Share

Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar
Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar
Author: Kalandara

Bab 1

Author: Kalandara
Hati Gerald seketika menegang, seolah diremas erat oleh tangan tak kasatmata.

Dia terdiam lama sekali, sampai suasana di dalam mobil hampir membeku, barulah dia berkata dengan susah payah, "Aku tahu kamu masih belum bisa melupakan kejadian itu, tapi aku sudah bilang bakal menebus kesalahanku padamu. Mulai sekarang, seluruh hidupku bakal menjadi milikmu. Aku juga bakal berusaha mencintaimu. Apa pun yang kamu katakan, bakal kusetujui. Kamu jangan sedih terus, ya?"

Wajah Tania tetap datar, dia hanya memandang pria itu dengan tenang. "Kamu bakal menyetujui apa pun yang kuminta? Kalau begitu, bisakah kamu mengembalikan cincin pernikahan yang dulu kuberikan padamu?"

Ekspresi Gerald seketika berubah. Tangannya yang menggenggam kemudi mengencang dengan kuat. "Buat apa kamu memintanya kembali?"

"Lagian, kamu juga nggak memakainya. Bukannya wajar kalau aku memintanya kembali?"

"Selain itu, apa pun bisa kuberikan padamu!" Suara Gerald merendah, membawa ketegasan yang tidak dapat dibantah.

Tania tidak berkata apa-apa lagi, hanya menatapnya dalam diam.

Melihat sikapnya seperti itu, hati Gerald terasa sesak. Dia melunakkan suaranya, seolah sedang membujuk seorang anak yang sedang merajuk. "Tania, aku tahu kamu sudah banyak menderita selama beberapa tahun ini. Mulai sekarang, sebisa mungkin aku nggak bakal menghubungi Nessia lagi. Jadi, jangan marah lagi, ya?"

Begitu dia selesai berbicara, telepon berdering.

Asistennya yang menelepon, suaranya terdengar sangat tergesa-gesa. "Pak Gerald, gawat! Nona Nessia melompat dari gedung! Sekarang, dia sudah dibawa ke rumah sakit dan lagi menjalani pertolongan!"

"Apa katamu? Aku segera ke sana!"

Ekspresi Gerald seketika berubah. Dia langsung menyalakan mobil. Ban mobil bergesekan dengan permukaan jalan, mengeluarkan suara decitan yang menusuk telinga.

Mobil melesat seperti anak panah. Tania terhempas akibat gaya inersia hingga membentur sandaran kursi. Dia tidak bersuara, hanya menatap ke luar jendela sambil tersenyum mencela diri sendiri.

Katanya sebisa mungkin tidak akan menghubunginya. Kata sebisa mungkin itu benar-benar digunakan dengan sangat baik.

Sesampainya di rumah sakit, lampu ruang operasi masih menyala. Para perawat keluar-masuk dengan tergesa-gesa, dan kecemasan terpampang di wajah setiap orang.

Asisten menyambut mereka. Dahinya penuh keringat. "Pak Gerald, Nona Nessia jatuh dari lantai tiga. Ada beberapa bagian tubuhnya yang patah dan sekarang lagi menjalani pertolongan. Dokter baru saja keluar dan mengatakan dia mengalami pendarahan hebat serta membutuhkan darah Rh-negatif. Kami sudah mencari ke seluruh bank darah di kota, tapi belum ada kabar ...."

Gerald tiba-tiba menoleh ke arah Tania.

Tania berdiri di ujung koridor dengan punggung bersandar pada dinding. Ekspresinya sangat tenang.

Begitu mendengar kata Rh-negatif, dia sudah tahu apa yang akan dikatakan Gerald.

"Tania, golongan darahmu itu, 'kan?" Benar saja, Gerald berjalan menghampirinya, secercah harapan muncul di matanya.

"Ya." Tania menatapnya dengan tenang. "Tapi aku nggak bakal mendonorkan darah buat Nessia. Hidup atau matinya nggak ada hubungannya denganku."

Setelah mengatakan itu, dia berbalik hendak pergi, tetapi detik berikutnya tangannya ditarik.

