Share

Seratus Malam di Balik Penutup Mata Hitam
Seratus Malam di Balik Penutup Mata Hitam
Author: Léo

Bab 1

Author: Léo
last update Last Updated: 2026-02-22 13:48:12

Suite kepresidenan itu bermandikan cahaya temaram, menyebar, seolah setiap sudutnya dirancang agar tidak ada yang pernah terlihat jelas. Semua terasa terselubung. Sunyi. Mewah, namun dalam kesenyapan yang menyesakkan. Tirai-tirai ditarik rapat, memisahkan dunia luar, dan dalam gelembung yang melayang di atas kota itu, Chantelle terbaring, pergelangan tangannya disilangkan di atas perut, matanya tertutup kain sutra hitam.

Ia bahkan tak lagi tahu sudah berapa lama ia menunggu. Mungkin lima menit. Mungkin tiga puluh.

Ini adalah kali kedua belas.

Masih ada delapan puluh delapan malam lagi sebelum semua ini berakhir. Sebelum ia bebas.

Pintu terbuka tanpa suara. Ia tidak melihatnya masuk, tapi ia segera merasakan kehadirannya. Wangi kayu yang kering, sederhana namun menusuk. Wanginya. Wangi yang akan ia kenali di antara seribu aroma lainnya, karena wangi itu terukir di dalam tenggorokannya, di pinggangnya, di setiap denyut nadinya. Dia. Ia tak berkata apa-apa. Tak pernah berkata apa-apa.

Chantelle merasakan kasur itu ambles di sampingnya, ketegangan di udara berubah, seolah setiap molekul di ruangan itu tunduk pada otoritas senyap pria yang tak pernah ia lihat itu. Hangatnya mendekat, lambat, terkendali. Ia segera mengenali hangat itu, hangat yang sama-sama ia takuti dan ia nantikan.

Ia tak pernah bertanya apakah ia siap. Itu tak perlu. Kontraknya sudah jelas. Ia hafal setiap klausulnya.

Jari-jarinya mengusap pinggulnya, perlahan, dengan ketepatan yang meresahkan, dan di mana pun jari-jari itu menyentuh, ia meninggalkan getaran yang merambat di bawah kulitnya, seperti gelombang saraf yang tak bisa dikendalikan. Ia mengikuti kontur panggulnya dengan kelambanan yang terukur, menjelajahi setiap lengkungan. Ia tak melihat apa pun, tapi ia merasakan segalanya. Gesekan halus celana pria itu di paha telanjangnya. Tekstur kering jari-jarinya, sedikit kasar, kontras dengan kelembutan lekuk tubuhnya sendiri.

Tekanan telapak tangannya bertambah, turun ke bawah perutnya, lalu berhenti tepat sebelum area terlarang, seolah hendak membiarkannya dalam keadaan menanti yang membara. Penantian yang nyaris menyakitkan.

Ia tak berhak menyentuhnya. Itu aturannya. Namun jari-jarinya tetap mengejang tanpa sadar, mencengkeram seprai. Ia ingin membalas setiap sentuhannya. Membuatnya kehabisan napas. Membuatnya melekat padanya. Tapi ia tak berhak. Telapak tangannya menekan pahanya sendiri, tenggorokannya, kekosongan tak tertahankan di antara kedua kakinya. Di mana ia belum berada. Di mana ia sudah menginginkannya.

Pria itu semakin membungkuk, dadanya nyaris menyentuh payudaranya, mulutnya turun perlahan, licik. Saat bibirnya menyentuh bagian dalam pahanya, ia menahan erangan, parau, terlalu kasar untuk dibuat-buat. Pinggulnya bereaksi dengan sentakan tak terkendali.

Pria itu berhenti. Seolah ingin ia mengerti bahwa dialah yang menentukan ritme. Bahwa ia hanyalah wilayah yang harus ditaklukkan. Ia tak mencari cara untuk menyenangkannya. Ia menjelajahinya. Membedahnya. Ia berkuasa atasnya.

Dan malam ini... malam ini, ia tidak lembut, juga tidak brutal. Ia tepat. Dengan kelambanan yang nyaris kejam. Dengan kesabaran binatang. Seolah ia ingin membedahnya dengan tangan kosong.

Jari-jarinya menyelip di antara pahanya yang sedikit terbuka.

Panggulnya terangkat meski ia berusaha menahannya. Mencari. Memanggil. Menuntut apa yang masih tertunda.

Pria itu membiarkan mulutnya naik, perlahan, sangat perlahan, hingga ke bibirnya. Tapi tak menyentuhnya. Berhenti di sana, dekat, terengah-engah, membisu.

Lalu, ia masuk ke dalamnya. Tidak sekaligus. Tidak dengan teriakan. Tapi dengan kelambanan yang buas.

