LOGINSuara napas yang memburu dan erangan tertahan memenuhi ruang bawah tanah yang pengap itu.Arka berdiri tegak di tengah ruangan. Ia memandangi keempat sosok berpakaian mewah yang kini berlutut tak berdaya di atas lantai semen yang dingin, kedua tangan mereka terikat erat oleh cable ties di belakang punggung.Darah masih mengering di sudut bibir Arka, dan tubuhnya yang dibalut pakaian kuli usang itu terasa nyeri akibat pukulan bertubi-tubi sebelumnya. Namun, saat menatap Arya, Maya, Dimas, dan Clara yang kini menatapnya dengan campuran antara teror dan ketidakpercayaan, seulas senyum kepuasan perlahan terukir di wajah Arka.Itu adalah senyum seorang raja yang baru saja merebut kembali kerajaannya dari para pengkhianat."Ternyata benar dugaanku tentang skenario paling busuk yang akan terjadi," suara bariton Arka memecah keheningan yang mencekam. Ia melangkah perlahan, mengitari keempat tawanannya layaknya predator yang sedang mengamati mangsanya. "Instingku memang tidak pernah salah."Ar
Dentang keras baja yang beradu dengan besi solid membelah udara bunker.Bunyinya begitu tajam hingga ngilunya merambat ke dasar gigi. Bunga api keemasan memercik liar di udara selama sepersekian detik, menerangi wajah-wajah di sekeliling kursi eksekusi itu.Namun, tidak ada cipratan darah yang menodai lantai semen. Tidak ada jeritan daging yang terkoyak, apalagi raungan kesakitan.Alih-alih pergelangan tangan Arka yang terputus, satu-satunya benda yang jatuh menghantam lantai adalah dua potong tali nilon cable ties hitam yang terbelah dua dengan potongan yang terlampau rapi. Ayunan golok Victor yang dari luar terlihat dipenuhi niat membunuh ternyata dikalkulasi dengan presisi tingkat milimeter untuk satu tujuan tunggal: membebaskan targetnya.Keheningan yang sangat pekat dan ganjil langsung menyergap ruangan itu.Clara, Arya, Maya, dan Dimas membeku layaknya patung lilin. Otak mereka, yang sudah terprogram untuk melihat pertumpahan darah, mendadak mengalami korsleting. Ada jeda sekita
Cahaya lampu LED berkekuatan tinggi di langit-langit bunker menyala terang benderang, menciptakan nuansa klinis yang membekukan darah. Sinar putihnya memantul tajam dari atas permukaan meja baja nirkarat di sebelah kanan Arka.Di atas meja itu, persiapan untuk sebuah eksekusi telah ditata dengan terlampau rapi. Sebuah nampan perak kosong berukuran sedang disiapkan bersisian dengan tumpukan handuk putih tebal, sebotol cairan antiseptik, dan seutas karet tourniquet medis untuk menghentikan pendarahan. Itu bukan peralatan interogasi; itu adalah instrumen bedah darurat untuk memastikan Arka tidak mati kehabisan darah sebelum matanya dicungkil keluar.Suara ketukan hak sepatu stiletto memecah keheningan yang menyesakkan tersebut. Clara melangkah maju. Langkahnya pelan, berirama angkuh, menggema di dinding-dinding beton. Ia berhenti tepat di depan Arka, mengembuskan napas hingga aroma parfum Chanel No. 5 miliknya mengudara, bertabrakan secara ganjil dengan bau karat dan debu semen di bunker
Mobil kabin ganda itu akhirnya berhenti setelah perjalanan panjang yang mengocok perut.Di balik kain hitam pekat yang menutup matanya, Arka merasakan perubahan udara yang drastis. Hawa dingin menusuk tulang, membawa aroma semen basah, karat, dan samar-samar, jejak asap cerutu Cohiba.Suara pintu geser besi berderit berat, menggema di ruang yang terasa sangat luas.Pintu mobil ditarik kasar. Tangan Victor mencengkeram kerah bajunya, menyeret Arka keluar tanpa ampun. Sepatu bot usangnya terseret di atas lantai beton. Lebam di rusuknya berdenyut hebat akibat bantingan tadi, namun Arka mengunci rahangnya. Tak ada satu pun rintihan yang lolos.Tubuhnya didorong keras hingga terjerembap ke sebuah kursi besi. Victor bekerja dengan efisiensi mesin; melilitkan tambang kasar melingkari dada dan kaki Arka, menguncinya mati pada rangka kursi.Arka mematung. Ia menajamkan pendengaran.Denting gelas kristal yang saling beradu memecah keheningan, disusul tawa pelan. Bukan tawa menggelegar, melainka
