Share

Bab 336

Author: Millanova
last update publish date: 2026-04-05 21:58:32

"Bawa dia masuk, Vic. Tinggalkan saja perempuan dungu itu di tanah."

Suara Dimas terdengar sedingin lantai beton, menyayat udara malam yang sudah dipenuhi jeritan serak Nia. Tidak ada kemarahan yang meluap-luap dari intonasinya, hanya sekadar rasa muak yang pekat seakan ia baru saja menginjak bangkai hewan dan ingin segera membersihkan sepatunya.

Victor, sang algojo berbadan tegap itu, tidak membuang sedetik pun. Tarikan kasarnya di kerah kaus membuat Arka terhuyung mundur, nyaris kehilangan ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 336

    "Bawa dia masuk, Vic. Tinggalkan saja perempuan dungu itu di tanah."Suara Dimas terdengar sedingin lantai beton, menyayat udara malam yang sudah dipenuhi jeritan serak Nia. Tidak ada kemarahan yang meluap-luap dari intonasinya, hanya sekadar rasa muak yang pekat seakan ia baru saja menginjak bangkai hewan dan ingin segera membersihkan sepatunya.Victor, sang algojo berbadan tegap itu, tidak membuang sedetik pun. Tarikan kasarnya di kerah kaus membuat Arka terhuyung mundur, nyaris kehilangan keseimbangan. Tangan Victor yang besar dan kapalan mencengkeram kedua lengan Arka, memelintirnya ke belakang dengan sudut yang menyakitkan. Bunyi krek pelan dari sendi bahu Arka terdengar samar, disusul jeratan cable ties berbahan nilon tebal yang langsung mengikat dan menggores pergelangan tangannya hingga berdarah.Di tengah dengung tajam di telinganya akibat hantaman pelinggis beberapa menit lalu, Arka masih bisa mendengar isak tangis Nia. Suara perempuan yang selalu menatapnya dengan penuh har

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 335

    Tali cable ties berbahan nilon tebal itu berderit keras, mengunci pergelangan tangan Arka di belakang punggung.Victor menarik kerah belakang kaus usang Arka dengan tenaga kasarnya, memaksa pria yang babak belur itu berdiri bersusah payah. Darah segar menetes dari sudut bibir Arka, menodai karpet merah di bawah kaki mereka.Melihat suaminya diseret bak binatang buruan, pertahanan mental Nyonya Adhiguna yang sedari tadi dijaga mati-matian akhirnya runtuh total. Logika, perhitungan dingin, dan rasa takut menguap, digantikan oleh insting murni seorang istri yang menolak melihat dunianya dihancurkan untuk kedua kalinya.Nia melepaskan gagang pisau daging yang sejak tadi disembunyikan di balik celemeknya, membiarkannya tergeletak di atas meja. Ia menendang kursi plastik yang menghalanginya dan berlari keluar dari area prasmanan."Tidak! Jangan bawa suamiku ke mana-mana!"Jeritan Nia melengking tinggi, membelah udara siang pegunungan yang tegang. Tidak ada lagi logat Sunda yang kental. Tida

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 334

    Moncong baja Glock 19 menekan pelipis kanan Arka, mengantarkan hawa dingin yang kontras dengan peluhnya.Waktu seakan membeku. Di bawah tenda itu, hanya desah napas Victor dan bunyi pelatuk yang menegang yang memecah keheningan.Insting purba Arka meronta, mendesaknya untuk mematahkan leher Dimas sekarang juga sebelum peluru meletus. Namun, bayangan Gendhis berkelebat. Diikuti tatapan Nia yang berdiri tak jauh dari sana. Jika isi kepalanya berceceran di karpet ini, keluarganya tak lagi punya pelindung.Rahang Arka mengeras. Perlahan, otot lengannya yang sekaku beton mulai mengendur. Kuncian maut itu terlepas.Dimas langsung ambruk ke atas karpet merah. Ia meringkuk sambil memegangi lehernya yang kini dihiasi cetakan jari kemerahan. Suara batuknya terdengar menyiksa, diselingi bunyi tarikan napas kasar dan serakah saat paru-parunya kembali meraup oksigen.Tanpa membuang detik, Victor menendang lipatan lutut Arka dari belakang. Sang Mastermind terpaksa jatuh berlutut."Jangan bergerak,"

