Share

Bab 2

Penulis: Aulita
"Lucu sekali! Memangnya satpam di Grup Jahardi begitu nggak berguna? Kok bisa mereka biarkan sembarang orang masuk?"

Aku hampir kehilangan semua kekuatanku. Sekujur tubuhku gemetar dan aku meringkuk di lantai. Namun, aku masih dengan putus asa menggenggam map dokumen di tanganku.

Setelah bekerja di unit rahasia selama tujuh tahun, proyek itu sudah hampir selesai sekarang. Kakakku adalah murid atasanku. Jadi, atasanku secara khusus menginstruksikanku untuk mengantarkan dokumen ini kepadanya dalam keadaan utuh.

Namun, justru karena tindakanku ini, Filbert langsung menemukan map dokumen yang kulindungi itu. Dia mengangkat alisnya. Tatapan tajamnya bercampur dengan sedikit rasa ingin tahu.

Aku langsung mengerti maksudnya dan menggeleng dengan panik.

"Filbert, lihat. Kondisinya sudah begini, tapi dia masih lindungi map lusuh itu. Mungkin isinya surat cinta yang dia tulis untuk Bu Arabella. Para rekrutan baru zaman sekarang selalu berharap bisa pakai jalan pintas. Beberapa hari yang lalu, aku baru baca postingan di internet tentang seorang pekerja magang yang mencoba merayu bosnya dengan sengaja mengganti CV-nya dengan foto-foto vulgar ...."

Kata-kata ini seperti sumbu yang menyulut amarah Filbert. Dia menggertakkan giginya dan berjalan mendekat dengan tampang dingin.

"Dasar bajingan miskin! Kamu suka merayu wanita kaya, 'kan? Aku akan beri kamu pelajaran hari ini, supaya kamu menghindari wanita mulai sekarang!"

Tiba-tiba, aku ditarik berdiri dari lantai dengan kasar. Masing-masing dari mereka mencengkeram satu lenganku, lalu mengangkatku hingga aku tergantung di udara.

Di tengah kekacauan, aku melihat Filbert mengeluarkan pisau silet dari laci. Dia berjalan ke arahku sambil tersenyum sinis.

"Ja ... jangan. Kamu salah paham. Aku benar-benar bukan datang untuk menggoda Kak Bella!"

Sebelum aku selesai berbicara, Filbert tiba-tiba mengangkat kakinya dan tanpa ragu menendang perutku dengan sepatu kulit runcingnya.

"Ah!"

Rasa sakit yang tiba-tiba dan menyiksa itu membuat pandanganku menjadi gelap. Punggungku langsung basah kuyup oleh keringat dingin. Bau darah tiba-tiba menyeruak ke tenggorokanku. Perutku terasa mual dan aku langsung muntah.

"Sial, menjijikkan banget!"

Kedua anak buah Filbert yang menopangku segera menghindar dan aku jatuh lemas ke lantai. Aku terlalu kesakitan untuk berbicara.

Namun, Filbert belum puas. Sebaliknya, dia malah menindih tubuhku.

"Gigolo, dengan usiamu yang masih muda, kamu bisa melakukan apa saja. Kenapa kamu bersikeras mau godain orang? Aku ini calon menantu Keluarga Jahardi! Kamu pikir kamu siapa hingga berani menghalangi jalanku!"

Dia membungkuk dan perlahan-lahan menyelipkan jarinya ke rambutku. Kemudian, dia mengencangkan cengkeramannya dan memaksaku mendongak. Setelahnya, sambil tertawa, dia mulai menggerakkan pisau silet itu di wajahku.

"Hari ini, yang kucukur cuma alismu. Kalau kamu berani menggatal lagi lain kali, aku akan cukur semua bulu di tubuhmu!"

Filbert mengerahkan tenaga kuat dan meninggalkan banyak luka berdarah di kulitku. Namun, aku sudah dalam keadaan setengah sadar akibat disiksa dan tidak bisa merasakan apa yang Filbert lakukan padaku.

"Hahaha, lucu sekali! Dia kelihatan seperti orang aneh tanpa alis!"

"Mampus! Pria sepertinya seharusnya ditelanjangi, lalu diambil fotonya dan dipasang di papan pengumuman gedung perusahaan, supaya bisa jadi peringatan bagi setiap bajingan yang berani mencoba merebut Kak Bella dari Filbert!"

