Share

Hanya Ingin Bersama

Author: Rainbow Rain
last update Last Updated: 2025-12-18 18:46:08

Mobil berhenti di depan bangunan besar berwarna krem dengan pilar tinggi dan taman rapi di sekelilingnya.

Valerie menatap keluar jendela. Pohon pinus tampak dari kejauhan. Udara pinggiran kota Chicago terasa dingin, bersih, dan tenang.

“Turun,” kata Diego singkat.

Valerie belum sempat merengek saat Diego melepas paksa sabuk pengamannya. Diego menarik lengannya keluar mobil. Genggamannya keras, wajahnya dingin, tatapannya gelap.

“Di mana ini? Apa yang akan anda lakukan?” Valerie merengek.

Mereka masuk ke sebuah resort milik keluarga Stanford. Mata Valerie membulat cemas. Beberapa pegawai yang berada di meja resepsionist menoleh. Mereka jelas melihat Diego datang bersama seorang wanita.

“Siapkan satu kamar deluxe diamond. Jika ada yang mencariku, saya tidak ingin diganggu.” Perintah Diego tegas.

Valerie menunduk saat mereka melihatnya. Diego kembali menyeretnya cepat, penuh amarah yang tidak ia sembunyikan. Sepatu hak Valerie nyaris tak mampu mengimbangi.

“Kamu tidak bisa lari sekaran
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Jeritan Malam

    Diego melepas tangannya perlahan mundur dan berbalik melihat pemandangan malam. Wajahnya tenang, tetapi jelas rahangnya mengeras. “Kamu membuat suasana hatiku buruk!” ujar Diego datar. Valerie mendekat, menarik bahu Diego hingga wajah mereka bertatapan. Mata itu terlihat marah, tapi tidak keluar kata kasar. “Saya hanya ingin tahu, setelah keluar dari ruanganmu. Dia terlihat marah.”Diego kembali melihat ke jendela. Bayangannya memantul di kaca transparan di depannya dan Valerie dengan wajah ingin tahunya. “Saya hanya memindahkannya ke Texas. Tempat itu jauh lebih membutuhkannya dari pada di sini,” jelas Diego tenang. “Texas?! Diego kamu—”“Saya sedang tidak ingin berdebat. Kita bahas nanti.”Tanpa bertanya lagi, Valerie mundur dan bergegas pergi. Kata-kata Diego membuatnya langsung tertuju pada Lila. Ia langsung menghadang sebuah taksi dan bergegas ke tempat Lila. Sepanjang perjalanan menuju apartemen Lila, pikirannya dipenuhi sikap Diego, bagaimana tanggapan Lila. Ia mencoba me

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Menyingkirkan Lila

    Lila membaca ulang email di layar komputernya, jemarinya berhenti di satu kalimat yang terasa paling ganjil: Berlaku mulai sekarang, pemindahan unit kerja di Texas. Lila Hawkkins. “Sudah kuduga, ternyata dia akan melakukan sejauh ini.” Lila meremas telapak tangannya. Ia tersenyum tipis, tahu persis siapa dalangnya. Kursinya berdecit, Lila berdiri dan melangkah cepat menuju ruangan bosnya tanpa menoleh ke siapa pun. Valerie yang melihatnya dari kejauhan refleks bangkit. “Lila? Apa yang terjadi?”Ia langsung menghadang Lila yang sedang marah. Valerie bingung dengan sikap Lila yang tidak biasanya.Wanita berambut pendek itu berhenti sesaat, melihat ruangan Diego dan menoleh ke arah Valerie. Lila tidak menjawab. Wajahnya tenang dan rahangnya mengeras. “Lila, kamu marah padaku?” tanya Valerie bingung. Lila tidak menjawab dan langsung berjalan menuju ruangan Diego. Tanpa mengetuk dan basa-basi, Lila langsung membuka pintu dan masuk begitu saja. Diego Stanford duduk santai di kursinya.