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 333

    "...Karena hantu... tidak akan bisa melindungi putri kecilnya dari monster yang sebenarnya."Kalimat itu meluncur dari bibir Dimas, rendah, nyaris seperti bisikan, namun ditutup oleh tarikan senyum miring yang meremehkan. Di kepalanya, kalimat itu adalah skakmat. Sebuah gertakan pamungkas yang ia yakini akan membuat pria di hadapannya menciut, menelan ludah, dan menunduk dalam diam demi menjaga penyamarannya tetap aman.Dimas salah perhitungan.Dua kata itu—"putri kecilnya"—memotong habis tali kendali yang sudah mati-matian dijaga Arka selama bertahun-tahun. Topeng 'Rudi' si tukang servis lusuh retak, lalu hancur tak bersisa. Di detik itu juga, sosok Arka Adhiguna mengambil alih, merangkak naik ke permukaan membawa amarah murni yang membekukan.Prang!Nampan perak yang menyangga tumpukan piring kotor merosot dari cengkeraman Arka, menghantam lantai berbatu. Pecahan keramik dan porselen berhamburan ke segala arah, bunyinya merobek dengung pidato membosankan yang sedari tadi mengalun da

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 332

    "Ba-baik, Tuan Bos... hampura... hampura abdi, Tuan. Teu dihaja..."Suara itu keluar dari tenggorokan Arka dengan getaran yang meyakinkan. Ia menjepit pita suaranya sendiri hingga menghasilkan nada parau melengking suara khas pria kecil yang ketakutan setengah mati di hadapan penguasanya.Bahunya diturunkan, punggung dibungkukkan hingga ia tampak sepuluh sentimeter lebih pendek. Arka buru-buru merogoh saku celana komprangnya. Dikeluarkannya sehelai lap kain kusam penuh noda kecap, lalu tangannya terulang ke atas meja berlapis taplak putih itu.Arka tidak sekadar berakting. Ia menjadi. Jari-jari kasarnya mulai bergetar hebat tremor pura-pura yang nyaris sempurna. Ia mengelap tumpahan kopi dengan gerakan panik dan kikuk, sengaja menyenggol pinggiran piring kecil hingga berbunyi cling keras."Aduh, hampura, Bos. Leungeun abdi ngeleper, duka teuing kunaon. Panginten can sarapan," celoteh Arka sambil terus mengelap meja, kepalanya menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata pria berpakai

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 331

    "Teh Lastri! Cilaka!"Gebrakan keras di meja kayu membuat Nia tersentak. Mandor Haris berdiri di depan warung dengan napas memburu. Helm proyeknya miring dan seragamnya basah kuyup oleh keringat.Di sudut warung, Arka menghentikan putaran obengnya pada kipas angin rusak. Instingnya langsung awas."Ada apa, Pak Mandor? Pucat amat," tanya Nia. Ia menyodorkan gelas teh tawar hangat, menjaga intonasi suaranya tetap seperti ibu warung yang keheranan.Haris menenggak teh itu sampai tandas, lalu mengusap wajahnya kasar. "Katering VIP dari hotel Cianjur kecelakaan di tikungan Puncak. Mobilnya guling, makanannya hancur semua. Padahal sejam lagi acara groundbreaking mulai. Bos-bos Jakarta sama Singapura udah di jalan!"Nia mengerjapkan mata. "Terus... apa hubungannya sama warung saya, Pak?""Mister Victor yang nyuruh saya ke mari," Haris menatap Nia memelas. "Mister bilang bos Jakarta lumayan penasaran sama masakan lokal di sini. Tolong banget, Teh. Teteh yang handle meja VIP siang ini. Geco, a

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 237

    Tok. Tok.Suara ketukan di pintu terdengar ringan, tidak seberat beban di dada Arka."Masuk," perintah Arka, suaranya parau.Pintu terbuka. Arka sudah bersiap menghadapi wajah manis Bella yang penuh kepalsuan. Dia sudah menyusun kalimat interogasi di kepalanya. Dia sudah siap meledak.Namun, yang m

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 235

    Hujan deras mengguyur atap villa, menciptakan tirai suara alami yang mengisolasi kamar utama dari dunia luar. Di balik jendela kaca besar yang berembun, hutan pinus hanya terlihat sebagai bayangan hitam yang bergoyang diterpa angin.Di dalam, suhu ruangan hangat dan temaram. Lampu tidur di sisi ran

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 233

    Udara Puncak sore itu turun dengan cepat, membawa kabut tipis yang menyelimuti hutan pinus di sekitar villa pribadi milik Arka. Namun, dinginnya udara luar kontras dengan hangatnya suasana di area kolam renang air hangat (heated pool) yang terletak di membelakangi lembah hijau.Liburan singkat ini

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 246

    "Bella!"Teriakan Dimas menggema di ballroom yang sunyi senyap itu. Dengan gerakan refleks yang cepat, Dimas sudah berlutut di samping tunangannya, menahan tubuh Bella yang terduduku lemas di anak tangga marmer.Wajah Bella pucat, matanya berkaca-kaca menahan sakit. Ia memegangi pergelangan kakinya

    last updateLast Updated : 2026-04-01
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status