempit. Darah segar merembes cepat dari sela
Udara pelabuhan di jam empat pagi terasa seperti logam dingin yang menusuk paru-paru. Bau garam yang pekat bercampur dengan aroma solar dan karat dari kontainer-kontainer raksasa yang bertumpuk seperti labirin baja. Valerie melangkah turun dari mobilnya dengan tubuh yang masih terasa remuk. Matany
"Aku berdiri tepat di depanmu, Arka."Hening yang menyergap aula besar itu terasa lebih menyesakkan daripada rentetan tembakan sebelumnya. Arka berdiri mematung, pistol di tangannya terasa mendingin, sementara matanya tak lepas dari sosok pria berjubah hitam yang baru saja melumpuhkan seluruh penja
"Karena aku belum selesai membalas dendam padamu... dan karena aku tidak bisa membiarkan siapa pun membunuhmu selain aku."Suara sirine mobil yang terbalik masih meraung parau, membelah kesunyian hutan pinus yang lembap. Asap putih mengepul dari kap mesin yang hancur, bercampur dengan bau bensin ya







