ログインJam telah menunjukkan pukul 22.00, tapi Zoe masih tetap berkutat di depan leptop tanpa mengenal lelah. Deringan ponselnya berbunyi. Nama Kenzo tertera di layar handphonenya. Satu kali dan dua kali tidak dia jawab, sambungan ketiga kalinya membuatnya pasrah untuk mengangkat telponnya.
"Kamu masih kerja?" tanya Kenzo di sebrang. "Hem" Helaan nafas terdengar dari sebrang, "Udah jam segini, besok lagi kerjanya." Zoe melihat arloji di tangannya. Dan dia baru tersadar sekarang sudah mulai larut malam. Dia berjalan ke luar ruangannya, dan tidak ada satupun karyawannya yang tersisa dan hanya tertinggal dirinya. "Hem, Gue pulang" Zoe mematikan sambungan teleponnya. Ia segera membereskan semua berkas dan merapikannya dengan cepat. Setelah semuanya selesai, Ia segera keluar dari kantor nya. "Iss seharusnya gue bawa motor aja. Engga ada pula ojol malam malam begini," keluhnya menyesal tidak membawa motornya. Zoe terus gelisah melihat handphonenya yang tidak ada ojek di daerah tempatnya sekarang. Ingin memesan taksi online, tapi dia takut dan trauma saat kecelakaan calon suaminya. Mengingat itu semua, perasaan nya mulai kembali sedih. Baru kali itu dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kecelakaan itu terjadi. Bahkan orang tersayang nya meninggal di hadapannya di saat waktu itu juga. Tengah kesedihan melandanya, tiba-tiba suara klakson menggema di telinganya. Kaget? tentu saja. Ternyata itu adalah Kenzo yang duduk tegak di atas moge nya sendiri. Jujur, Sebenarnya Kenzo idaman gadis di luaran sana, terlebih lagi dengan wajahnya yang tampan selalu memikat para gadis-gadis kecuali Zoe sendiri. "Ayo!" ajak Kenzo. Zoe segera menggeleng keras, "Engga!, Gue engga mau!" hembusan kasar dia hembuskan. Terpaksa dirinya turun dari motor, meletakkan helmnya dan menghampiri istrinya yang keras kepala itu. Saat berhadapan dengan Zoe, Kenzo berkata tegas, "Engga ada lagi ojek sekitaran sini. nggak mungkin kamu naik mobil." Kenzo menarik pelan lengan istrinya, tapi Zoe segera menghentakkan dengan keras hingga terlepas. Dia langsung naik motor dengan wajah cemberutnya sedangkan Kenzo hanya geleng-geleng kecil melihat ke gengsian gadis itu. Zoe terkejut melihat pria itu memasangkan helm dan jaket untuknya. Satu detik sampai beberapa detik mereka berduaan pandang memandang, sampai Zoe mengalihkan perhatiannya terlebih dahulu. "Pakai ini nanti masuk angin!" Zoe tidak menghiraukan ucapan suaminya dan bagi Kenzo keterdiaman dan kecuekan istrinya adalah hal biasa dan dia tidak dimasukkan ke dalam hati. Selama perjalanan pulang, hanya ada kebisuan dan kehilangan yang melanda mereka berdua. Kenzo tau istrinya masih membencinya sampai sekarang dan tak mudah untuk meluluhkannya. Sesampai di rumah, Kenzo ingin bicara empat mata dengan istrinya. Tapi saat melihat ada kelelahan di matanya, alhasil dia menundanya. Kenzo sengaja setelah menikah ingin tinggal langsung di rumah dulu yang ia bangun sendiri untuk dirinya saat ia akan menikah dan berkeluarga nanti. Dia juga tidak ingin permasalahan rumah tangganya diketahui orang lain terutama keluarganya. Baginya, ini adalah tanggung jawab mereka sendiri untuk menyelesaikan permasalahannya mereka. Di kamar, Zoe duduk di depan kaca hias dan menatap pasang ke arah depan. Ini bukan kehidupan yang dia mau. Kalau saja dia bisa memutarkan waktu, pasti dia tidak akan menantang Azhar dengan kebodohannya. Setetes