แชร์

Sepuluh Selir Ratu Arischa
Sepuluh Selir Ratu Arischa
ผู้แต่ง: Penulis Hoki

Bab 1 Terlahir kembali

ผู้เขียน: Penulis Hoki
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-27 14:38:22

"Kamu bilang apa tadi, Lia?" 

Arlan bertanya dengan nada mengejek yang sangat tajam. Dia merebut surat itu, meremasnya menjadi bola sampah, lalu melemparnya tepat ke wajah Lia. 

"Kamu suka samaku? Kamu gak sadar kalau kamu miskin?”

Lia hanya bisa menunduk. Air matanya pecah, bersatu dengan air hujan yang mengalir di pipinya yang berjerawat dan kusam.

Gelak tawa pecah di sekelilingnya. Lia merasa dunianya runtuh. Dia berbalik, ingin lari sejauh mungkin dari tawa-tawa yang menghunus jantungnya. 

Namun, rasa sakit itu belum berakhir. Saat dia berlari dengan pandangan kabur karena air mata, seorang pengikut Arlan sengaja menjulurkan kaki.

Lia tersandung, tubuhnya terlempar ke arah jalan raya tepat di depan gerbang kampus.

TIIIIIIIIIIT!

Suara klakson truk yang memekakkan telinga adalah hal terakhir yang dia dengar sebelum benturan keras menghantam tubuhnya. 

Di detik-detik saat kesadarannya memudar dan rasa sakit yang luar biasa melumpuhkan sarafnya, sebuah kemarahan besar meledak.

Jika Tuhan memberiku kesempatan sekali lagi... batinnya dengan sisa tenaga. Aku tidak mau menjadi orang baik. Aku ingin menjadi wanita yang sangat kuat, sangat cantik, dan sangat berkuasa. Aku ingin pria-pria sombong seperti mereka merangkak di bawah kakiku!

Lalu, kegelapan total menelannya.

***

Aroma kayu cendana yang menenangkan dan keharuman mawar yang sangat kuat menyapa indra penciuman Lia.

Apakah ini surga? Tapi kenapa rasanya sangat wangi?

Lia membuka matanya perlahan. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit kamar yang luar biasa megah. 

Bukan plafon putih rumah sakit, melainkan ukiran emas bergaya barok dengan lukisan mitologi yang artistik. Sebuah lampu kristal raksasa menggantung rendah, memancarkan cahaya kekuningan yang hangat dan mewah.

Lia mencoba menggerakkan tangannya. Kulitnya terasa sangat halus. Saat dia bangkit duduk, dia menyadari dirinya berada di atas ranjang king size yang dilapisi sprei sutra merah marun.

"Aku... belum mati?" bisiknya.

Dia terperanjat mendengar suaranya sendiri. Suara itu tidak lagi cempreng dan parau, melainkan terdengar seperti dawai harpa merdu, rendah, namun memiliki wibawa yang secara alami membuat siapa pun yang mendengar akan merinding.

Lia segera turun dari ranjang. Kakinya yang jenjang dan putih bersih menyentuh lantai marmer yang dingin. Dia berlari menuju sebuah cermin besar dengan bingkai emas murni yang ada di sudut ruangan.

Begitu sampai di depan cermin, napas Lia tercekat.

Wanita di dalam cermin itu bukan lagi Lia yang malang. Dia adalah perwujudan sempurna dari kecantikan yang mematikan. 

Kulitnya seputih salju tanpa cacat sedikitpun. Rambutnya panjang terurai hingga pinggang, berwarna merah menyala sepekat darah. 

Matanya berbentuk almond dengan iris berwarna emas tajam, dibingkai bulu mata lentik yang tebal. Bibirnya penuh, merah alami, dan menyimpan kesan sombong sekaligus menggoda.

Lia menyentuh wajahnya. "Ini... aku?"

Wanita ini mengenakan gaun tidur tipis berbahan sutra transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat sensual pinggang ramping, dada yang membusung indah, dan kaki panjang yang menggoda.

Tiba-tiba, pintu besar berkukir naga di kamar itu terbuka.

Lia menoleh cepat. Seorang pria masuk dengan kepala tertunduk dalam. Pria itu hanya mengenakan jubah tidur sutra yang terbuka di bagian dada, memperlihatkan otot-otot dada yang keras dan perut six-pack yang sempurna. 

Wajahnya... Lia bersumpah Arlan sekalipun terlihat seperti remah rengginang jika dibandingkan dengan pria ini. Pria ini punya rahang yang tegas, hidung mancung, dan aura yang sangat maskulin, namun saat ini dia terlihat gemetar.

Pria itu berlutut di atas lantai marmer, kepalanya menunduk hingga menyentuh ujung kaki Lia yang telanjang.

"Ratu Arischa... Maafkan hamba karena terlambat sepuluh menit dari waktu yang Anda tentukan," suaranya berat, namun ada nada ketakutan yang kental di sana. 

"Hamba mohon... tolong jangan kirim hamba kembali ke Ruang Hukuman Bawah Tanah. Hamba berjanji akan memuaskan Anda malam ini melebihi malam-malam sebelumnya."

