MasukLampu kristal raksasa di Grand Ballroom Hotel Mulia memantulkan cahaya yang menyilaukan, seolah-olah ribuan mata sedang mengawasi setiap gerak-gerik kaum elite Jakarta yang berkumpul malam itu.
Aroma parfum mahal dan cerutu premium memenuhi udara, bercampur dengan denting gelas sampanye yang saling beradu. Di tengah hiruk-pikuk kemewahan itu, Valerie Mahendra berdiri tegak, memancarkan aura dingin yang sanggup membekukan siapa pun yang berani menatap matanya terlalu lama. Gaun emerald green yang ia kenakan membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan kulit putih porselennya yang seolah tidak pernah tersentuh sinar matahari jalanan. Valerie adalah definisi dari kesempurnaan yang angkuh. Ia tidak tersenyum pada para investor yang mencoba menjilatnya ia hanya mengangguk kecil, sebuah gestur yang lebih terasa seperti pemberian anugerah daripada keramahan bisnis. "Tuan Putri kita tampak sangat tegang malam ini," bisik sebuah suara berat dari belakangnya. Valerie tidak menoleh. Ia mengenali suara sepupunya, Aditya, yang tampak kacau meskipun sudah berusaha ditutupi dengan setelan jas baru. "Ke mana saja kau, Adit? Aku dengar kau kehilangan kontrak Adiwangsa semalam. Kau benar-benar memalukan nama Mahendra." Aditya mendekat, wajahnya pucat pasi. "Kau tidak tahu siapa yang kita hadapi, Val. Pria itu... dia iblis. Dia menghancurkanku hanya dalam semalam." Valerie memutar gelas anggurnya perlahan, matanya menyapu ruangan dengan bosan. "Dia hanya orang kaya baru yang beruntung, Adit. Jangan samakan aku denganmu yang lemah. Jika dia berani muncul di sini, aku akan menunjukkan padanya bagaimana cara penguasa sebenarnya bermain." Tepat saat kata-kata itu keluar dari bibir merah Valerie, pintu ganda ballroom terbuka lebar. Keheningan merambat cepat, mematikan musik klasik yang sedang dimainkan. Arka Adiwangsa melangkah masuk. Ia tidak mengenakan warna cerah seperti tamu lainnya. Ia mengenakan setelan tuxedo hitam pekat yang dirancang khusus untuk menonjolkan bahu lebarnya yang kokoh. Di sampingnya, Bima berjalan dengan langkah tegap, membawa aura otoritas yang membuat orang-orang secara otomatis memberikan jalan. Arka tidak menatap kerumunan; matanya terkunci pada satu target di ujung ruangan. Valerie merasakan dadanya sesak secara tiba-tiba. Ada energi yang sangat dominan terpancar dari pria itu—sesuatu yang primitif dan berbahaya. Saat Arka semakin dekat, ia bisa melihat bekas luka tipis di rahang pria itu, sebuah detail kecil yang justru menambah kesan maskulin yang kasar di balik kemewahan pakaiannya. "Selamat malam, Nona Mahendra," suara Arka bergetar rendah, bergema di telinga Valerie. Arka berhenti tepat di depan Valerie, mengabaikan Aditya yang sudah gemetar ketakutan di sampingnya. Arka tidak mengulurkan tangan untuk bersalaman; ia justru menatap Valerie dengan cara yang sangat tidak sopan, seolah sedang menelanjangi setiap lapisan pertahanan mental wanita itu. "Tuan Adiwangsa," Valerie membalas dengan suara yang berusaha ia jaga agar tetap stabil. "Saya tidak menyangka Anda akan punya nyali untuk muncul di acara keluarga saya setelah apa yang Anda lakukan pada sepupu saya." Arka tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti gesekan beludru di atas baja. "Keluarga? Saya pikir bagi orang seperti Anda, keluarga hanyalah sekumpulan pion yang bisa dikorbankan demi profit. Bukankah begitu, Valerie?" Valerie mengetatkan pegangannya pada gelas anggur. "Anda bicara seolah-olah Anda mengenal saya." "Oh, saya mengenal Anda lebih baik daripada Anda mengenal diri Anda sendiri," Arka maju satu langkah, memangkas jarak pribadi di antara mereka. Ia bisa mencium aroma mawar hitam dari leher Valerie. "Termasuk soal transaksi gelap di Pelabuhan Tanjung Priok dua tahun lalu. Transaksi yang melibatkan perusahaan cangkang di Panama atas nama... ibunda Anda yang sudah almarhum?" Wajah Valerie yang tadinya seputih porselen seketika berubah menjadi pucat pasi. Gelas di tangannya bergetar hebat. Itu adalah rahasia yang ia kubur sangat dalam, sebuah noda yang bisa menghancurkan imperium Mahendra dalam hitungan jam jika terendus otoritas. "D-dari mana Anda..." Valerie terbata, suaranya nyaris hilang. Arka menyeringai