MasukPagi itu matahari terbit terlalu lambat, seolah enggan menampakkan diri di langit yang muram. Zoe menatap pantulan dirinya di dinding kaca besar kantor Zosta Wedding Organizer, perusahaannya yang dulu selalu penuh tawa, kini sepi bagai ruang rawat luka.
Bias cahaya matahari menembus tirai, jatuh di wajahnya yang terlihat tegar namun letih. Di tangan kirinya, cangkir kopi sudah dingin sejak satu jam lalu. Di tangan kanan, ponsel yang terus bergetar tak henti. Notifikasi demi notifikasi masuk dari portal berita, media gosip, sampai pesan pribadi yang tak berani ia buka. “Calon Suami Meninggal, CEO Zosta Diduga Penyebabnya?” “Asher Hartono Tewas Karena Tantangan Tunangannya Sendiri?” “Tragedi Cinta di Balik Janur Gugur.” Zoe menggigit bibirnya, menahan gemetar di ujung jari. Ia menatap tajam layar ponsel itu, lalu mematikannya. Suara detik jam dinding terasa memekakkan di ruang kosong. “Biarkan mereka bicara…” gumamnya lirih, suaranya serak tapi dingin. “Gue nggak akan sembunyi.” Pintu ruangannya terbuka cepat. Tania, asisten pribadinya, masuk tergesa. Wajahnya panik, rambutnya berantakan. “Bu Zoe! Wartawan sudah nunggu di lobi bawah. Mereka bawa kamera banyak banget. Saya udah suruh security ngusir, tapi mereka maksa masuk.” Zoe memijat pelipisnya sebentar. “Tania, tenangkan tim desain. Jangan ada yang keluar lewat pintu depan. Pindahkan rapat ke ruang belakang. Saya yang akan turun.” "Tapi, Bu… ini bukan waktu yang tepat. Berita itu udah viral sejak subuh. Kalau Ibu turun, mereka—” “Justru karena itu saya harus turun," ujar menyela nya. Ia sangat yakin kalau dirinya tidak ikut turun tangan, pasti berita ini semakin menjadi. Nada suaranya tajam dan mantap. Zoe mengambil jas hitamnya, menyampirkan di bahu, lalu berjalan keluar ruangan. Tumit sepatu haknya menimbulkan bunyi tegas di lantai marmer. Setiap langkahnya memantul di lorong . Langkah seorang perempuan yang sudah kehilangan banyak, tapi tidak kehilangan kendali atas dirinya. *** Di bawah, suasana lobi kacau. Karyawan berkumpul di pojok, menatap layar ponsel mereka dengan wajah tegang. Beberapa reporter mencoba menembus barikade keamanan sambil menyorongkan mikrofon. “Bu Zoe, apakah benar Anda menantang almarhum Asher untuk datang malam itu?” “Benarkah kecelakaan itu terjadi karena pertengkaran Anda?" “Apa benar keluarga Hartono akan menuntut secara hukum?” Zoe menatap satu per satu wajah mereka. Mata tajamnya menusuk, membuat kerumunan itu hening sesaat. Lalu, dengan suara tegas tapi tenang, ia berkata: “Saya tidak akan menjawab pertanyaan yang berputar di atas luka seseorang yang baru dikubur tiga hari lalu. Tapi saya akan bilang satu hal—” “Asher bukan korban dari cinta yang salah. Dia orang paling berani yang pernah saya kenal. Kalau kalian menulis sesuatu, tulislah kebenaran, bukan sensasi.” Sorot lampu kamera berkilat bersamaan. Namun Zoe tak mundur. Ia melangkah keluar gedung, ke arah mobilnya, saat suara seorang wanita memecah udara. “Berani juga kamu datang ke kantor, Zoe Callysta!” Zoe menoleh. Di depan pintu, berdiri Ibu Asher dengan mata merah dan wajah penuh amarah. Di belakangnya, dua pria pengawal keluarga Hartono berdiri menatap tajam. Langkah Zoe berhenti. Untuk sesaat, waktu terasa berhenti di antara mereka. Semua orang yang menyaksikan tahu, ini bukan pertemuan biasa ini pertemuan antara yang kehilangan dan yang dituduh mencuri