Compartir

Bab 163

Autor: Millanova
last update Última actualización: 2026-01-17 22:28:04

Siang harinya, di Kantor Adhiguna.

Arka baru saja selesai meeting internal. Dia memanggil Anton ke ruangannya.

"Ton, kosongkan jadwalku hari Sabtu depan. Kita akan adakan acara tujuh bulanan di rumah."

"Siap, Tuan. Apa perlu saya hubungi Event Organizer langganan?"

"Hubungi EO untuk dekorasi dan tenda saja. Untuk susunan acara adat, Bu Ratih yang mau pegang kendali. Pastikan EO-nya bisa diajak kerjasama sama orang tua, jangan yang sok tahu," pesan Arka detail.

Saat mereka sedang berdiskusi, pin
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 264

    Udara dingin ruangan kembali merayap di antara mereka. Arka mundur sedikit, tangannya turun dari punggung Nia, bertumpu di lutut. Di ruang kedap suara ini, tiba-tiba hanya ada suara jarum jam di dinding tik, tok, tik berbarengan dengan degup jantungnya sendiri yang mulai tidak karuan.Arka menatap Nia. Lama.Lalu matanya berubah.Nia kenal perubahan itu. Biasanya tatapan itu muncul saat Arka sedang menganalisis lawan bisnis, mencari kelemahan, menyusun strategi. Tapi sekarang tatapan itu diarahkan ke dirinya. Dan itu membuat dadanya sesak."Nia."Suara Arka serak. Dingin."Kamu memang sudah merencanakannya dari awal, ya?"Nia membeku."Mas ""Jawab." Arka mencondongkan badan, matanya menuntut. Tapi di balik tuntutan itu, ada sesuatu yang lain sesuatu yang rapuh, yang mencoba bersembunyi. "Waktu kamu pertama kali masuk rumah ini... waktu kamu bawain aku kopi tiap malam... waktu kamu dengerin aku cerita soal pernikahan yang berantakan... itu semua bagian dari rencana kamu buat hancurin

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 263

    Suara Nia memecah ketegangan yang masih menggantung. Dari anak tangga terakhir, ia setengah berlari menghampiri ibunya. Wajahnya yang baru selesai mandi terlihat segar, kontras dengan perasaan Arka dan ibu mertuanya yang masih kacau."Kejutan dong, Nduk." Ibunya memaksakan senyum selebar mungkin. "Ibu semalem kangen banget sama Amara, jadinya subuh-subuh langsung berangkat naik kereta.""Ya ampun, Bu... Harusnya telepon Mas Arka, biar dijemput sopir." Nia merajuk, menyandarkan dagu di bahu ibunya.Arka masih berdiri di dekat meja kaca. Ia melihat ibu mertuanya meliriknya sekilas tatapan yang memohon agar ia diam. Arka mengangguk pelan."Nggak apa-apa, Ibu masih kuat jalan kok." Wanita itu mengusap punggung Nia. "Kamu udah sarapan? Sana temani suamimu dulu. Ibu mau istirahat sebentar di kamar ya, pinggang Ibu pegal habis duduk lama.""Iya, Bu. Biar Nia antar." Nia mengambil tas ibunya, menuntun wanita itu menuju kamar tamu.Arka mematung. Ia menunggu sampai pintu kamar tertutup. Begitu

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 262

    "Eyang Uti datang!"Jeritan Amara memecah kesunyian pagi. Dari ruang keluarga, gadis kecil itu berlari sekencang kaki mungilnya, piyama kelincinya berkibar. Tangannya terentang.Ibunda Nia baru saja melangkah masuk. Begitu melihat Amara, wajahnya langsung berseri."Aduh, cucu Eyang..." Ia berjongkok, menangkap tubuh mungil itu. Diciumnya pipi Amara berkali-kali sampai gadis kecil itu terkikik geli. "Udah mandi belum, sayang?""Belum! Amara mau nunggu Eyang Uti dulu!"Arka berdiri di ambang pintu ruang makan, cangkir kopi di tangan. Ia tersenyum tipis. Pemandangan ini seperti oase."Ibu kok nggak bilang mau datang? Tahu gitu Arka jemput," sapa Arka, mendekat dan mencium punggung tangan ibu mertuanya."Nggak usah repot." Wanita itu tersenyum teduh. "Ibu naik kereta pagi. Kemarin malam kangen banget sama Amara, sampe nggak bisa tidur. Ya udah, berangkat aja pagi-pagi.""Nia lagi mandi, Bu. Sebentar lagi turun.""Udah, udah, Ibu duduk sini aja." Ibunda Nia melangkah ke sofa ruang tamu.Ar

