Share

Bab 5

Author: Fist
Nggak satu pun dari kami peduli pada air hujan yang turun.

Aku masih menunggu.

Dulu, aku dan Jason pernah janji, setiap kali kami berdiri sama-sama di bawah hujan, kami harus nyatakan cinta sekali lagi ke satu sama lain.

Namun kini, lihat lelaki di hadapanku yang sedang asyik nikmati pemandangan hujan rintik seorang diri, aku kembali sadar kami nggak akan pernah bisa menua bersama.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari kejauhan, semakin lama semakin dekat.

Entah mengapa, firasat buruk mendadak menyergapku. Aku refleks mendongak dan lihat sebongkah batu besar meluncur cepat tepat ke arahku.

Otakku seakan berhenti kerja.

Brak!

Dalam sekejap, tubuhku terasa seperti dilindas truk.

“Ah!”

Aku pegangi dadaku, tarik napas tajam tahan nyeri. Keringat dingin merembes di dahiku.

“Rosa!”

Suara Jason berubah sumbang karena panik. Matanya memerah seketika, air mata panas mengalir di pipinya.

“Rosa! Kamu gimana? Aku antar kamu ke rumah sakit sekarang!”

Aku menatap wajahnya yang penuh rasa ketakutan, lalu tersenyum sinis.

Tadi ia berdiri nggak jauh dari aku. Ia punya cukup waktu untuk tarik aku ke tempat aman.

Namun ia terlalu sibuk menatap HP-nya sampai nggak dengar suara batu yang menggelinding.

Aku pun menunduk sekilas ke layar HP yang belum sempat ia matikan.

Di sana, terpampang satu nama panggilan.

Kaila Sayang.

Manggilnya mesra banget.

Jason sudah hubungi ambulans. Nggak lama, bantuan akan datang.

HP-ku sendiri juga bergetar ada pesan masuk.

Aku buka. Seperti yang kuduga, dari Kaila.

[Kata Jason, kalian sedang pergi ke tempat kenangan, yah?]

[Hari ini ulang tahunnya, kan? Waktu ulang tahunmu kemarin, Jason habisin waktu sama aku. Sekarang coba tebak, apa dia akan tinggalkan kamu lagi demi aku?]

Aku hanya melirik sekilas sebelum menutup layar HP.

Apa pun yang dilakukan Jason sekarang, sudah nggak ada hubungannya denganku.

Hidup baruku akan segera dimulai. Di sana nggak akan ada Jason. Nggak akan ada Kaila. Nggak akan ada satu hal pun yang usik hatiku.

Nada notifikasi khusus terdengar dari HP Jason. Wajahnya menegang, ia menatapku hati-hati.

Lihat ekspresiku yang datar, ia menghela napas lega, nyaris nggak terlihat.

Aku memandangnya diam-diam, lihat gimana ia merasa telah sembunyikan semuanya dengan sempurna.

Ekspresi cemas di wajahnya berubah dari terkejut, lalu gembira begitu baca pesan di HP-nya.

Ia jalan cepat ke arahku. Lihat aku masih jatuh di atas genangan air hujan, ia sempat ragu sepersekian detik. Namun keraguan itu segera digantikan oleh raut bersalah.

“Rosa, perusahaan tiba-tiba harus adakan rapat darurat. Aku harus datang ke sana. Ambulans yang aku panggil sebentar lagi akan sampai. Kamu bisa nggak tunggu sendiri dulu?”

Semakin ia bicara, suaranya makin mengecil, seolah sudah siap ditolak.

Lihat dia menunduk lesu seperti itu, aku hanya jawab pelan, “Oke.”

Ia mendongak tiba-tiba, matanya dipenuhi rasa nggak percaya.

Lalu dengan tergesa ia cium keningku, nadanya riang.

“Rosa-ku memang paling pengertian. Nanti malam aku bawakan makanan favoritmu, lalu kita buka hadiahnya sama-sama!”

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, ia langsung buka pintu mobil. Kendaraan itu melesat pergi seperti anak panah lepas dari busurnya.

Sekeliling kembali sunyi. Hanya air hujan yang terus jatuh rintik-rintik.

HP-ku bergetar lagi.