Lia mematung. Ratu Arischa? Ruang Hukuman? Memuaskan?

Potongan ingatan asing mulai menyerbu kepala Lia. 

Dia sekarang adalah Arischa Van Dhalia, Ratu dari Kekaisaran Aridonia. 

Seorang penguasa tiran yang haus darah dan haus pria. Dia memiliki 10 selir resmi yang semuanya adalah tawanan perang atau putra bangsawan yang dipaksa menyerah padanya.

Pria di bawah kakinya ini adalah Rian, selir ke-10. Dia adalah mantan panglima perang dari kerajaan musuh yang dihancurkan Arischa.

Melihat pria setampan ini gemetar ketakutan di kakinya, sesuatu yang liar bangkit di dalam diri Lia. Dendamnya di masa lalu seolah mendapatkan tempat untuk dilampiaskan.

Lia mengangkat dagu Rian dengan ujung jari kakinya, memaksa pria itu mendongak menatap matanya. Mata emas Lia bertemu dengan mata biru Rian yang basah oleh air mata ketakutan.

"Rian..." Lia memanggil namanya dengan nada menggoda yang berbahaya.

Rian terkesiap, napasnya memburu. "Ya, Ratu? Apa pun perintah Anda... hamba akan melakukannya. Apakah Anda ingin hamba melepas baju ini sekarang? Atau Anda ingin menggunakan cambuk lagi?"

Lia tersenyum tipis. Sebuah senyum yang sanggup membuat pria manapun bertekuk lutut. Dia mendekat, membungkuk hingga rambut merahnya menyapu dada bidang Rian, lalu berbisik tepat di telinganya.

“Aku ingin—-”

“Ingin apa ratu?” cecarnya seraya menunduk.

"Aku—ingin sesuatu yang... menantang."

Lia menarik tangan Rian dan menempelkannya ke dadanya yang berdegup kencang, membiarkan pria itu merasakan panas kulitnya. Mata Rian membelalak, wajahnya memerah seketika.

"Katakan," bisik Lia lagi, "apakah kau membenciku, atau kau diam-diam menginginkanku hingga rasanya mau gila?"

Rian menelan ludah dengan susah payah. Tangannya yang besar mulai berani meremas pinggang ramping Lia dengan ragu namun penuh gairah. 

"Hamba... hamba tidak berani membenci Anda, Ratu. Karena tubuh hamba... sudah mengkhianati saya sejak pertama kali Anda menyentuh saya."

Lia tertawa kecil, suara tawa yang sangat seksi. Dia baru saja menyadari satu hal. Menjadi Ratu yang jahat ternyata jauh lebih menyenangkan daripada menjadi gadis sampah yang baik hati.

Tapi Lia belum tahu, di luar kamar ini, sembilan selir lainnya yang masing-masing lebih licik dan lebih berbahaya dari Rian sedang merencanakan sesuatu untuk menggulingkan takhtanya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 17 Bermain di dalam lift

    Alarm peringatan melengking memekakkan telinga, lampu-lampu merah berputar menciptakan suasana distopia di dalam laboratorium bawah tanah itu. CEO Neuro-Core yaitu ayah Arlan berteriak histeris memerintahkan pengawal untuk mengamankan aset mereka.Namun, mereka lupa satu hal... Kael bukan lagi sekadar data. Tubuh Bio-Vessel itu diciptakan dengan spesifikasi militer tingkat tinggi, dan memori di dalamnya adalah memori seorang Jenderal yang telah memenangkan ribuan pertempuran.Kael bergerak seperti badai. Meskipun tubuhnya baru saja keluar dari tabung, insting tempurnya tidak bisa dibendung. Dia menyambar sebatang pipa besi dari reruntuhan tabung dan dalam hitungan detik, tiga pengawal bersenjata sudah terkapar di lantai dengan tulang rusuk hancur."Ayo, Lia!" Kael menyambar tangan Lia.Sentuhan itu... tidak lagi menyakitkan. Tidak ada sengatan listrik dan tidak ada rasa sesak. Hanya kehangatan kulit bertemu kulit yang begitu nyata. Kael menarik Lia melewati lorong-lorong laboratorium

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 16 Menyatu di dunia nyata

    Kutukan itu menghantamnya dengan kekuatan sepuluh kali lipat karena dia merasa dicintai oleh Lia di saat jiwanya sedang hancur. Tubuhnya bergetar hebat, keringat membanjiri otot-ototnya yang tegang.Namun, Lia tidak melepaskannya. Dia justru menggigit bibir bawah Kael hingga berdarah, lalu membisikkan sesuatu di sela-sela ciuman panas itu. "Gunakan rasa sakit ini, Arlan. Jika kau mencintaiku, jangan mati sekarang. Bakar sistem ini dengan rasa sakitmu!"Tiba-tiba, tato mawar hitam di punggung Lia bersinar terang, menyalurkan energi gelap ke dalam tubuh Kael. Bukannya meredam kutukan, energi Lia justru meledakkan rasa sakit itu hingga menjadi kekuatan fisik murni.Kael bangkit, tubuhnya kini diselimuti aura hitam dan ungu yang menyambar-nyambar seperti petir. Matanya berubah menjadi putih sepenuhnya. Rasa sakit yang seharusnya membunuhnya kini menjadi bahan bakar kemarahannya.Lia melepaskan Kael, menatap Julian dengan senyum kemenangan yang kejam. "Lihat, Arlan yang asli. Sampahmu baru

