Se connecter"Semua ini berkat Paul yang tiba-tiba muncul dan menghajarku waktu itu.""Alasan aku nggak langsung datang buat nemuin kamu, karena ...."Dia menarik sedikit ujung celananya ke atas, memperlihatkan sebuah gelang kaki elektronik yang terpasang di sana.Dengan nada pasrah, dia berkata, "Aku sudah sewa pengacara ternama dan menjalani proses hukum yang panjang.""Cuma demi bisa dapat masa percobaan satu tahun.""Supaya punya kesempatan untuk datang dan nemuin kamu.""Aku tahu, apa pun yang aku katakan atau lakukan sekarang, mungkin kamu tetap nggak akan memaafkanku.""Tapi, aku tetap ingin datang buat menemuimu.""Ingin mastiin sendiri, apa kamu hidup dengan baik atau nggak.""Maafkan aku, semua ini salahku.""Aku mencintaimu, Zia. Harusnya aku bisa lebih cepat menyadari isi hatiku yang sebenarnya.""Orang yang aku cintai itu kamu. Waktu dengar kabar kematianmu dulu, aku ....""Cindy, ayo cepat ke sini!"Teman satu rombonganku berteriak memanggil dari depan.Ucapan Diego belum sepenuhnya s
Dua tahun kemudian, aku sedang duduk di sebuah kafe di Negara Oakhaven.Aku sedang mendengarkan siaran radio dari tanah air.[Dikabarkan bahwa mantan Presiden Direktur Grup Bastian, Diego Bastian, telah didakwa oleh pihak kejaksaan atas kasus penghasutan pemerkosaan dan pembunuhan berencana. Setelah proses persidangan yang panjang selama dua tahun, hakim akhirnya menjatuhkan vonis hukuman penjara seumur hidup dengan masa percobaan satu tahun, serta pencabutan hak politik seumur hidup.]Mendengar berita itu, kopi di tanganku sempat sedikit bergoyang.Akan tetapi, permukaan kopi itu kembali tenang.Suara langkah kaki Paul yang tergesa-gesa terdengar dari arah belakangku."Kak Zia, barangmu ada yang ketinggalan lagi nih."Sambil berkata begitu, dia menyodorkan tas milikku."Yakin nggak mau aku temenin?"Aku tersenyum, lalu menggelengkan kepala."Rombongan pendakianku ini isinya perempuan semua, kamu yakin mau ikut?"Paul langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.Dia paling malas kala
"Keluarin aku! Keluarin aku dari sini! Aku nggak mau tinggal di sini!"Pintu pun ditutup dan dikunci rapat-rapat.Diego kemudian melangkah masuk ke ruangan lain.Tanpa basa-basi, dia langsung menendang tubuh Rian dengan keras.Diego melirik laporan hasil tes DNA dibuat secara kilat.Dia kembali tertawa sinis."Berani-beraninya kalian bersekongkol menipuku!"Rian mengerang kesakitan, tetapi dia masih memaksakan seulas senyum sinis."Pak Diego, mau Anda percaya atau nggak, saya juga dibohongi sama dia."Diego tidak menyahut.Sembari berbalik untuk pergi, Diego mengucapkan setiap kalimatnya dengan penekanan yang tajam."Bawa anakmu dan enyah dari sini."Rian buru-buru bertanya."Terus, gimana sama dia?"Langkah kaki Diego seketika terhenti.Suaranya terdengar sedingin es."Dia harus menyusul Zia untuk menebus dosanya."Diego hanya duduk diam di luar pintu.Dari dalam ruangan, terdengar jelas suara makian dan jeritan histeris Shera."Jangan sentuh aku! Pergi! Jangan sentuh aku!""Diego, ak
Diego sama sekali tidak memedulikannya. Dia justru menyodorkan layar ponsel yang menampilkan email waktu itu ke hadapan Shera.Suaranya terdengar tenang dan lambat, tetapi mampu mengalirkan rasa dingin yang menusuk tulang."Email ini kamu yang kirim, 'kan?"Mata Shera seketika membelalak, dia bergumam lirih."Padahal sudah aku hapus, kok bisa ...."Diego tidak bisa menahan tawa getirnya.Akan tetapi, sepasang matanya mulai merah.Dia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa hanya karena trik murahan seperti ini.Dia telah menyudutkan istrinya sendiri ke jalan kematian.Tiba-tiba dia mencekik leher Shera."Kenapa kamu tega lakuin ini? Dia itu sahabat terbaikmu, kenapa kamu harus bikin dia mati!""Zia nggak punya salah apa-apa! Kita yang selingkuh dan berkhianat. Kita yang salah!""Kamu pantas mati! Aku bakal bunuh kamu buat menebus dosa ke Zia!"Wajah Shera merah padam karena tercekik. Dia sudah hampir kehabisan napas.Rian segera menarik paksa Diego agar melepaskan cengkeramanny
Barulah saat itu dia menyadari, orang yang kemarin masih hidup di sisinya, kini telah berubah menjadi sebuah kotak kecil.Tangis Diego mendadak pecah, dia terisak hebat."Maaf, maafin aku!"Akan tetapi, sudah tidak ada lagi yang menjawabnya.Tidak akan ada lagi orang yang menatapnya dengan mata berbinar, lalu membawakannya semangkuk sup hangat di tengah malam.Dia membiarkan rasa sakit di lambungnya terus bergejolak.Seolah-olah dia sengaja menghukum dirinya sendiri.Padahal obat pereda nyeri ada di dalam laci tepat di samping ranjang, tetapi dia sama sekali tidak bergerak.Dia hanya mendekap erat kotak itu, sangat takut kalau benda itu akan lenyap di detik berikutnya.Sampai akhirnya, terdengar suara kunci pintu yang diputar.Sang asisten melangkah masuk ke dalam.Dengan kikuk, dia berkata, "Pak Diego, Nona Shera mencari Anda."Kedua mata Diego yang semula tak bernyawa baru bergerak sedikit.Dengan suara serak, dia bertanya."Kenapa masalahnya bisa jadi seperti ini?"Asisten itu menja
Saat Diego tiba di rumah duka, upacara pemakamannya sudah dimulai.Di tengah suara tangisan yang bersahut-sahutan, dia mendongak dan menatap foto hitam-putih yang terpajang di altar.Secara refleks, dia mengucek kedua matanya.Dia mengira dirinya salah lihat.Akan tetapi, begitu dia melangkah mendekat, dia tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri.Diego menatap semua yang ada di hadapannya dengan tatapan kosong dan linglung.Dia bergumam lirih, "Nggak mungkin. Ini nggak mungkin!""Aku nggak pernah menyangka dia akan meninggal."Sang manajer, Yola, dengan mata yang merah karena menangis, menatapnya dengan penuh amarah."Ngapain kamu ke sini?""Pergi kamu! Pergi dari sini!""Kak Zia nggak sudi lihat muka kamu. Cepat pergi!"Diego masih tenggelam dalam rasa syok setelah mendengar kabar kematianku.Dia sama sekali tidak marah mendengar usiran itu.Sebaliknya, dia malah menatap Yola dengan penuh harap."Dia belum mati, 'kan? Di mana kamu sembunyiin Zia?""Panggil dia keluar dan suruh dia