Saat mereka berbicara, salah satu dari mereka menawarkan diri untuk mengeluarkan ponselnya dan mengarahkannya ke aku.

Melihat ini, Filbert mengabaikan permohonan putus asaku dan merobek kancing bajuku. Kemudian, dia meminjam lipstik seorang rekan wanita dan menuliskan banyak kata-kata kasar di seluruh tubuhku.

Rekan-rekan di sekitar langsung bersorak. Beberapa bahkan menyalakan senter dan merekam keadaanku saat itu.

"Sialan, aku sudah sering ketemu sama gigolo sepertimu! Selama aku ada di sini, nggak akan ada yang bisa ketemu sama Bu Arabella tanpa terluka!"

Dia membuka kunci ponselku dan masuk ke halaman kontakku. Saat melihat kontak orang tuaku dan Arabella yang berada di bagian atas kontak, dia mengambil pena dari meja dan menusukkannya ke punggung tanganku.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Dokumen Rahasia Dihancurkan, Kakakku Turun Tangan   Bab 8 

    Pada malam kepulanganku ke dalam negeri, kakakku sudah menunggu di bandara dengan mobilnya. Saat melihatku, kilatan tak percaya terpancar di matanya."Ya Tuhan, Kenneth, kamu benar-benar lebih tampan dari sebelumnya!" Aku tersenyum lebar dan memasukkan koperku ke bagasi.Dalam perjalanan pulang, kakakku membahas tentang Filbert lagi."Kenneth, waktu kamu tinggal di luar negeri, ayah Filbert meninggal. Dengar-dengar, setelah dia dipenjara, istrinya kabur dengan pria lain. Berita tentang Filbert juga sepenuhnya disegel. Jadi, dia mengalami gangguan mental dan membenturkan kepalanya di sel penjara. Kamu nggak tahu betapa mengerikannya pemandangan itu. Katanya, kepalanya hancur lebur dan dia meninggal di tempat." Ayahku tersenyum sinis, lalu mengejek, "Mampus! Kematian justru terasa bagaikan hukuman ringan buat orang sepertinya! Dia seharusnya merasakan setiap bentuk penyiksaan yang ada di dunia!" Ibuku merasa agak bingung setelah mendengar ucapan kakakku. Dia bertanya dengan ragu, "Gim

  • Setelah Dokumen Rahasia Dihancurkan, Kakakku Turun Tangan   Bab 7

    Kakakku yang memasang tampang jijik menutup hidungnya, lalu menendang perut Filbert tanpa ampun. Filbert menjerit kesakitan dan memuntahkan seteguk darah. Namun, itu belum cukup. Kebencian sudah menguasai pikiran kakakku. Dia mengambil pipa baja di samping dan menusukkannya ke telapak tangan Filbert.Setelah menjerit kesakitan beberapa kali berturut-turut, Filbert akhirnya kehilangan seluruh tenaganya. Pandangannya menjadi gelap dan dia tidak sadarkan diri.Aku mengulurkan tangan untuk menghentikan Arabella dan mencoba mengembalikan sisa akal sehatnya."Kak, sudah cukup. Kalau kamu terus memukulnya, dia akan mati. Aku nggak mau kamu berakhir di penjara seperti mereka." Tubuhnya menegang dan matanya terlihat merah saat menoleh ke arahku."Kenneth, maaf, Kakak datang terlambat. Kalau aku nggak pergi hadiri acara bisnis, kamu nggak akan disiksa sampai seperti ini oleh dua pecundang ini," katanya. Air mata penyesalan mengalir di wajahnya."Jangan khawatir, Kakak pasti akan carikan dokter

  • Setelah Dokumen Rahasia Dihancurkan, Kakakku Turun Tangan   Bab 6

    "Cuma jeblosin bajingan seperti kalian ke penjara nggak akan cukup untuk meredakan amarahku. Sebelum itu, aku harus buat kalian rasakan penderitaan yang kalian timbulkan pada Kenneth beribu-ribu kali lipat dulu!" Arabella melambaikan tangannya, lalu para pengawal di belakangnya langsung menyerbu maju. Mereka mengabaikan permohonan ampun Filbert dan ayahnya, lalu mengikat dan memasukkan mereka ke mobil.Sementara itu, aku sudah pingsan akibat luka yang terlalu parah.Ketika membuka mata lagi, aku sudah terbaring di vila Keluarga Jahardi.Melihatku sudah sadar, ibuku langsung menangis tak terkendali. "Kenneth, akhirnya kamu sadar juga! Kamu sudah nggak sadarkan diri selama tiga hari!" Dia menggenggam tanganku erat-erat. Wajahnya terlihat lesu, seolah-olah dia sudah tidak tidur selama beberapa hari berturut-turut."Ibu, aku baik-baik saja. Kakak di mana?" Aku memaksakan diri untuk duduk di tempat tidur. Ayahku yang mendengar suara dari dalam kamar buru-buru membuka pintu."Putraku saya

