Home / Romansa / Sentuhan Pria Dewasa / Chapter 5 Andai Narine Punya Pacar

Share

Chapter 5 Andai Narine Punya Pacar

Author: Polcaa
last update publish date: 2025-10-29 15:25:58

Malamnya. Apartemen Narine.

"NARINE ALDIRA!!!"

Pintu belum sempat tertutup sempurna, Maya sudah menerobos masuk dengan ekspresi horor. "GILA LU TENANG BANGET DI KANTOR TADI!! GUE SAMPE PENGEN TABOK SATU-SATU KARYAWAN JULID DISITU!!"

"Ck lo bisa gak ngomong nya biasa aja, gak usah teriak teriak"

"ADA YANG BILANGIN GUE GINI, 'Oh kasian ya temen kamu. Baru sebulan kerja udah ketauan jadi pelakor'. SUMPAH PENGEN GUE MASUKIN KE PAPER SHREDDER KEPALANYA."

Narine menghela napas. "Masuk dulu. Jangan mangap di depan pintu kayak mau jual asuransi."

"INI BUKAN WAKTUNYA LU SANTAI."

"Gue nggak santai. Gue cuma nggak panik."

Maya masuk, menjatuhkan tas ke sofa. "Mana Thor?"

"Dia lagi di jalan ke sini."

"GOOD. Gue mau interogasi dia."

"Heh, jangan bikin sepupu gue stress."

"Dia bikin lu difitnah jadi simpenan."

"Itu bukan salah dia."

"Ya tapi fotonya"

Tiba-tiba interkom apartemen berbunyi. Itu Thor.


Thor baru masuk, langsung disambit bantal sofa oleh Maya.

"ELU NIH PENYEBABNYA!!!"

"OWH HEI SABAR SABAR"

"KENAPA LU PELUK NARINE MALAM-MALAM DI PARKIRAN?!"

"Itu efek angel kamera ya anjing!!"

"MASAA!"

"Orang bini gue dalem mobil kok!!"

"ALASAN!!!"

"BENERAN!!"

Narine memijit pelipis. "Udah cukup belum gelutnya?"

Maya dan Thor masih berdebat seperti anak TK rebutan permen. Lalu Thor duduk, lebih serius.

"Oke," katanya menatap Narine, "kita harus cari siapa yang nyebarin."

"Lu tau?"

"Yang bisa dapet foto kita cuma dua orang kantor, atau orang yang ngikutin gue sejak gue pulang dari meeting itu."

"Lu ada masalah kerjaan akhir-akhir ini?" tanya Narine.

Thor berpikir. "Ada satu investor yang gue tolak kemarin. Dia maksa. Nggak gue ambil dealnya."

"Kenapa?"

"F*e-nya gede, tapi project-nya kotor."

"Oke," Maya ikut nimbrung, "jadi kita dealing sama orang yang pake cara licik buat ngejatuhin orang?"

Thor angkat bahu. "Kayaknya begitu."

Maya menggeram. "SIAPA NAMANYA? GUE CARI ALAMATNYA. GUE BAKAR RUMAHNYA."

Thor dan Narine serempak menghela nafas melihat tingkah manusia satu ini.

Thor menatap Narine. "Lu baik-baik aja? Di kantor gimana?"

"Gimana bisa baik-baik aja coba, gosipnya gue sipenan pria beristri"

Thor malah terkekeh geli mendengarnya "Si Rajan tau gak?"

Narine hanya menggelengkan kepala sambil menyenderkan tubuhnya di kursi.

****

POV NARINE

*Thor udah pulang

"Gue beliin es kopi, roti, dan cemilan. Gue juga siap jadi psycho kalo perlu," katanya santai.

"Gue nggak butuh psycho."

"Maksud lo belum butuh psycho. Tapi udah butuh orang yang siap ngamuk buat lo kalau perlu."

