Home / Rumah Tangga / Setelah Janur Gugur / BAB 2 (Memulai hidup baru yang tak sesuai dengan kenyataan)

Share

BAB 2 (Memulai hidup baru yang tak sesuai dengan kenyataan)

Author: Pratama
last update Last Updated: 2025-10-07 20:05:55

Zoe tersadar dari lamunan nya disaat Kenzo mengetuk kamarnya berulang kali. Ia segera bangkit untuk membukakan pintu nya. Terpampang wajah Kenzo yang mulai mengantuk, dengan tangan ia ulurkan meminta sesuatu pada gadis itu.

"Aku minta selimut sama bantal" ujarnya.

Zoe hanya mengangguk saja, kemudian ia mengambilkannya lalu menyerahkannya dengan cepat. "Oh ya, besok pasti banyak yang tanya tentang pernikahan gue. Jadi pernikahan ini jangan sampai terbongkar di hadapan mereka semua terutama teman - teman gue."

Orang - orang hanya tau bahwa Zoe gagal menikah di karenakan pengantin pria nya telah meninggal dunia. Pernikahan Zoe dan Kenzo hanya di ketahui oleh keluarga mereka saja, tidak untuk orang luar. Karena Zoe masih belum menerima dengan pernikahan ini dan kemungkinan besarnya Kenzo juga sependapat dengan pemikiran Zoe.

***

Pagi di kota itu masih basah oleh sisa hujan semalam. Langit kelabu seakan tak mau memberi Zoe kesempatan untuk melupakan.

Namun ia tetap melangkah heels hitamnya beradu dengan lantai marmer kantor Zosta Wedding Organizer, langkahnya cepat dan mantap.

Zoe mengenakan setelan putih gading, wajahnya dipoles ringan, hanya untuk menutupi kurang tidur yang mengantui nya.

Hari ini seharusnya ia sedang duduk di pesawat menuju Paris untuk bulan madu. Tapi dunia sudah menulis ulang takdirnya. Pernikahan yang ia siapkan dengan tangan sendiri dan duduk bahagia di pelaminan bersama calon suaminya berubah jadi pernikahan yang penuh dengan duka.

“Mulai dari nol lagi, Zoe,” gumamnya di depan pintu kaca bertuliskan ZOSTA WEDDING ORGANIZER.

Ia menyalakan lampu kantor, menyalakan komputer, dan langsung menatap daftar klien yang harus ditangani minggu depan. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard, mencoba menutupi kenyataan bahwa jantungnya berdegup setiap kali nama Asher muncul di pikirannya.

Tapi takdir seperti tak ingin memberi Zoe waktu bernapas. Suara langkah tumit bergema dari arah lobi keras, cepat, dan marah.

“Zoe Callysta!!”

Zoe mengangkat kepala perlahan. Sosok wanita berusia awal lima puluhan berdiri di ambang pintu rambutnya tertata sempurna, tapi wajahnya jelas menahan amarah. Evelyn Hartono, ibunda Asher. Perempuan yang dulu dengan lembut memeluk Zoe dan berkata:

“Akhirnya anakku menemukan seseorang yang bisa membuatnya pulang tepat waktu.” Kini, sorot mata itu menusuk seperti pisau.

“Mama…” Zoe berdiri. Suaranya tenang, tapi ada getaran samar. “Silakan duduk dulu, Ma. Zoe—”

“Engga perlu basa-basi, Zoe.”

Evelyn melangkah maju, menatap Zoe tajam dari balik kaca mata. “Aku datang bukan untuk minum teh. Aku datang untuk melihat wajah perempuan yang buat anakku mati.”

Kata-kata itu jatuh berat. Satu ruangan terasa membeku. Zoe tak menjawab hanya menarik napas perlahan dan menggenggam meja di depannya agar tidak goyah.

“Aku udah dengar semuanya,” lanjut Evelyn, suaranya pecah di ujung kalimat.

“Asher keluar rumah karena kamu. Karena tantangan bodohmu! Dan sekarang… sekarang kamu berdiri di sini, berpakaian seperti engga terjadi apa-apa!”

Zoe menunduk sebentar, lalu menatap balik dengan mata yang mulai berair tapi tetap tajam. "Zoe ngga pernah mau itu terjadi, Ma. Zoe juga menyesal Ma."

“Menyesal engga bisa mengembalikan anakku, Zoe!” seru Evelyn

“Tapi yang paling menjijikkan kau bahkan sudah menikah lagi, seminggu setelah pemakaman! Sama siapa? Sama pria itu, si bajingan dari masa lalumu?”

