LOGIN
“Kamu bilang sama sekali tidak mencintainya. Lantas mengapa kamu masih saja menahannya, Saka?”
Lisa menghentikan langkahnya, tangannya yang hendak mengetuk pintu kamar masih menggantung di udara. Telinganya mendengar sebuah suara familiar milik seorang wanita, dahinya mengernyit. Suara wanita itu terdengar aneh dan manja.
Namun, sebenarnya bukan itu yang membuat tubuh Lisa membeku. Melainkan nama suaminya baru saja dipanggil wanita itu.
“Lisa itu aset perusahaan yang paling berharga, sayang. Desainnya selalu menempati angka penjualan tertinggi. Bahkan koleksi musim dingin tahun lalu mampu menguasai pasar Eropa. Apalagi dia putri tunggal keluarga Wijaya, pebisnis paling berpengaruh di Asia. Aku tidak bodoh untuk melepasnya begitu saja.”
Kali ini suara seorang pria. Lisa tidak mungkin salah mengenali. Itu benar suara suaminya, Saka Adhitama. Pria itu terkekeh di akhir kalimatnya.
Lisa berdiri di depan pintu kamar. Dia tadi hendak mencari keberadaan suaminya. Malam ini Adhitama Group mengadakan pesta perayaan peluncuran cabang butik baru di Paris yang sukses besar. Suaminya itu malah menghilang di tengah pesta dan kakek menyuruh Lisa untuk mencarinya.
Dengan jantung berdegup kencang dan nafas tertahan, Lisa mendekatkan telinganya pada pintu kamar. Suara musik pesta dan riuh rendah tawa percakapan para tamu di bawah menyamarkan pendengarannya. Jemarinya mengepal erat.
“Jadi, selama ini kamu hanya memanfaatkannya?”
“Tentu saja. Tidak ada yang boleh memilikinya selain aku. Sulit untuk menemukan desainer berbakat sepertinya. Apalagi dia sangat mencintaiku. Jadi aku bisa memerasnya sesuka hati tanpa mengeluarkan banyak biaya.”
Dua orang itu tertawa lepas penuh kemenangan. Merasa telah berhasil membodohi Lisa.
Lisa tidak mampu menahannya lagi. Dia benar-benar marah. Hatinya hancur dan harga dirinya terluka. Suami yang sangat dia cintai hanya memanfaatkannya sebagai aset bisnis. Namun dia bukan gadis lemah yang menangis dan memohon dengan memelas. Lukanya menjelma menjadi amarah tak terbendung.
Tangannya terulur, bersiap untuk mendorong pintu kamar. Namun, kalimat berikutnya yang keluar dari mulut Saka membuat Lisa kembali mengurungkan niatnya.
“Tiga bulan lagi kakek akan pensiun. Aku harus berhasil menggantikan posisinya sebagai ketua grup. Lisa dan keluarganya akan menjadi senjata yang kuat. Kami sedang merancang proyek pembangunan hotel mewah di ibu kota. Jika proyek ini berhasil, dewan direksi tidak perlu berpikir dua kali untuk mendukungku.”
Tidak tahan lagi, Lisa akhirnya membuka pintu itu dan membantingnya dengan keras.
Cklek! Brak!
Percakapan di dalam kamar seketika terhenti. Saka dan wanita itu serentak menatap ke arah pintu. Wajah mereka berubah pucat, tak menyangka Lisa tiba-tiba menerobos masuk.
“Kalian …” Lisa mematung begitu pintu kamar tamu terbuka.
Saka tengah memeluk seorang wanita di atas ranjang. Pria itu bertelanjang dada, sementara lengan gaun wanita itu melorot dari bahunya, tapi Lisa tak bisa melihat jelas siapa wanita itu karena posisinya yang membelakanginya dan rambutnya yang agak berantakan.
Selimut yang kusut itu bahkan hanya menutupi sebagian tubuh mereka, seolah buru-buru ditarik saat mendengar pintu dibuka.
Saka sontak melepas pelukan itu. Dan wanita itu pun tersentak, refleks meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.
