LOGINPagi itu, untuk pertama kalinya sejak kepulangannya ke Indonesia, Arunika terlihat sedikit lebih tenang, Bukan karena rasa sakitnya sudah hilang, Bukan karena ia sudah menerima kehilangan ayahnya sepenuhnya. Namun karena semalam, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidur tanpa terbangun oleh mimpi buruk.Tidak ada lorong rumah sakit, suara monitor, dan bayangan darah yang menghantuinya. Hanya suara ayahnya yang terus terngiang.Jangan berhenti hidup, Aru.Kalimat itu menjadi satu-satunya alasan yang membuatnya membuka mata pagi ini. Arunika berdiri di depan cermin kamar masa kecilnya, Ia memandang dirinya sendiri cukup lama. Perempuan yang menatap balik dari cermin itu masih sama, Tetapi ada sesuatu yang berbeda.Dulu ia selalu melihat seseorang yang hancur.Sekarang Ia mulai melihat seseorang yang sedang berusaha bertahan, Pintu kamar terbuka perlahan Viktor berdiri di sana."Kau sudah bangun."Arunika menoleh "Iya."Viktor memperhatikan wajahnya "Kau tidur lebih baik?"Aru
Hari pemakaman telah selesai, Namun bagi Arunika, rasanya waktu masih berhenti di hari ketika suara terakhir ayahnya terdengar dari ponsel tua itu, Rumah itu kembali sunyi.Sejak pagi, banyak orang datang memberikan penghormatan terakhir. Banyak wajah yang menangis, banyak tangan yang menggenggam tangannya sambil mengatakan bahwa ia harus kuat. Namun Arunika mulai lelah mendengar kalimat itu. Karena selama inibSemua orang selalu memintanya untuk kuat, Padahal tidak ada yang pernah bertanya apakah ia masih mampu berdiri.Malam itu, Arunika berjalan sendirian menyusuri lorong rumah masa kecilnya. Lampu-lampu kecil di dinding menerangi jalan yang ia kenal sejak dulu. Tangannya menyentuh permukaan meja kayu tua di dekat ruang keluarga, Di sanalah dulu ayahnya sering duduk membaca koran sambil menunggunya pulang.Kenangan datang tanpa izin, Suara tawa, Suara langkah kaki, Suara seseorang yang selalu berkata bahwa rumah akan selalu menjadi tempatnya kembali. Namun sekarang Rumah itu hanya m
Pesawat itu akhirnya mendarat di Indonesia menjelang sore, Namun bagi Arunika, perjalanan yang biasanya hanya membutuhkan waktu beberapa jam terasa seperti perjalanan paling panjang dalam hidupnya.Sejak meninggalkan rumah sakit, ia hampir tidak banyak berbicara, Viktor yang duduk di sampingnya beberapa kali ingin membuka percakapan, ingin mengatakan sesuatu yang mungkin bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya, tetapi setiap kali melihat wajah istrinya yang pucat dan tatapan kosong yang tertuju pada jendela pesawat, ia mengurungkan niatnya.Ada luka yang tidak bisa diobati dengan kata-kata, Dan kehilangan seorang ayah adalah salah satunya. Arunika duduk sambil memeluk tas kecil miliknya. Di dalamnya tersimpan sebuah foto lama yang ia ambil dari rumah sebelum keberangkatan.Foto dirinya bersama ayahnya, Foto yang sudah mulai memudar karena usia. Namun bagi Arunika, foto itu lebih berharga daripada benda apa pun yang ia miliki. Jarinya mengusap permukaan foto itu perlahan."Ayah..." Bisik
Ruangan itu kembali sunyi, Semua mata tertuju kepada Dimas yang masih berdiri di ambang pintu. Napasnya terdengar berat, seolah setiap kata yang akan keluar dari bibirnya memiliki bobot yang sanggup menghancurkan seseorang, Viktor perlahan melepaskan pelukannya dari Arunika."Ada apa?" Suaranya rendah.Namun cukup untuk membuat seluruh ruangan terasa semakin tegang, Dimas menelan ludah."Tuan...""Tim identifikasi korban baru saja memberikan pernyataan resmi."Jantung Arunika berdetak semakin cepat, Ia menggenggam erat ujung selimut hingga jemarinya memutih."Pesawat..." Suara Dimas mulai bergetar "...dinyatakan mengalami kecelakaan fatal di tengah laut."Viktor tidak berkedip "Lanjutkan."Dimas memejamkan mata sesaat sebelum mengucapkan kalimat yang paling ia takutkan."Seluruh penumpang dan awak pesawat...""...dinyatakan meninggal dunia."Kalimat itu terasa seperti ledakan yang memekakkan telinga, Arunika membeku Tidak ada tangisan, Tidak ada jeritan. Ia hanya menatap lurus ke depa