Zoe terpaku. Rahangnya menegang. Ia tahu kabar itu pasti cepat menyebar. Keluarga Hartono punya koneksi ke semua kalangan elite. Namun mendengarnya langsung dari mulut Evelyn membuat dadanya sesak.

“Aku engga punya pilihan, Ma.”

“Engga punya pilihan?!” Evelyn menepuk meja dengan keras hingga gelas di atasnya bergetar. “Atau memang kau engga pernah benar-benar mencintai Asher sejak awal?!”

Kata-kata itu menghantam Zoe seperti petir. Untuk sesaat, wajah Asher melintas di pikirannya, tawa hangatnya, cara ia selalu memanggil Zoe “Callysta”.

Ia menatap lantai, menahan diri agar tidak menangis.“Aku mencintai Asher… sampai sekarang pun masih, Ma. Tapi cinta engga bisa menahan maut.”

“Kau berani bicara soal cinta setelah membuatnya mati di jalan karena ego-mu?”

“Aku udah dihukum, Ma" Zoe menyambung kan perkataan nya lagi “bahkah Setiap hari.”

Evelyn berdiri. Matanya memerah. “Engga, Zoe. Kau belum dihukum. Tapi kau pasti merasakannya. Dunia engga akan membiarkanmu hidup tenang.”

Dan saat Evelyn melangkah mendekat, tangan Zoe hampir gemetar. Tapi tiba-tiba—

“CUKUP!!!"

Suara berat itu datang dari belakang. Langkah sepatu hitam bergema. Zoe menoleh, dan matanya langsung menegang.

Kenzo Albern. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan jas hitam dan tatapan dingin yang sama seperti dulu. Rambutnya sedikit basah karena hujan, tangan kirinya menggenggam ponsel, dan senyum sinis muncul di sudut bibirnya.

“Kalau Anda ingin mencari kambing hitam, setidaknya jangan lakukan di tengah jam kerja orang lain,” ucapnya dingin.

“Siapa kamu, hah?” bentak Evelyn.

“Saya—” Kenzo melangkah lebih dekat, memandang Zoe sejenak sebelum kembali menatap Evelyn. “—suami sah Zoe Callysta” sambungnya dengan nada berat.

Ruangan mendadak hening. Zoe membeku, tangannya refleks menggenggam meja lebih erat. Ia tidak menyangka Kenzo akan datang, apalagi menyebut dirinya seperti itu.

“Oh, jadi kamu laki-laki itu?” Evelyn mendesis jijik. “Anak yang dulu pernah membuat seorang gadis bunuh diri," sindirnya dengan mata melirik ke arah Zoe yang mulai tegang.

“Saya engga tau rumor di luaran sana seperti apa, tapi yang pasti saya bukan seperti yang ibu kira. Di sini ibu dengan lantang menghina dan memarahi istri saya yang tak sepenuhnya bersalah. Saya bisa buat perhitungan kepada ibu sekarang juga!" ujar Kenzo dengan nada penuh ancaman.

Evelyn menatap Kenzo dengan tatapan penuh benci. "Kau pikir dengan kekuasaanmu kau bisa lindungi dia dari kenyataan?”

“Tidak,” ucap Kenzo, tatapannya dingin tapi tenang. “Saya hanya tidak mau dia dihancurkan lagi oleh orang yang katanya mencintai Asher.”

Evelyn terdiam. Air matanya jatuh satu-satu, tapi bibirnya tetap keras. “Kau tidak tahu apa yang Asher lalui sebelum mati. Kau tidak tahu bagaimana dia mencintai perempuan itu lebih dari dirinya sendiri.”

“Saya tahu,” jawab Kenzo pelan. “Saya tahu, dan saya tahu Zoe juga masih menghukumnya setiap kali dia menarik napas.”

Zoe hanya diam. Di dalam dirinya, amarah dan luka bercampur. Ia benci melihat Kenzo bicara seolah mengerti segalanya. Tapi juga tak bisa menyangkal, kehadiran pria itu membuatnya tidak jatuh.

Evelyn akhirnya melangkah pergi, namun sebelum keluar, ia sempat berbisik di dekat Zoe. “Kau boleh punya semua yang kau mau, Zoe. Tapi kau sudah membunuh satu jiwa. Dan Tuhan takkan lupa.”

Pintu tertutup. Zoe berdiri di tempat, menatap kosong ke arah pintu yang baru saja tertutup.

Kenzo menatapnya dalam diam. “Kamu baik-baik saja?”

Zoe berbalik, sebelah tangan nya menghapus airmata yang turun, suaranya datar tapi tajam. “Gue tidak butuh lo datang dan berpura-pura jadi penyelamat, Kenzo. Lo dengan sikap lo itu yang dulu selalu tak berperasaan.”