Gerald menggenggam pergelangan tangannya. Dia menatap Tania dengan mata memerah, dan suaranya rendah seperti sedang memohon. "Tania, ini menyangkut nyawa seseorang. Aku tahu kamu membencinya, membenciku, tapi ini nyawa seseorang. Anggap saja aku memohon padamu."

Hati Tania bergetar hebat.

Gerald adalah orang yang paling angkuh di Kota Beiran. Selama ini, orang lainlah yang memohon kepadanya. Kapan dia pernah memohon kepada orang lain? Namun, demi Nessia, dia bersedia melakukan apa pun.

Tiba-tiba, Tania merasa sangat menyedihkan, baik untuk Gerald maupun untuk dirinya sendiri.

Dia menarik napas dalam-dalam. "Aku bersedia mendonorkan darah, tapi kamu harus mengembalikan cincin pernikahan itu padaku."

Ekspresi Gerald seketika menjadi sangat buruk. "Kenapa kamu harus mendapatkan cincin itu?"

"Lalu, kenapa kamu bersikeras nggak mau memberikannya padaku?" balas Tania.

Napas Gerald menjadi berat, dadanya naik turun dengan hebat. Dia memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, matanya sedikit memerah. "Karena dulu, ketika kamu memberikannya padaku, kamu pernah bilang kalau suatu hari kamu nggak ingin bersamaku lagi, kamu sendiri yang bakal datang memintanya kembali!"

Tania hanya menatapnya dalam diam tanpa mengatakan apa-apa.

Gerald memaksa dirinya untuk tenang, lalu merendahkan suaranya dan berbicara selembut mungkin, "Tania, aku tahu kamu sudah menyukaiku selama bertahun-tahun. Meminta kembali cincin pernikahan itu bukan berarti kamu ingin meninggalkanku. Kamu cuma mau menggunakannya buat mengancamku supaya aku lebih memperhatikanmu. Tapi, aku sudah bilang, aku lagi berusaha mencintaimu. Hal seperti ini nggak bisa dipaksakan. Sebenarnya, apa lagi yang kamu inginkan dariku?"

Tania tetap menatapnya tanpa menjawab.

Seorang perawat kembali berlari keluar dari ruang operasi dan menghentakkan kaki dengan cemas. "Keluarga pasien! Darah dari bank darah belum juga datang? Pasien sudah hampir nggak bisa bertahan!"

Tania mengalihkan pandangan. Suaranya sedingin angin musim dingin. "Aku ulangi untuk terakhir kalinya. Entah kamu mengembalikan cincin itu padaku dan aku pergi mendonorkan darah, atau aku pergi dan kamu melihat Nessia mati. Pilih salah satu."

Dia mulai menghitung.

"Tiga."

Tinju Gerald mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Dua."

Tangannya mulai gemetar.

"Satu."

"Ini, ambil!" Gerald mengeluarkan cincin itu dari saku dalam mantelnya. Tangannya gemetar ketika melemparkannya. Cincin itu jatuh ke lantai, memantul dua kali, lalu menggelinding hingga ke kaki Tania.

Suaranya serak hampir tak terdengar. "Ambillah. Nessia sudah nggak bisa menunggu lagi. Cepat pergi."

Tania membungkuk mengambil cincin itu dan menggenggamnya erat di telapak tangan. Dia tidak mengatakan apa-apa dan berbalik masuk ke ruang donor darah.

Ketika jarum menusuk pembuluh darahnya, dia memalingkan wajah dan tidak melihatnya.

Gerald berdiri di sampingnya. Melihat wajah Tania yang pucat, suaranya sudah melunak sepenuhnya. "Tania, aku tahu kamu cuma lagi merajuk dengan cara seperti ini. Aku juga bersedia memanjakanmu. Aku benar-benar sudah berusaha keras buat belajar mencintaimu. Jangan merasa nggak aman lagi, ya?"

Tania menatap ke luar jendela. Langit sudah benar-benar gelap.

"Keadaan Nessia lebih parah, aku pergi melihatnya dulu."