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Menantang Robert Stanford

    Diego Stanford muncul di ambang pintu dengan senyum lebar yang menawan di pagi hari. Bukan senyum formal sebagai seorang atasan, bukan juga senyum ramah.Ia tahu persis apa yang sedang ia lakukan dan menikmati setiap detiknya. Serta mengatur semuanya tetap pada tempatnya. “Mari kita pergi dari sini,” katanya ringan, terlihat jelas jika mereka memiliki hubungan yang cukup dekat. “Segera kembali ke tempatmu yang sebenarnya. Di sini bukan tempat yang baik untukmu.” Diego mengambil boks milik Valerie. Wanita itu menatapnya, bingung. Ia masih belum mengerti tentang ajakan Diego dan tanpa ragu mengangkat boks miliknya. “Kenapa diam? Apa kamu tidak senang bekerja bersamaku lagi?”“Kita mau ke mana?” tanya Valerie. Diego menoleh, lalu tersenyum kecil. Ia meletakkan kembali boks itu di lantai, tepat di antara mereka. Lalu, melingkarkan tangan ke pinggang Valerie, membuat napas Valerie tercekat. Takut jika tiba-tiba Ada staf yang melihat mereka. Namun, Diego malah terlihat santai seolah ti

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Malam Penuh Asap

    Seorang wanita baya duduk diam di kursi roda, menghadap ke arah matahari yang hampir tenggelam. Rambutnya memutih sepenuhnya, tatapannya kosong, seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu dan mengalami trauma besar. Di sampingnya, seorang perawat berdiri dengan sikap siaga, memperhatikan setiap perubahan kecil.Melihat pemandangan di depannya membuat Diego lega. Diego menghentikan langkahnya beberapa meter dari sana. Sesaat melihat ibunya dari kejauhan. “Dia adalah ibuku, keadaanya sangat memprihatinkan,” ujar Diego dengan sesak. “Kamu takut menjadi sepertinya hanya karena berhubungan denganku bukan?”Valerie menunduk malu, ia malu pernah mengatakan hal itu tanpa tahu bagaimana keadaan ibunya. “Saya tidak akan membiarkannya. Cukup ibuku, dia adalah wanita kuat dan saya akan melindunginya dan melindungimu dengan cara apapun.”Valerie mengeratkan tangannya. Ia tahu Diego tengah rapuh. Ia tahu ada luka di sisi batinnya, tapi Diego menutup semuanya dengan wajah tegasnya. “Tunggu d

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Menemui Wanita dalam Hidup Diego

    Diego berdiri tepat di depan Laura, bahunya membentuk garis tegas untuk melindungi Valerie di belakangnya. Ia tidak akan membiarkan Valerie menjadi sasaran amarah wanita di hadapannya.Tatapan Laura terlihat tajam. Sudut matanya menunjukkan kilatan amarah yang mencuat. Rahangnya mengeras, rambut pirangnya terlihat mengkilap, gaun warna pastelnya jatuh menutup lutut, terlihat anggun, tapi siap menerkam lawan. Ia menoleh sedikit ke belakang ke arah Valerie. “Kamu bisa pergi sekarang,” ucap Diego tanpa ragu.Valerie terdiam. Tatapannya bertanya tanpa suara—bagaimana dengan Laura?“Saya yang akan mengurus Laura, kamu bisa kembali ke tempatmu sekarang,” lanjut Diego, suaranya dingin namun pasti. “Dia tidak akan berani menyentuhmu.”Ia memberi ruang sedikit. Cukup untuk Valerie melewatinya dan jauh dari jangkauan Valerie.“Baiklah,” jawab Valerie akhirnya.Ia menuruti perkataan Diego. Ia melangkah ragu saat melewati Laura, tatapan wanita bergaun pastel itu mengikuti setiap geraknya. Seolah

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Kembali Dalam Pelukan Diego

    Valerie berdiri kaku di tempatnya. Ruangan itu masih setengah gelap, hanya cahaya lampu meja yang memantul di kaca dan permukaan kayu. Langkah kaki terdengar mendekat, tenang, seperti seseorang yang sama sekali tidak terburu-buru.“Apa yang membuatmu datang kepadaku?” tanya suara itu datar.Valerie menggeleng pelan, ia masih berdiri di tempatnya, Tidak percaya masih ada seseorang di dalam. Bayangan itu semakin dekat dan saat berhenti tepat di depannya, Valerie menelan napas.Pantulan mata itu Valerie sangat mengenalnya. Tubuh tegap dengan dada bidangnya sangat menempel di pikiran Valerie.“Tuan Stanford …” desis Valerie pelan.Tangan lelaki itu terangkat, merapikan rambut Valerie yang berantakan. Gerakan yang selalu Diego lakukan saat di dekat Valerie. Sentuhannya ringan, tetapi cukup membuat dada Valerie terasa sesak. Terus menatap wajah Diego tanpa henti.“Apa kamu merindukanku?” tanya Diego pelan.Valerie membeku, ia tidak bisa menjawab apapun. Pandangannya masih tertuju pada wajah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status