Kenzo menunduk sedikit, lalu tersenyum tipis. “Aku tahu. Tapi mungkin sekarang waktunya aku menebusnya.”

“Jangan sok pahlawan. Gue engga butuh diselamatkan.” sarkas Zoe dengan tegas.

“ Tapi aku belum jelasin yang dulu, Zoe. Bukan aku penyebab nya," Kenzo mencoba menjelaskan tapi seperti nya Zoe keras kepala.

Zoe menatapnya tajam, napasnya berat. “Jangan pikir gue sudah lupa apa yang lo lakukan dulu.”

Zoe semakin mengikis jarak di antara mereka berdua, hembusan nafasnya semakin tidak teratur, "Gue tau segalanya. Dulu, Gue kehilangan sahabat , tapi sekarang gue kehilangan semuanya. PUAS HAH!!!"

Kenzo diam tidak berkutik. Ia melihat dada gadis itu turun naik mengatur ritme nya. Dirinya tau menjadi Zoe tidaklah mudah, terlebih lagi semua orang mengecamnya sebagai pembunuh.

"Aku buktikan, aku engga bersalah"

Setelah mengucapkan itu, Kenzo segera keluar dari ruangan Zoe. Gadis itu hanya menatap dingin ke arah punggung Kenzo yang mulai perlahan menjauh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Janur Gugur   BAB 5 (Penawaran Kenzo)

    “Bu Zoe! Investor utama sudah di ruang meeting!” seru Tania tergesa, napasnya tersengal. Zoe berbalik pelan. “Semua sudah datang?” Tania menunduk. “Sebagian, Bu. Tapi mereka… sepertinya tidak datang untuk bicara baik-baik.” Zoe menghela napas panjang. “Baik. Siapkan proyektor, saya akan ke sana.” Ia menegakkan bahu, dan melangkah keluar dengan langkah yang tegas. Langkah sepatunya terdengar mantap di lantai marmer, menggema di koridor panjang. Begitu pintu ruang meeting terbuka, ruangan langsung hening. Tiga investor utama Zosta duduk di sana wajah mereka tegang, beberapa dengan tangan terlipat, sebagian menatap tajam ke arah Zoe. Suasana terasa seperti ruang sidang, bukan rapat bisnis. “Selamat siang.” Suara Zoe tenang, meski nadanya sedikit serak. Pak Raymond, investor tertua, menatap tajam. “Ini bukan masalah sepele, Bu Zoe. Tapi reputasi perusahaan ini itu masalah besar.” Zoe berjalan ke depan meja, meletakkan laptop, menatap mereka satu per satu. “Saya tahu isu

  • Setelah Janur Gugur   BAB 4 (Zosta di terpa isu)

    Pagi itu matahari terbit terlalu lambat, seolah enggan menampakkan diri di langit yang muram. Zoe menatap pantulan dirinya di dinding kaca besar kantor Zosta Wedding Organizer, perusahaannya yang dulu selalu penuh tawa, kini sepi bagai ruang rawat luka. Bias cahaya matahari menembus tirai, jatuh di wajahnya yang terlihat tegar namun letih. Di tangan kirinya, cangkir kopi sudah dingin sejak satu jam lalu. Di tangan kanan, ponsel yang terus bergetar tak henti. Notifikasi demi notifikasi masuk dari portal berita, media gosip, sampai pesan pribadi yang tak berani ia buka. “Calon Suami Meninggal, CEO Zosta Diduga Penyebabnya?” “Asher Hartono Tewas Karena Tantangan Tunangannya Sendiri?” “Tragedi Cinta di Balik Janur Gugur.” Zoe menggigit bibirnya, menahan gemetar di ujung jari. Ia menatap tajam layar ponsel itu, lalu mematikannya. Suara detik jam dinding terasa memekakkan di ruang kosong. “Biarkan mereka bicara…” gumamnya lirih, suaranya serak tapi dingin. “Gue nggak akan semb

  • Setelah Janur Gugur   BAB 3 (Tinggal satu atap tapi asing)

