Share

Bab 4

Author: Juwara
Makanan pun disajikan.

Sayuran tumis, udang rebus, sup ayam dan jamur, juga iga asam manis.

Begitu berlimpah.

Eric berdiri, mengambil mangkuk Nenek, lalu menuangkan sup.

"Nenek, ini paha ayam yang besar kesukaan Nenek."

Eric lalu mengambil sepotong iga asam manis dan meletakkannya di piring Venny.

"Jangan makan terlalu banyak. Dokter bilang, kamu harus mengurangi makan daging."

Saat giliranku, Eric tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya mengambilkan sedikit sayuran untukku tanpa bicara.

Venny pun menggodanya.

"Kak Laura suka makan sayuran, ya?"

"Bukankah sudah kubilang, dia nggak pilih-pilih. Dia makan apa saja."

Padahal, aku tidak suka makan sayuran.

Nenek merasa kasihan. Dia lalu menarik Eric untuk duduk dan menaruh sepotong iga ke piring Eric.

"Nggak usah repot-repot melayani lagi. Duduk dan makan bareng."

"Nenek, Eric baru saja masak, jadi nggak bisa makan daging dulu. Katanya, dia mual karena bau minyaknya."

"Terus gimana?"

"Itu cuma sementara. Minum sedikit sup aja, nanti akan membaik."

Setelah berkata seperti itu, Venny langsung menyodorkan semangkuk sup bening ke hadapan Eric.

Selama tiga tahun, Eric sudah cukup mengenal Venny ….

Begitu pun dengan Venny.

Sementara, aku seperti orang asing.

Aku sama sekali tidak tahu jika Eric bisa memasak.

Apalagi mengetahui jika dia terbiasa memakan semangkuk sup bening setelah selesai memasak.

Padahal, Eric jelas-jelas sudah pulang ke rumah ….

Namun, aku justru merasa dia sangat jauh dariku.

Setelah kenyang makan dan minum ….

Aku masuk ke dapur untuk mencuci piring.

Venny membantu membawakan piring dan sendok ke dalam.

"Kak Laura."

"Hmm?"

"Aku udah lihat pengumuman itu."

"Terus?"

"Aku cuma mau bilang kalau Kakak salah paham soal Eric. Kalau aku nggak sakit, dia nggak bakal …."

"Nggak bakal apa?"

"Pokoknya, kami nggak seperti yang Kakak pikirkan."

"Lalu, seperti apa?"

"Kami cuma teman."

"Kalau gitu, sebagai temannya, kenapa kamu nggak kasih tahu dia soal ini?"

Venny tertegun untuk sesaat, lalu menghindari pandanganku.

"Aku … aku sakit, aku butuh dia."

"Aku sudah lihat vlog-mu. Aku tanya padamu, kalau kamu ada di posisiku, apa yang akan kamu pikirkan? Teman? Pasangan kekasih? Atau suami istri?"

"Kami nggak seburuk yang Kakak pikirkan. Dia nggak pernah melakukan hal yang mengecewakan Kakak, bahkan sekali pun nggak pernah."

"Jadi, itu bukan pengkhianatan?"

"Pokoknya, kami cuma teman."

Venny berbalik untuk pergi, tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti.

"Eric memintaku membawakan tanah untuk Kakak dan sudah kubawakan. Mau dipakai atau nggak, terserah Kakak."

Tak lama kemudian, terdengar suara tawa riang dari ruang tamu.

Aku mengeringkan tangan, lalu pergi ke balkon.

Bibit bunga itu masih tergeletak di lantai.

Sebuah kantong kecil berisi tanah, tergeletak tepat di sampingnya.

Bibit bunga dan tanah itu milik Venny.

Hanya pot bunganya saja yang milikku.

Baru dua hari Eric pulang, tetapi sudah banyak jejak Venny yang memenuhi rumah ini.

Aku keluar dari balkon, lalu duduk di sudut ruang tamu.

Tawa itu perlahan mereda.

Eric berdiri sambil membawa tas Venny.

"Ayo, aku antar pulang."

Eric lalu menoleh kepadaku.

"Aku serahkan Nenek padamu, ya."

"Kenapa kamu yang antar Venny, bukan aku?"

"Bukankah kamu nggak suka sama ibunya?"

Ternyata, dia tahu segalanya.

Aku pun tersenyum tipis dan menjawab, "Baiklah."

Sepanjang perjalanan, Nenek hanya diam.

Namun, saat hampir tiba di panti jompo, tiba-tiba saja Nenek angkat bicara.

