Share

Bab 2

Author: Kalandara
Darah masih terus diambil, kesadaran Tania mulai mengabur. Hal-hal yang selama ini terpendam jauh di dalam ingatannya mulai bermunculan seperti air pasang.

Lima tahun lalu, Tania adalah mawar merah paling memesona dan angkuh di Kota Beiran.

Sebagai nona besar Keluarga Assagaf, dia cantik, berasal dari keluarga terpandang, dan memiliki kepribadian yang berani. Ke mana pun dia pergi, dia selalu menjadi pusat perhatian.

Sampai akhirnya, di sebuah pesta, dia bertemu Gerald untuk pertama kalinya.

Gerald berdiri di tengah kerumunan, mengenakan setelan jas hitam dan memegang segelas sampanye. Dia sedang menundukkan kepala dan berbicara dengan seseorang di sampingnya. Cahaya lampu menerpa wajahnya. Raut wajahnya tampan dan bersih, dengan aura yang dingin dan tenang, seperti pohon pinus yang tumbuh di atas pegunungan bersalju.

Jantung Tania berdegup kencang. Dia tidak pernah percaya pada cinta pada pandangan pertama, tetapi pada saat itu, dia percaya.

Dia selalu percaya bahwa jika menyukai seseorang, maka harus memperjuangkannya. Karena itu, dia mulai mengejar Gerald.

Mengirim bunga, memberikan hadiah, sengaja menciptakan pertemuan, hingga menunggunya pulang kerja di bawah gedung perusahaannya.

Tania melakukannya secara terang-terangan dan penuh semangat. Seluruh Kota Beiran tahu bahwa nona besar Keluarga Assagaf sedang mengejar Gerald.

Namun, Gerald tetap tidak tergerak. Ketika memandangnya, tidak ada rasa jijik maupun ketertarikan di matanya, hanya sedikit jarak, seolah semua yang dilakukannya hanyalah permainan anak-anak yang tidak perlu dianggap serius olehnya.

Sampai pada sebuah pesta, ketika Tania kembali menyatakan cintanya di depan umum, Gerald akhirnya tidak tahan lagi.

Gerald menariknya ke balkon dan mengatakan kepada Tania bahwa dia sudah memiliki seseorang yang disukai. Hanya saja, latar belakang keluarga orang itu tidak sepadan dengannya dan keluarganya tidak menyetujui hubungan mereka. Dia masih berusaha mencari cara untuk menghadapi keluarganya.

Tania tertegun.

Meskipun sangat sedih, dia selalu bersikap terbuka. Dengan mata memerah, dia berkata akan menyerah dan mendoakan kebahagiaan mereka.

Dia mengira itu akan menjadi pertemuan terakhir mereka, tetapi tidak disangka, Keluarga Tarigan justru sangat menyukainya sebagai calon menantu.

Sebulan kemudian, kedua orang tua Gerald mencari cara untuk mempertemukan mereka, lalu memberi mereka obat perangsang.

Keesokan harinya ketika terbangun, Tania terbaring di samping Gerald dengan tubuh yang terasa nyeri. Sebelum sempat mengatakan apa-apa, pintu didorong terbuka dan segerombolan wartawan menyerbu masuk. Kilatan lampu kamera terdengar bertubi-tubi.

Demi bertanggung jawab dan menjaga martabat keluarga, Gerald terpaksa menyetujui pernikahan itu.

Selama persiapan pernikahan, suasana hatinya selalu muram, seperti api yang tertekan di balik awan gelap dan bisa meledak kapan saja.

Tania menyadarinya. Pada suatu sore, dia mengetuk pintu ruang kerja dan berkata kepadanya, "Gerald, aku, Tania, bukan tipe orang yang baru sekali kehilangan sesuatu lalu langsung ribut meminta seseorang bertanggung jawab. Kalau kamu masih menyukai Nessia, mari kita melawan bersama dan batalkan pernikahan ini."

Gerald duduk di depan meja kerja. Di hadapannya terhampar setumpuk dokumen, tetapi tatapannya kosong.

Dia berkata, "Kalau aku nggak menikah, keluargaku bakal menyakiti Nessia. Dia sudah terlalu banyak menderita karenaku."