nyawa. “Ma” suara Zoe datar. “Ini bukan tempat yang tepat—” “Tempat yang tepat! Dan juga jangan sesekali panggil aku Mama. Engga Sudi aku punya menantu pembunuh” potong Evelyn dengan lantang. “Anakku mati karena kau! Karena kesombongan kau, karena ego kau yang menantangnya malam itu!” Zoe menatap lurus ke mata wanita itu. Tak ada air mata, tak ada ekspresi bersalah yang histeris hanya diam, dan dada yang naik turun pelan. “Aku tahu aku salah malam itu. Tapi—” “Tapi apa?! Kau ingin aku percaya kalau kau nggak niat? Kalau kau nggak ingin Asher mati?!” Suara Evelyn pecah. “Kau pikir aku nggak tahu? Semua orang bilang kau CEO sukses, perempuan kuat, tapi kau bahkan nggak bisa menjaga tunangan kau hidup sampai hari pernikahan!” Kata-kata itu menampar Zoe lebih keras dari tangan mana pun. Namun ia berdiri tegak. Ia tak berusaha membela diri. Ia tahu, apapun yang keluar dari mulutnya sekarang akan terdengar seperti pembenaran. “Asher meninggalkanku dalam keadaan mencintai, Itu satu-satunya hal yang aku tahu,” katanya pelan. “Kalau nyonya Hartono butuh seseorang untuk disalahkan… biarlah itu aku.” Evelyn memejamkan mata, menahan tangis. “Tidak, Zoe. Kau tidak cuma ku benci… aku menyesal pernah mempercayaimu masuk ke keluargaku." Ia berbalik, namun sebelum sempat pergi, sebuah suara bariton memecah udara dari sisi pintu masuk. “Cukup, Bu Evelyn!" Semua kepala menoleh. Seorang pria berjas hitam masuk perlahan, langkahnya mantap, ekspresi dingin. Kenzo Albern CEO Auto tech dan sekarang, suami Zoe yang tidak pernah diinginkannya. “Apa urusanmu di sini, Kenzo?” tanya Evelyn sinis. “Kau juga ikut bela dia? Wanita yang membunuh calon suaminya sendiri?” “Saya tidak bela siapa pun,” jawab Kenzo datar. “Saya cuma nggak suka melihat orang lain dipermalukan di tempat kerja mereka sendiri.” Suasana mendadak tegang. Zoe menggertakkan gigi, menatap Kenzo tajam. Ia tahu pria itu datang bukan kebetulan. Mungkin sudah memantau dari awal. Kenzo selalu begitu muncul di saat Zone membutuhkan orang lain. “Aku nggak butuh kamu, Kenzo,” ucap Zoe pelan tapi tajam. “Kamu butuh pendamping yang nggak takut berdiri di sampingmu saat semua orang menuding mu,” balas Kenzo santai. “Dan sayangnya, saat ini, cuma aku yang berani.” Zoe menatapnya lama. Ia benci cara Kenzo berbicara tenang, percaya diri, seolah selalu tahu segalanya. Dan benci karena sebagian kecil dari dirinya tahu, Kenzo benar. Evelyn menggelengkan kepala, air matanya jatuh. “Kalian berdua pantas satu sama lain. Keduanya tidak punya hati.” Ia pergi meninggalkan lobi. Sisa aroma parfum mahal dan kepedihan tertinggal di udara. Zoe memejamkan mata sebentar. Tubuhnya kaku, tapi tangannya gemetar pelan. Kenzo menatapnya sekilas, lalu berkata lirih, “Jangan pedulikan mereka semua , Zoe. Dunia butuh kambing hitam untuk setiap tragedi. Tapi kau bukan itu.” Zoe menatapnya dingin. “Lo pikir gue butuh nasihatmu? Lo cuma datang karena ingin terlihat jadi penyelamat. Seperti waktu SMA, kan?” “Aku datang karena aku tahu rasanya disalahkan atas sesuatu yang bukan salahmu,” balas Kenzo. Suaranya lebih dalam sekarang, nyaris seperti bisikan. “Kamu boleh benci aku, Zoe. Tapi jangan pernah biarkan mereka hancurkan apa yang kamu bangun sendiri.” Zoe berbalik, menatap lantai marmer yang masih memantulkan bayangan wajahnya perempuan yang dulu bermimpi menikah di bawah langit biru, kini berdiri