"Bawa dia masuk, Vic. Tinggalkan saja perempuan dungu itu di tanah."Suara Dimas terdengar sedingin lantai beton, menyayat udara malam yang sudah dipenuhi jeritan serak Nia. Tidak ada kemarahan yang meluap-luap dari intonasinya, hanya sekadar rasa muak yang pekat seakan ia baru saja menginjak bangkai hewan dan ingin segera membersihkan sepatunya.Victor, sang algojo berbadan tegap itu, tidak membuang sedetik pun. Tarikan kasarnya di kerah kaus membuat Arka terhuyung mundur, nyaris kehilangan keseimbangan. Tangan Victor yang besar dan kapalan mencengkeram kedua lengan Arka, memelintirnya ke belakang dengan sudut yang menyakitkan. Bunyi krek pelan dari sendi bahu Arka terdengar samar, disusul jeratan cable ties berbahan nilon tebal yang langsung mengikat dan menggores pergelangan tangannya hingga berdarah.Di tengah dengung tajam di telinganya akibat hantaman pelinggis beberapa menit lalu, Arka masih bisa mendengar isak tangis Nia. Suara perempuan yang selalu menatapnya dengan penuh har
Tali cable ties berbahan nilon tebal itu berderit keras, mengunci pergelangan tangan Arka di belakang punggung.Victor menarik kerah belakang kaus usang Arka dengan tenaga kasarnya, memaksa pria yang babak belur itu berdiri bersusah payah. Darah segar menetes dari sudut bibir Arka, menodai karpet merah di bawah kaki mereka.Melihat suaminya diseret bak binatang buruan, pertahanan mental Nyonya Adhiguna yang sedari tadi dijaga mati-matian akhirnya runtuh total. Logika, perhitungan dingin, dan rasa takut menguap, digantikan oleh insting murni seorang istri yang menolak melihat dunianya dihancurkan untuk kedua kalinya.Nia melepaskan gagang pisau daging yang sejak tadi disembunyikan di balik celemeknya, membiarkannya tergeletak di atas meja. Ia menendang kursi plastik yang menghalanginya dan berlari keluar dari area prasmanan."Tidak! Jangan bawa suamiku ke mana-mana!"Jeritan Nia melengking tinggi, membelah udara siang pegunungan yang tegang. Tidak ada lagi logat Sunda yang kental. Tida
Hujan rintik-rintik mengguyur halaman belakang rumah Arka, menciptakan irama yang menenangkan di atas daun-daun tanaman hias. Aroma tanah basah menguar, bercampur dengan aroma gurih yang baru saja dibawa Nia dari dapur.Arka duduk di kursi rotan, melonggarkan dasinya setelah seharian bekerja di kan
Satu Tahun Kemudian. Ruang Keluarga Kediaman Adhiguna."Tante Bella! Tante Bella! Liat nih, Ama bisa gambar kuda!"Suara cempreng Amara memenuhi ruang tengah yang luas itu. Gadis kecil yang kini berusia tiga tahun itu berlari tertatih-tatih membawa kertas gambar, lalu melompat ke pangkuan Bella yan
"Mustahil, Ton. Ini bukan sekadar kalah strategi. Ini perampokan di siang bolong. Angka penawaran mereka akurat sampai ke desimal. Selisihnya cuma nol koma sembilan puluh delapan persen di bawah kita. Mereka tahu bottom price saya.""Bapak sudah periksa Pak Haryo? Mungkin dia sedang terjerat utang
Matahari mulai condong ke barat, memandikan hamparan sawah hijau di depan rumah Joglo dengan cahaya keemasan yang hangat. Angin sore berhembus pelan, menerbangkan ujung selendang kebaya Nia dan Tante Maya.Acara lamaran yang berjalan khidmat dan penuh kejutan budaya itu ditutup dengan sesi foto ber