    Jam telah menunjukkan pukul 22.00, tapi Zoe masih tetap berkutat di depan leptop tanpa mengenal lelah. Deringan ponselnya berbunyi. Nama Kenzo tertera di layar handphonenya. Satu kali dan dua kali tidak dia jawab, sambungan ketiga kalinya membuatnya pasrah untuk mengangkat telponnya. "Kamu masih kerja?" tanya Kenzo di sebrang. "Hem" Helaan nafas terdengar dari sebrang, "Udah jam segini, besok lagi kerjanya." Zoe melihat arloji di tangannya. Dan dia baru tersadar sekarang sudah mulai larut malam. Dia berjalan ke luar ruangannya, dan tidak ada satupun karyawannya yang tersisa dan hanya tertinggal dirinya. "Hem, Gue pulang" Zoe mematikan sambungan teleponnya. Ia segera membereskan semua berkas dan merapikannya dengan cepat. Setelah semuanya selesai, Ia segera keluar dari kantor nya. "Iss seharusnya gue bawa motor aja. Engga ada pula ojol malam malam begini," keluhnya menyesal tidak membawa motornya. Zoe terus gelisah melihat handphonenya yang tidak ada ojek di daerah temp

  • Setelah Janur Gugur   BAB 2 (Memulai hidup baru yang tak sesuai dengan kenyataan)

    Zoe tersadar dari lamunan nya disaat Kenzo mengetuk kamarnya berulang kali. Ia segera bangkit untuk membukakan pintu nya. Terpampang wajah Kenzo yang mulai mengantuk, dengan tangan ia ulurkan meminta sesuatu pada gadis itu. "Aku minta selimut sama bantal" ujarnya. Zoe hanya mengangguk saja, kemudian ia mengambilkannya lalu menyerahkannya dengan cepat. "Oh ya, besok pasti banyak yang tanya tentang pernikahan gue. Jadi pernikahan ini jangan sampai terbongkar di hadapan mereka semua terutama teman - teman gue." Orang - orang hanya tau bahwa Zoe gagal menikah di karenakan pengantin pria nya telah meninggal dunia. Pernikahan Zoe dan Kenzo hanya di ketahui oleh keluarga mereka saja, tidak untuk orang luar. Karena Zoe masih belum menerima dengan pernikahan ini dan kemungkinan besarnya Kenzo juga sependapat dengan pemikiran Zoe. *** Pagi di kota itu masih basah oleh sisa hujan semalam. Langit kelabu seakan tak mau memberi Zoe kesempatan untuk melupakan. Namun ia tetap melangkah he

  • Setelah Janur Gugur   BAB 1 (Flashback)

    Flashback On (Satu hari sebelum hari pernikahan) Langit mulai berwarna abu-abu. Aroma tanah basah bercampur wangi bunga dari dekorasi pelaminan yang baru saja Zoe atur sendiri. Tangannya masih penuh serpihan daun melati dan pita putih — simbol kesucian cinta yang besok akan diikrarkan. Tapi entah kenapa, dada Zoe terasa berat. Ada sesuatu yang tidak beres. “Asher nggak datang dari pagi...” gumamnya pelan, menatap ponselnya yang sunyi. Tadi pagi mereka sempat berselisih. Hal kecil sebenarnya tentang siapa yang seharusnya memutuskan lokasi bulan madu. Tapi perdebatan itu melebar, seperti api kecil yang tiba-tiba membakar jembatan komunikasi mereka. “Kenapa semua harus kamu yang atur, Zoe? Ini pernikahan kita, bukan proyek kerjamu!” ujar Asher menjelaskan perasaan nya. “Karena aku tahu apa yang terbaik. Aku udah rancang semuanya dari awal, Sher. Kamu tinggal datang dan bilang ‘iya’.” Kalimat itu tajam. Terlalu tajam untuk diucapkan pada seseorang yang mencintai dengan sepenuh

  • Setelah Janur Gugur   PROLOG

    "SAH" Satu kata yang sakral membuat semuanya bahagia kecuali seorang gadis sang pengantin. Ada perasaan kosong, kecewa dan juga kesedihan yang tidak bisa dia utarakan sekarang ini. Dia melihat semuanya bahagia, kedua orang tuanya, mertuanya dan juga....suaminya. "Zoe sekarang kamu sudah menikah dan juga yang akan menjagamu bukan ayah lagi melainkan suamimu ini," ujar sang papa Adrian. Zoe hanya bisa diam dan diam memperhatikan semuanya. Dirinya masih terkejut dan juga tidak menyangka alur kehidupannya seperti ini sekarang. Dulu dia sangatlah menantikan hari ini, bahkan tidak pernah sekalipun dia melupakan hari ini. Tapi keadaan sekarang sangatlah berbeda dengan yang dulu. Mama Siska, menghampiri anaknya lalu berbisik, "Zoe, mulai sekarang kamu harus hormati Kenzo. Dia itu suami kamu. Mama engga minta kamu melupakan Asher, tapi setidaknya kamu menghormati suami kamu." Mama Siska sangat tau bagaimana sikap anaknya, makanya wanita itu memberikan kata - kata nasihat untuknya. Zo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status