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 261

    Hujan masih deras.Di dalam mobil, sunyi. Hanya suara tetesan air menghantam kaca dan gerakan wiper yang berirama ke kiri, ke kanan, ke kiri, ke kanan. Lampu jalanan kawasan Menteng memendar jingga, menerabas kabut tipis di kaca depan, tapi pandangan Arka tetap lurus. Menembus gelap.Tangannya mencengkeram setir. Terlalu erat.Di kursi penumpang, Nia diam-diam memperhatikannya. Cahaya lampu jalan yang melintas sebentar-sebentar menyinari wajah suaminya. Tegang. Lelaki ini jarang terlihat seperti ini."Mas..." panggilnya pelan.Arka tidak menjawab. Napasnya panjang, berat, seperti baru sadar kalau dua jam terakhir ia menahan napas."Aku hampir saja..." Suaranya serak, putus di tengah.Nia menunggu."Aku lihat wajah Tante Maya. Senyumnya. Matanya yang berbinar pas lihat Bella." Arka menggeleng pelan. "Rasanya aku pengen banting piring dan teriak, 'Dia nipu kita semua, Tante!'"Tangan Nia meraih lengan Arka. Hangat."Tapi kamu tidak melakukan itu, Mas. Kamu malah mengalihkan situasi pas

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 260

    "Kalian lihat kan betapa cantiknya calon menantuku ini?"Arka mengangkat wajah dari piringnya. Suara Tante Maya terdengar seperti nyanyian lembut, penuh syukur. Di ujung meja, Bella tersipu. Lampu kristal di atas meja makan memantulkan cahaya keemasan, membuat gaun putih tulang yang dikenakan Bella seolah bercahaya."Tante rasanya tidak sabar menunggu hari Minggu nanti," lanjut Tante Maya. "Rasanya seperti mimpi melihat Dimas akhirnya menemukan pelabuhan hatinya."Arka tersenyum. Hanya senyum sopan. Matanya tidak ikut tersenyum.Di bawah meja, tangannya mengepal.Lima hari lagi. Hujan gerimis di luar membasahi jendela-jendela besar rumah Menteng ini. Suara tetesan air bercampur denting lembut sendok di piring porselen menciptakan irama yang anehnya terasa seperti iringan pemakaman."Ah, Mama bisa saja." Suara Bella mengalir merdu. "Bella biasa saja kok, Ma. Justru Bella yang merasa seperti mimpi karena keluarga Barata mau menerima gadis biasa seperti Bella dengan tangan terbuka."Arka

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 259

    "Oh ya? Makan apa?""Tadi Kak Arka pesan bento dari restoran Jepang langganannya. Porsinya besar banget, sampai perutku rasanya mau meledak." Dimas menepuk perut, terkekeh. "Aku benar-benar nggak muat lagi kalau harus makan sekarang. Maaf ya, Sayang? Padahal aku pengen banget makan masakan kamu.""Benar." Arka mengangguk tegas. "Kami kebetulan sedang rapat intensif sambil makan siang. Perut saya juga sudah penuh. Mungkin kamu bisa membawanya pulang, Bella.""Yah..." Bella mengerucut. Wajahnya berubah dramatis. "Padahal aku udah bela-belain masak... Aku pikir kalian belum makan.""Jangan sedih dong." Dimas merangkul bahu Bella. Tangannya mengusap lengan wanita itu kaku di awal, lalu meluwes. Arka tahu persis apa yang terjadi di balik sentuhan itu. Keringat dingin merembes di punggung Dimas. "Makanannya nggak akan kebuang, kok. Aku simpen di pantry ya? Nanti sore kalau aku udah agak lapar, pasti aku habisin. Janji, deh."Wajah Bella kembali cerah. Arka melihat egonya mengembang lagi."B

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status