predator. Ia membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Valerie yang kini memerah karena malu dan takut. "Malam ini, di kantorku. Jam sebelas malam. Datanglah sendiri, atau besok pagi dunia akan melihat bagaimana 'Ratu Es' ini sebenarnya hanyalah seorang penjahat kerah putih yang pengecut." Arka menegakkan tubuhnya kembali, menyesap minumannya dengan santai, lalu berbalik pergi tanpa pamit. Ia meninggalkan Valerie yang berdiri membeku di tengah keramaian, dikelilingi oleh kemewahan yang tiba-tiba terasa seperti penjara yang siap runtuh. Arka melangkah keluar menuju Rolls-Royce miliknya yang sudah menunggu di lobi. Bima membukakan pintu dengan hormat. Di dalam mobil yang kedap suara itu, Arka melonggarkan dasinya, matanya berkilat penuh kemenangan. "Dia akan datang, Tuan?" tanya Bima. "Dia tidak punya pilihan, Bima," Arka menyandarkan kepalanya, menatap langit malam Jakarta dari balik jendela sunroof. "Wanita seperti Valerie lebih takut pada kehilangan nama baik daripada kehilangan nyawa. Dia akan datang, dan saat dia menginjakkan kaki di kantorku, dia akan menyadari bahwa mahkotanya tidak lagi berguna." Arka mengeluarkan sebuah dokumen kecil dari sakunya—foto asli transaksi yang ia bicarakan tadi. Itu adalah kartu as yang akan ia gunakan untuk merantai Valerie. Ia tidak ingin sekadar uangnya,ia ingin melihat wanita paling angkuh di kota ini berlutut dan memohon ampunan padanya. Sementara itu, di dalam ballroom, Valerie masih berdiri mematung. Ia menoleh ke arah Aditya yang menatapnya dengan bingung. Tanpa sepatah kata pun, Valerie berbalik dan melangkah cepat menuju pintu keluar. Pikirannya kalut. Ia harus menghadapi pria itu. Ia harus menghentikan pria itu sebelum semuanya terlambat. Namun, Valerie tidak menyadari satu hal. Saat ia memutuskan untuk mendatangi kantor Arka malam itu, ia sebenarnya sedang melangkah masuk ke dalam jebakan yang sudah dirancang dengan sangat detail. Sebuah jebakan yang tidak hanya mengincar rahasianya, tapi juga seluruh hidup dan tubuhnya. Pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit. Valerie tiba di depan gedung Adiwangsa Tower yang menjulang tinggi, seolah-olah gedung itu adalah monster hitam yang siap menelannya bulat-bulat. Ia menarik napas panjang, mencoba memenangkan kembali ketenangannya, namun tangannya tetap bergetar saat menyentuh pintu kaca lobi. Saat lift membawanya meluncur cepat menuju lantai paling atas, sebuah pesan masuk ke ponselnya dari nomor yang tidak dikenal. “Jangan biarkan aku menunggu, Valerie. Aku benci wanita yang tidak tepat janji.” Pintu lift terbuka dengan dentingan halus. Valerie melangkah keluar, dan pemandangan yang menyambutnya di ruang kerja Arka jauh lebih mengejutkan daripada yang ia bayangkan. Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh lampu kota dari balik jendela, dan Arka sedang duduk di kursi kebesarannya dengan satu botol sampanye yang sudah terbuka, menunggunya dengan tatapan yang sangat... lapar. Apa yang sudah disiapkan Arka di dalam ruangannya untuk menyambut sang Ratu Es? Dan apakah Valerie sanggup menolak "perjanjian" gelap yang akan ditawarkan Arka demi menutupi rahasia keluarganya?Kehampaan di titik nol bergetar hebat saat pilar cahaya emas dari arah Bumi menghantam pusat nebula hitam yang menjadi tubuh Sang Penunggu Awal. Cahaya itu membawa esensi Valerie, sang Katalisator, yang telah mengorbankan stabilitas raganya di Bumi untuk memproyeksikan kehadirannya melintasi jutaan mil ruang angkasa. Pilar itu bukan hanya energi mentah; itu adalah jembatan jiwa yang menghubungkan Arka, Valerie, dan Malakor menjadi satu kesatuan frekuensi yang belum pernah ada dalam sejarah penciptaan. Malakor merasakan aliran kekuatan yang tak terbayangkan masuk ke dalam nadinya. Rasa sakit dari kulitnya yang terkelupas akibat melipat ruang seketika hilang, digantikan oleh sensasi mahakuasa. Di sampingnya, tubuh Arka yang sempat membeku menjadi kristal hitam mulai mencair. Kegelapan Void di dalam diri Arka mendadak menjadi tenang, tunduk pada resonansi Trinity yang dibawa oleh Valerie. Arka bangkit berdiri, napasnya yang berat kini berasap ungu. Ia menatap