Gerald berbalik dan pergi. Suara langkahnya makin jauh, hingga koridor kembali sunyi.

Tania perlahan menoleh dan menatap jendela yang terbuka.

Di telapak tangannya terdapat dua cincin pernikahan, satu miliknya dan satu milik Gerald. Dulu, keduanya dirancang sendiri olehnya.

Tania menggenggam kedua cincin itu, lalu mengangkat tangan dan tanpa ragu melemparkannya keluar jendela.

Kedua cincin itu jatuh ke danau buatan di bawah, menimbulkan dua percikan air kecil yang sekejap kemudian lenyap.

'Gerald, kamu bukan sedang berusaha mencintaiku. Kamu hanya merasa bersalah dan ingin menebus kesalahan.'

'Sementara aku … tidak menginginkan rasa bersalahmu dan penebusanmu.'

'Juga tidak menginginkanmu.'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 19

    Menjelang petang hari itu, Tania menutup kedai teh dan berjalan pulang.Matahari senja mewarnai langit menjadi jingga kemerahan. Jalan tua itu sudah sepi, begitu sunyi hingga hanya terdengar suara langkahnya. Saat sampai di ujung gang, dia melihat sebuah amplop di tanah. Warnanya putih, tanpa nama pengirim dan tanpa alamat, tergeletak begitu saja di jalan berbatu. Sinar matahari senja menyinarinya, membuat tepinya memancarkan cahaya hangat.Dia memungutnya dan membukanya.Di dalamnya terdapat sebuah foto dan sepucuk surat.Foto itu menampilkan sebuah danau. Airnya sangat biru, sebiru kalung yang pernah dikenakannya.Beberapa daun yang gugur mengapung di permukaan danau. Ada yang kuning, merah, dan hijau, semuanya mengapung dengan tenang.Di tepi danau terdapat sebuah bangku panjang. Di atasnya terletak dua cincin yang saling berdampingan, begitu tenang. Tania mengenalinya. Itu adalah kedua cincin yang pernah dilemparkannya ke danau.Dia membuka surat itu.Di dalamnya hanya ada satu bar

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 18

    "Belum terlambat." Gerald meraih tangannya dan menggenggamnya erat hingga jari-jari Tania mati rasa. "Kasih aku satu kesempatan, aku ....""Aku nggak bisa." Tania melepaskan tangannya dan mundur hingga berada di balik pintu. Punggungnya menempel pada daun pintu, napasnya terengah-engah. "Aku sudah memberikan semua kesempatan padamu. Lima tahun, lebih dari seribu delapan ratus hari, aku memberimu kesempatan berkali-kali. Kamu nggak menginginkannya."Tania berhenti sejenak dan mengusap air mata di wajahnya, tetapi air matanya tidak kunjung habis. Baru saja diusap, air mata kembali mengalir, lalu diusap lagi dan kembali mengalir."Sekarang, aku nggak bakal memberikannya lagi."Dia menutup pintu. Kali ini, pintu itu tidak pernah terbuka lagi.Pria itu datang lagi.Kali ini, dia membawa seikat bunga mawar merah yang sedang mekar sempurna. Tetesan air masih melekat di kelopaknya, berkilauan diterpa sinar matahari. Dia menyerahkan bunga itu kepada Tania. Tania menerimanya, menunduk untuk meng

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 17

    "Aku ....""Kamu nggak pernah." Tania menarik tangannya dan mundur selangkah. "Kamu nggak pernah. Di hatimu cuma ada dia, cuma Nessia-mu. Lalu, aku ini apa? Alat yang menggantikannya menjalani hukuman, wadah buat mendonorkan darah kepadanya, pajangan yang kamu gunakan buat menebus rasa bersalahmu.""Bukan ....""Kalau begitu, katakan kepadaku, kalau orang yang membuat keributan di rumah sakit itu datang lagi hari itu, apa kamu bakal memberikan obat profilaksis itu padaku?" Tania menatap Gerald dan berkata kata demi kata. Suaranya sangat lembut, tetapi setiap katanya seperti paku yang menghunjam ke dalam tulang Gerald. "Apa kamu bakal melakukannya?"Gerald membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun."Kamu nggak bakal melakukannya." Tania menjawab untuknya. "Kamu nggak bakal pernah melakukannya. Dia itu orang yang paling kamu cintai. Aku ini apa? Aku cuma orang yang menjadi sasaran rasa bersalahmu. Kamu bersikap baik padaku bukan karena mencintaiku, melainkan karena m