— Ah… ah… ya Tuhan… iya…

Punggungnya melengkung, terengah-engah, bibirnya terbuka pada erangan bisu, jari-jarinya mengejang begitu kuat hingga meninggalkan bekas di seprai. Tak mampu menahan api yang naik. Gelombang pekat, membara, tak terkendali itu. Yang mengikat tenggorokannya. Mengosongkan segalanya darinya. Kecuali dirinya. Pria itu nyaris tak bergerak. Cukup untuk membuatnya merasakan. Cukup untuk membuatnya menginginkan lebih.

Ia ingin memohon, tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan. Tak ada tempat untuk kata-kata di sini. Hanya desahan, getaran, gelombang.

Setiap gerakan membuat pikirannya runtuh, satu per satu. Gerak maju mundur yang diperhitungkan hingga batas yang hampir tak tertahankan.

— Mmmh… ah… lagi… jangan berhenti…

Ia kehilangan pijakan. Ia hanya tinggal tubuh. Daging yang tersaji. Napas yang terpatahkan. Orgasme yang tertahan.

Dan dalam kegelapan yang menutupi matanya, dalam kegelapan lembab itu, ia melupakan segalanya. Namanya. Kisahnya. Kontraknya. Angka-angka.

Yang tersisa hanya dia. Dia, sang pria asing. Dia, yang tak akan pernah ia lihat. Dia, yang tak akan pernah ia kenali wajahnya. Bahkan suaranya. Tapi yang setiap kali, mengukir jejak di dalam dirinya, semakin dalam. Semakin tak terhapuskan.

Saat semuanya usai, ia tetap terbaring di sana. Terengah-engah. Telanjang. Gemetar. Kosong. Hancur. Perutnya masih terikat kejang-kejang sisa. Kemaluannya berdenyut karena ketidakhadirannya. Kedua kakinya terbuka.

Ia tetap terbaring, penutup mata masih terpasang. Ia mendengar suara air mengalir di kamar mandi.

Pria di kamar mandi itu telah selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian rapinya.

Pria itu, setelah berpakaian, mendekati pintu. Jantungnya berdebar kencang. Untuk pertama kalinya, ia berani memecah kesunyian.

Ia berdeham pelan, lalu dengan suara sedikit ragu, akhirnya memecah kesunyian yang telah lama menyelimuti mereka.

— Tuan, bisakah saya mendapat tambahan delapan ribu euro bulan ini?

Ini pertama kalinya ia berani berbicara padanya. Selama ini, hubungan mereka terbatas pada pertukaran bisu, sebuah permainan kejam di mana pandangan mata tak pernah bertemu.

Tak ada jawaban. Sepatah kata pun tak keluar.

Pria itu berjalan menuju pintu, sosoknya kaku dalam bayang-bayang pagi. Ia menutup pintu di belakangnya dengan bunyi gedebuk tumpul, suara keras yang membuat Chantelle tersentak. Ruangan itu segera jatuh kembali dalam kesunyian mencekiknya.

Begitu mendengar pintu dibanting di belakangnya, Chantelle menghela napas lega dan segera melepas penutup matanya. Rasa kecewa yang pahit mengikat tenggorokannya. Ia tak menjawabnya.

Ia sangat membutuhkan uang itu.

Kemarin, dokter meneleponnya. Suaranya berat, penuh kecemasan, memberitahukan bahwa kondisi neneknya memburuk. Kanker ginjal yang dideritanya, meski semua perawatan yang telah dibayar, yang menghabiskan lebih dari satu juta euro, menunjukkan gejala-gejala baru yang mengkhawatirkan.

Maka, hari ini, ia memberanikan diri meminta, hanya mencoba.

Namun kebisuan pria itu membuat hatinya membeku.

Ia bangkit perlahan dan berjalan menuju kamar mandi. Tanpa berpikir panjang, ia mengisi bak mandi dengan air panas, berharap panas itu bisa meredam sejenak beban yang menekan dadanya.

Ia tak bahagia dengan apa yang dilakukannya. Dulu, semasa kecil, ia tak pernah membayangkan akan menjual tubuhnya, atau menukar martabatnya dengan uang. Tapi hidup, yang kejam dan tak kenal ampun, telah mengajarkannya bahwa mimpi kadang sirna tertindih realita.

Sejak ia berusia lima tahun, sejak ibunya meninggal karena penyakit mendadak, segalanya berubah. Ayahnya, yang segera menikah lagi, menempatkannya dalam peran sebagai bayangan, orang asing di tengah keluarganya sendiri.

Neneknya, meski dengan kemampuan pas-pasan, mengambil alih, membesarkan dan mendidiknya dengan cinta yang keras namun tulus.

