Teilen

131. Terjebak 3

last update Veröffentlichungsdatum: 17.11.2025 14:34:59

Mendengar ucapan adiknya, Emir jadi ikut ragu. Ezar memang bisa bekerja, tapi dia tidak bisa diandalkan untuk memimpin usaha. Dia bisa mengerjakan pekerjaan dan tugas apapun, tapi berhadapan dengan klien, dengan relasi, tentang public speaking, Ezar memang kurang menguasai.

"Nanti kupikirkan lagi, Zar," jawab Emir akhirnya.

Coba kalau Ezar meyakinkan, tentu Emir tidak akan sepusing sekarang ini. Dia juga harus berpikir logis dan realistis. Memang dia mencintai Naima dan anak-anaknya, rela mela
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (30)
goodnovel comment avatar
Retno Ririn
mb Lies, kapan nih Yesi diunboxing Doni?
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
bahagia selalu ya Emir km ma naina n anak2..ni si mertua Lom sadar juga ya
goodnovel comment avatar
Sri Mayani Roeslan
takdirmu, Yes dapet duren...duda kere....n
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Setelah Aku Kau Miliki   179. Perjalanan Pulang 3

    Selesai makan, mereka membahas tentang poin-poin penting dalam rencana kerjasama. Seperti biasa Dewa sangat fokus. Waktu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk membahas semua hal yang penting. Selang beberapa menit setelah pembicaraan selesai, relasinya pamit. Tapi Dewa masih duduk di sana menghadap laptop sambil sesekali menyeruput kopinya.Saat ia menoleh sekilas ke arah pintu masuk. Ia terkejut. Seorang wanita masuk sambil menggandeng tangan seorang anak perempuan. Wanita itu mengenakan kemeja krem dengan blazer navy, rambutnya digerai sebahu. Di tangan kanannya menenteng tas besar berisi kemasan keripik. Anak kecil di sampingnya masih mengenakan seragam SD, rambutnya dikucir dua. Anak itu sudah besar sekarang. Seumuran Zahra. Langkah wanita itu terhenti sepersekian detik ketika matanya bertemu dengan mata Dewa. Tia.Wajah itu tidak banyak berubah. Hanya sedikit lebih tirus. Sosok yang dulu membuat Dewa luluh tanpa banyak kata, wanita yang dulu ia percaya sepenuhnya. Sebelum kenyataan

  • Setelah Aku Kau Miliki   178. Perjalanan Pulang 2

    Tidak ada yang sempurna. Dulu Dewa juga seperti anak muda pada umumnya. Suka balapan, minuman keras, ikut gelangang bebas. Tapi dia tidak pernah menyentuh obat-obatan terlarang dan main perempuan. Namun setelah lulus kuliah dan fokus bekerja. Sudah mulai mengurangi kebiasaan itu. Apalagi setelah memutuskan untuk menikah, dia benar-benar berhenti. Sebab ingin menjadi suami yang baik, sebagaimana dia berharap mendapatkan istri yang baik.Sebenarnya Ilyas tahu sepak terjangnya Dewa bagaimana. Hanya saja dia memang sudah berubah banyak. Merokok pun berhenti waktu menikah. Namun sekarang rokok kembali menjadi temannya dikala sunyi.Dewa sosok yang memiliki solidaritas tinggi terhadap teman dan lingkungan. Tidak pernah merugikan orang lain juga. Malah dia yang jadi tumpuan teman-temannya.Setelah menghabiskan satu batang rokok, Dewa berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan. Dari Blitar ia mengambil rute menuju Kademangan, melewati area persawahan luas. Ia membuka kaca mobil. Angin siang

  • Setelah Aku Kau Miliki   177. Perjalanan Pulang 1

    SETELAH AKU KAU MILIKI- 66 Perjalanan Pulang Mobil Dewa melaju meninggalkan batas kota Tulungagung untuk kembali ke Surabaya. Dia hanya ditemani suara mesin halus dalam kabin. Tidak ada musik yang mengalun. Karena kali ini ia lebih memilih suasana sepi.Tatapannya lurus ke depan. Tangan kirinya fokus ke kemudi, sedangkan tangan kanan bertumpu di sandaran pintu. Sesekali mengusap dagunya yang mulai ditumbuhi cambang halus.Dalam kesunyian perjalanannya, pikirannya jauh melayang ke belakang.Beberapa menit sebelumnya, dia bertemu lagi dengan perempuan itu. Wanita yang selama setahun ini mengusik hatinya tanpa ampun. Sosok yang pertama kali ia temui bukan dalam kondisi baik-baik saja, tapi disaat hidupnya bersama sang anak sedang runtuh."Om Dewa, tolongin Mama saya!" Dia masih ingat dengan jelas suara Zahra yang panik di depan terasnya suatu malam.Inilah awal kisah yang membuatnya kembali patah kali kedua. Tapi perempuan ini, kembali bahagia dengan lelaki yang sangat mencintainya. Bu