Wajah Lisa yang semula dipenuhi amarah berubah menjadi semakin syok ketika berhasil melihat siapa wanita itu.
“Rika ….”
Mata Lisa membelalak, napasnya tercekat.
Wanita yang berselingkuh dengan Saka dan membodohinya ... ternyata Rika. Brand Ambassador perusahaan mereka. Selebritas terkenal yang direkrut Saka dua tahun lalu.
“Kak Lisa?” Rika ikut terkejut. Wajahnya langsung memucat.
“Lisa! Apa yang kamu lakukan, hah!” bentak Saka. Dia melangkah turun dari ranjang tanpa sedikit pun menunjukkan rasa bersalah.
Lisa mengalihkan tatapannya kepada Saka. Rasa syok di matanya perlahan berubah menjadi amarah yang membara.
“Apa yang aku lakukan?” Lisa tertawa pendek penuh ironi. “Bukankah seharusnya aku yang bertanya, Saka?”
Dia melangkah mendekat. Wajahnya seketika berubah, seolah semua emosinya telah menyatu.
“Kau!” Telunjuk Lisa teracung tepat di depan wajah Saka. “Dasar bajingan tidak tahu malu! Kau berselingkuh di rumah kita sendiri saat aku baru saja membuat nama perusahaanmu melejit di pasar internasional! Selama ini kau hanya memanfaatkanku untuk itu, hah! Saka … apa benar kau masih pantas disebut manusia?”
Rika buru-buru melangkah maju, berusaha meraih lengan Lisa setelah berhasil merapikan gaunnya yang berantakan.
“Kak Lisa, bukankah tidak sopan mengatai suamimu sendiri seperti itu? Lagipula Kakak salah paham. Kami di sini cuma mengobrol biasa.”
Lisa tertawa sinis.
“Tidak sopan?” ulang Lisa pelan. “Kau masih berani mengajariku soal sopan santun setelah tidur seranjang dengan suami orang? Dasar jalang murahan!”
Tatapannya menyapu tubuh Rika dan Saka dengan jijik.
“Lagipula, di mana ada orang mengobrol sambil bertelanjang dada, berpelukan di atas ranjang, lalu bersembunyi di balik selimut?” Lisa menggeleng pelan. “Apa kau benar-benar menganggapku sebodoh itu?”
Tatapannya berubah semakin tajam.
Wajah Rika seketika memucat. Bibirnya bergetar, lalu dia buru-buru mundur dan berlindung di belakang tubuh Saka.
“Saka ...” panggilnya lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Melihat Rika diperlakukan seperti itu, rahang Saka mengeras. Tatapannya berubah tajam saat menatap Lisa.
“Lisa! Jaga ucapanmu. Kau melukainya!” bentak Saka.
Lisa tertawa pendek. Tawanya terdengar dingin dan penuh ejekan.
“Melukainya?” ulang Lisa. “Jadi sekarang kau membelanya?”
Tatapannya beralih kepada Rika. Mata yang dulu menatapnya dengan kagum, kini hanya menyisakan rasa jijik.
“Sudah cukup, Lisa!” bentak Saka. “Jaga ucapanmu pada Rika.”
“Hah! Aku benar-benar tidak tahan melihat kalian.” Lisa mendengus frustrasi, menatap serius wajah marah Saka. “Tak perlu bersembunyi lagi. Bukankah kau menyukainya? Nikahi saja dia! Aku akan menggugat cerai sekarang juga. Dan jangan harap bisa terus-terusan memanfaatkanku!”
Lisa membalikkan badan tanpa menunggu jawaban Saka.
“Lisa, berhenti! Kau akan menyesal jika melangkah keluar dari pintu tanpa izinku!”
Lisa tak menghiraukan teriakan Saka, dia tetap melangkah keluar. Tapi tiba-tiba langkahnya tertahan. Sebuah tangan mencengkeram rambutnya dengan kasar. Menariknya ke belakang.
“Aww ... aduh,” rintihnya.
