Share

Bab 4

Penulis: Fist
Tanpa sadar, aku menutupi wajahku dan ikuti mereka dari belakang.

Orang-orang di perusahaan tampaknya sudah terbiasa dengan pemandangan itu. Tatapan menggoda jatuh pada mereka, bahkan seseorang yang akrab dengan Kaila terang-terangan berseloroh,

“Kaila, kerja bareng bos ganteng-mu lagi, yah?”

Kaila memutar mata manja, pura-pura kesal. Jason hanya tersenyum lembut lalu usap rambutnya dengan penuh sayang.

Sorakan dan siulan pun semakin ramai.

Ternyata semuanya tahu.

Mereka kerja sama dengan Jason. Dukung sandiwaranya dan bantu pertahankan ilusi itu hingga benar-benar kelihatan nyata.

Hanya aku yang seperti badut, terkurung dalam kebohongan, bahkan sempat bangga punya suami sebaik dia.

Dengan rok ketat membalut tubuhnya dan belahan dada yang nyaris nggak bisa disembunyikan, Kaila mendekat atas nama pekerjaan, hembuskan napas hangat di telinga Jason.

Semua orang tahu diri, berusaha alihkan pandangan, kembali pura-pura sibuk.

Jika ini dulu terjadi, mungkin aku sudah histeris karena pengkhianatannya.

Namun kini, hatiku justru terasa begitu tenang.

Mungkin karena waktuku di sini sudah tinggal menghitung hari, jadi semua rasanya sudah nggak berarti lagi.

Lagian, dalam hatiku, nama Jason sudah lama aku coret.

Malam ini adalah hari terakhirku sebelum pergi.

Saat hendak keluar rumah, Jason peluk aku sambil tersenyum lembut.

“Rosa sayang, hari ini ulang tahunku, loh. Kenapa kamu masih belum izinkan aku buka hadiahnya?”

Aku menatap matanya, tenang, nyaris tanpa riak.

“Nanti malam saja. Kita buka sama-sama waktu makan malam.”

Ia pun tertawa lepas.

Ia nggak tahu, sore nanti aku akan pergi.

Demi ulang tahunnya hari ini, ia batalkan semua pekerjaan. Ia juga mau sekalian rayakan ulang tahunku yang terlewat tujuh hari lalu.

“Mau ke mana? Jalan-jalan ke Gunung Framo?”

Gunung Framo adalah tempat kami saling mengikat janji di masa muda. Tempat itu punya arti yang istimewa bagi kami berdua.

Aku mengangguk pelan. Tiba-tiba teringat syalku ketinggalan di kamar, jadi aku pun titipkan tasku ke dia dan kembali ke kamar untuk ambil syal.

Jason cubit ujung hidungku dengan gemas.

“Rosa, kamu ketularan kebiasaan cerobohku, yah.”

Aku hanya tersenyum tipis.

Namun saat kembali, aku lihat ia genggam HP-ku erat-erat, wajahnya jelas diliputi kegelisahan.

Begitu lihat aku, ia langsung cepat-cepat datang mendekat.

“Rosa, tadi ada cowok yang telepon kamu. Katanya jangan lupa penerbangan malam ini .…”

“Apa maksudnya itu? Siapa cowok itu? Kamu mau ke mana malam ini?”

Bibirnya gemetar. Ketakutan besar terpancar dari matanya, seolah jika aku pergi, ia akan kehilangan segalanya.

Aku tersenyum tipis penuh sindiran. Kalau ia benar-benar sangat cinta aku, mengapa ia selingkuh dengan asistennya sendiri?

Lihat kepanikannya, aku cuma jawab santai, “Mungkin salah sambung.”

Wajahnya yang tegang sedikit mengendur, meski masih ada rasa cemas yang tersisa.

Ia genggam tanganku erat-erat, nadanya tegas dan nyaris memohon.

“Rosa, aku benar-benar sangat cinta kamu. Saat dengar kamu akan pergi, jantungku rasanya hampir loncat keluar. Aku benar-benar nggak bisa kehilangan kamu .…”

Ia bicara terputus-putus, penuh luapan cinta yang hangat dan membakar.

Ia nggak cuma aktor ulung, ia juga pintar nipu.

Nipu aku, bahkan nipu dirinya sendiri.