Aku buka, lagi-lagi Kaila.

Ia kirimkan foto tangkapan layar percakapannya dengan Jason.

[Suamiku, ada kabar gembira! Aku hamil! Aku kangen sekali dengan kamu, cepat ke sini temani aku.]

[Nggak usah cemas, sayang. Aku segera ke sana.]

Hanya dua baris kalimat.

Dan dua baris kalimat itu cukup buat Jason tinggalkan aku yang terluka sendirian di tengah air hujan dan cuaca dingin ini.

Aku terkekeh pelan.

Setelah simpan foto tangkapan layar yang dikirim Kaila itu, aku langsung blokir Kaila untuk selamanya.

Tiga jam lagi pesawatku lepas landas.

Aku harus pergi.

Sesampainya di bandara, aku kirim semua foto tangkapan layar obrolan yang selama ini aku simpan ke Jason.

Aku cuma tinggalkan satu kalimat.

[Jangan lupa lihat hadiah ulang tahunmu.]
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 10

    Sejak hari itu, aku nggak pernah ketemu Jason lagi.Belakangan, justru Yesi yang kasih tahu aku, katanya saat ia lewati suatu tempat, ia lihat Jason meringkuk di samping tempat sampah, kedinginan.Dengar itu, hatiku terasa perih.Gimanapun juga, kami pernah jadi suami istri. Nggak mungkin aku benar-benar tutup mata dan biarkan dia begitu saja.Aku pun minta alamatnya ke Yesi.Beberapa hari nggak ketemu, tubuh Jason tampak semakin kurus. Punggungnya yang dulu tegap kini membungkuk karena dingin. Ia pakai pakaian tipis, sembunyi di balik tempat sampah di sudut yang sedikit terlindung angin, napasnya mengepul dalam udara dingin.Lihat dia seperti itu, aku hanya bisa menghela napas panjang dan serahkan sebuah jaket ke dia.Tubuhnya menegang. Ia terima jaket itu, namun tetap menunduk, nggak berani menatap wajahku.Beberapa saat kemudian, ia berkata pelan dengan nada tertahan,“Penampilanku sekarang pasti sangat menyedihkan, yah? Maaf, di akhir pun aku nggak bisa tinggalkan kesan yang baik u

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 9

    Kami minum dengan lepas, tertawa tanpa beban, saling cerita kisah hidup masing-masing. Entah karena alkohol atau karena ditemani orang-orang yang hangat, suasana hatiku benar-benar terasa jauh lebih ringan.Nggak tahu sudah berapa lama berlalu, orang-orang di ruangan mulai berkurang satu per satu. Yesi sudah mabuk berat sampai nggak sadarkan diri.Lihat keadaannya, aku diam-diam hubungi Roni.“Ron, tolong jemput kita. Malam ini kita minum lumayan banyak.”Dari seberang sana, suara Roni terdengar datar, namun samar-samar aku masih bisa tangkap nada nahan kesal di baliknya.“Oke.”Masih ada waktu sebelum ia tiba. Aku keluar dari ruang privat untuk menghirup udara segar.Tiba-tiba aku tabrakan dengan seorang pria berkulit coklat. Ia mabuk berat, dan tatapan matanya yang cabul melekat di tubuhku tanpa malu.“Wah, dari mana datangnya gadis cantik ini? Aku belum pernah lihat sebelumnya. Ayo sini, biar aku cium sedikit. Kita lihat rasanya sama manisnya dengan gadis-gadis lain atau nggak.”Sam

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 8

    Bibirnya gemetar, suaranya lirih hampir nggak terdengar.“Rosa, maafkan aku, yah? Emang kamu tega buang begitu saja lima belas tahun hubungan kita? Kita sudah lewati begitu banyak kesulitan, sudah lewati begitu banyak rintangan, baru akhirnya bisa bersama. Apa sekarang kamu beneran tega ingin putuskan semuanya denganku?”“Kamu bilang kita bisa punya anak, bisa liburan sama-sama, bisa saling nyatakan cinta waktu hujan turun. Kita masih punya begitu banyak hal yang belum kita lakukan. Janji-janji kita belum terpenuhi. Apa kamu beneran akan tinggalkan aku begitu saja?!”Ia hampir teriak, tubuhnya gemetar tanpa henti.Selama sepuluh tahun lebih, aku belum pernah lihat Jason sehisteris ini.Dalam ingatanku, ia selalu lembut dan tenang, seorang pria berwibawa yang sopan ke siapa pun. Ia selalu bersikap sangat lembut ke aku, nggak pernah sekali pun kehilangan kendali.Ternyata, cinta memang bisa ubah seseorang.Jika dulu aku lihat dia seperti ini, mungkin hatiku akan luluh.Namun kini, perasa

