LOGINHari mulai beranjak malam.
Audit akhirnya selesai untuk hari pertama.Farhan mengantar tim auditor hingga ke lobi perusahaan sebelum kembali ke ruang kerjanya.Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi.Kepalanya terasa berat.Sejak pagi hingga malam, ia terus menjawab berbagai pertanyaan mengenai laporan keuangan perusahaan, proyek, hingga kejadian yang menggemparkan acara peluncuran kemarin.Belum sempat beristirahat, ponselnya kembali berdering.Harsa baru saja melangkahkan kakinya keluar dari gedung ketika ponselnya bergetar.Ia melihat layar.Pesan dari Keenan.Keenan:Temui gue ke sasana sekarang. Ada yang ingin gue bicarakan. Sekarang!!!Harsa mengernyit.Ia sebenarnya sudah berjanji akan makan siang bersama Naura.Namun pesan Keenan membuatnya berhenti.Beberapa detik ia menatap layar ponselnya.Kemudian Harsa mengirim pesan kepada Naura.Harsa:Naura, maaf. Aku ada urusan yang harus kuselesaikan. Makan siangnya kita tunda sebentar, ya.Tidak lama kemudian, balasan Naura masuk.Naura:Baik. Selesaikan dulu urusanmu.Harsa memasukkan ponselnya ke saku.Ia kemudian masuk ke mobil dan menuju sasana milik Keenan.---Begitu sampai, Harsa turun dari mobil.Suasana sasana cukup sepi.Beberapa orang yang sedang berlatih berhenti sejenak ketika melihat kedatanganny
Tiga hari terasa jauh lebih lama bagi Naura.Padahal sebelumnya ia tidak pernah menghitung berapa lama seseorang pergi.Namun kali ini berbeda.Setiap pagi, tanpa sadar ia membuka ponselnya.Setiap kali ada notifikasi, matanya langsung melihat layar.Dan setiap kali bukan nama Harsa yang muncul, ia kembali meletakkan ponselnya.Naura mulai menyadari bahwa dirinya sedang menunggu.Bukan karena kewajiban.Bukan karena pekerjaan.Tetapi karena ia ingin Harsa kembali.---Pagi itu, Irish masuk ke ruangan Naura sambil membawa dua cangkir kopi.“Aku bawakan kopi.”“Terima kasih.”Irish meletakkan satu cangkir di meja.Kemudian ia memperhatikan Naura.“Kamu masih menunggu?”Naura menatapnya.“Menunggu apa?”“Harsa.”Naura terdiam.Irish tersenyum.“Tidak perlu menyangkal.”“Aku tidak me
Pesan itu sudah terkirim.Naura menatap layar ponselnya.Naura:Harsa, kapan kamu pulang?Tidak ada balasan.Satu menit.Lima menit.Sepuluh menit.Naura mencoba meletakkan ponselnya di atas meja.Namun, beberapa detik kemudian tangannya kembali meraihnya.Tidak ada pesan baru.Naura menghela napas.“Kenapa aku menunggu?”Ia menggeleng pelan.Dulu, ia pernah berada di posisi yang sama.Menunggu seseorang membalas pesan.Menunggu seseorang pulang.Menunggu seseorang memilihnya.Dan pengalaman itu membuatnya takut.Tetapi kali ini berbeda.Ia bukan sedang menunggu suaminya.Ia sedang menunggu seseorang yang bahkan belum menjadi apa-apa dalam hidupnya.Namun, kenapa rasanya begitu penting?---Di kamar hotel, ponsel Harsa akhirnya bergetar.Ia melihat layar.Na