Gue buang blazer gue ke kursi. Gue jelepokin diri ke sofa.

"Gue tahu siapa Thor. Orang doang yang nggak punya edukasi yang mikir lo jadi simpenan dia."

"Emang disebarnya ke siapa aja fotonya?"

Maya nggeser HP-nya, nyodorin ke gue. Dan gue nyaris pengen ngelempar HP itu keluar balkon. Karena gue kesel banget, gue gak pelukan dan itu cuma efek angel kamera nya ya Tuhan. 

"Gila ya," gue bilang pelan.

"Ini kriminalitas reputasi."

"Mana ada istilah itu?"

"Sekarang ada."

Gue ketawa hambar. Maya serius banget, tapi gaya ngelawak dia memang penyelamat mood.

"Gue laporin nggak ya?" gue nanya lirih.

"Kalau lo laporin, itu perang. Dan di kantor mulai besok, semua orang bakal makin yakin lo guilty. Lo tahu kan mainan orang kantor?"

"Tau."

Maya naruh HP-nya, bersandar, lalu menatap gue.

"Na, lo kuat?"

"Kayaknya."

"Yang bener."

Gue diem. Beberapa detik.

"Gue bukan tipe yang gampang kedistract. Tapi gue jijik diginiin."

"Bagus." Maya ngangguk. "Karena bukan lo yang harus malu. Yang harus malu itu mereka yang percaya gosip murahan."

Gue tarik napas. HP gue tiba-tiba bergetar. Nama yang muncul di layar bikin gue ngucek mata.

Rajan.

"Ya, Tuhan. Serius? Dia nelfon?" Maya melotot.

"Kalau gue angkat jangan teriak-teriak," gue tekan loudspeaker.

Maya langsung memperbaiki posisi duduk kayak mau ikut sidang penting.

Gue angkat panggilannya. "Halo."

"Lu oke?" suara Rajan langsung to the point, dalam dan khawatir.

"Gue hidup."

"Gue lagi luar kota. Baru dapet berita."

"Gue kira lo udah tau duluan malah," gue jawab santai.

"Gue tau lima belas menit lalu dan gue langsung telepon lu. Thor mana?"

"Entahlah, mungkin lagi ngetawain kebodohan orang-orang."

"Gue bakal ke Jakarta besok pagi."

"Nggak us-"

"Gue bilang gue ke Jakarta berarti gue ke Jakarta."

"Serah deh"

Maya melirik gue sambil berbisik, "Gue suka kakak lo."

Gue lempar tatapan membunuh ke Maya.

"Fine," gue jawab ke Rajan. "Tapi jangan bikin heboh. Gue kerja di perusahaan orang."

"Gue nggak sebeda itu sama Thor," Rajan bilang, nada suaranya datar tapi sinis.

"Ya, kalian sepupu. Kalian semua punya bakat nyebelin."

"Gue cabut. Kalo lo butuh sesuatu, telpon gue. Jangan nahan."

Panggilan selesai.

Maya nyeletuk, "Gue udah bilang, Rajan itu tipe suamiable."

"Heh jangan sama Rajan, dia masih gamon sama mantan nya."

"Abang lo tuh udah mah cakep, care lagi"

"Gak butuh gue"

"Tapi kadang orang butuh orang yang bisa gebukin dunia buat dia."

"Gue nggak butuh orang begitu."

Maya cengar. "Yaudah sok kuat aja."

"Tapi Na kalau lo punya pacar sih gak akan seribet ini" lanjut Maya dengan serius.