Meskipun hatinya telah lama berubah, namun ia masih anggap aku cinta sejatinya.

Jika memang gitu, Kaila nggak akan pernah muncul dalam hidup kami.

...

Mobil melaju cepat. Jason sadar aku sedang melamun dan sepanjang perjalanan ia berusaha lontarkan berbagai candaan untuk buat aku tersenyum.

Dulu, aku pasti akan ketawa dengan dia. Namun kini, aku nggak punya tenaga lagi untuk itu.

Ia boleh terus berakting, tapi aku nggak niat ikut main sandiwara dengan dia.

Sesampainya di Gunung Framo, ia gandeng tanganku dan kami jalan pelan-pelan.

Beberapa hari lalu turun hujan deras. Kini gunung itu terselimuti kabut dan basah oleh air hujan, cabang-cabang pohon yang kering pun tampak indah dihiasi butiran air.

Uap napas kami membumbung di udara dingin. Tangannya masih genggam aku erat, dan entah gimana, aku nggak lagi merasa kedinginan.

Di sekeliling, sunyi membentang. Hujan rintik mulai turun kembali, perlahan menaburi bahu kami dengan butiran air.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 10

    Sejak hari itu, aku nggak pernah ketemu Jason lagi.Belakangan, justru Yesi yang kasih tahu aku, katanya saat ia lewati suatu tempat, ia lihat Jason meringkuk di samping tempat sampah, kedinginan.Dengar itu, hatiku terasa perih.Gimanapun juga, kami pernah jadi suami istri. Nggak mungkin aku benar-benar tutup mata dan biarkan dia begitu saja.Aku pun minta alamatnya ke Yesi.Beberapa hari nggak ketemu, tubuh Jason tampak semakin kurus. Punggungnya yang dulu tegap kini membungkuk karena dingin. Ia pakai pakaian tipis, sembunyi di balik tempat sampah di sudut yang sedikit terlindung angin, napasnya mengepul dalam udara dingin.Lihat dia seperti itu, aku hanya bisa menghela napas panjang dan serahkan sebuah jaket ke dia.Tubuhnya menegang. Ia terima jaket itu, namun tetap menunduk, nggak berani menatap wajahku.Beberapa saat kemudian, ia berkata pelan dengan nada tertahan,“Penampilanku sekarang pasti sangat menyedihkan, yah? Maaf, di akhir pun aku nggak bisa tinggalkan kesan yang baik u

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 9

    Kami minum dengan lepas, tertawa tanpa beban, saling cerita kisah hidup masing-masing. Entah karena alkohol atau karena ditemani orang-orang yang hangat, suasana hatiku benar-benar terasa jauh lebih ringan.Nggak tahu sudah berapa lama berlalu, orang-orang di ruangan mulai berkurang satu per satu. Yesi sudah mabuk berat sampai nggak sadarkan diri.Lihat keadaannya, aku diam-diam hubungi Roni.“Ron, tolong jemput kita. Malam ini kita minum lumayan banyak.”Dari seberang sana, suara Roni terdengar datar, namun samar-samar aku masih bisa tangkap nada nahan kesal di baliknya.“Oke.”Masih ada waktu sebelum ia tiba. Aku keluar dari ruang privat untuk menghirup udara segar.Tiba-tiba aku tabrakan dengan seorang pria berkulit coklat. Ia mabuk berat, dan tatapan matanya yang cabul melekat di tubuhku tanpa malu.“Wah, dari mana datangnya gadis cantik ini? Aku belum pernah lihat sebelumnya. Ayo sini, biar aku cium sedikit. Kita lihat rasanya sama manisnya dengan gadis-gadis lain atau nggak.”Sam

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 8

    Bibirnya gemetar, suaranya lirih hampir nggak terdengar.“Rosa, maafkan aku, yah? Emang kamu tega buang begitu saja lima belas tahun hubungan kita? Kita sudah lewati begitu banyak kesulitan, sudah lewati begitu banyak rintangan, baru akhirnya bisa bersama. Apa sekarang kamu beneran tega ingin putuskan semuanya denganku?”“Kamu bilang kita bisa punya anak, bisa liburan sama-sama, bisa saling nyatakan cinta waktu hujan turun. Kita masih punya begitu banyak hal yang belum kita lakukan. Janji-janji kita belum terpenuhi. Apa kamu beneran akan tinggalkan aku begitu saja?!”Ia hampir teriak, tubuhnya gemetar tanpa henti.Selama sepuluh tahun lebih, aku belum pernah lihat Jason sehisteris ini.Dalam ingatanku, ia selalu lembut dan tenang, seorang pria berwibawa yang sopan ke siapa pun. Ia selalu bersikap sangat lembut ke aku, nggak pernah sekali pun kehilangan kendali.Ternyata, cinta memang bisa ubah seseorang.Jika dulu aku lihat dia seperti ini, mungkin hatiku akan luluh.Namun kini, perasa