Gerald mengangkat kepala dan menatap Tania. Tatapannya begitu rumit, seperti benang kusut yang tidak dapat diurai. "Tania, pernikahan ini harus tetap dilangsungkan. Tenang saja, aku bakal melupakannya."

Itu adalah pertama kalinya dia berjanji kepada Tania. Tania memercayainya.

Sejak saat itu, Gerald tidak pernah bertemu Nessia lagi.

Sampai pada malam pernikahan mereka, Nessia menelepon. Gerald terdiam, jarinya berada di atas tombol tolak, tetapi dia ragu untuk menekannya.

Saat itu, meskipun hati Tania terasa perih, dia tetap mengingatkannya dengan rasional, "Kalau kamu mengangkatnya dan keluargamu mengetahui kamu masih berhubungan dengannya, alasanmu buat melindunginya bakal sia-sia."

Gerald meliriknya, lalu menolak panggilan.

Namun, pada malam itulah Nessia menjadi korban pemerkosaan.

Baru kemudian Tania mengetahui bahwa Nessia menelepon Gerald untuk meminta pertolongan.

Nessia minum sendirian sepanjang malam. Dalam perjalanan pulang, dia diseret seseorang ke sebuah gang. Itulah satu-satunya panggilan yang sempat dilakukannya.

Sejak saat itu, Nessia mengalami depresi berat.

Dia berkali-kali mencoba bunuh diri, menyayat pergelangan tangan, menelan obat tidur, membuka gas. Setiap kali, Gerald selalu bergegas datang dan menariknya kembali dari ambang kematian.

Apa yang bisa Tania katakan? Dia tidak bisa mengatakan apa-apa.

Nessia adalah orang yang Gerald simpan di lubuk hatinya, satu-satunya perempuan yang pernah dicintainya sepanjang hidupnya.

Tania mengira jika dia bertahan sedikit lebih lama, semuanya akan berlalu. Dia tidak menyangka bahwa jurang yang lebih dalam masih menunggunya.

Pada hari itu, Nessia mengemudikan mobil dan menabrak seseorang hingga tewas. Rekaman kamera pengawas memperlihatkan semuanya dengan jelas. Dia menerobos lampu merah dan bertanggung jawab sepenuhnya atas kecelakaan itu.

Keluarga korban tidak mau berdamai. Mereka tidak menginginkan uang, tidak menginginkan permintaan maaf, dan bahkan tidak bersedia menyelesaikannya secara kekeluargaan. Mereka bersikeras agar Nessia mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum.

Larut malam, Gerald menemui Tania. "Tania, depresi Nessia sangat parah. Kalau dia masuk penjara, dia bakal mati di sana. Cuma tiga tahun. Kamu menggantikannya menjalani hukuman, ya?"

Tania tidak mau. Atas dasar apa dia harus masuk penjara menggantikan orang lain?

Namun, Gerald tidak memberinya pilihan.

Dia membuat Tania pingsan. Ketika sadar, Tania sudah terbaring di ranjang keras dalam penjara, sementara di sampingnya tergeletak surat pengakuan bersalah yang bertanda tangannya.

Di dalam penjara, dia pernah menangis dan membuat keributan. Bahkan dia melepaskan seluruh harga diri dan martabatnya, memohon kepada petugas penjara agar membantunya melakukan satu panggilan. Panggilan itu tersambung, tetapi Gerald tidak mengangkatnya.

Tania menelepon lagi, tetapi dia tetap tidak mengangkatnya.

Pada panggilan ketiga, telepon akhirnya diangkat, tetapi yang menjawab adalah asistennya. Dia berkata, "Pak Gerald lagi menemani Nona Nessia dan nggak bisa menerima telepon. Nona Tania, jalani masa pembinaanmu dengan baik. Setelah keluar, semuanya bakal baik-baik saja."

"Setelah keluar, semuanya bakal baik-baik saja." Betapa ringannya beberapa kata itu.

Malam itu, Tania yang tubuhnya berlumuran darah mengakhiri panggilan. Sejak saat itu, dia tidak pernah menelepon lagi.

Cintanya kepada Gerald selama tiga tahun itu pun telah benar-benar sirna.

Setelah keluar dari penjara, hal pertama yang dilakukannya adalah mengajukan perceraian.