'Maya kaget gak ya kalau tiba-tiba gue go pub sama pak Arkana, ya meskipun cuma pura-pura'

Maya menyipitkan mata nya curiga,"Jangan bilang lo masih perawan wkwkk"

"Yeuuu pikiran lu jomok mulu, dah ah tidur kita besok ngantor"

Polcaa

Halo guys Chapter besok mulai agak 19+ ya, so buat reader yang belum cukup umur di skip aja. Jangan lupa komen kritik dan sarannya.

| 3
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 138 Buat Ade Baru aww

    Malam itu turun dengan tenang di rumah mereka. Tidak ada suara televisi yang menyala, tidak ada langkah kecil berlarian di ruang tamu, tidak juga suara cerewet Arsya yang biasanya masih minta satu cerita lagi sebelum tidur. Semuanya terasa lebih sunyi dari biasanya.Arsya sudah tertidur sejak satu jam yang lalu, setelah seharian penuh bermain di luar rumah bersama Ken. Bahkan tadi sempat protes karena dipaksa mandi, lalu berakhir tertidur di pangkuan Narine dengan rambut masih setengah basah.Kini, kamar utama hanya menyisakan dua orang.Narine duduk di tepi tempat tidur, melepas jepit rambutnya perlahan. Rambut panjangnya terurai jatuh ke bahu, sedikit berantakan, tapi justru membuatnya terlihat lebih… lembut.Arkana bersandar di headboard, memperhatikan tanpa banyak bicara.Ada sesuatu yang berbeda malam ini.Bukan suasananya. Bukan juga rutinitasnya.Tapi cara Narine diam.“Capek?” tanya Arkana akhirnya, suaranya pelan.Narine mengangguk kecil. “Lumayan.”Hening lagi.Namun bukan h

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 137 Happy Birthday Ibuu

    Pagi itu datang dengan cara yang sama seperti hari-hari biasannya matahari yang menyelinap lewat celah tirai, udara yang masih menyisakan dingin semalam, dan suara langkah kecil yang biasanya akan berlari ke arah tempat tidur sambil memanggil, “Ibuu!”Namun hari ini berbeda.Narine membuka matanya perlahan. Ada sesuatu yang ia tunggu. Sesuatu yang bahkan tanpa ia sadari, ia harapkan sejak semalam.Hari ini adalah ulang tahunnya.Ia diam sejenak, menatap langit-langit kamar. Menunggu.Mungkin pintu akan terbuka tiba-tiba. Mungkin Arsya akan lompat ke atas kasur. Mungkin Arkana akan menyelinap mendekat, berbisik di telinganya seperti biasa.Tapi tidak ada apa-apa.Hanya sunyi.Narine menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis pada dirinya sendiri. “Yaudah…” batinnya. “Mungkin mereka gak inget.”Ia turun dari tempat tidur, berjalan ke luar kamar.Di ruang makan, Arkana sudah duduk dengan laptopnya, secangkir kopi di tangan. Wajahnya tenang seperti biasa.“Pagi,” ucap Arkana singkat, bahk

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 136 Ndak Mau Mati

    Pagi itu rumah terasa lebih ribut dari biasanya. Karena apa?Narine sudah bangun sejak subuh, sibuk mondar-mandir dari kamar ke ruang tengah sambil membawa berbagai perlengkapan. Di sofa, tergeletak sebuah kostum berbulu putih lengkap dengan telinga panjang dan buntut kecil bulat.“Kostumnya jangan sampai ketinggalan…” gumam Narine sambil mengecek lagi isi tas.Di sisi lain, Arsya masih duduk di lantai, memeluk botol minumnya, wajahnya masih setengah mengantuk. Rambutnya acak-acakan, matanya belum sepenuhnya terbuka.“Arsya, sini. Kita pakai kostumnya dulu ya,” panggil Narine lembut.Arsya menoleh pelan. Begitu matanya menangkap kostum kelinci itu, ekspresinya langsung berubah.“Ini?” tanyanya.“Iya, kamu kan jadi kelinci hari ini.”Arsya berdiri, lalu mendekat. Tangannya menyentuh telinga panjang itu.“Lucu…” gumamnya.Beberapa menit kemudian, Arsya sudah berubah jadi kelinci kecil yang super gemas. Kostum itu sedikit kebesaran, telinganya agak miring ke samping, dan buntut kecil di