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 7

    Lebih dari sepuluh tahun terakhir ini, seluruh hidupku nyaris hanya berputar di sekitar Jason.Aku nggak kerja, nggak belajar, seakan hidupku berhenti di satu titik dan nggak pernah bergerak maju.Setelah sekian lama terhenti, kini saatnya aku tekan tombol mulai kembali.Makan malam itu berlangsung begitu menyenangkan. Sepanjang waktu, Yesi terus-terusan ambilkan makanan untukku. Dengan kehadirannya, suasana nggak pernah terasa canggung atau dingin.Kami merasa cocok sejak pertemuan pertama.Setelah selesai makan, aku ikuti pasangan itu ke perusahaan dan resmi jadi pemegang saham di Perusahaan SY.Kantor yang Roni siapkan untukku begitu luas dan terang, dan tepat di sebelahnya adalah ruangannya Yesi.Di sela pekerjaan, kami sering turun ke restoran kecil di bawah gedung untuk makan siang, atau duduk santai di lounge kecil dekat sana sambil nikmati segelas minuman.Kadang jika obrolan terasa semakin seru, kami berniat pergi ke bar untuk sedikit bersenang-senang.Tapi sering kali belum s

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 6

    Setelah itu, aku cabut kartu SIM HP-ku, patahkan jadi dua, lalu buang ke tempat sampah.Begitu pesawat mendarat, Roni sudah tunggu di bandara.Lihat aku keluar, ia angkat setangkai bunga lili di tangannya.“Rosa, di sini!”Dengar suaranya, aku tersenyum dan menatap ke arahnya.Bertahun-tahun nggak ketemu, ia tampak jauh lebih matang.Aku angkat tangan sapa dia.Roni dengan sigap ambil koperku.“Sejak terakhir kali berpisah, sudah berapa tahun kita nggak ketemu, yah?”Dengar itu, kenangan lama perlahan muncul dalam benakku.Aku dan Roni adalah teman sekelas di SMA. Setelah ujian masuk universitas, kami sama-sama pilih jurusan desain baju.Di bangku SMA, kami adalah teman sebangku yang saling membantu. Di universitas, kami dikenal sebagai pasangan partner terbaik.Ia selalu dapat pahami setiap ide liarku dalam desain. Konsep estetikanya pun sejalan denganku.Kami benar-benar sehati dalam pemikiran dan selera.Dulu, karena kedekatanku dengannya, banyak teman yang penasaran dengan hubungan

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 5

    Nggak satu pun dari kami peduli pada air hujan yang turun.Aku masih menunggu.Dulu, aku dan Jason pernah janji, setiap kali kami berdiri sama-sama di bawah hujan, kami harus nyatakan cinta sekali lagi ke satu sama lain.Namun kini, lihat lelaki di hadapanku yang sedang asyik nikmati pemandangan hujan rintik seorang diri, aku kembali sadar kami nggak akan pernah bisa menua bersama.Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari kejauhan, semakin lama semakin dekat.Entah mengapa, firasat buruk mendadak menyergapku. Aku refleks mendongak dan lihat sebongkah batu besar meluncur cepat tepat ke arahku.Otakku seakan berhenti kerja.Brak!Dalam sekejap, tubuhku terasa seperti dilindas truk.“Ah!”Aku pegangi dadaku, tarik napas tajam tahan nyeri. Keringat dingin merembes di dahiku.“Rosa!”Suara Jason berubah sumbang karena panik. Matanya memerah seketika, air mata panas mengalir di pipinya.“Rosa! Kamu gimana? Aku antar kamu ke rumah sakit sekarang!”Aku menatap wajahnya yang penuh rasa ketakutan,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status