di bawah langit gosip yang kelam. “Gue eggak akan hancur,” ucapnya pelan. “Tapi gue nggak butuh siapa pun buat bertahan.” Kenzo tersenyum samar. “Kamu bilang begitu sekarang. Tapi cepat atau lambat, Zoe, bahkan perempuan sekuat kamu pun butuh seseorang yang tahu caranya berdiri di tengah badai.” Zoe tak menjawab. Ia melangkah pergi menuju ruang rapat, meninggalkan Kenzo dan seluruh kerumunan yang masih terpaku. Di dalam kepalanya, satu suara bergema berulang-ulang: “Kalau kamu datang malam ini, aku akan percaya.” Kata-kata terakhir yang ia ucapkan kepada Asher, yang kini menjadi luka paling abadi. Dan entah kenapa, di sela dentuman hujan yang kembali turun di luar jendela kaca, Zoe tahu — badai di luar belum seberapa dibanding badai yang sedang ia simpan di dalam dada.Siang merambat pelan di pemakaman itu, seperti enggan mengusik kesunyian yang sedang dipeluk Kenzo. Angin menggerakkan kelopak bunga di atas tanah yang masih lembap. Nama di nisan itu tak pernah berubah, tapi setiap kali ia membacanya, rasanya selalu berbeda kadang seperti luka lama yang mengering, kadang seperti pisau yang baru diasah. Kenzo mengusap wajahnya, menarik napas panjang, lalu berdiri. Ia tak menunggu sampai dadanya benar-benar tenang. Ada hal-hal yang lebih aman ditinggalkan setengah selesai seperti tangis, seperti doa yang terlalu jujur. Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi, membawa beban yang tak ia ceritakan pada siapa pun. *** Zoe menghabiskan sore dengan membenahi catatan. Ia memindahkan deadline, menandai risiko, dan menyusun ulang prioritas. Kepalanya jernih, tangannya sigap. Beginilah caranya bertahan: fokus. Ia menolak membiarkan ruang kosong di pikirannya diisi hal-hal yang tak produktif. Namun menjelang magrib, saat cahaya meredup dan rumah kembali suny
Malam itu Zoe tidak benar-benar tidur lama. Pagi datang dengan kepala berat dan dada yang masih sesak, tapi pikirannya sudah lebih jernih. Ia bangun lebih awal, menyeduh kopi, lalu membuka laptop di meja makan. Angka-angka, jadwal, dan sisa kontrak klien memenuhi layar. Zosta belum mati belum. Zoe hari ini memastikan kemajuan Zosta hanya di rumah saja, dan dia juga menghindari sesuatu yang tak ingin terjadi seperti sebelumnya. Ketukan pelan di pintu terdengar sekitar satu jam kemudian. Kenzo berdiri di luar, kali ini rapi, tanpa hujan, membawa map tipis. Tidak ada basa-basi. Ia masuk setelah Zoe menggeser pintu sedikit, lalu langsung meletakkan map di meja. “Itu draft kerja sama. Timeline, anggaran, dan exposure media,” katanya singkat. Zoe mengangguk, membuka map, membaca. Matanya bergerak cepat. Ini masuk akal. Terlalu masuk akal untuk ditolak begitu saja. Kampanye amal otomotif, wajah publik yang positif, dan sorotan media yang terkontrol. Bukan penyelamat ajaib, tapi cukup
“Bu Zoe! Investor utama sudah di ruang meeting!” seru Tania tergesa, napasnya tersengal. Zoe berbalik pelan. “Semua sudah datang?” Tania menunduk. “Sebagian, Bu. Tapi mereka… sepertinya tidak datang untuk bicara baik-baik.” Zoe menghela napas panjang. “Baik. Siapkan proyektor, saya akan ke sana.” Ia menegakkan bahu, dan melangkah keluar dengan langkah yang tegas. Langkah sepatunya terdengar mantap di lantai marmer, menggema di koridor panjang. Begitu pintu ruang meeting terbuka, ruangan langsung hening. Tiga investor utama Zosta duduk di sana wajah mereka tegang, beberapa dengan tangan terlipat, sebagian menatap tajam ke arah Zoe. Suasana terasa seperti ruang sidang, bukan rapat bisnis. “Selamat siang.” Suara Zoe tenang, meski nadanya sedikit serak. Pak Raymond, investor tertua, menatap tajam. “Ini bukan masalah sepele, Bu Zoe. Tapi reputasi perusahaan ini itu masalah besar.” Zoe berjalan ke depan meja, meletakkan laptop, menatap mereka satu per satu. “Saya tahu isu