Sejak kejadian di proyek itu, hubungan Naura dan Harsa perlahan berubah.Tidak ada pertengkaran.Tidak ada kata-kata kasar.Namun, justru karena tidak ada pertengkaran itulah semuanya terasa lebih berat.Harsa yang biasanya mengirim pesan setiap pagi mulai mengurangi kebiasaannya.Tidak ada lagi pesan sederhana seperti menanyakan apakah Naura sudah sarapan.Tidak ada lagi ajakan makan siang secara tiba-tiba.Tidak ada lagi pesan malam yang hanya berisi kalimat sederhana.Aku sedikit memikirkan kamu.Naura menyadari perubahan itu.Awalnya ia mencoba menganggapnya biasa.Mungkin Harsa sedang sibuk.Mungkin ada pekerjaan.Mungkin dirinya terlalu memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.Tetapi hari demi hari berlalu.Dan jarak itu semakin terasa.---Pagi itu Naura duduk di ruangannya sambil membaca laporan.Irish masuk me
Keenan melangkahkan kakinya memasuki gedung perkantoran bersama sekretarisnya. Baru beberapa langkah, seorang pria yang terlihat terburu-buru tidak sengaja bersenggolan dengannya.“Maafkan saya, Pak Keenan. Saya sedang terburu-buru.”Keenan menahan langkahnya dan memperhatikan pria tersebut.“Kamu bukannya orang pabrik? Ada masalah?”“Iya, Pak. Ada kerusakan pada alat yang mau dipakai.”Keenan mengernyitkan kening.“Bukannya yang harus melihat itu perwakilan dari perusahaan Harsa?”“Iya, Pak. Tapi sampai sekarang mereka belum datang. Katanya perwakilannya masih ada urusan di kantor.”Keenan terdiam beberapa saat.“Alat itu akan digunakan untuk proyek kita, kan?”“Iya, Pak.”“Kalau begitu, antarkan saya ke sana.”Pria itu terlihat ragu.“Tapi, Pak Keenan, bukankah Bapak ada jadwal bertemu dengan Bu Naura?”Keenan tersenyum tipis.“Pertemuan itu masih
Pagi itu, Naura datang ke kantor lebih awal.Ia baru saja duduk di kursinya ketika sekretarisnya masuk dengan wajah sedikit tegang.“Nona Naura.”“Ya?”“Ada dua orang yang ingin bertemu dengan Anda.”Naura mengangkat wajah.“Siapa?”“Pak Harsa dan Pak Keenan.”Naura langsung terdiam.“Bersamaan?”Sekretarisnya mengangguk.“Iya.”Naura memejamkan mata sebentar.“Suruh mereka masuk.”Beberapa saat kemudian, pintu terbuka.Harsa masuk lebih dahulu.Keenan menyusul di belakangnya.Keduanya kembali saling menatap.Naura menunjuk dua kursi di depannya.“Duduk.”Mereka duduk.“Ada apa?”Harsa membuka sebuah map.“Aku ingin membahas kontrak kerja sama yang kemarin.”Keenan juga meletakkan map di atas meja.“Aku juga.”Naura menghela napas.“Baik. Kita
Naura menatap kosong ke arah jendela. Pikirannya melayang jauh kembali ke masa ketika semuanya belum serumit ini. Ke awal. Ke Farhan. Ia pertama kali mengenal Farhan saat masih duduk di bangku SMP. Sore itu, rumahnya lebih ramai dari biasanya. Aroma teh hangat dan kue buatan ibunya meme
Naura sudah duduk di sudut kafe dengan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan uapnya. Tatapannya kosong, menembus kaca jendela tanpa benar - benar melihat apa pun. Pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang sejak tadi tak berhenti menghantuinya. Apa kurangnya aku??? Ia menikah muda atas
Tahun pertama pernikahan mereka terasa seperti mimpi. Farhan masih sering pulang tepat waktu. Mereka makan malam bersama, tertawa pada hal-hal sederhana, dan sesekali pergi berlibur singkat ke luar kota. Semua terasa cukup. Semua terasa utuh. Naura berusaha menjadi istri yang sempurna ban
“Aku kenal seseorang detektif swasta,” lanjut Iris pelan. “Dia profesional. Tidak sembarangan. Kalau memang ada sesuatu, dia pasti bisa menemukan jejaknya.” Kata detektif swasta membuat jantung Naura berdegup lebih cepat. Selama ini, perselingkuhan itu masih berupa potongan adegan di rooftop,