Chantelle tumbuh di antara dua dunia ini, jarang merasakan kehangatan rumah ayahnya, lebih memilih menghindari tatapan dingin ayah dan ibu tirinya.

Kemudian, setahun yang lalu, penyakit itu menyerang lagi: kanker ginjal neneknya.

Dokter menyebut angka satu juta euro, jumlah yang mustahil ia raih sendirian.

Ia pergi memohon pada ayahnya, berharap ada uluran tangan, pertolongan.

Tapi ayahnya mengusirnya, tanpa menatapnya.

"Itu bukan ibuku, untuk apa aku mengeluarkan uang untuknya?" cibirnya penuh hina.

Setelah penolakan brutal ayahnya, Chantelle terpojok. Tak ada lagi pilihan, tak ada lagi dukungan. Maka, hancur namun bertekad, ia mengambil keputusan yang tak pernah disangka akan diambilnya: ia pergi ke sebuah klub swasta, tempat di mana tubuh dan kesunyian diperjualbelikan.

Bahkan sebelum masuk, kakinya sudah gemetar. Tapi ia tak lagi punya kemewahan untuk ragu. Neneknya sedang sekarat.

Dan di sanalah ia menemukan sebuah tawaran... kolosal. Tak terduga. Mencengangkan.

Sebuah kontrak senilai satu juta euro, sebagai ganti seratus malam bersama seorang pria. Seratus malam keintiman, ketundukan... dengan seorang pria asing. Ia tak akan pernah tahu namanya, wajahnya, atau jati diri aslinya. Sebuah kontrak yang dibalut misteri, ditandatangani dalam kerahasiaan.

Hanya satu detail yang tak perlu diragukan: pria itu sangat kaya raya. Karena tak ada orang miskin yang mampu, atau mau, membayar jumlah sebesar itu untuk membeli malam-malam dalam kegelapan.

Ia menandatangani. Tanpa bertanya. Tanpa membaca klausul dua kali. Ia terlalu takut tawaran itu ditarik jika ia berlambat-lambat.

Syarat utama kontrak itu tegas: ia tak boleh sekali pun melihat pria itu. Pada setiap seratus malam, ia akan diantar ke sebuah suite kepresidenan. Ia akan memakai penutup mata, dan ia hanya punya satu peran: patuh. Tunduk. Berada di sana untuknya, dan tak boleh bertanya apa pun.

Pria itu adalah tuannya. Untuk seratus hari.

Hari ini, ia baru menjalani pertemuan kedua belas. Meski ia telah belajar mengendalikan rasa takutnya, ia tak pernah benar-benar terbiasa.

Tapi ia bertahan. Karena setiap kali pembayaran turun, ia menghematnya dengan rajin. Setiap sen. Ia menghitung, ia mencatat. Untuk neneknya, untuk wanita yang telah mengorbankan segalanya baginya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Seratus Malam di Balik Penutup Mata Hitam   Bab 5

    Chantelle pulang ke apartemennya. Apartemen kecilnya, sederhana namun hangat, menyelimutinya seperti kepompong yang menenangkan. Dinding-dinding berwarna lembut menyimpan jejak kepribadiannya: bingkai-bingkai foto kecil, beberapa tanaman, buku-buku bertumpuk di rak murah. Tak ada yang mewah, tapi semuanya berjiwa. Berbeda dengan rumah ayahnya yang dingin dan megah, di sini ia merasa di rumah. Aman. Damai.Ia melepas sepatunya, menghela napas panjang, lalu menjatuhkan diri ke sofa. Baru saja ia meletakkan ponsel di meja, sebuah notifikasi muncul di layar. Sebuah pesan, tanpa pengirim. Seperti biasa."Nanti malam, jam 23.00."Ia mengerutkan kening. Ini tidak biasa. Pria yang membelinya dalam bayang-bayang itu tak pernah terburu-buru. Ia menghubunginya dengan jarak waktu, seolah ingin menjaga jarak dingin dan metodis. Tapi malam ini, ia memanggilnya lagi, baru dua hari setelah pertemuan terakhir mereka.Ada yang tidak beres, tapi ia tetap pergi.Pukul 22.50, ia meninggalkan apartemennya,

