MasukTangan Laura melingkar erat di lengan Diego dan lelaki itu tidak menarik diri.Valerie menjaga jarak dan menjauh dari radar penglihatan Diego dan Laura. Ia memilih berdiri di tepi dan mengamati dari kejauhan “Yang kamu lihat itu kenyataan.”Valerie menoleh. Robert Stanford berdiri di sampingnya. Wajahnya tanpa ekspresi dan tersenyum tipis muncul di bibirnya. “Hidup ini bukanlah drama Cinderella,” katanya datar. “Diego selalu seperti itu saat berhadapan dengan relasi bisnis. Dan dia memang sangat pandai memanfaatkannya.”Valerie menelan ludah. Tangannya mengerat di sekitar gelas. Mencengkramnya lebih keras seperti mau pecah. “Kamu bisa melihat sendiri,” lanjut Robert. “Di mana tempatmu seharusnya berasa di saat seperti ini.”Ia berhenti sejenak, maju selangkah dan tanpa menoleh berkata, “Kehadiranmu hanyalah pelengkap. Kamu bukan istimewa.”Valerie mengangkat wajahnya. Ia menarik napas panjang. Memastikan suaranya tidak bergetar. “Terima kasih atas nasihatnya, Tuan Stanford,” ucapn
Valerie masih duduk di tempat yang sama sejak lima belas menit lalu. Roti di piringnya utuh, Kopi di depannya sudah dingin. Jemarinya melingkar di cangkir, tapi ia sama sekali tidak meminumnya. Diego memperhatikannya dari kejauhan. Ia mendekat, berdiri di belakang kursi Valerie, merapikan ujung rambut Valerie. Ia menunduk, mencium pucuk kepala Valerie.Terasa hangat, menenangkan membuat Valerie menutup matanya sesaat.“Kenapa tidak makan?” tanya Diego pelan.Valerie menggeleng. “Saya tidak lapar.”Diego menarik kursi di sampingnya, duduk, lalu mengambil roti Valerie dan memotongnya menjadi dua bagian. “Ini untukmu,” Diego menyuapi Valerie. Terpaksa wanita berkacamata itu membuka mulut. “Dan ini untukku.” Valerie tersenyum tipis, ujung bibirnya tertarik sedikit melihat yang dilakukan Diego. “Kamu masih memikirkan pesan itu?” tanya Diego.Valerie mengangguk. “saya hanya berpikir apa pesan itu ada hubungannya dengan kematian Lila.”Diego menggeleng, sorot matanya menolak apa yang Val
Mereka bertiga berasa di ruangan yang sama pertama kalinya. Diego terlihat santai, bahkan merasa tidak bersalah. Sedangkan Valerie terlihat cemas. Bukan karena takut, tapi karena Laura sudah mempernalukannya di depan umum. “Saya ingin bicara dengan sekretarismu,” ujar Laura akhirnya. Suaranya ringan, nyaris manis. “Berdua saja.” Pandangannya terlihat mematikan ke arah Valerie. “Tidak!” tolak Diego dingin, tapi tegas.Laura terkekeh kecil. “Diego, ini urusan perempuan. Kamu tidak perlu—”“Kamu bisa katakan di depanku. Saya tidak pernah percaya padamu.”Tatapan Laura mengeras. Senyum itu memudar, digantikan kilatan dingin yang tidak lagi disembunyikan.“Kamu takut?” Laura menyandarkan punggung, menyilangkan tangan. “Takut saya mengatakan sesuatu yang membuat wanita kecilmu ini sadar posisinya?”Valerie menelan ludah. Ia membuka mulut, tapi Diego lebih dulu bersuara.“Yang membuat situasi ini memburuk adalah caramu,” kata Diego datar. “Dan caramu menyebarkan semuanya.”Laura tertawa ke
Valerie menatap mulut Lila yang masih terbuka, busa putih mengering di sudut bibirnya. Kulit wanita itu tampak keabu-abuan, dingin. Ia mendekat, tetapi tak bisa menyentuhnya. “Tidak mungkin…” suara Valerie nyaris tak keluar. Kepalanya menggeleng pelan, berulang, seperti anak kecil yang menolak kenyataan. “Tidak mungkin dia meninggal, coba cek sekali lagi, mungkin anda keliru.”Petugas itu kembali menempelkan dua jarinya, lebih lama kali ini. Wajahnya mengeras.“Dia memang sudah meninggal, Nona.”Lutut Valerie kehilangan kekuatan. Pandangannya berkunang, suara di sekelilingnya teredam, hanya ada dengung panjang di telinganya.Tubuhnya meluncur turun jatuh terduduk di lantai dingin apartemen.Tidak.Ini salah.Ini tidak mungkin.Tangannya terangkat menutup mulut saat mual menyerang. Dadanya naik turun cepat, napasnya patah-patah. Valerie memalingkan wajah, muntah kecil yang perih di tenggorokan tertelan kembali dengan susah payah.Matanya kembali pada Lila, botol obat yang isinya berse
Valerie terbangun dengan napas tercekik. Kepalanya berdenyut hebat. Ia berusaha bangun, tapi tubuhnya terasa berat dan nyeri. Pandangannya masih kabur ketika sebuah bayangan mendekat.Aroma familiar menyusup ke paru-parunya—kopi hitam, aroma maskulin yang menempel dan seprai lembut yang menyentuh kulitnya. Lampu redup di langit-langit kamar Diego membuat dada Valerie langsung sesak.“Valerie,”Valerie menoleh cepat. Diego duduk di sisi ranjang, wajahnya dekat, terlalu dekat. Mata gelap itu menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Tubuh Valerie gemetar. Tanpa berpikir, ia langsung meraih Diego dan memeluknya erat.“Saya takut,” ucapnya terisak. “Mereka… mereka mengejarku lagi.”Diego membalas pelukan itu tanpa ragu. Tangannya melingkar kuat di punggung Valerie, menahan tubuhnya memberi tanda tidak boleh ada yang menyentuhnya lagi.“Tenanglah,” katanya rendah. “Kamu aman bersamaku.”Ia mengusap rambut Valerie perlahan, mencoba menenangkan. Isakan Valerie mulai reda. Tubuhnya yang gemetar
Diego melepas tangannya perlahan mundur dan berbalik melihat pemandangan malam. Wajahnya tenang, tetapi jelas rahangnya mengeras. “Kamu membuat suasana hatiku buruk!” ujar Diego datar. Valerie mendekat, menarik bahu Diego hingga wajah mereka bertatapan. Mata itu terlihat marah, tapi tidak keluar kata kasar. “Saya hanya ingin tahu, setelah keluar dari ruanganmu. Dia terlihat marah.”Diego kembali melihat ke jendela. Bayangannya memantul di kaca transparan di depannya dan Valerie dengan wajah ingin tahunya. “Saya hanya memindahkannya ke Texas. Tempat itu jauh lebih membutuhkannya dari pada di sini,” jelas Diego tenang. “Texas?! Diego kamu—”“Saya sedang tidak ingin berdebat. Kita bahas nanti.”Tanpa bertanya lagi, Valerie mundur dan bergegas pergi. Kata-kata Diego membuatnya langsung tertuju pada Lila. Ia langsung menghadang sebuah taksi dan bergegas ke tempat Lila. Sepanjang perjalanan menuju apartemen Lila, pikirannya dipenuhi sikap Diego, bagaimana tanggapan Lila. Ia mencoba me