demi setetes air matanya jatuh. Dia membekap mulutnya agar tanya saya tidak terdengar keluar. Dunianya sekarang runtuh, dunia yang ia harapkan dulu seketika sirna begitu saja. Dan kini dia berbagi dunianya dengan orang asing yang tak pernah diharapkan sebelumnya. Sikap dan tingkah laku Kenzo memang telah berubah drastis saat mereka nikah. Yang biasanya, Pria itu usil dan nakal sewaktu SMA dan kuliah, tapi saat mereka menikah, tingkah itu tidak terlihat lagi. Yang terlihat hanyalah perhatian, kepedulian dan tanggung jawab. Meskipun begitu, itu semua tidak dapat mengubah pandangan Zoe terhadap pria itu menjadi baik. Zoe dulu sangat terpukul di saat tingkah dan sikap Kenzo dapat membuat dia kecewa berat. Makanya tidak semudah itu membuat rasa kecewa dan kebencian nya berubah menjadi cinta atau suka.Siang merambat pelan di pemakaman itu, seperti enggan mengusik kesunyian yang sedang dipeluk Kenzo. Angin menggerakkan kelopak bunga di atas tanah yang masih lembap. Nama di nisan itu tak pernah berubah, tapi setiap kali ia membacanya, rasanya selalu berbeda kadang seperti luka lama yang mengering, kadang seperti pisau yang baru diasah. Kenzo mengusap wajahnya, menarik napas panjang, lalu berdiri. Ia tak menunggu sampai dadanya benar-benar tenang. Ada hal-hal yang lebih aman ditinggalkan setengah selesai seperti tangis, seperti doa yang terlalu jujur. Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi, membawa beban yang tak ia ceritakan pada siapa pun. *** Zoe menghabiskan sore dengan membenahi catatan. Ia memindahkan deadline, menandai risiko, dan menyusun ulang prioritas. Kepalanya jernih, tangannya sigap. Beginilah caranya bertahan: fokus. Ia menolak membiarkan ruang kosong di pikirannya diisi hal-hal yang tak produktif. Namun menjelang magrib, saat cahaya meredup dan rumah kembali suny
Malam itu Zoe tidak benar-benar tidur lama. Pagi datang dengan kepala berat dan dada yang masih sesak, tapi pikirannya sudah lebih jernih. Ia bangun lebih awal, menyeduh kopi, lalu membuka laptop di meja makan. Angka-angka, jadwal, dan sisa kontrak klien memenuhi layar. Zosta belum mati belum. Zoe hari ini memastikan kemajuan Zosta hanya di rumah saja, dan dia juga menghindari sesuatu yang tak ingin terjadi seperti sebelumnya. Ketukan pelan di pintu terdengar sekitar satu jam kemudian. Kenzo berdiri di luar, kali ini rapi, tanpa hujan, membawa map tipis. Tidak ada basa-basi. Ia masuk setelah Zoe menggeser pintu sedikit, lalu langsung meletakkan map di meja. “Itu draft kerja sama. Timeline, anggaran, dan exposure media,” katanya singkat. Zoe mengangguk, membuka map, membaca. Matanya bergerak cepat. Ini masuk akal. Terlalu masuk akal untuk ditolak begitu saja. Kampanye amal otomotif, wajah publik yang positif, dan sorotan media yang terkontrol. Bukan penyelamat ajaib, tapi cukup
“Bu Zoe! Investor utama sudah di ruang meeting!” seru Tania tergesa, napasnya tersengal. Zoe berbalik pelan. “Semua sudah datang?” Tania menunduk. “Sebagian, Bu. Tapi mereka… sepertinya tidak datang untuk bicara baik-baik.” Zoe menghela napas panjang. “Baik. Siapkan proyektor, saya akan ke sana.” Ia menegakkan bahu, dan melangkah keluar dengan langkah yang tegas. Langkah sepatunya terdengar mantap di lantai marmer, menggema di koridor panjang. Begitu pintu ruang meeting terbuka, ruangan langsung hening. Tiga investor utama Zosta duduk di sana wajah mereka tegang, beberapa dengan tangan terlipat, sebagian menatap tajam ke arah Zoe. Suasana terasa seperti ruang sidang, bukan rapat bisnis. “Selamat siang.” Suara Zoe tenang, meski nadanya sedikit serak. Pak Raymond, investor tertua, menatap tajam. “Ini bukan masalah sepele, Bu Zoe. Tapi reputasi perusahaan ini itu masalah besar.” Zoe berjalan ke depan meja, meletakkan laptop, menatap mereka satu per satu. “Saya tahu isu