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 7

    Lebih dari sepuluh tahun terakhir ini, seluruh hidupku nyaris hanya berputar di sekitar Jason.Aku nggak kerja, nggak belajar, seakan hidupku berhenti di satu titik dan nggak pernah bergerak maju.Setelah sekian lama terhenti, kini saatnya aku tekan tombol mulai kembali.Makan malam itu berlangsung begitu menyenangkan. Sepanjang waktu, Yesi terus-terusan ambilkan makanan untukku. Dengan kehadirannya, suasana nggak pernah terasa canggung atau dingin.Kami merasa cocok sejak pertemuan pertama.Setelah selesai makan, aku ikuti pasangan itu ke perusahaan dan resmi jadi pemegang saham di Perusahaan SY.Kantor yang Roni siapkan untukku begitu luas dan terang, dan tepat di sebelahnya adalah ruangannya Yesi.Di sela pekerjaan, kami sering turun ke restoran kecil di bawah gedung untuk makan siang, atau duduk santai di lounge kecil dekat sana sambil nikmati segelas minuman.Kadang jika obrolan terasa semakin seru, kami berniat pergi ke bar untuk sedikit bersenang-senang.Tapi sering kali belum s

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 6

    Setelah itu, aku cabut kartu SIM HP-ku, patahkan jadi dua, lalu buang ke tempat sampah.Begitu pesawat mendarat, Roni sudah tunggu di bandara.Lihat aku keluar, ia angkat setangkai bunga lili di tangannya.“Rosa, di sini!”Dengar suaranya, aku tersenyum dan menatap ke arahnya.Bertahun-tahun nggak ketemu, ia tampak jauh lebih matang.Aku angkat tangan sapa dia.Roni dengan sigap ambil koperku.“Sejak terakhir kali berpisah, sudah berapa tahun kita nggak ketemu, yah?”Dengar itu, kenangan lama perlahan muncul dalam benakku.Aku dan Roni adalah teman sekelas di SMA. Setelah ujian masuk universitas, kami sama-sama pilih jurusan desain baju.Di bangku SMA, kami adalah teman sebangku yang saling membantu. Di universitas, kami dikenal sebagai pasangan partner terbaik.Ia selalu dapat pahami setiap ide liarku dalam desain. Konsep estetikanya pun sejalan denganku.Kami benar-benar sehati dalam pemikiran dan selera.Dulu, karena kedekatanku dengannya, banyak teman yang penasaran dengan hubungan

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 5

    Nggak satu pun dari kami peduli pada air hujan yang turun.Aku masih menunggu.Dulu, aku dan Jason pernah janji, setiap kali kami berdiri sama-sama di bawah hujan, kami harus nyatakan cinta sekali lagi ke satu sama lain.Namun kini, lihat lelaki di hadapanku yang sedang asyik nikmati pemandangan hujan rintik seorang diri, aku kembali sadar kami nggak akan pernah bisa menua bersama.Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari kejauhan, semakin lama semakin dekat.Entah mengapa, firasat buruk mendadak menyergapku. Aku refleks mendongak dan lihat sebongkah batu besar meluncur cepat tepat ke arahku.Otakku seakan berhenti kerja.Brak!Dalam sekejap, tubuhku terasa seperti dilindas truk.“Ah!”Aku pegangi dadaku, tarik napas tajam tahan nyeri. Keringat dingin merembes di dahiku.“Rosa!”Suara Jason berubah sumbang karena panik. Matanya memerah seketika, air mata panas mengalir di pipinya.“Rosa! Kamu gimana? Aku antar kamu ke rumah sakit sekarang!”Aku menatap wajahnya yang penuh rasa ketakutan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status