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 15 Arlan

    Lia menanggalkan jubah luar yang dikenakannya, menyisakan gaun tidur transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya di bawah cahaya lilin. Dia merangkak naik ke atas tubuh Kael, menduduki pangkuan pria itu dengan posisi yang sangat intim.Kael mengerang keras. Wajahnya memerah, otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya terlihat jelas. Setiap inci kulit Lia yang bersentuhan dengan tubuhnya mengirimkan gelombang rasa sakit yang mematikan ke jantungnya, namun kejantanannya justru menegang keras di bawah sana, menuntut penyatuan."Kau sangat menderita, ya?" Lia berbisik di telinga Kael, lalu menjilat daun telinganya dengan sengaja."L-Lia... kau akan... membunuhku..." Kael terengah-engah, tangannya yang gemetar mencoba mencengkeram sprei agar tidak menyentuh Lia, karena jika dia membalas sentuhan itu, kutukan tersebut bisa menghentikan jantungnya seketika."Lalu matilah di dalam diriku, Arlan," tantang Lia.Lia menarik tangan Kael, memaksa telapak tangan besar yang kasar itu untuk m

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 14 Siksa aku dengan sentuhanmu

    Cahaya biru itu semakin menyilaukan, mengeluarkan bunyi dengung frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga. Tubuh Alaric mulai berpendar, memperlihatkan garis-garis sirkuit di bawah kulit porselennya. Kael mencengkeram leher Alaric, urat-urat di lengannya menonjol, sementara dadanya terus memercikkan cahaya ungu sebuah tanda kutukan itu sedang merobek jantungnya dari dalam."Arlan, jangan bodoh! Lari!" teriak Xenon, mencoba menarik tangan Lia. "Sistem ini akan melakukan format pada ruangan ini. Kita akan terhapus kalau tetap di sini!"Lia menepis tangan Xenon dengan kasar. Matanya terpaku pada Kael. Dia melihat pria itu, pria yang dulu menghancurkan dunianya dan kini hancur demi memberinya waktu satu detik untuk bernapas."Tidak," desis Lia. "Aku sudah pernah mati sekali karena tidak punya kekuatan. Aku tidak akan membiarkan takdir atau sistem sialan ini menentukan siapa yang harus mati lagi!"Tiba-tiba, tato mawar hitam di punggung Lia terasa membara. Rasa panasnya menjalar ke seluruh

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 13 Anomali ganda

    Kael memejamkan mata sesaat. Kata-kata itu lebih tajam daripada pedang Alaric. "Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."Lia beralih ke Xenon. "Dan kau, Xenon. Kau bilang kau ingin membantuku? Baiklah. Kau akan menjadi peliharaan baruku di paviliun barat. Kau akan mengajariku segala hal yang kau tahu tentang dunia lain itu. Jika kau berbohong sedikit saja, aku akan memastikan lidahmu dipotong."Xenon mendongak, mencoba memberikan senyum liciknya, namun saat melihat tatapan Lia yang kosong, senyum itu hilang. "Tentu, Ratu... atau haruskah kupanggil Lia?"PLAK!Kael bergerak lebih cepat dari kilat. Dia menampar wajah Xenon dengan sangat keras hingga pria itu tersungkur ke lantai marmer. Tapi saat telapak tangan Kael bersentuhan dengan udara di sekitar Xenon yang berada dekat dengan jangkauan Lia, Kael langsung tersungkur, memegangi dadanya dengan wajah pucat.Rasa sakit dari kutukan itu menghantamnya. Jantungnya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa yang berduri."Kael!" Alaric berseru,

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 12 Kesempatan terakhir

    Bayangan hitam sang Penjaga Keseimbangan meluas, menelan seluruh cahaya di kamar Ratu hingga hanya menyisakan kegelapan pekat yang dingin. Udara terasa membeku. Lia tidak bisa bernapas, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik tenggorokannya."Ambil jiwaku!" teriak Kael lagi, suaranya bergetar namun penuh tekad. Dia berdiri di depan Lia, tubuhnya yang besar menjadi perisai terakhir. "Dia tidak bersalah! Aku yang gagal menjaga rahasia ini!"Sosok berjubah itu mendekat, suaranya terdengar seperti gesekan batu nisan. "Kontrak telah diputus. Jiwa yang seharusnya menebus dosa, kini telah ternoda oleh perasaan yang dilarang. Arlan... kau mencintai korbanmu. Itu adalah pelanggaran terbesar!!!"Lia merosot ke lantai, menatap punggung Kael yang gemetar. Rasa mual di perutnya bertarung dengan rasa sakit di dadanya. Pria ini adalah Arlan, pria yang membuatnya menangis setiap malam di toilet kampus. Pria yang membuatnya merasa seperti sampah. Tapi pria ini juga yang semalam memeluknya seola

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status