“Dasar wanita tak tahu diuntung! Berani-beraninya kau menghinaku, hah?!” Saka kalap, tidak mampu mengendalikan amarahnya. Dengan kuat dia melemparkan tubuh kecil Lisa ke belakang.
Bruk!
Tubuh Lisa terlempar. Dia kesulitan menjaga keseimbangan. Tulang ekornya menghantam keras ujung sofa. Badannya limbung dan jatuh berdebam di lantai. Kepalanya membentur lantai marmer dengan keras.
Lisa merasakan darah membasahi kepalanya. Kepalanya terasa pening.
Di ambang batas kesadarannya, samar-samar Lisa masih sempat melihat sepasang mata elang menatapnya dari luar kamar. Tanpa mereka sadari, ada orang lain di sana, seseorang yang tidak sengaja menyaksikan kejadian malam ini. Pandangan Lisa meredup hingga akhirnya kehilangan kesadarannya.
Bab 27Ruang kerja pribadi milik Rey yang tersembunyi di balik perpustakaan apartemennya menjadi markas operasi senyap malam itu. Tirai tebal tertutup rapat, membendung pendar cahaya kota. Di atas meja kaca berukuran besar, tiga buah laptop canggih menyala terang, memancarkan pendar biru yang menerangi wajah empat orang yang sedang berkumpul mengelilinginya: Lisa, Rey, Juna, dan Hana.“Aku sudah menceritakan semuanya,” ujar Lisa, memecah keheningan yang tegang. Matanya menatap Juna dan Hana secara bergantian dengan pendar ketegasan yang dingin. “Kakek memilih untuk membungkam kejahatan Saka demi menjaga nama baik Adhitama Group. Jadi, kita tidak punya pilihan lain. Kita tidak bisa lagi berharap pada keadilan korporasi. Kita akan mencuri seluruh dana gelap milik Saka sebelum dia sempat menggunakannya.”Hana menyandarkan punggungnya di kursi, menyilangkan tangan di dada. Mula-mula dahi wanita itu mengernyit, namun senyum tipis yang sarat akan ide gila perlahan terukir di bibirnya. “Ide
Bab 26“Adhitama Gallery.” Lisa berkata mantap, menatap Ketua Adhitama tanpa keraguan. “Berikan kewanangan penuh kepada Lisa atas kendali manajemennya,” sambungnya.Suasana meja makan seketika berubah tegang. Semua mata menatap Lisa terperangah. Sama sekali tidak menyangka Lisa akan meminta hal sebesar itu.“Lisa! Apa-apaan kamu?!”Saka tiba-tiba berdiri kasar hingga kursi jati yang didudukinya terdorong ke belakang. Wajahnya memerah padam, matanya melotot tajam menatap istrinya.“Kau gila, hah?!” bentak Saka dengan suara memburu. “Adhitama Gallery itu anak perusahaan di bawah naungan Adhitama Group! Bagaimana mungkin kamu dengan lancangnya meminta unit bisnis sebesar itu hanya untuk dirimu sendiri?!”Ibu Saka tidak tinggal diam. Wanita itu ikut berdiri, menatap Ketua Adhitama. “Tidak bisa, Ayah. Adhitama Gallery itu milik Saka. Ayah telah berjanji akan mewariskannya pada Saka.” seru Sinta tak terima.Tentu Saka dan ibunya menentang habis-habisan permintaan Lisa. Adhitama Gallery adal
Pameran itu benar-benar sukses besar. Semua stok koleksi produk fashion Adhitama Gallery langsung terjual habis begitu dirilis. Antrean panjang mengular di setiap cabang butik yang tersebar di berbagai kota besar.Nama Adhitama Gallery terus menjadi perbincangan hangat di dunia mode internasional. Wajah Jess sebagai brand ambassador muncul di halaman terdepan majalah mode, sosial media, spanduk-spanduk, hingga layar megatron yang terpasang di gedung-gedung pencakar langit.Pesan berisi berbagai tawaran kerja sama tak henti-hentinya masuk ke surel resmi Adhitama Gallery. Nilai saham bahkan naik hingga lima kali lipat, jauh lebih besar dari perkiraan awal.Papa Lisa tertawa lebar saat menelponnya, mengucapkan selamat dan memujinya. Mamanya juga ikut senang, ribut meminta Lisa untuk mempertemukannya lagi dengan Jess, Rose, dan Jenny. Lisa hanya balas tertawa lebar, menjelaskan bahwa mereka sudah kembali sibuk dengan urusan masing-masing.Foto Lisa bersama Jenny, Rose, dan Jess di acara pa