Kini, proses perceraian sudah berjalan. Meminta kembali cincin itu pun hanya karena dia ingin benar-benar membuang sisa ikatan terakhir antara dirinya dan Gerald.

Darah masih terus mengalir. Tania merasa tubuhnya makin dingin dan kesadarannya makin kabur.

Perawat mencabut jarum dan menekan kapas pada bekas tusukan. Tania berdiri, tetapi kakinya tiba-tiba lemas. Pandangannya menghitam, lalu dia tidak tahu apa-apa lagi.

Ketika sadar kembali, dia sudah terbaring di ranjang rumah sakit. Gerald berdiri di depan pintu dan sedang berbicara dengan dokter, "Dia cuma kehilangan sedikit darah. Bagaimana bisa tiba-tiba pingsan?"

Dokter membolak-balik laporan pemeriksaan dengan ekspresi serius. "Pak Gerald, tubuh Nona Tania memiliki banyak luka lama, dan semuanya cukup parah. Kondisi tubuhnya sudah lama sangat lemah. Pengambilan darah menjadi pemicunya. Selain itu, dia pernah mengalami keguguran, dan kondisi tubuhnya sejak saat itu nggak pernah pulih dengan baik ...."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 19

    Menjelang petang hari itu, Tania menutup kedai teh dan berjalan pulang.Matahari senja mewarnai langit menjadi jingga kemerahan. Jalan tua itu sudah sepi, begitu sunyi hingga hanya terdengar suara langkahnya. Saat sampai di ujung gang, dia melihat sebuah amplop di tanah. Warnanya putih, tanpa nama pengirim dan tanpa alamat, tergeletak begitu saja di jalan berbatu. Sinar matahari senja menyinarinya, membuat tepinya memancarkan cahaya hangat.Dia memungutnya dan membukanya.Di dalamnya terdapat sebuah foto dan sepucuk surat.Foto itu menampilkan sebuah danau. Airnya sangat biru, sebiru kalung yang pernah dikenakannya.Beberapa daun yang gugur mengapung di permukaan danau. Ada yang kuning, merah, dan hijau, semuanya mengapung dengan tenang.Di tepi danau terdapat sebuah bangku panjang. Di atasnya terletak dua cincin yang saling berdampingan, begitu tenang. Tania mengenalinya. Itu adalah kedua cincin yang pernah dilemparkannya ke danau.Dia membuka surat itu.Di dalamnya hanya ada satu bar

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 18

    "Belum terlambat." Gerald meraih tangannya dan menggenggamnya erat hingga jari-jari Tania mati rasa. "Kasih aku satu kesempatan, aku ....""Aku nggak bisa." Tania melepaskan tangannya dan mundur hingga berada di balik pintu. Punggungnya menempel pada daun pintu, napasnya terengah-engah. "Aku sudah memberikan semua kesempatan padamu. Lima tahun, lebih dari seribu delapan ratus hari, aku memberimu kesempatan berkali-kali. Kamu nggak menginginkannya."Tania berhenti sejenak dan mengusap air mata di wajahnya, tetapi air matanya tidak kunjung habis. Baru saja diusap, air mata kembali mengalir, lalu diusap lagi dan kembali mengalir."Sekarang, aku nggak bakal memberikannya lagi."Dia menutup pintu. Kali ini, pintu itu tidak pernah terbuka lagi.Pria itu datang lagi.Kali ini, dia membawa seikat bunga mawar merah yang sedang mekar sempurna. Tetesan air masih melekat di kelopaknya, berkilauan diterpa sinar matahari. Dia menyerahkan bunga itu kepada Tania. Tania menerimanya, menunduk untuk meng

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 17

    "Aku ....""Kamu nggak pernah." Tania menarik tangannya dan mundur selangkah. "Kamu nggak pernah. Di hatimu cuma ada dia, cuma Nessia-mu. Lalu, aku ini apa? Alat yang menggantikannya menjalani hukuman, wadah buat mendonorkan darah kepadanya, pajangan yang kamu gunakan buat menebus rasa bersalahmu.""Bukan ....""Kalau begitu, katakan kepadaku, kalau orang yang membuat keributan di rumah sakit itu datang lagi hari itu, apa kamu bakal memberikan obat profilaksis itu padaku?" Tania menatap Gerald dan berkata kata demi kata. Suaranya sangat lembut, tetapi setiap katanya seperti paku yang menghunjam ke dalam tulang Gerald. "Apa kamu bakal melakukannya?"Gerald membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun."Kamu nggak bakal melakukannya." Tania menjawab untuknya. "Kamu nggak bakal pernah melakukannya. Dia itu orang yang paling kamu cintai. Aku ini apa? Aku cuma orang yang menjadi sasaran rasa bersalahmu. Kamu bersikap baik padaku bukan karena mencintaiku, melainkan karena m