Ruang laboratorium bawah tanah itu dipenuhi oleh uap dingin dari cairan stasis yang tumpah di lantai. Arka Adiwangsa berdiri dengan raga barunya, merasakan beratnya gravitasi Bumi yang sudah dua dekade tidak ia rasakan. Meskipun ia baru saja kembali ke wujud manusia, aura dominasinya tidak berkurang sedikit pun. Di sampingnya, Valerie sedang menyesuaikan diri dengan detak jantungnya sendiri, tangannya masih menggenggam erat lengan Malakor. Reuni keluarga ini seharusnya menjadi momen penuh haru, namun getaran di bawah telapak kaki mereka menceritakan kisah yang berbeda.Arka menatap Malakor dengan tatapan yang sulit diartikan antara bangga dan waspada. Kau berani mengambil risiko besar dengan menarik kami kembali, Malakor. Kau tahu apa yang terjadi j
Tiga hari adalah waktu yang sangat singkat bagi sebuah peradaban untuk bersiap menghadapi kiamat, namun bagi Malakor Adiwangsa, tiga hari adalah keabadian yang harus ia manfaatkan untuk mengukuhkan kedaulatannya. Di dalam ruang kerja ayahnya yang kini telah ia bersihkan dari sisa sisa energi Lilith, Malakor menatap layar monitor yang menampilkan file Proyek Reinkarnasi Kedua. Data di dalamnya bukan sekadar instruksi biologis, melainkan sebuah algoritma pemindahan kesadaran dimensi tinggi kembali ke dalam materi organik.Arka Adiwangsa ternyata tidak pernah berniat membiarkan Valerie dan dirinya sendiri terjebak di singgasana ketiadaan selamanya. Ia telah membangun jalan pulang, namun harga yang harus dibayar adalah pengorbanan seluruh cadangan energi Void yang
Lift berkecepatan tinggi meluncur turun menuju kedalaman seribu meter di bawah permukaan tanah Jakarta, menuju sebuah sektor yang bahkan tidak tercatat dalam cetak biru resmi Adiwangsa Tech. Sektor itu disebut sebagai Lab Sembilan, sebuah tempat yang dibangun Arka Adiwangsa untuk menyimpan kegagalan kegagalan penciptaan yang terlalu berbahaya untuk dimusnahkan. Di dalam lift yang sempit itu, Malakor berdiri diam, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Arion berada di sampingnya, mengenakan zirah cadangan yang masih dialiri energi perak, meski napasnya masih terasa berat akibat luka sebelumnya. Tuan Muda, jika apa yang dikatakan Gerry benar, Lilith tidak hanya ingin membangkitkan monster biasa, ucap Arion. Dia mencari raga. Sebuah wadah
Kemenangan atas Galactic Collectors seharusnya membawa ketenangan bagi penduduk Bumi, namun bagi Malakor Adiwangsa, aroma kemenangan itu terasa amis oleh firasat buruk. Setelah serangan di atmosfer berakhir, Malakor kembali ke kantor pribadi ayahnya di puncak gedung Adiwangsa Tech. Ruangan itu telah disegel selama dua puluh tahun, hanya bisa dibuka oleh seseorang yang memiliki frekuensi biologis yang identik dengan sang pemilik asli.Begitu pintu geser logam itu terbuka, Malakor merasakan tekanan udara yang aneh. Suhu di dalam ruangan sangat dingin, namun bukan dinginnya es Himalaya, melainkan dingin yang hampa, seolah-olah oksigen di tempat itu telah dihisap oleh sesuatu yang tidak terlihat. Arion, yang selalu waspada di belakang Malakor, segera menghunus ped
Pesawat siluman yang membawa Malakor dan Arion meninggalkan puncak Himalaya yang membeku, meluncur menembus awan tebal menuju markas besar Adiwangsa Tech di Jakarta. Namun, pemandangan dari jendela kokpit tidak lagi menampilkan langit biru yang jernih. Di atas atmosfer, bintik bintik perak raksasa mulai terlihat melalui sensor optik pesawat. Itu bukan satelit, dan bukan pula sampah luar angkasa. Itu adalah armada kapal induk milik Galactic Collectors, entitas pengumpul sumber daya yang telah mengincar Bumi sejak jatuhnya para Arsitek.Malakor menatap layar hologram yang menampilkan analisis data dari Gerry. Kapal kapal itu memiliki panjang ribuan kilometer, ditenagai oleh mesin penghisap inti planet. Mereka tidak datang untuk menjajah atau berkomunikasi; merek
Pesawat siluman yang membawa Malakor dan Arion membelah badai salju di atas pegunungan Himalaya dengan
Malam di Jakarta tidak pernah terasa sesunyi ini. Meskipun lampu-lampu kota masih berpijar, ada frekuen
Jakarta terbangun dalam keadaan bingung. Berita tentang ledakan di pinggiran kota yang meratakan sebuah
Dimensi Ketiadaan bergetar hebat saat Valerie mulai memanipulasi jalinan cahaya Trinity miliknya. Arka