  • Seratus Malam di Balik Penutup Mata Hitam   Bab 4

    Chantelle mundur selangkah dengan cepat, hampir panik. Kedekatan Collen Wilkerson, tatapannya yang tajam, kehadirannya yang mengesankan... semuanya membuatnya sesak. Namun yang paling menggerogotinya adalah ketakutan mendasar: Mégane, saudari tirinya yang histeris, bisa muncul kapan saja. Ia tak butuh banyak alasan untuk merasa dikhianati, terlebih lagi jika menyangkut pria yang telah diputuskan untuk dimilikinya.— Maaf... bisiknya, tidak yakin, napas tersengal.Ia berbalik, bertekad untuk pergi, tetapi kakinya tergelincir di atas batu basah. Jantungnya melonjak dan sebelum ia menyentuh tanah, tangan yang kokoh dan panas menangkap pinggangnya.Sengatan listrik menjalari tubuhnya. Hidungnya hampir menempel di dada pria itu, dan tanpa bisa menahan, ia menarik napas... wangi itu. Wangi yang sama. Yang menghantuinya di malam hari. Wangi pria asing misterius yang bersamanya ia telah melewati dua belas malam.Dunia seolah runtuh.Pandangannya perlahan naik hingga ke mata Collen, yang menga

  • Seratus Malam di Balik Penutup Mata Hitam   Bab 3

    Wajah pria itu tetap tak berubah, hanya mengangguk singkat sebagai balasan atas sapaan Chantelle. Pandangannya melintas sekilas ke arahnya, tanpa emosi yang tampak, seolah ia mencoba menilainya... atau mungkin melupakannya.Apa yang tidak diketahui Chantelle adalah, pria yang duduk hari ini di ruang keluarga sebagai tunangan resmi Mégane ini, sebenarnya telah ditakdirkan untuknya.Untuk Chantelle.Beberapa minggu sebelumnya, Gérard, ayahnya, telah datang ke kantor luas Collen Wilkerson yang beralas karpet tebal, di menara pusat grup perusahaan itu.Pria bisnis itu, kaku di belakang mejanya, mengangkat sebelah alis mendengar Gérard memulai dengan nada pura-pura canggung:— Saya minta maaf, Tuan Wilkerson. Putri bungsu saya... yang seharusnya menjadi tunangan Anda...Ia berhenti sejenak, seolah mengukur dampak kata-katanya.— Ia dengan tegas menolak pernikahan itu. Ia tidak kooperatif. Tidak stabil. Akan menjadi kesalahan jika Anda terus menunggunya.Collen hanya menatapnya. Tak sepatah

  • Seratus Malam di Balik Penutup Mata Hitam   Bab 2

    Pagi berikutnya, Chantelle bangun dengan tubuh yang terasa berat, penuh kelelahan dan ketidakpastian. Ia duduk perlahan, meraih ponselnya dengan tangan gemetar, lalu membuka aplikasi Catatan. Jari-jarinya mengetik secara mekanis: kedua belas kali. Kata-kata itu bergema jauh di dalam dirinya, sarat makna.Ia meletakkan ponsel di meja kecil di sampingnya, bersiap untuk beralih ke hal lain, ketika tiba-tiba sebuah notifikasi berbunyi. Penasaran, ia melirik layar dan senyum rapuh menghiasi wajah lelahnya. Sebuah transfer bank sebesar 8.000 euro baru saja masuk ke rekeningnya.Helaan napas lega terlepas dari bibirnya. Tindakan itu, sekecil apa pun, memberinya sedikit penghiburan di tengah kekacauan.Ia duduk kembali, masih terkejut, lalu membuka WhatsApp. Ia mencari nomor yang tak pernah berani dihubunginya sebelumnya. Dengan jari ragu, ia mengetik satu kata sederhana, penuh rasa terima kasih: Terima kasih.Ia berhenti sejenak sebelum menekan "Kirim". Ini pertama kalinya ia mengambil inisi

  • Seratus Malam di Balik Penutup Mata Hitam   Bab 1

    Suite kepresidenan itu bermandikan cahaya temaram, menyebar, seolah setiap sudutnya dirancang agar tidak ada yang pernah terlihat jelas. Semua terasa terselubung. Sunyi. Mewah, namun dalam kesenyapan yang menyesakkan. Tirai-tirai ditarik rapat, memisahkan dunia luar, dan dalam gelembung yang melayang di atas kota itu, Chantelle terbaring, pergelangan tangannya disilangkan di atas perut, matanya tertutup kain sutra hitam.Ia bahkan tak lagi tahu sudah berapa lama ia menunggu. Mungkin lima menit. Mungkin tiga puluh.Ini adalah kali kedua belas.Masih ada delapan puluh delapan malam lagi sebelum semua ini berakhir. Sebelum ia bebas.Pintu terbuka tanpa suara. Ia tidak melihatnya masuk, tapi ia segera merasakan kehadirannya. Wangi kayu yang kering, sederhana namun menusuk. Wanginya. Wangi yang akan ia kenali di antara seribu aroma lainnya, karena wangi itu terukir di dalam tenggorokannya, di pinggangnya, di setiap denyut nadinya. Dia. Ia tak berkata apa-apa. Tak pernah berkata apa-apa.Ch

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status