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 16

    "Aku mau menebus kesalahanku," ujarnya dengan suara serak seperti amplas. "Apa pun yang kamu suruh, aku bakal lakukan.""Kalau begitu, pergilah.""Kecuali itu."Tania menatapnya. Lama sekali dia terdiam.Begitu lama hingga air di dalam teko teh menjadi dingin, begitu lama hingga matahari di luar jendela berpindah dari timur ke tepat di atas kepala, dan bayangan menyusut menjadi sebuah titik."Kamu tahu apa yang paling kuinginkan?""Apa?""Kebebasan," ujarnya. "Kebebasan buat pergi darimu. Aku sudah mendapatkannya. Jangan datang lagi."Tania berdiri dan masuk ke ruangan di belakang. Pintu tertutup. Tidak dikunci, tetapi tidak pernah terbuka lagi.Seorang pria muncul di kedai teh.Usianya sekitar awal tiga puluhan. Dia mengenakan kacamata berbingkai emas dan setelan kasual. Pembawaannya lembut dan elegan.Dia duduk di dekat jendela. Sinar matahari menerpa wajahnya, dan senyumnya begitu lembut, seperti angin musim semi.Tania menyeduhkan teh hijau untuknya. Gerakannya terampil, suhu airny

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 15

    Gerald menyeberangi jalan dan berdiri di depan kedai teh. Lonceng angin berdenting, menghasilkan suara gemerincing.Tania mengangkat kepala dan melihatnya.Tidak ada perubahan apa pun pada ekspresinya.Bukan terkejut, bukan marah, bukan takut. Hanya tenang.Seolah sedang melihat orang asing, seorang pejalan kaki yang melintas di seberang jalan, atau sehelai daun yang jatuh dari pohon."Buat apa kamu datang?" tanyanya. Suaranya datar, seperti teh yang sudah diseduh berkali-kali hingga tidak lagi berasa.Gerald menatapnya, tenggorokannya terasa seperti tersumbat segumpal kapas.Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Selama tiga bulan, Gerald mempersiapkan diri sambil berulang kali membayangkan apa yang akan dia katakan saat akhirnya bertemu dengan Tania.Namun, sekarang, saat berdiri di hadapannya, dia tidak mampu mengatakan apa-apa."Aku ...." Gerald membuka mulut. Suaranya serak tak karuan, seperti batu yang digosok amplas. "Aku datang menjemputmu pulang."

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 14

    Gerald berbalik dan pergi. Dari belakang terdengar tangisan Nessia yang memilukan. Nessia mengejarnya, lalu memeluknya dari belakang, menempelkan wajahnya di punggung Gerald. Air matanya membasahi sebagian besar kemeja Gerald."Gerald, jangan pergi! Aku salah, aku benar-benar salah! Aku mencintaimu, aku nggak bisa hidup tanpamu."Gerald melepaskan jari-jarinya satu per satu. Kuku Nessia menancap ke punggung tangannya. Saat dia melepaskannya, sedikit kulit dan daging ikut tercabik, tetapi Gerald tidak berhenti."Kamu bisa hidup tanpaku," katanya. Suaranya sangat pelan, seolah mengatakannya kepada dirinya sendiri. "Dia juga bisa. Akulah yang nggak bisa hidup tanpanya."Gerald pergi.Pintu di belakangnya tertutup, mengurung tangisan itu di dalam.Gerald berdiri di lorong sambil bersandar pada dinding dan mendongakkan kepala.Lampu di langit-langit memancarkan cahaya pucat yang menyilaukan dan berdengung.Dia berdiri di sana cukup lama, hingga lampu sensor di lorong padam, menyala kembali,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status