  • Setelah Dokumen Rahasia Dihancurkan, Kakakku Turun Tangan   Bab 5 

    Arabella berhenti di depanku. Saat melihatku yang sekarat tergeletak di genangan darah, tatapan paniknya berubah menjadi amarah dan kebencian."Pria yang kamu bilang mencoba merayuku itu dia?" tanya Arabella dengan dingin.Filbert mengangguk dengan kuat, lalu mencondongkan tubuh ke depan dan hendak memeluk Arabella."Dia orangnya, Bu Arabella! Demi membantumu menyingkirkan sampah, aku memukulnya sampai tanganku sakit. Bajingan miskin itu masih berani bilang dia datang bukan untuk merayumu. Jelas-jelas, aku melihat informasi kontakmu di bagian paling atas ponselnya!" Saat berbicara sampai setengah, Filbert menyadari tubuh Arabella gemetar."Bu Arabella, ada apa? Apa hukuman mereka masih belum cukup berat? Kalau kamu nggak senang, aku bisa ...." Sebelum Filbert selesai bicara, Arabella tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dengan satu perintah singkat, pengawal di sampingnya langsung menendang Filbert. Filbert melayang beberapa meter sebelum kepalanya menghantam pot bunga di meja resepsi

  • Setelah Dokumen Rahasia Dihancurkan, Kakakku Turun Tangan   Bab 4

    Melihat keadaanku yang tragis, mereka semua terkejut dan langsung merinding."Ya Tuhan, kenapa kamu dipukuli mereka sampai begini! Ini sudah keterlaluan! Apa kalian nggak tahu ini tindakan melanggar hukum!"Mendengar ini, Filbert terkekeh. Dia berjalan santai ke sisiku dan berkacak pinggang."Kalian kira kalian itu siapa hingga berani ikut campur dalam urusanku! Memangnya kalian nggak tahu? Di kota ini, Keluarga Jahardi adalah penegak hukum! Aku ini tunangan dari pemimpin Keluarga Jahardi! Kalau pecundang rendahan seperti kalian masih berani membelanya, percayalah, aku akan buat seluruh keluarga kalian menderita!"Kata-kata ini berhasil mengintimidasi orang-orang di sekitar, tetapi sama sekali tidak mempan terhadap atasanku. Dia adalah orang yang melihat Arabella tumbuh besar. Dia tidak percaya bahwa kakakku akan menikahi pria seperti Filbert. Jadi, dia menghubungi nomor kakakku."Bella, Kenneth sudah ditindas! Cepat kembali ke perusahaan sekarang juga!"Melihat ini, ayah Filbert mereb

  • Setelah Dokumen Rahasia Dihancurkan, Kakakku Turun Tangan   Bab 3

    Ujung pena yang tajam menembus telapak tanganku hampir dalam seketika. Darah mengalir deras dari luka tersebut. Aku menjerit dan wajahku sangat terdistorsi saking sakitnya.Aku bisa mendengar jelas suara saraf tanganku yang diinjak sampai putus. Kemudian, dia merebut map dokumen dari tanganku dan merobeknya hingga hancur di depan semua orang. Setelah itu, dia baru menghantamkan serpihan-serpihannya ke wajahku."Dasar pecundang nggak berpendidikan! Hari ini, aku akan gantikan orang tuamu untuk ajari kamu apa arti dari jangan mengincar apa yang bukan milikmu!"Setelah itu, anak buahnya mengangkatku ke udara lagi. Akibat tendangan sebelumnya, tubuh bagian bawahku sudah berlumuran darah.Kepalaku terkulai lemas. Aku mengira Filbert akan berhenti menyiksaku. Tak disangka, dia memerintahkan anak buahnya untuk membawaku ke lobi perusahaan.Resepsionis dan pejalan kaki yang lewat di luar terkejut melihat pemandangan ini. Beberapa orang yang tidak tahu apa-apa bertanya apa yang telah terjadi.F

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status