LOGINDiego terlihat tidur dengan posisi duduk di samping Valerie. Kepalanya bersandar di tepi tempat tidur, telapak tangannya menggenggam tangan wanita yang semalaman demam dan terus mengigau.Gerakan Valerie membuat Diego bangun, ia mengusap mukanya dan menempelkan telapak tangannya di dahi Valerie. Memastikan suhu tubuhnya turun.“Semalam kamu demam, kamu terus menyebut nama Lila,” ujar Diego.Valerie masih berbaring menatap langit-langit. Sudut matanya berair dan Valerie langsung mengusapnya. Ia mencoba beranjak, Diego langsung membantunya duduk dan Valerie menepis tangannya.“Kamu masih marah soal makan malam itu?” tanya Diego lembut.Ia berusaha menyentuh pipi Valerie, tetapi sekretarisnya itu mengelak. mengalihkan pandangannya ke sudut kamar. Pena semalam yang ia lihat tidak ada.“Saya hanya tidak ingin kamu menjadi bahan ejekan.” Diego kembali bersuara, tetap tenang dan penuh kendali.Diego beranjak duduk di tepi tempat tidur dan menarik tangan Valerie ke pangkuannya. Mendekatkan tu
Valerie menggigit telinga Thomas keras, lelaki itu berteriak kesakitan. Valerie berhasil melonggarkan ikatan kakinya dan talinya terlepas. Ia beranjak dari tempatnya dan ujung rambutnya tertarik. Kepalanya berputar dan Thomas menampar wajahnya. Lelaki itu mencengkram leher Valerie, “Wanita murahan!” Valerie menggeleng, wajahnya basah dipenuhi keringat, sudut bibirnya berdarah karena tamparan Thomas. Lelaki itu membulatkan matanya kesal.“Saya sudah bilang, hari ini kamu adalah milikku!” bentak Thomas. Valerie menggeleng ketakutan. Sorot matanya lemah, putus asa, menyisir ruangan melihat benda berkilau tajam tergeletak di bawah rak tinggi yang tidak jauh dari tempatnya.“Valerie, tidaklah kamu melihatku sama sekali, sayang?” Ujung jari Thomas menyisir pipi Valerie pelan. Bibir Thomas mendekat, menjilatinya hingga belakang telinga dan tertawa lebar.“Sa-ya… hanya menganggapmu teman.” Valerie berusaha tenang meskipun bulu kuduknya merinding.“Teman?”Thomas kembali melihat wajah Vale
Tangan Laura melingkar erat di lengan Diego dan lelaki itu tidak menarik diri.Valerie menjaga jarak dan menjauh dari radar penglihatan Diego dan Laura. Ia memilih berdiri di tepi dan mengamati dari kejauhan “Yang kamu lihat itu kenyataan.”Valerie menoleh. Robert Stanford berdiri di sampingnya. Wajahnya tanpa ekspresi dan tersenyum tipis muncul di bibirnya. “Hidup ini bukanlah drama Cinderella,” katanya datar. “Diego selalu seperti itu saat berhadapan dengan relasi bisnis. Dan dia memang sangat pandai memanfaatkannya.”Valerie menelan ludah. Tangannya mengerat di sekitar gelas. Mencengkramnya lebih keras seperti mau pecah. “Kamu bisa melihat sendiri,” lanjut Robert. “Di mana tempatmu seharusnya berasa di saat seperti ini.”Ia berhenti sejenak, maju selangkah dan tanpa menoleh berkata, “Kehadiranmu hanyalah pelengkap. Kamu bukan istimewa.”Valerie mengangkat wajahnya. Ia menarik napas panjang. Memastikan suaranya tidak bergetar. “Terima kasih atas nasihatnya, Tuan Stanford,” ucapn
Valerie masih duduk di tempat yang sama sejak lima belas menit lalu. Roti di piringnya utuh, Kopi di depannya sudah dingin. Jemarinya melingkar di cangkir, tapi ia sama sekali tidak meminumnya. Diego memperhatikannya dari kejauhan. Ia mendekat, berdiri di belakang kursi Valerie, merapikan ujung rambut Valerie. Ia menunduk, mencium pucuk kepala Valerie.Terasa hangat, menenangkan membuat Valerie menutup matanya sesaat.“Kenapa tidak makan?” tanya Diego pelan.Valerie menggeleng. “Saya tidak lapar.”Diego menarik kursi di sampingnya, duduk, lalu mengambil roti Valerie dan memotongnya menjadi dua bagian. “Ini untukmu,” Diego menyuapi Valerie. Terpaksa wanita berkacamata itu membuka mulut. “Dan ini untukku.” Valerie tersenyum tipis, ujung bibirnya tertarik sedikit melihat yang dilakukan Diego. “Kamu masih memikirkan pesan itu?” tanya Diego.Valerie mengangguk. “saya hanya berpikir apa pesan itu ada hubungannya dengan kematian Lila.”Diego menggeleng, sorot matanya menolak apa yang Val
Mereka bertiga berasa di ruangan yang sama pertama kalinya. Diego terlihat santai, bahkan merasa tidak bersalah. Sedangkan Valerie terlihat cemas. Bukan karena takut, tapi karena Laura sudah mempernalukannya di depan umum. “Saya ingin bicara dengan sekretarismu,” ujar Laura akhirnya. Suaranya ringan, nyaris manis. “Berdua saja.” Pandangannya terlihat mematikan ke arah Valerie. “Tidak!” tolak Diego dingin, tapi tegas.Laura terkekeh kecil. “Diego, ini urusan perempuan. Kamu tidak perlu—”“Kamu bisa katakan di depanku. Saya tidak pernah percaya padamu.”Tatapan Laura mengeras. Senyum itu memudar, digantikan kilatan dingin yang tidak lagi disembunyikan.“Kamu takut?” Laura menyandarkan punggung, menyilangkan tangan. “Takut saya mengatakan sesuatu yang membuat wanita kecilmu ini sadar posisinya?”Valerie menelan ludah. Ia membuka mulut, tapi Diego lebih dulu bersuara.“Yang membuat situasi ini memburuk adalah caramu,” kata Diego datar. “Dan caramu menyebarkan semuanya.”Laura tertawa ke
Valerie menatap mulut Lila yang masih terbuka, busa putih mengering di sudut bibirnya. Kulit wanita itu tampak keabu-abuan, dingin. Ia mendekat, tetapi tak bisa menyentuhnya. “Tidak mungkin…” suara Valerie nyaris tak keluar. Kepalanya menggeleng pelan, berulang, seperti anak kecil yang menolak kenyataan. “Tidak mungkin dia meninggal, coba cek sekali lagi, mungkin anda keliru.”Petugas itu kembali menempelkan dua jarinya, lebih lama kali ini. Wajahnya mengeras.“Dia memang sudah meninggal, Nona.”Lutut Valerie kehilangan kekuatan. Pandangannya berkunang, suara di sekelilingnya teredam, hanya ada dengung panjang di telinganya.Tubuhnya meluncur turun jatuh terduduk di lantai dingin apartemen.Tidak.Ini salah.Ini tidak mungkin.Tangannya terangkat menutup mulut saat mual menyerang. Dadanya naik turun cepat, napasnya patah-patah. Valerie memalingkan wajah, muntah kecil yang perih di tenggorokan tertelan kembali dengan susah payah.Matanya kembali pada Lila, botol obat yang isinya berse