Tepat pukul 10.00 a.m., Pameran Privat Adhitama Gallery resmi dimulai.Lisa duduk di barisan kursi VIP bersama keluarganya, di dampingi Rey, Juna, dan Hana. Ia menahan napas, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.Tamu yang hadir bukan orang sembarangan. Mulai dari investor besar kelas internasional, pengusaha korporasi multinasional, hingga para pesohor papan atas. Wajah-wajah mereka tidak asing, biasa mengisi halaman majalah-majalah bisnis dengan kisah suksesnya.Ting!Lampu hall diredupkan. Musik pengiring mulai diputar.Seluruh pandangan tamu undangan seketika tertuju pada panggung. Decak kagum dan tatapan terpesona seketika memenuhi ruangan begitu model pertama melangkah anggun di atas catwalk.Pameran berlangsung dengan lancar hingga akhir acara, kemudian dilanjutkan dengan pesta perayaan.Para tamu tertawa puas, menyalami Lisa, serta mengucapkan selamat dan berbagai kalimat pujian. Bahkan tidak sedikit yang langsung menawarkan kerja sama dengan Adhitama Gallery. Lisa m
Hari-H Pameran Privat Adhitama GalleryKesibukan telah dimulai sejak pagi buta. Bahkan, ada beberapa kru yang belum sempat tidur dan beristirahat sejak gladi bersih kemarin. Petugas keamanan acara telah bersiap di berbagai titik krusial dengan setelan jas dan celana hitam, lengkap dengan earpiece yang terpasang di telinga mereka.Begitu pula dengan Lisa. Raut wajahnya tampak sangat serius saat melangkah cepat di lorong Grand Hotel menuju ballroom tempat pameran diadakan. Hana juga tak kalah seriusnya, tangannya menggenggam erat sebuah tablet seraya berjalan cepat mengimbangi Lisa.Sesekali mereka berpapasan dengan satu dua kru yang juga tengah mempersiapkan detail acara. Mereka mngangguk kecil, tersenyum tipis menyapa Lisa. Lisa balas tersenyum tipis.“Semua kru telah bersiap di posisinya, Bu Lisa. Para model juga telah selesai di-makeup,” ujar Hana seraya memeriksa layar tabletnya. “Media sudah berdatangan sejak kemarin malam. Saat ini mereka tengah bersiap di ballroom.”Lisa mengang
H-1 Pameran Privat Adhitama Gallery.Ballroom megah Adhitama Grand Hotel telah disulap menjadi area pameran privat bernuansa musim panas. Videotron raksasa di latar panggung menampilkan pemandangan pantai yang hangat, dipadukan dengan sorotan warm spotlight yang memancar tepat di atas area catwalk. Rangkaian bunga segar tersusun rapi di sekeliling panggung, menghadirkan kesan indah dan elegan yang memikat.Di kanan kiri panggung, kursi-kursi di susun rapi, berbaris memanjang mengelilingi panggung. Papa Lisa telah hadir bersama mamanya, duduk di kursi VIP. Begitu juga Ketua Adhitama Group dan kedua mertua Lisa, mereka duduk bersisian.Saka belum terlihat batang hidungnya, entah ada dimana pria itu saat ini. Mungkin sedang mengamuk melihat persiapan gladi bersih hari ini tetap berjalan dengan semestinya tanpa adanya kepanikan.Lisa dan Hana masih sibuk, berjalan ke sana ke mari memeriksa setiap detail, memastikan semuanya sempurna.Rey dan Juna terlihat memasuki ruangan.Pandangan Rey l