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 16

    "Aku mau menebus kesalahanku," ujarnya dengan suara serak seperti amplas. "Apa pun yang kamu suruh, aku bakal lakukan.""Kalau begitu, pergilah.""Kecuali itu."Tania menatapnya. Lama sekali dia terdiam.Begitu lama hingga air di dalam teko teh menjadi dingin, begitu lama hingga matahari di luar jendela berpindah dari timur ke tepat di atas kepala, dan bayangan menyusut menjadi sebuah titik."Kamu tahu apa yang paling kuinginkan?""Apa?""Kebebasan," ujarnya. "Kebebasan buat pergi darimu. Aku sudah mendapatkannya. Jangan datang lagi."Tania berdiri dan masuk ke ruangan di belakang. Pintu tertutup. Tidak dikunci, tetapi tidak pernah terbuka lagi.Seorang pria muncul di kedai teh.Usianya sekitar awal tiga puluhan. Dia mengenakan kacamata berbingkai emas dan setelan kasual. Pembawaannya lembut dan elegan.Dia duduk di dekat jendela. Sinar matahari menerpa wajahnya, dan senyumnya begitu lembut, seperti angin musim semi.Tania menyeduhkan teh hijau untuknya. Gerakannya terampil, suhu airny

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 15

    Gerald menyeberangi jalan dan berdiri di depan kedai teh. Lonceng angin berdenting, menghasilkan suara gemerincing.Tania mengangkat kepala dan melihatnya.Tidak ada perubahan apa pun pada ekspresinya.Bukan terkejut, bukan marah, bukan takut. Hanya tenang.Seolah sedang melihat orang asing, seorang pejalan kaki yang melintas di seberang jalan, atau sehelai daun yang jatuh dari pohon."Buat apa kamu datang?" tanyanya. Suaranya datar, seperti teh yang sudah diseduh berkali-kali hingga tidak lagi berasa.Gerald menatapnya, tenggorokannya terasa seperti tersumbat segumpal kapas.Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Selama tiga bulan, Gerald mempersiapkan diri sambil berulang kali membayangkan apa yang akan dia katakan saat akhirnya bertemu dengan Tania.Namun, sekarang, saat berdiri di hadapannya, dia tidak mampu mengatakan apa-apa."Aku ...." Gerald membuka mulut. Suaranya serak tak karuan, seperti batu yang digosok amplas. "Aku datang menjemputmu pulang."

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 14

    Gerald berbalik dan pergi. Dari belakang terdengar tangisan Nessia yang memilukan. Nessia mengejarnya, lalu memeluknya dari belakang, menempelkan wajahnya di punggung Gerald. Air matanya membasahi sebagian besar kemeja Gerald."Gerald, jangan pergi! Aku salah, aku benar-benar salah! Aku mencintaimu, aku nggak bisa hidup tanpamu."Gerald melepaskan jari-jarinya satu per satu. Kuku Nessia menancap ke punggung tangannya. Saat dia melepaskannya, sedikit kulit dan daging ikut tercabik, tetapi Gerald tidak berhenti."Kamu bisa hidup tanpaku," katanya. Suaranya sangat pelan, seolah mengatakannya kepada dirinya sendiri. "Dia juga bisa. Akulah yang nggak bisa hidup tanpanya."Gerald pergi.Pintu di belakangnya tertutup, mengurung tangisan itu di dalam.Gerald berdiri di lorong sambil bersandar pada dinding dan mendongakkan kepala.Lampu di langit-langit memancarkan cahaya pucat yang menyilaukan dan berdengung.Dia berdiri di sana cukup lama, hingga lampu sensor di lorong padam, menyala kembali,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status