Pagi itu matahari terbit terlalu lambat, seolah enggan menampakkan diri di langit yang muram. Zoe menatap pantulan dirinya di dinding kaca besar kantor Zosta Wedding Organizer, perusahaannya yang dulu selalu penuh tawa, kini sepi bagai ruang rawat luka. Bias cahaya matahari menembus tirai, jatuh di wajahnya yang terlihat tegar namun letih. Di tangan kirinya, cangkir kopi sudah dingin sejak satu jam lalu. Di tangan kanan, ponsel yang terus bergetar tak henti. Notifikasi demi notifikasi masuk dari portal berita, media gosip, sampai pesan pribadi yang tak berani ia buka. “Calon Suami Meninggal, CEO Zosta Diduga Penyebabnya?” “Asher Hartono Tewas Karena Tantangan Tunangannya Sendiri?” “Tragedi Cinta di Balik Janur Gugur.” Zoe menggigit bibirnya, menahan gemetar di ujung jari. Ia menatap tajam layar ponsel itu, lalu mematikannya. Suara detik jam dinding terasa memekakkan di ruang kosong. “Biarkan mereka bicara…” gumamnya lirih, suaranya serak tapi dingin. “Gue nggak akan sembu
Jam telah menunjukkan pukul 22.00, tapi Zoe masih tetap berkutat di depan leptop tanpa mengenal lelah. Deringan ponselnya berbunyi. Nama Kenzo tertera di layar handphonenya. Satu kali dan dua kali tidak dia jawab, sambungan ketiga kalinya membuatnya pasrah untuk mengangkat telponnya. "Kamu masih kerja?" tanya Kenzo di sebrang. "Hem" Helaan nafas terdengar dari sebrang, "Udah jam segini, besok lagi kerjanya." Zoe melihat arloji di tangannya. Dan dia baru tersadar sekarang sudah mulai larut malam. Dia berjalan ke luar ruangannya, dan tidak ada satupun karyawannya yang tersisa dan hanya tertinggal dirinya. "Hem, Gue pulang" Zoe mematikan sambungan teleponnya. Ia segera membereskan semua berkas dan merapikannya dengan cepat. Setelah semuanya selesai, Ia segera keluar dari kantor nya. "Iss seharusnya gue bawa motor aja. Engga ada pula ojol malam malam begini," keluhnya menyesal tidak membawa motornya. Zoe terus gelisah melihat handphonenya yang tidak ada ojek di daerah temp
Zoe tersadar dari lamunan nya disaat Kenzo mengetuk kamarnya berulang kali. Ia segera bangkit untuk membukakan pintu nya. Terpampang wajah Kenzo yang mulai mengantuk, dengan tangan ia ulurkan meminta sesuatu pada gadis itu. "Aku minta selimut sama bantal" ujarnya. Zoe hanya mengangguk saja, kemudian ia mengambilkannya lalu menyerahkannya dengan cepat. "Oh ya, besok pasti banyak yang tanya tentang pernikahan gue. Jadi pernikahan ini jangan sampai terbongkar di hadapan mereka semua terutama teman - teman gue." Orang - orang hanya tau bahwa Zoe gagal menikah di karenakan pengantin pria nya telah meninggal dunia. Pernikahan Zoe dan Kenzo hanya di ketahui oleh keluarga mereka saja, tidak untuk orang luar. Karena Zoe masih belum menerima dengan pernikahan ini dan kemungkinan besarnya Kenzo juga sependapat dengan pemikiran Zoe. *** Pagi di kota itu masih basah oleh sisa hujan semalam. Langit kelabu seakan tak mau memberi Zoe kesempatan untuk melupakan. Namun ia tetap melangkah he