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 135 Cilok Mantul

    Sore itu suasana komplek terasa hangat. Matahari belum sepenuhnya tenggelam, tapi sinarnya sudah mulai lembut. Angin kecil berhembus, membawa aroma tanah dan suara anak-anak yang riuh bermain di lapangan kecil depan rumah.Arsya berlari kecil bersama Ken dan beberapa anak lain. Tawa mereka pecah setiap kali bola plastik yang mereka tendang melenceng entah ke mana. Wajah Arsya merah, napasnya sedikit terengah, tapi matanya berbinar penuh semangat.Sampai tiba-tiba “Cilok mantul cilok mantul!”Suara khas itu langsung memecah fokus semua anak.“CILOK!” teriak Ken paling kencang.Anak-anak langsung bubar, berhamburan ke arah gerobak cilok yang berhenti di pinggir jalan. Arsya yang tadi masih pegang bola ikut terpaku. Matanya membesar, memperhatikan satu per satu temannya yang mulai mengantre.Dia melangkah pelan mendekat, berdiri di samping Ken.Ken dengan santainya merogoh saku, mengeluarkan uang receh, lalu berkata dengan percaya diri, “Bang, dua ribu, yang banyak sambalnya.”Arsya mel

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 134 Arsya Mode Cowok Cool

    Pagi itu suasana di sebuah TK kecil yang penuh warna terasa lebih ramai dari biasanya. Anak-anak berlarian dengan tas kecil di punggung mereka, beberapa masih digandeng orang tua, beberapa sudah berani masuk sendiri.Di antara keramaian itu, satu sosok kecil berjalan santai, hampir tanpa beban.Arsya.Langkahnya ringan, wajahnya tenang, bahkan tanpa menoleh ke belakang. Sementara di belakangnya, Arkana berdiri dengan kedua tangan di pinggang, memperhatikan anaknya dengan ekspresi antara bangga dan sedikit tidak percaya.“Ini anak gak ada drama sama sekali,” gumamnya.Biasanya, yang Arkana lihat anak-anak seusia Arsya masih ada yang nangis, ada yang tarik-tarik orang tuanya, bahkan ada yang mogok di depan gerbang. Tapi Arsya?Masuk aja.Tanpa pamit.Tanpa noleh.Tanpa rasa bersalah.“Sya” Arkana sempat mau manggil.Tapi Arsya sudah keburu masuk ke dalam kelas, langsung menuju rak mainan seolah dunia luar sudah tidak penting lagi.Arkana menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Oke baik.

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 133 Pamer Mobil Sama Pusat

    Hujan tipis masih menyisakan jejak di jalanan saat mobil Arkana meluncur pelan memasuki kompleks rumah orang tuanya. Udara sore itu terasa adem, khas setelah hujan, dengan aroma tanah basah yang menenangkan. Tapi suasana tenang itu jelas tidak berlaku di dalam mobil.“Papaaah, cepetan dong nanti Oppa sama Oma kebulu tidul!” suara kecil Arsya terdengar tak sabaran dari kursi belakang.Arkana melirik lewat kaca spion, sudut bibirnya naik tipis. “Ini juga udah cepet, Bos. Rumah Oppa Oma gak pindah, santai aja.”“Enggaaa! Alsya mau tunjukin mobil Alsyaaa!” Arsya menggoyang-goyangkan kakinya, suaranya penuh semangat.Narine yang duduk di samping Arkana cuma bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Dari tadi di jalan gak berhenti ngomong itu.”“Biarin,” sahut Arkana santai. “Lagi bangga dia.”“Bangga banget malah,” balas Narine, lalu menoleh ke belakang. “Nanti ngomongnya yang bener ya, Sayang.”“Iyaa!” jawab Arsya cepat. Tapi dari nadanya, jelas tidak ada jaminan apapun.Mobil akhirnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status