"Dulu, Venny pergi karena nggak mau membebani Eric. Kalau nggak, kamu nggak akan jadi istri Eric."

Tanganku yang memegang setir, makin erat mencengkeramnya.

"Aku tahu."

"Karena Eric sudah kembali, kalian harus menjalani hidup dengan baik."

Aku tidak menjawab dan hanya diam saja.

Kami pun tiba di panti jompo.

Perawat membantu Nenek kembali ke kamarnya.

Aku berbalik dan berjalan menuju meja perawat.

"Bu Laura, ada yang mau Anda sampaikan?"

"Tolong ganti nomor kontak darurat Nenek."

"Baik, mau diganti ke nomor siapa?"

"Nomor Eric, dia cucu kandung Nenek."

Perawat itu pun meletakkan pulpennya.

"Baik, sudah diganti."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Dia Kembali, Aku Melepasnya   Bab 11

    Di suatu malam yang sudah larut ….Ponselku berdering.Itu dari Eric."Sayang, siapa itu?""Eric."Ferdy terdiam sejenak."Angkat saja, mungkin ada urusan mendesak."Aku pun mengangkat teleponnya."Laura.""Ini aku, ada apa?""Laura, aku sangat lelah."Suara Eric terdengar serak, seakan dia sudah lama tidak berbicara.Suamiku membuka video Venny.Di video itu, Venny tampak kembali mengamuk. Dia menodongkan pisau ke lehernya sendiri dan mengancam Eric.Latar belakang video itu adalah rumah mereka di Kota Damira.Saat ini, lantainya penuh dengan puing-puing.Jelas sudah terjadi pertengkaran yang sengit."Laura, aku menyesal.""Sudah terlambat. Tidurlah.""Laura, tiga tahun lalu aku meninggalkanmu bukan karena aku mencintai Venny. Aku cuma merasa nggak terima. Aku ingin Venny tahu betapa berharganya aku. Tapi, aku salah. Aku nggak pernah menyangka kalau akan kehilangan dirimu.""Semua itu sudah berlalu. Venny masih membutuhkanmu.""Aku sudah nggak punya apa-apa lagi, nggak ada lagi yang t

  • Setelah Dia Kembali, Aku Melepasnya   Bab 10

    Setelah pergi dari rumahku ….Eric tidak pulang ke rumahnya sendiri.Sebaliknya, dia pergi ke Kota Damira.Itu karena, Venny masih berada di sana.Kemudian, vlog Venny yang sudah berhenti diperbarui selama tiga tahun, akhirnya kembali aktif.Eric juga tidak pernah datang lagi.Setengah tahun kemudian, Ibu menjodohkanku.Tempat kami bertemu adalah di sebuah kafe.Saat aku tiba, pria yang akan dijodohkan denganku itu sudah duduk di sana."Halo, aku Ferdy Wiradharma.""Aku ….""Laura, Laura Kiandra.""Ibuku sudah memberitahukan namaku padamu?"Ferdy menggelengkan kepala."Jangan salah paham, Bibi nggak bilang apa-apa. Aku langsung mengenalmu, begitu melihatmu.""Karena … video, ya?""Hmm, sebenarnya aku nggak mau dijodohkan. Tapi, melihat kalau ternyata itu kamu, aku bersyukur sudah datang hari ini.""Makasih.""Eric sudah lama menyesal, karena sudah kehilangan kamu.""Hmm?""Kamu belum melihatnya?"Aku menjadi agak bingung."Lihat apa?"Ferdy tidak menjawab, melainkan mengambil ponselnya

  • Setelah Dia Kembali, Aku Melepasnya   Bab 9

    Tiga tahun kemudian, pengembaraanku berakhir.Aku kembali ke rumahku sendiri.Malam itu, Eric muncul di bawah gedung apartemenku.Aku berdiri di lantai atas dan hanya memandanginya.Eric menjadi sangat kurus, janggutnya tidak terawat dan pakaian yang dikenakannya sepertinya masih sama seperti tiga tahun yang lalu.Rambutnya juga sudah memutih.Ibu mendekatiku dan berkata dengan penuh emosional."Selama kamu nggak ada di sini, dia sering datang menjenguk Ibu.""Kadang-kadang, dia mendengarkan cerita Ibu tentang masa kecilmu. Kadang-kadang, dia cuma terdiam menatap fotomu dengan tatapan kosong.""Seringkali, dia berada di kamarmu, menggenggam erat buku nikah kalian dalam keadaan linglung."Ibu menunjuk barang-barang baru yang ada di rumah dengan ekspresi yang rumit."Dua tahun lalu, waktu Ibu mengeluh sakit pinggang, dia membelikan kursi pijat itu.""Waktu pemeriksaan kesehatan, dokter bilang daya tahan tubuh Ibu lemah. Lalu, dia membelikan Ibu suplemen dan tonik satu kulkas penuh.""Sem