  • Setelah Aku Kau Miliki   176. Tentang Mereka 2

    "Elvaro, Om," jawab Naima sambil memperhatikan sang anak di pangkuannya."Sudah umur tiga bulan, Mas." Emir menambahkan."Iya. Sudah delapan bulan yang lalu Mas Emir membawa pindah keluarga kembali ke Tulungagung.""Mas Dewa, pindah ke mana? Waktu kami ke sana, katanya Mas juga pindah.""Saya kembali ke Surabaya, Mas. Dan sudah dua hari ini saya ada urusan di Tulungagung. Makanya kemarin di kantor saya kepikiran mau mencari alamat Mas Emir. Alhamdulillah, langsung ketemu tadi." Dewa mengambil paper bag di dekatnya, kemudian memberikan pada Naima. "Mbak Nai, hadiah untuk baby boy.""Oh, makasih, Mas Dewa. Selalu saja bawain hadiah untuk anak-anak.""Nggak apa-apa, Mbak."Mereka berbincang-bincang ringan tentang pekerjaan dan hal-hal umum. Namun baik Emir maupun Naima, tidak menyinggung tentang pasangan. Melihat Dewa datang sendirian, sudah pasti dia belum menikah. Emir dan Naima menganggap masalah itu terlalu pribadi jika ditanyakan.Dewa juga ngobrol dan bercanda dengan anak-anaknya N

  • Setelah Aku Kau Miliki   175. Tentang Mereka 2

    "Audy," jawab Yesi lembut. Aurel dan Zahra kembali memperhatikan sang adik."Namanya mirip kamu, Rel," bisik Zahra ke telinga Aurel sambil ditutupi telapak tangannya yang kecil. "Hu um."Waktu berlalu hampir satu jam. Ruangan penuh tawa dan percakapan ringan. Sesekali Elvaro yang mulai gelisah merengek. Dia sebenarnya tidak betah digendong. Mintanya di taruh kasur dan bisa menggerak-gerakkan tangan dan kakinya dengan leluasa.Emir beralih fokus pada putranya. Kemudian memberi isyarat untuk pamitan. Ia juga berdiri dan menghampiri dua putrinya. Memperhatikan sejenak bayi perempuan, anak mantan istrinya. Kemudian ia pamit. Semua saling bersalaman.Yesi menciumi Aurel. Ia sudah terbiasa menahan kangen pada putri sulungnya. Sekarang juga mulai sibuk dengan Audy. Tidak usah mengkhawatirkan Aurel, anaknya itu hidup sangat baik bersama papanya."Terima kasih sudah datang. Makasih juga untuk kadonya, Nai," ucap Yesi."Sama-sama, Mbak.""Assalamu'alaikum," ucap Emir seraya membukakan pintu un

  • Setelah Aku Kau Miliki   174. Tentang Mereka 1

    SETELAH AKU KAU MILIKI - 65 Tentang Mereka "Kami bawa mainan untuk adik, Ma. Kan dia cewek. Bisa main boneka," kata Aurel begitu polosnya.Naima menghampiri kedua putrinya. Kemudian melihat apa yang mereka bawa di goodie bag. Boneka kuda poni, ada barby, ada hello kitty, panda juga. "Dengerin Mama. Adik itu baru lahir, dia masih kecil banget. Kalian ingat kan, bagaimana dulu El bayi?"Kedua bocah perempuan itu mengangguk. "Jadi dia belum ngerti bermain. Nanti malah bahaya kalau dimasukkan ke mulutnya.""Iya. Tapi biar disimpan Mama Yesi dulu, nanti kalau adik dah bisa bermain, biar dikasihkan ke dia, Ma," jawab Aurel."Jangan, Sayang. Nanti saja dikasihkan kalau adek sudah umur setahun. Mama Yesi kan baru lahiran, dia nggak bisa mengurus barang-barang ini. Lagian kita mau nyambangi ke rumah sakit. Nanti merepotkan Mama Yesi dan Ayah Doni kalau banyak barang di kamar perawatan." Naima memberikan pengertian ke anak-anak."Aurel, Zahra, disimpan dulu mainannya. Nanti kalau adik sudah

  • Setelah Aku Kau Miliki   84. Kamar yang Sama 1

    SETELAH AKU KAU MILIKI - 35 Kamar yang Sama"Bagaimana keadaan mamamu, Mir?" Bulek menyerobot langkah Ratna yang menghampiri Emir."Sudah dalam perawatan dokter, Bulek. Mama kena serangan stroke ringan," jawab Emir.Bulek terkejut. Suasana ruangan mendadak heboh. Kerabat yang masih di sana saling

  • Setelah Aku Kau Miliki   78. Melawan dengan Elegan 1

    SETELAH AKU KAU MILIKI- 33 Melawan dengan Elegan Yesi tidak menyangka sama sekali, ternyata diam-diam Emir bersama Naima lagi. Dikiranya wanita itu benar-benar sudah pergi menjauhi semuanya. Menghilang tanpa kabar. Emir tidak bisa menemukannya lagi. Yesi menelan ludah, bibirnya yang kaku dipaksa

  • Setelah Aku Kau Miliki   74. Kenapa harus dia? 3

    "Ketemu. Kebetulan beliau baru selesai salat zhuhur," jawab Emir sambil memeriksa ponselnya. Naima memandang sekilas, tapi diam saja."Yesi ngirim pesan." Ternyata Emir berkata jujur."Ngomong apa dia?" Tentu saja Naima pura-pura tidak tahu.Emir menunjukkan pesan dari mantan istrinya pada Naima.

  • Setelah Aku Kau Miliki   73. Kenapa harus dia? 2

    Diam. Naima merasakan dadanya berdegup kencang. Tentu ini bukan pilihan yang mudah bagi keduanya. Yang jelas dia yang harus mengalah dan ikut Emir kembali pulang. Sebab suaminya bekerja di sana dan usaha itu tidak mungkin akan dipindah. Jika Emir yang bolak-balik Tulungagung-Pare, tentu ini bukan h

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status