Pagi itu matahari terbit terlalu lambat, seolah enggan menampakkan diri di langit yang muram. Zoe menatap pantulan dirinya di dinding kaca besar kantor Zosta Wedding Organizer, perusahaannya yang dulu selalu penuh tawa, kini sepi bagai ruang rawat luka. Bias cahaya matahari menembus tirai, jatuh di wajahnya yang terlihat tegar namun letih. Di tangan kirinya, cangkir kopi sudah dingin sejak satu jam lalu. Di tangan kanan, ponsel yang terus bergetar tak henti. Notifikasi demi notifikasi masuk dari portal berita, media gosip, sampai pesan pribadi yang tak berani ia buka. “Calon Suami Meninggal, CEO Zosta Diduga Penyebabnya?” “Asher Hartono Tewas Karena Tantangan Tunangannya Sendiri?” “Tragedi Cinta di Balik Janur Gugur.” Zoe menggigit bibirnya, menahan gemetar di ujung jari. Ia menatap tajam layar ponsel itu, lalu mematikannya. Suara detik jam dinding terasa memekakkan di ruang kosong. “Biarkan mereka bicara…” gumamnya lirih, suaranya serak tapi dingin. “Gue nggak akan sembu
Jam telah menunjukkan pukul 22.00, tapi Zoe masih tetap berkutat di depan leptop tanpa mengenal lelah. Deringan ponselnya berbunyi. Nama Kenzo tertera di layar handphonenya. Satu kali dan dua kali tidak dia jawab, sambungan ketiga kalinya membuatnya pasrah untuk mengangkat telponnya. "Kamu masih kerja?" tanya Kenzo di sebrang. "Hem" Helaan nafas terdengar dari sebrang, "Udah jam segini, besok lagi kerjanya." Zoe melihat arloji di tangannya. Dan dia baru tersadar sekarang sudah mulai larut malam. Dia berjalan ke luar ruangannya, dan tidak ada satupun karyawannya yang tersisa dan hanya tertinggal dirinya. "Hem, Gue pulang" Zoe mematikan sambungan teleponnya. Ia segera membereskan semua berkas dan merapikannya dengan cepat. Setelah semuanya selesai, Ia segera keluar dari kantor nya. "Iss seharusnya gue bawa motor aja. Engga ada pula ojol malam malam begini," keluhnya menyesal tidak membawa motornya. Zoe terus gelisah melihat handphonenya yang tidak ada ojek di daerah temp
Zoe tersadar dari lamunan nya disaat Kenzo mengetuk kamarnya berulang kali. Ia segera bangkit untuk membukakan pintu nya. Terpampang wajah Kenzo yang mulai mengantuk, dengan tangan ia ulurkan meminta sesuatu pada gadis itu. "Aku minta selimut sama bantal" ujarnya. Zoe hanya mengangguk saja, kemudian ia mengambilkannya lalu menyerahkannya dengan cepat. "Oh ya, besok pasti banyak yang tanya tentang pernikahan gue. Jadi pernikahan ini jangan sampai terbongkar di hadapan mereka semua terutama teman - teman gue." Orang - orang hanya tau bahwa Zoe gagal menikah di karenakan pengantin pria nya telah meninggal dunia. Pernikahan Zoe dan Kenzo hanya di ketahui oleh keluarga mereka saja, tidak untuk orang luar. Karena Zoe masih belum menerima dengan pernikahan ini dan kemungkinan besarnya Kenzo juga sependapat dengan pemikiran Zoe. *** Pagi di kota itu masih basah oleh sisa hujan semalam. Langit kelabu seakan tak mau memberi Zoe kesempatan untuk melupakan. Namun ia tetap melangkah he