  • Setelah Dia Kembali, Aku Melepasnya   Bab 8

    Sebulan kemudian, Nenek menelepon.Aku merasa ragu untuk sesaat, tetapi akhirnya tetap mengangkatnya."Ada apa, Nek?""Kak Laura, ini aku."Itu Venny."Ada apa?""Kak Laura, Kak Eric cuma berusaha menyelamatkan nyawaku. Kakak nggak bisa memperlakukan dia seperti ini.""Aku bercerai dengannya agar dia bisa merawatmu tanpa khawatir dan beban, benar ‘kan?""Beda.""Di mana bedanya?""Masih ada Nenek yang harus dia urus.""Bukankah harusnya memang begitu?""Tapi dulu, itu jelas tanggung jawabmu."Aku tersenyum."Itu neneknya, bukan nenekku.""Harusnya nggak kayak gini, semua ini salah. Apa kamu mengatakan sesuatu padanya? Dia bilang, dia nggak mau lagi menemaniku untuk kontrol. Dia juga bilang kalau dia sudah nggak punya kewajiban apa pun lagi padaku."Inilah tujuan sebenarnya Venny menelepon.Dia menelepon hanya untuk menanyaiku.Sebelumnya, dia tidak punya hak untuk itu.Sekarang, dia bahkan lebih tidak berhak untuk melakukannya."Kalau ini yang mau kamu bicarakan, menurutku telepon ini

  • Setelah Dia Kembali, Aku Melepasnya   Bab 7

    Tujuan pertamaku adalah sebuah provinsi yang terletak di barat daya.Menurut orang-orang, bulan Mei dan Juni adalah waktu yang paling baik untuk berkunjung ke sana.Aku melihat pegunungan dan danau di sana.Aku juga mendaki gunung salju.Aku menikmati keindahan saat sinar matahari pertama di pagi hari mengenai puncak gunung salju yang tertutup es, sehingga membuatnya berkilau dengan warna kuning keemasan yang sangat megah.Akhirnya, aku tinggal di tepi danau.Di hari ketiga menginap di penginapan lokal, pada malam harinya, ada acara ngobrol di dekat perapian.Saat aku mendapatkan pilihan untuk berkata jujur ….Semua yang hadir langsung tertawa riuh.Pemilik penginapan mengulurkan tangan untuk menenangkan suasana."Apa Eric Maheswara itu suamimu?"Aku tertegun untuk sesaat."Mantan suami."Suasana pun langsung menjadi hening."Kalian semua kenal dia?"Salah seorang gadis maju untuk menjelaskan."Kami melihat vlog permintaan maafnya.""Dia bilang, kamu bepergian sendirian. Dia berharap k

  • Setelah Dia Kembali, Aku Melepasnya   Bab 6

    Ternyata itu Eric."Laura, kamu benar-benar mau pergi?"Itulah kalimat pertama yang dia ucapkan saat menghalangi mobilku.Lalu, kalimat kedua yang dia ucapkan …."Kenapa?"Rambutnya yang basah oleh keringat menempel di dahinya dan matanya memerah karena ketakutan.Aku pun turun dari mobil."Kalau aku nggak berhasil mengerem, kamu bakal mati.""Kenapa?""Bagaimana kamu bisa ada di sini?""Ibumu bilang padaku, katanya kamu mau pergi.""Kalau udah tahu, minggirlah!""Kenapa, Laura? Kita kan baik-baik saja."Aku pun tersenyum."Kalau gitu, kenapa tiga tahun lalu kamu pergi?""Ibuku sakit ….""Tanggal 28 Mei 2021, ibumu meninggal. Masih perlu tanya lagi?""Kamu udah tahu semuanya?""Hmm."Suara Eric menjadi serak."Aku dan dia cuma teman. Sekarang, aku juga udah kembali dan nggak akan pergi lagi."Sudah kembali.Jadi, apa aku harus melupakan dan menganggap tiga tahun terakhir itu tidak pernah terjadi?Dia tidak selingkuh.Jadi, apa aku yang terlalu membesar-besarkan masalah?Dia tidak akan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status