MasukDiego duduk di meja kerja ruangannya dengan mata merah dan tangan kanannya mengepal, sedangkan tangan kirinya memegang ponsel. “Temukan Valerie sampai dapat!” Perintah Diego. Rahangnya mengeras menelepon orang suruhannya untuk menemukan Valerie. Lelaki itu frustasi, perasaannya menggila saat wanitanya menjauh dan menghilang. Hingga pukul tiga sore, Valerie belum juga muncul kembali menemuinya. Valerie tidak bisa dihubungi, ia tidak meninggalkan pesan apapun. Semalam semuanya baik-baik saja saat Valerie merawatnya. Namun, saat Diego membuka mata. Semua seperti mimpi.“Apa yang kamu rencanakan?” kepalan tangan Diego bergetar, mengencang, hingga pena di sampingnya bergeser. Asisten Diego masuk dengan wajah ketakutan. Kemarahan Diego membuat semua staf eksekutif takut menunjukkan wajah di depan bosnya. Diego menyuruh semua staf eksekutif mencari informasi alamat tempat tinggal orang tua Valerie. “Bagaimana? Kamu sudah mendapat informasinya?” tanya Diego tajam. “Be– lum, Tuan Stanf
Diego terbangun dengan kepala berat dan tubuh yang masih lemas. Matanya mengerjap pelan, menangkap cahaya redup dari lampu samping ranjang. Tampak bayangan wanita berkacamata baru saja masuk. “Valerie…” lirih Diego.Wanita berkacamata itu duduk menyamping di tepi ranjang. Rambutnya tergerai, sedikit berantakan. Tangannya memegang handuk basah, menyeka tubuh Diego lalu memerasnya di dalam baskom. Diego menelan ludah, bibirnya sedikit tersenyum melihat wanita yang sempat menolak bertemu dengannya. “Valerie— ” panggil Diego dengan parau, nyaris tidak terdengar.Valerie menoleh. Tatapan mereka bertemu, tidak ada keterkejutan. Seolah memang menunggu Diego bangun.“Kamu sudah bangun,” katanya. Nadanya terasa datar. Seolah ingin menyembunyikan kelegaan kecil di matanya.Diego mengangkat tangan pelan. Jari-jarinya menyentuh ujung sweater Valerie. Menariknya sedikit, seperti memastikan wanita itu nyata.“Kamu benar ada di sini,” gumamnya.Valerie mendengus kecil. “Kamu kehujanan semalaman.
Ruang interogasi terasa dingin menusuk. Dua pasang mata menatap tajam Diego. Memberi pertanyaan detil, tenang, teliti, menunggu celah menemukan bukti tersembunyi. Valerie melaporkan Diego atas kematian Lila. Wanita itu baru saja memberi laporan tentang pena milik Diego yang sama dengan pena yang ditemukan. Hal itu membuat pihak kepolisian segera memanggil Diego untuk diintrogasi.“Ini penaku,” ujar Diego santai.Ia meletakkan penanya di tengah meja. Terlihat hitam mengkilap dengan arsir nama Diego di ujung pena. salah satu polisi langsung mengambil dan mengamati,“Saya menggunakannya untuk menandatangani dokumen,” Diego kembali berkata datar. Salah satu petugas mencatat, yang lain menyilangkan tangan. Mereka menjelaskan tentang kemiripannya. Pena yang ditemukan di dekat tubuh Lila hampir memiliki spesifikasi yang sama hanya berbeda di arsiran dan nama. “Pena ini tidak bisa dijadikan bukti. Keduanya hampir sama sekilas, tetapi ada perbedaan.” Diego menambahi sebelum mereka menyelesa
Diego tergesa-gesa masuk ke dalam ruangannya. Lelaki itu terlihat kesusahan bernapas saat berdiri. Ia mendekati Valerie dan memastikan apa yang dilakukan sekretarisnya. “Kenapa? Kamu terlihat begitu takut,” ucap Valerie datar. Ia beranjak dari tempat duduknya dan melihat wajah Diego yang panik, seperti menyembunyikan satu hal besar. “Apa yang Laura katakan padamu?” tanya Diego menyentuh tangan Valerie. “Laura? Kenapa tiba-tiba Laura?”Diego melepas tangannya. Sikap Valerie begitu dingin dan tatapannya berbeda jauh dari sebelumnya. “Jangan pernah percaya dengan apa yang ia katakan. Dia hanya ingin membuat hubungan kita buruk.”Valerie terdiam, ia tersenyum tipis di ujung bibirnya. melihat Diego dengan tatapan tidak percaya. Sesaat Diego terlihat lelaki yang begitu mencintainya, menjaganya dan menginginkannya. Namun, di sisi lain, Diego terlihat seperti monster yang menyeramkan.“Laura adalah wanita yang menyeramkan. Dia rela melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang ia ingink
Diego menarik kerah kemeja Thomas kasar. Ia menghempasnya jatuh tersungkur di depan meja Valerie. Semua staf terkejut melihat bosnya marah besar. Mata Diego membulat tajam dengan wajah kemerahan. “Minta maaf pada Valerie!” bentak Diego. Suaranya menggema memecah keributan. Ia tidak peduli semua staf melihatnya. Emosinya memuncak saat melihat rekaman CCTV. Mendekati Valerie di tangga, dan membawa sekretarisnya masuk ke gudang saat pingsan. “Untuk apa? Dia dengan suka rela ikut denganku.” Valerie menggeleng, wajahnya memucat mengingat kejadian waktu itu. Emosi Diego semakin memuncak. Ia menendang Thomas hingga tubuhnya bergeser membentur meja. Jeritan kecil terdengar, semua staf berteriak. Valerie keluar dari mejanya dan menahan tangan Diego. Jangan sampai ia ditangkap karena penganiayaan. “Minta maaf, sekarang juga! Kamu lelaki menjijikkan. Saya pastikan kamu tidak akan berani menunjukkan lagi wajahmu!” Diego memperingatkan Thomas kasar.Lelaki itu menatap tajam Diego mengusap bi
Diego terlihat tidur dengan posisi duduk di samping Valerie. Kepalanya bersandar di tepi tempat tidur, telapak tangannya menggenggam tangan wanita yang semalaman demam dan terus mengigau.Gerakan Valerie membuat Diego bangun, ia mengusap mukanya dan menempelkan telapak tangannya di dahi Valerie. Memastikan suhu tubuhnya turun.“Semalam kamu demam, kamu terus menyebut nama Lila,” ujar Diego.Valerie masih berbaring menatap langit-langit. Sudut matanya berair dan Valerie langsung mengusapnya. Ia mencoba beranjak, Diego langsung membantunya duduk dan Valerie menepis tangannya.“Kamu masih marah soal makan malam itu?” tanya Diego lembut.Ia berusaha menyentuh pipi Valerie, tetapi sekretarisnya itu mengelak. mengalihkan pandangannya ke sudut kamar. Pena semalam yang ia lihat tidak ada.“Saya hanya tidak ingin kamu menjadi bahan ejekan.” Diego kembali bersuara, tetap tenang dan penuh kendali.Diego beranjak duduk di tepi tempat tidur dan menarik tangan Valerie ke pangkuannya. Mendekatkan tu