Bau antiseptik kembali memenuhi indra penciumannya, Dingin. Di balik kelopak matanya yang masih berat, Arunika mendengar bunyi monitor jantung berdetak stabil.Bip...Bip...Bip...Suara itu, Suara yang paling ia benci. Tubuhnya menegang seketika, Napasnya memburu,Tidak Jangan rumah sakit lagi, Jangan. Perlahan, kelopak matanya bergerak. Pandangannya masih kabur. Langit-langit putih dengan lampu yang menyilaukan memenuhi penglihatannya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mengusir pandangan yang berbayang.Sedikit demi sedikit, Ruangan mulai terlihat jelas. Infus terpasang di punggung tangannya, Terdengar suara hujan yang membentur kaca jendela, Dan di sudut ruangan Viktor tertidur di sofa.Tubuh pria itu masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat mereka berangkat dari rumah. Kemejanya kusut. Rambutnya berantakan. Kepalanya bersandar ke belakang dengan kedua lengan terlipat di dada, Wajahnya tampak sangat lelah, Arunika menatapnya cukup lama.Dadanya terasa sesak, Sudah
Rumah itu terasa jauh lebih hidup dibanding beberapa minggu sebelumnya. Sinar matahari sore masuk melalui jendela-jendela besar ruang keluarga, menghangatkan lantai marmer yang berkilau. Dua koper berukuran sedang sudah terletak rapi di dekat pintu masuk. Dimas dan Larry sibuk memastikan seluruh barang bawaan telah masuk ke dalam daftar keberangkatan."Paspor?""Sudah, Tuan.""Tiket?""Sudah.""Obat-obatan Nyonya?""Lengkap."Viktor mengangguk puas."Bagus."Ia menoleh ke arah ruang keluarga, Sudut bibirnya langsung terangkat. Arunika duduk menyamping di atas pangkuannya, kedua kaki perempuan itu terlipat di sofa. Salah satu lengan Viktor melingkari pinggang Arunika dengan erat, sementara dagunya bertumpu santai di bahu istrinya."Kalau terus dilihat begitu, kopernya bisa malu."Arunika menoleh sambil menahan tawa "Memangnya koper bisa malu?""Kalau pemiliknya secantik ini, mungkin bisa.""Viktor..." Arunika terkekeh pelan lalu memukul pelan dada suaminyan"Gombal.""Bukannya kemarin a
Jawaban itu jatuh seperti vonis mati. Ruangan luas di villa itu mendadak terasa menyempit, oksigen seolah tersedot keluar meninggalkan Arunika yang sesak dalam kehampaan. Ia menatap Bisma dengan tatapan tak percaya. Bukan hanya karena makna kotor di baliknya, tapi karena Bisma mengatakannya denga
Bisma Megantara. Laki-laki yang dulu ia tolak mentah-mentah di depan keluarga besar demi Reyhan. Dan kini, pria itulah yang baru saja membeli hidupnya di bawah remang lampu villa yang mencekam."Jadi pria yang harus aku— Apa maksudmu mas?" batinnya sakit."Kamu..."Arunika membuka mulut, mundur s
Arunika membuka pintu kamar mandi dengan tangan yang sedingin es. Tepat di detik terakhir, ia melangkah keluar. Tubuhnya kaku, lingerie hitam tipis itu mengekspos hampir seluruh kulitnya, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan cara yang membuatnya merasa telanjang bulat di bawah lampu villa yang terang
“Tidak…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. Namun ruangan itu terlalu sunyi. Bahkan bisikan sekecil itu sampai ke telinga Bisma. Pria itu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat, melainkan senyum getir yang penuh kendali, seolah ia sudah tahu akhir dari perlawanan ini jauh sebelum dimulai. Di ma







